Kami berdua bersama keluarga putriku Adik
Hesty dan Boby serta kedua anaknya yang biasa kupanggil Kakak Lila dan Dedek
Allura, berangkat Umrah dengan Travel Tazkia. Travel ini telah lama kami gunakan jasanya
jika Umrah. Mereka memberangkatkan jemaah
di tanggal-tanggal tertentu di bulan Desember ini. Kami yang berangkat tanggal
25 Desember termasuk dalam Grup MINA. Sesuai itinerary yang telah dibagikan,
kami berkumpul di Resto Pepper Lunch Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta jam
15.00 WIB. Dari Tazkia, Tour Leader yang membersamai adalah Mbak Lis, yang
sudah aku kenal baik sebelumnya.
Aku bersama Mas Suami dijemput putra
sulungku Mas Dandy – mbak Dini, diantar ke Bandara. Sedang keluarga putriku Adik
Hesty - Boby sekeluarga langsung ke Bandara naik taxi. Setelah pengumpulan
koper bagasi dan koper kabin, kami duduk ngobrol di Resto dan sempat pula
berfoto bersama keluarga dan jemaah Tazkia seluruhnya.
Beberapa waktu yang lalu, ketika Kakak
Lila berulang tahun ke 17, aku menyarankan putriku agar jika ada kesempatan
mengajaknya pergi umrah. Memohon kiranya Allah SWT berkenan memberi bimbingan
kepada Kakak Lila dalam belajar, menuntut ilmu, menjalani masa dewasa,
memilihkan jodoh serta pekerjaan yang sesuai kehendakNya. Saatnya untuk berserah
diri bagi orang tuanya, memohon kelak diberikan takdir kehidupan yang baik bagi
putrinya. Dan saran itu hari ini dilaksanakan.
Aku berdua berusaha untuk bisa ikut ke
Tanah Suci, mumpung pergi bersama anak mantu cucu, akan ada yang menjaga dan
membantu jika mengalami kesulitan. Aku sangat ingin ke Tanah Suci, barangkali saja
ini kesempatan terakhir mengingat usia kami sudah 78 tahun dan 73
tahun. Yang kami mohon hanyalah agar kami dapat kembali kepadaNya dengan
husnul khotimah dan meninggalkan keluarga yaitu anak mantu cucu yang taat patuh
kepadaNya serta senantiasa mendapat ridhoNya.
Sudah menjadi kebiasaanku untuk menuliskan pengalaman perjalanan. Tulisan itu merupakan Catatan Perjalanan menurut perespektif atau sudut pandang kaca mata aku. Tentu setiap orang mengalami hal yang berbeda. Mengenai perjalanan Umrah, aku pernah membuat dua tulisan di Blog-ku, wenidarmono.com. Jika berkenan membacanya, bisa di klik :
https://www.wenidarmono.com/2017/12/kenangan-perjalanan-umroh-dan-tour-ke.html
dan https://www.wenidarmono.com/2016/06/umroh-ke-tanah-suci-tahun-2016.html
Kami berdua mempersiapkan diri dengan
sebaik-baiknya. Periksa ke Dokter, mengikuti sarannya, menyiapkan obat-obatan
serta melakukan Vaksin Flu. Lengan kananku yang sakit, aku periksakan ke
Dokter Ahli Rehab Medik. Diagnosa Dokter adalah Frozen Shoulder. Diberi obat
serta diharuskan Fisioterapi. Alhamdulilah mulai sembuh. Mas Suami selain ke
Dokter juga mulai latihan jalan secara intensif.
Sambil melaksanakan sholat magrib di Bandara, para
Bapak sudah berganti mengenakan kain ihram bagian bawah dan sandal, tetapi
masih mengenakan hem diatasnya. Ini karena akan langsung melaksanakan umrah
dengan mengambil miqat di pesawat pada saat melewati Yalamlam. Yalamlam adalah
titik lokasi disebelah tenggara kota Mekah yang ditetapkan sebagai tempat
dimulainya berniat ihram bagi jemaah dari negara-negara tertentu (Yaman dan
negara-negara di sebelah timur kota Mekah). Nanti sekitar 45 menit sebelum mendarat
akan ada pemberitahuan bahwa pesawat sudah diatas Yalamlam. Saat itu jemaah pria
mulai berganti sehingga sudah mengenakan kain ihram seluruhnya.
Penerbangan kami SV 819 CGK -JED 19.05 – 01.05 dengan
menggunakan Pesawat Boing 777-300 ER. Dari Jakarta langsung Jeddah. Begitu
pesawat naik, aku minum setengah tablet Esilgan yang sudah kupersiapkan,
langsung jatuh tertidur. Baru bangun ketika mendengar pemberitahuan sudah
melawati Yalamlam, yang artinya sudah menjelang turun.
Hari
kedua, Jum at 26 Desember 2025.
Rombongan Tazkia menyediakan bus untuk kami. Bagasi
dicek kembali, apakah koper kita sudah ada semua. Begitu sudah lengkap, bus
menuju hotel. Perjalanan ke hotel sangat macet, harus sabar. Hotel kita di
Mekah adalah Hotel Makarem Ajyad, lokasinya di belakang samping Tower Zam Zam.
Kami dibagi kunci kamar, aku berdua di lantai 4 nomor
409, sedangkan keluarga Boby ada di lantai 5.
Mereka mengambil yang sekamar satu keluarga berempat. Rencananya setelah
sarapan pagi, kami bersama-sama berangkat dari hotel ke Masjid untuk
melaksanakan umrah.
Pagi masih sejuk, walau ditengah ribuan manusia yang
sama-sama akan menuju atau pulang dari Masjid. Memang benar Masjidil Haram
sangat padat. Saat ini negara Arab Saudi sedang berada di puncak musim dingin.
Musim yang nikmat untuk berumroh. Saat iburan anak sekolah dan liburan akhir
tahun orang tuanya bagi jemaah Indonesia, begitu pula bagi masyarakat Saudi dan
negara-negara Timur Tengah lainnya.
Dulu, yang aku temui saat umrah adalah jemah dari
negara-negara Timur Tengah, Turki, India - Pakitan, Malaysia - Indonesia.
Tetapi sekarang sepertinya bertambah banyak, dari negara-negara pecahan Rusia
seperti Kazakhstan, Kirgistan, Ubekistan dan juga banyak dari China.
Grup kami dipimpin oleh Ustad Muhammad Faqihuddin
serta Ustad Saiful. Kami dibuatkan WA
grup untuk memudahkan komunikasi. Dari grup sudah mengumumkan, siapa yang akan
menggunakan Buggy Car untuk tawafnya, akan dikoordinir dan disediakan Muthawif
yang menemani. Aku sudah tanyakan ke Mas Suami, apakah mau ikut Buggy Car
untuk tawafnya? Katanya enggak mau. InshaAllah kuat. Semoga.
Dari Tazkia, masing-masing jemaah diberi alat Transmitter
dan Earphone. Untuk Jemaah Wanita, Transmiter digantungkan di leher dalam
jilbab, dan kabel Earphone dimasukkan ke telinga, juga di dalam jilbab. Dengan
peralatan ini jemaah bisa mendengarkan dan mengucapkan/ menirukan dengan jelas
doa-doa yang disampaikan Ustad Faqih.
Tawaf memerlukan kesabaran. Ditengah jemaah yang
sama-sama tawaf, berdesakan dengan rombongan lain yang kadang lebih besar dan
lebih kuat, kita mengalah saja. Waktu untuk melaksanakan tawaf menjadi lebih
lama karena adanya peraturan baru. Sholat di Hijir Ismail diperbolehkan dengan
sistim antrean, yang diatur oleh Petugas Masjidil Haram. Bagi pria disediakan
di waktu pagi, wanita di malam hari. Sebelum adanya aturan ini, dulu kita bisa
masuk kapan saja sholat di Hijir Ismail, tetapi memang berdesakan pria antara
dan wanita. Putaran Tawaf dihentikan pada saat mereka yang akan sholat di Hijir
Ismail itu lewat, baik masuk maupun
keluar (dengan dikawal Petugas).
Alhamdulillah tawaf 7 putaran sudah terlaksana. Setelah
menyelesaikan tawaf, kemudian kami mundur beberapa meter untuk berdoa bersama
dibelakang Maqam Ibrahim dipimpin Ustad Faqih. Kebetulan aku mendapat
tempat persis lurus dengan Multazam.
Selesai berdoa bersama, aku sempatkan berdoa untuk diri sendiri, keluarga dan
negeri tercinta Indonesia. Aku yakin doaku akan Allah ijabah.
Kami menuju Bukit Safa untuk memulai sai. Tapi
rombongan terpisah, Boby dan Lila tidak kelihatan bersama kami. Setelah
ditelpon, ternyata berada di tempat sai lantai 2. Kata Ustad, ya sudah,
dilanjutkan saja sai di lantai 2, karena akan sulit untuk mencari lokasi
rombongan ditengah begitu banyaknya manusia. Ditempat sai ini pun terasa penuh
walau tidak sampai bersenggolan seperti ketika tawaf. Setelah 7 putaran bolak
balik, Ustad mengajak mencari tempat untuk sholat Jum at di depan Kabah, karena
sebentar lagi waktunya tiba.
Para jemaah yang semula melaksanakan Sai sudah mulai
minggir mencari tempat untuk bersiap-siap mengikuti sholat Jum at. Aku merasa
ingin ke toilet, aku minta supaya tahalul dulu, dan untuk kami berdua sholatnya
nanti di tempat lain dimana saja sedapatnya.
Benar saja, setelah keluar dari toilet, Azan
berkumandang. Tempat yang aku pilih bersama ibu-ibu Jemaah Turki sebenarnya
sudah enak, berada di dekat pintu keluar sai. Tiba-tiba ibu-ibu itu menunjuk ke
sajadahku yang kejatuhan kotoran burung dara dari atas. Wah, terpaksa aku
gulung sajadah dengan hati-hati supaya nggak batal wudhu.
Maka pindahlah aku mencari tempat lain. Sebenarnya
banyak tempat di halaman Masjid dan ada karpetnya juga, sayang tempat itu
panas. Padahal sholat Jum at belum dimulai, baru mendengarkan khotbah. Sambil
menunggu selesai khotbah, aku berdiri saja di pinggir Masjid yang teduh yang
dijaga Petugas karena tidak diperbolehkan sholat disitu. Pada akhirnya aku
sholat di karpet hijau, di tempat yang
panas. Tapi tidak lama, hanya beberapa menit sholat 2 rakaat mengikuti Imam.
Tadi mas Suami berpesan sambil menunjuk ke suatu
tempat, supaya aku menunggu di tempat yang ada tangganya itu. Aku cukup lama
menunggu, tapi beliaunya nggak muncul. Padahal Hp nya aku yang bawa. Aku coba
tanya putriku. Rupanya mereka sudah sampai hotel, sedang makan siang di resto.
Katanya :
“Mama pulang
saja dari pada tunggu-tungguan”.
Aku khawatir kalau Mas Suami juga sedang nyari
lokasi tempat aku menunggu.
“Nanti kalau
Papa sudah sampai, kabari mama saja ya”
Setelah diberitahu bahwa Mas Suami sudah sampai resto hotel,
aku meninggalkan Masjid pulang ke hotel. Anehnya, ketika aku tanya,
beliaunya merasa nggak pesan supaya menunggu di tempat yang ada tangganya itu.
Lho, siapa tadi yang pesan? Sudah lupa?
Hari ini, sangking capainya aku tidur nggak terbangun
sampai waktu ashar tiba. Akhirnya kami sholat ashar dan magrib di kamar saja.
Baru keluar lagi saat menjelang Isya.
Hari
ketiga, Sabtu 27 Desember 2025.
Menurut itinerary yang dibagikan, hari ini acaranya adalah
City Tour ke Thaif. Thaif adalah sebuah
kota yang berjarak sekitar 67 km dari Mekah. Kota pegunungan yang berhawa dingin,
penghasil bunga mawar. Dulu di tahun ke 10 kenabian, dakwah Rasulullah ditolak
dengan kejam oleh penduduk Thaif bahkan Rasulullaah sampai terluka. Tetapi pada
akhirnya mereka memeluk Islam pada saat Fathu Makkah, dimana Nabi beserta 10.000 pasukan Islam membebaskan Mekah dari
Kafir Quraisy.
Ketika aku tanyakan ke Mbak Lis Tour Leader Tazkia, berapa lama kita disana, katanya ke Mekah sekitar jam 16 sore. Kami memutuskan untuk
tidak ikut. Rasanya lebih baik tetap berada di Mekah, selain melaksanakan
sholat juga untuk lebih mengenal sudut-sudut Masjidil Haram.
Kami berenam bersama-sama berangkat sholat subuh. Pagi
masih dingin. Suhu waktu subuh di Mekah sekitar 15-20 derajat C. Biasanya satu
jam sebelum waktu sholat tiba, pintu-pintu Masjid sudah dijaga. Jemaah sudah
tidak bisa masuk. Tinggal ke Pintu nomor 94 yang ada escalatornya, untuk sholat
di roof top. Karena udara sejuk, memang nyaman sholat disini. Pemandangan
diatas masjid dipenuhi lampu-lampu indah dengan background gedung-gedung
tinggi, diantaranya yang ikonik adalah Tower Zam Zam. Kami masih mendapat tempat sholat yang enak.
Selesai sholat berfoto rame-rame.
Setelah selesai sholat subuh, Boby mengajak ke Tower
Zam Zam jalan-jalan cari kopi di food courtnya. Aku baru pertama kali kesini.
Suasana food court terang benderang dan cukup ramai, karena banyak Café dan
resto yang buka 24 jam. Kami menikmati kopi Juju, maksudnya Barn’s yang ditulis
dalam huruf Arab. Ini kedai kopi lokal yang sangat digemari Jemaah Indonesia,
karena variasi menunya yang beragam. Aku dipesankan Latte, yang tidak pahit.
Ada beberapa roti enak yang dipotong-potong, aku cicipi sedikit.
Kembali ke Hotel berdua saja, karena mereka masih ingin jalan-jalan. Keluarga putriku memang suka menjelajah, baik di tanah air maupun di luar negeri. Biasa jalan sendiri, tidak menggunakan travel. Kami berdua mau sarapan di resto hotel saja, dimana menunya banyak tersedia buah dan salad.
Aku kepengin sekali bisa shalat di dekat Ka’bah.
Penasaran, bagaimana caranya supaya bisa sampai kesana? Sekarang ini
pintu-pintu masjid dibagi. Ada yang hanya untuk jemaah wanita dan ada yang bisa
pria dan wanita.
Saat sholat dzuhur kami berdua bisa masuk ke dalam
masjid. Kemudian aku mencari tempat yang masih kosong. Mas Suami mencari tempat
yang berdekatan agar nanti bisa bersama-sama mencari jalan ke arah Ka’bah. Setelah
sholat dzuhur selesai, kami berdua jalan terus didalam Masjid. Jika keluar,
akan sulit untuk masuk lagi.
Setelah bertanya kesana kemari, akhirnya ketemu. Masuknya
dari pintu nomor 79 terus turun Escalator, sudah tampak Kabah. Jika turun
sekali lagi, itu sudah tempat tawaf. Untuk kesini hanya diperbolehkan wanita
saja. Sedangkan untuk laki-laki diperbolehkan jika berpakaian ihram.
Aku nggak sampai ke tempat tawaf, cukup melihat Ka'bah
saja. Disitu aku bisa berdoa khusuk walaupun posisi berdiri. Aku mendoakan putraku mas Dandy dan keluarganya,
khususnya untuk cucuku Kakak Aisha, yang sedang berjuang menuntut ilmu untuk
masa depannya. Mengingat mas Suami menunggu di tempat shalat dekat Pintu nomor
70, akupun menuju ke arah sana sekaligus mencari tempat untuk sholat
ashar. Selesai sholat, kami jalan menuju hotel.
Informasi mengenai Pintu nomor 79 yang bisa langsung
ke Ka’bah itu aku sampaikan ke Putriku, biar Kakak Lila bisa diajak kesana.
Pastinya berdoa disana inshaAllah dikabulkan. Selama ini aku merasa bahwa Allah
SWT telah memberikan karunia yang besar, semua permohonanku Allah kabulkan. Semoga untuk keluargaku
demikian pula.
Hari
keempat, Minggu 28 Desember 2025.
Acara hari ini menurut Itinerary adalah tour ziarah
sekitar Mekah, mengunjungi Jabal Nur, Gua Hira, Arafah, Jabal Rahmah,
Muzdalifah, Mina dan terakhir ke Masjid Ji’ronah untuk mengambil miqat melaksanakan Umrah Kedua. Umrah
Kedua ini tentative, bagi yang uzur boleh tidak melaksanakannya.
Karena ziarah ke tempat-tempat tersebut sudah pernah
kami lakukan, kami memberitahukan ke
Tazkia untuk tidak ikut ziarah, tetapi mau langsung melaksanakan Umrah Kedua. Untuk itu minta
didampingi Muthawif dari Tazkia. Pagi-pagi aku sudah mandi ihram dan berpakaian
putih, siap turun sarapan di resto hotel.
Jam 8.00 kami berempat berkumpul di lobi. Untuk Umroh Kedua
ini Mas Suami dan Dedek Allura nggak ikut. Mas Suami kami sarankan nggak ikut,
kawatir kecapaian. Dedek Allura sedang nggak enak badan. Jadi Pererta Tawaf kedua (mandiri) ini berempat saja.
Muthawwif yang akan membimbing dan menemani kami
adalah Ustad Jaelani Lombok. Namanya Jailani berasal dari Lombok. Mungkin ada
nama yang sama, sehingga harus ditambahkan nama daerah asalnya. Ustad Jaelani
sudah memesan mobil untuk kita mengambil miqat di Masjid Tan Im. Ketika mobil
datang kita berempat segera berangkat. Driver mobil ini benar-benar nggak
enak cara membawa mobilnya. Ugal-ugalan, siat-siut ke kanan ke kiri cepat
sekali. Aku jadi pusing, mata kupejam terus, takut vertigo aku kambuh.
Sampai di Masjid Tan Im kami sholat
sunah Tahiyatul Masjid 2 rakaat dan sholat sunah ihram 2 rakaat. Kemudian
dibimbing Ustad mengucapkan niat. Selanjutnya kembali ke Masjidil Haram untuk
mengerjakan Tawaf 7 putaran, sholat di belakang Maqam Ibrahim dan kemudian Sai
7 kali bolak-balik. Terakhir, Tahalul dengan menggunting sedikit rambut. Ustad
Jailani masih punya tugas lain, kami persilahkan untuk meninggalkan kami
berempat.
Ketika Azan sholat Dzuhur berkumandang,
kami mengambil tempat di sisi kanan dan kiri jalur Sai. Sholat disini lebih
tenang tidak berdesakan. Begitu sholat selesai mereka yang Sai-nya terpotong,
melanjutkan Sai lagi. Kamipun kembali ke hotel.
Besuk siang kami akan meninggalkan kota
Mekah setelah Tawaf Wada. Baju Gamis aku jumlahnya sudah menipis. Memang aku ingin
beli 1 atau 2 potong di Mekah atau Madinah. Jika ada kesempatan, pulang sholat
mau lihat-lihat di Pasar Safa.
Dilanjutkan : Umrah di akhir tahun 2025 (2)




.jpeg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar