Minggu, 11 Januari 2026

Umrah di akhir tahun 2025 (1)




Assalamualaikum ww.

Hari pertama, Kamis 25 Desember 2025.

Kami berdua bersama keluarga putriku Adik Hesty dan Boby serta kedua anaknya yang biasa kupanggil Kakak Lila dan Dedek Allura, berangkat Umrah dengan Travel Tazkia.  Travel ini telah lama kami gunakan jasanya jika Umrah.  Mereka memberangkatkan jemaah di tanggal-tanggal tertentu di bulan Desember ini. Kami yang berangkat tanggal 25 Desember termasuk dalam Grup MINA. Sesuai itinerary yang telah dibagikan, kami berkumpul di Resto Pepper Lunch Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta jam 15.00 WIB. Dari Tazkia, Tour Leader yang membersamai adalah Mbak Lis, yang sudah aku kenal baik sebelumnya.

Aku bersama Mas Suami dijemput putra sulungku Mas Dandy – mbak Dini, diantar ke Bandara. Sedang keluarga putriku Adik Hesty - Boby sekeluarga langsung ke Bandara naik taxi. Setelah pengumpulan koper bagasi dan koper kabin, kami duduk ngobrol di Resto dan sempat pula berfoto bersama keluarga dan jemaah Tazkia seluruhnya.

Beberapa waktu yang lalu, ketika Kakak Lila berulang tahun ke 17, aku menyarankan putriku agar jika ada kesempatan mengajaknya pergi umrah. Memohon kiranya Allah SWT berkenan memberi bimbingan kepada Kakak Lila dalam belajar, menuntut ilmu, menjalani masa dewasa, memilihkan jodoh serta pekerjaan yang sesuai kehendakNya. Saatnya untuk berserah diri bagi orang tuanya, memohon kelak diberikan takdir kehidupan yang baik bagi putrinya. Dan saran itu hari ini dilaksanakan. 

Aku berdua berusaha untuk bisa ikut ke Tanah Suci, mumpung pergi bersama anak mantu cucu, akan ada yang menjaga dan membantu jika mengalami kesulitan. Aku sangat ingin ke Tanah Suci, barangkali saja ini kesempatan terakhir mengingat usia kami sudah 78 tahun dan 73 tahun. Yang kami mohon hanyalah agar kami dapat kembali kepadaNya dengan husnul khotimah dan meninggalkan keluarga yaitu anak mantu cucu yang taat patuh kepadaNya serta senantiasa mendapat ridhoNya.

Sudah menjadi kebiasaanku untuk menuliskan pengalaman perjalanan. Tulisan itu merupakan Catatan Perjalanan menurut perespektif atau sudut pandang kaca mata aku. Tentu setiap orang mengalami hal yang berbeda. Mengenai perjalanan Umrah, aku pernah membuat dua tulisan di Blog-ku, wenidarmono.com. Jika berkenan membacanya, bisa di klik : 

  

https://www.wenidarmono.com/2017/12/kenangan-perjalanan-umroh-dan-tour-ke.html dan https://www.wenidarmono.com/2016/06/umroh-ke-tanah-suci-tahun-2016.html

Kami berdua mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Periksa ke Dokter, mengikuti sarannya, menyiapkan obat-obatan serta melakukan Vaksin Flu. Lengan kananku yang sakit, aku periksakan ke Dokter Ahli Rehab Medik. Diagnosa Dokter adalah Frozen Shoulder. Diberi obat serta diharuskan Fisioterapi. Alhamdulilah mulai sembuh. Mas Suami selain ke Dokter juga mulai latihan jalan secara intensif.

Sambil melaksanakan sholat magrib di Bandara, para Bapak sudah berganti mengenakan kain ihram bagian bawah dan sandal, tetapi masih mengenakan hem diatasnya. Ini karena akan langsung melaksanakan umrah dengan mengambil miqat di pesawat pada saat melewati Yalamlam. Yalamlam adalah titik lokasi disebelah tenggara kota Mekah yang ditetapkan sebagai tempat dimulainya berniat ihram bagi jemaah dari negara-negara tertentu (Yaman dan negara-negara di sebelah timur kota Mekah). Nanti sekitar 45 menit sebelum mendarat akan ada pemberitahuan bahwa pesawat sudah diatas Yalamlam. Saat itu jemaah pria mulai berganti sehingga sudah mengenakan kain ihram seluruhnya.

Penerbangan kami SV 819 CGK -JED 19.05 – 01.05 dengan menggunakan Pesawat Boing 777-300 ER. Dari Jakarta langsung Jeddah. Begitu pesawat naik, aku minum setengah tablet Esilgan yang sudah kupersiapkan, langsung jatuh tertidur. Baru bangun ketika mendengar pemberitahuan sudah melawati Yalamlam, yang artinya sudah menjelang turun.

 


Hari kedua, Jum at 26 Desember 2025.

Rombongan Tazkia menyediakan bus untuk kami. Bagasi dicek kembali, apakah koper kita sudah ada semua. Begitu sudah lengkap, bus menuju hotel. Perjalanan ke hotel sangat macet, harus sabar. Hotel kita di Mekah adalah Hotel Makarem Ajyad, lokasinya di belakang samping Tower Zam Zam.

Kami dibagi kunci kamar, aku berdua di lantai 4 nomor 409, sedangkan keluarga Boby ada di lantai 5.  Mereka mengambil yang sekamar satu keluarga berempat. Rencananya setelah sarapan pagi, kami bersama-sama berangkat dari hotel ke Masjid untuk melaksanakan umrah.

Pagi masih sejuk, walau ditengah ribuan manusia yang sama-sama akan menuju atau pulang dari Masjid. Memang benar Masjidil Haram sangat padat. Saat ini negara Arab Saudi sedang berada di puncak musim dingin. Musim yang nikmat untuk berumroh. Saat iburan anak sekolah dan liburan akhir tahun orang tuanya bagi jemaah Indonesia, begitu pula bagi masyarakat Saudi dan negara-negara Timur Tengah lainnya. 

Dulu, yang aku temui saat umrah adalah jemah dari negara-negara Timur Tengah, Turki, India - Pakitan, Malaysia - Indonesia. Tetapi sekarang sepertinya bertambah banyak, dari negara-negara pecahan Rusia seperti Kazakhstan, Kirgistan, Ubekistan dan juga banyak dari China.

Grup kami dipimpin oleh Ustad Muhammad Faqihuddin serta Ustad Saiful.  Kami dibuatkan WA grup untuk memudahkan komunikasi. Dari grup sudah mengumumkan, siapa yang akan menggunakan Buggy Car untuk tawafnya, akan dikoordinir dan disediakan Muthawif yang menemani. Aku sudah tanyakan ke Mas Suami, apakah mau ikut Buggy Car untuk tawafnya? Katanya enggak mau. InshaAllah kuat. Semoga.

Dari Tazkia, masing-masing jemaah diberi alat Transmitter dan Earphone. Untuk Jemaah Wanita, Transmiter digantungkan di leher dalam jilbab, dan kabel Earphone dimasukkan ke telinga, juga di dalam jilbab. Dengan peralatan ini jemaah bisa mendengarkan dan mengucapkan/ menirukan dengan jelas doa-doa yang disampaikan Ustad Faqih.

Tawaf memerlukan kesabaran. Ditengah jemaah yang sama-sama tawaf, berdesakan dengan rombongan lain yang kadang lebih besar dan lebih kuat, kita mengalah saja. Waktu untuk melaksanakan tawaf menjadi lebih lama karena adanya peraturan baru. Sholat di Hijir Ismail diperbolehkan dengan sistim antrean, yang diatur oleh Petugas Masjidil Haram. Bagi pria disediakan di waktu pagi, wanita di malam hari. Sebelum adanya aturan ini, dulu kita bisa masuk kapan saja sholat di Hijir Ismail, tetapi memang berdesakan pria antara dan wanita. Putaran Tawaf dihentikan pada saat mereka yang akan sholat di Hijir Ismail itu  lewat, baik masuk maupun keluar (dengan dikawal Petugas).

Alhamdulillah tawaf 7 putaran sudah terlaksana. Setelah menyelesaikan tawaf, kemudian kami mundur beberapa meter untuk berdoa bersama dibelakang Maqam Ibrahim dipimpin Ustad Faqih. Kebetulan aku mendapat tempat  persis lurus dengan Multazam. Selesai berdoa bersama, aku sempatkan berdoa untuk diri sendiri, keluarga dan negeri tercinta Indonesia. Aku yakin doaku akan Allah ijabah.

Kami menuju Bukit Safa untuk memulai sai. Tapi rombongan terpisah, Boby dan Lila tidak kelihatan bersama kami. Setelah ditelpon, ternyata berada di tempat sai lantai 2. Kata Ustad, ya sudah, dilanjutkan saja sai di lantai 2, karena akan sulit untuk mencari lokasi rombongan ditengah begitu banyaknya manusia. Ditempat sai ini pun terasa penuh walau tidak sampai bersenggolan seperti ketika tawaf. Setelah 7 putaran bolak balik, Ustad mengajak mencari tempat untuk sholat Jum at di depan Kabah, karena sebentar lagi waktunya tiba.

Para jemaah yang semula melaksanakan Sai sudah mulai minggir mencari tempat untuk bersiap-siap mengikuti sholat Jum at. Aku merasa ingin ke toilet, aku minta supaya tahalul dulu, dan untuk kami berdua sholatnya nanti di tempat lain dimana saja sedapatnya.

Benar saja, setelah keluar dari toilet, Azan berkumandang. Tempat yang aku pilih bersama ibu-ibu Jemaah Turki sebenarnya sudah enak, berada di dekat pintu keluar sai. Tiba-tiba ibu-ibu itu menunjuk ke sajadahku yang kejatuhan kotoran burung dara dari atas. Wah, terpaksa aku gulung sajadah dengan hati-hati supaya nggak batal wudhu. 

Maka pindahlah aku mencari tempat lain. Sebenarnya banyak tempat di halaman Masjid dan ada karpetnya juga, sayang tempat itu panas. Padahal sholat Jum at belum dimulai, baru mendengarkan khotbah. Sambil menunggu selesai khotbah, aku berdiri saja di pinggir Masjid yang teduh yang dijaga Petugas karena tidak diperbolehkan sholat disitu. Pada akhirnya aku sholat di  karpet hijau, di tempat yang panas. Tapi tidak lama, hanya beberapa menit sholat 2 rakaat mengikuti Imam.

Tadi mas Suami berpesan sambil menunjuk ke suatu tempat, supaya aku menunggu di tempat yang ada tangganya itu. Aku cukup lama menunggu, tapi beliaunya nggak muncul. Padahal Hp nya aku yang bawa. Aku coba tanya putriku. Rupanya mereka sudah sampai hotel, sedang makan siang di resto. Katanya :

“Mama pulang saja dari pada tunggu-tungguan”.

Aku khawatir kalau Mas Suami juga sedang nyari 

lokasi tempat aku menunggu.

“Nanti kalau Papa sudah sampai, kabari mama saja ya”

Setelah diberitahu bahwa Mas Suami sudah sampai resto hotel, aku meninggalkan Masjid pulang ke hotel. Anehnya, ketika aku tanya, beliaunya merasa nggak pesan supaya menunggu di tempat yang ada tangganya itu. Lho, siapa tadi yang pesan?  Sudah lupa?

Hari ini, sangking capainya aku tidur nggak terbangun sampai waktu ashar tiba. Akhirnya kami sholat ashar dan magrib di kamar saja. Baru keluar lagi saat menjelang Isya.

 

Hari ketiga, Sabtu 27 Desember 2025.

Menurut itinerary yang dibagikan, hari ini acaranya adalah City Tour ke Thaif. Thaif adalah  sebuah kota yang berjarak sekitar 67 km dari Mekah. Kota pegunungan yang berhawa dingin, penghasil bunga mawar. Dulu di tahun ke 10 kenabian, dakwah Rasulullah ditolak dengan kejam oleh penduduk Thaif bahkan Rasulullaah sampai terluka. Tetapi pada akhirnya mereka memeluk Islam pada saat Fathu Makkah, dimana Nabi beserta  10.000 pasukan Islam membebaskan Mekah dari Kafir Quraisy.

Ketika aku tanyakan ke Mbak Lis Tour Leader Tazkia, berapa lama kita disana,  katanya ke Mekah sekitar jam 16 sore. Kami memutuskan untuk tidak ikut. Rasanya lebih baik tetap berada di Mekah, selain melaksanakan sholat juga untuk lebih mengenal sudut-sudut Masjidil Haram.

Kami berenam bersama-sama berangkat sholat subuh. Pagi masih dingin. Suhu waktu subuh di Mekah sekitar 15-20 derajat C. Biasanya satu jam sebelum waktu sholat tiba, pintu-pintu Masjid sudah dijaga. Jemaah sudah tidak bisa masuk. Tinggal ke Pintu nomor 94 yang ada escalatornya, untuk sholat di roof top. Karena udara sejuk, memang nyaman sholat disini. Pemandangan diatas masjid dipenuhi lampu-lampu indah dengan background gedung-gedung tinggi, diantaranya yang ikonik adalah Tower Zam Zam.  Kami masih mendapat tempat sholat yang enak. Selesai sholat berfoto rame-rame.




Setelah selesai sholat subuh, Boby mengajak ke Tower Zam Zam jalan-jalan cari kopi di food courtnya. Aku baru pertama kali kesini. Suasana food court terang benderang dan cukup ramai, karena banyak Café dan resto yang buka 24 jam. Kami menikmati kopi Juju, maksudnya Barn’s yang ditulis dalam huruf Arab. Ini kedai kopi lokal yang sangat digemari Jemaah Indonesia, karena variasi menunya yang beragam. Aku dipesankan Latte, yang tidak pahit. Ada beberapa roti enak yang dipotong-potong, aku cicipi sedikit.




Kembali ke Hotel berdua saja, karena mereka masih ingin jalan-jalan. Keluarga putriku memang suka menjelajah, baik di tanah air maupun di luar negeri. Biasa jalan sendiri, tidak menggunakan travel. Kami berdua mau sarapan di resto hotel saja, dimana menunya banyak tersedia buah dan salad.

Aku kepengin sekali bisa shalat di dekat Ka’bah. Penasaran, bagaimana caranya supaya bisa sampai kesana? Sekarang ini pintu-pintu masjid dibagi. Ada yang hanya untuk jemaah wanita dan ada yang bisa pria dan wanita.

Saat sholat dzuhur kami berdua bisa masuk ke dalam masjid. Kemudian aku mencari tempat yang masih kosong. Mas Suami mencari tempat yang berdekatan agar nanti bisa bersama-sama mencari jalan ke arah Ka’bah. Setelah sholat dzuhur selesai, kami berdua jalan terus didalam Masjid. Jika keluar, akan sulit untuk masuk lagi.

Setelah bertanya kesana kemari, akhirnya ketemu. Masuknya dari pintu nomor 79 terus turun Escalator, sudah tampak Kabah. Jika turun sekali lagi, itu sudah tempat tawaf. Untuk kesini hanya diperbolehkan wanita saja. Sedangkan untuk laki-laki diperbolehkan jika berpakaian ihram.

Aku nggak sampai ke tempat tawaf, cukup melihat Ka'bah saja. Disitu aku bisa berdoa khusuk walaupun posisi berdiri. Aku  mendoakan putraku mas Dandy dan keluarganya, khususnya untuk cucuku Kakak Aisha, yang sedang berjuang menuntut ilmu untuk masa depannya. Mengingat mas Suami menunggu di tempat shalat dekat Pintu nomor 70, akupun menuju ke arah sana sekaligus mencari tempat untuk sholat ashar. Selesai sholat, kami jalan menuju hotel.




Informasi mengenai Pintu nomor 79 yang bisa langsung ke Ka’bah itu aku sampaikan ke Putriku, biar Kakak Lila bisa diajak kesana. Pastinya berdoa disana inshaAllah dikabulkan. Selama ini aku merasa bahwa Allah SWT telah memberikan karunia yang besar, semua permohonanku  Allah kabulkan. Semoga untuk keluargaku demikian pula.

  

Hari keempat, Minggu 28 Desember 2025.

Acara hari ini menurut Itinerary adalah tour ziarah sekitar Mekah, mengunjungi Jabal Nur, Gua Hira, Arafah, Jabal Rahmah, Muzdalifah, Mina dan terakhir ke Masjid Ji’ronah untuk  mengambil miqat melaksanakan Umrah Kedua. Umrah Kedua ini tentative, bagi yang uzur boleh tidak melaksanakannya.

Karena ziarah ke tempat-tempat tersebut sudah pernah kami lakukan, kami memberitahukan  ke Tazkia untuk tidak ikut ziarah, tetapi mau langsung  melaksanakan Umrah Kedua. Untuk itu minta didampingi Muthawif dari Tazkia. Pagi-pagi aku sudah mandi ihram dan berpakaian putih, siap turun sarapan di resto hotel.

Jam 8.00 kami berempat berkumpul di lobi. Untuk Umroh Kedua ini Mas Suami dan Dedek Allura nggak ikut. Mas Suami kami sarankan nggak ikut, kawatir kecapaian. Dedek Allura sedang nggak enak badan. Jadi Pererta Tawaf kedua (mandiri) ini berempat saja.

Muthawwif yang akan membimbing dan menemani kami adalah Ustad Jaelani Lombok. Namanya Jailani berasal dari Lombok. Mungkin ada nama yang sama, sehingga harus ditambahkan nama daerah asalnya. Ustad Jaelani sudah memesan mobil untuk kita mengambil miqat di Masjid Tan Im. Ketika mobil datang kita berempat segera berangkat. Driver mobil ini benar-benar nggak enak cara membawa mobilnya. Ugal-ugalan, siat-siut ke kanan ke kiri cepat sekali. Aku jadi pusing, mata kupejam terus, takut vertigo aku kambuh.

Sampai di Masjid Tan Im kami sholat sunah Tahiyatul Masjid 2 rakaat dan sholat sunah ihram 2 rakaat. Kemudian dibimbing Ustad mengucapkan niat. Selanjutnya kembali ke Masjidil Haram untuk mengerjakan Tawaf 7 putaran, sholat di belakang Maqam Ibrahim dan kemudian Sai 7 kali bolak-balik. Terakhir, Tahalul dengan menggunting sedikit rambut. Ustad Jailani masih punya tugas lain, kami persilahkan untuk meninggalkan kami berempat.




Ketika Azan sholat Dzuhur berkumandang, kami mengambil tempat di sisi kanan dan kiri jalur Sai. Sholat disini lebih tenang tidak berdesakan. Begitu sholat selesai mereka yang Sai-nya terpotong, melanjutkan Sai lagi. Kamipun kembali ke hotel.




Besuk siang kami akan meninggalkan kota Mekah setelah Tawaf Wada. Baju Gamis aku jumlahnya sudah menipis. Memang aku ingin beli 1 atau 2 potong di Mekah atau Madinah. Jika ada kesempatan, pulang sholat mau lihat-lihat di Pasar Safa.



Dilanjutkan : Umrah di akhir tahun 2025 (2)

 d









Tidak ada komentar:

Posting Komentar