Hari ini adalah hari terakhir kami di Mekah. Sebelum
meninggalkan Mekah, jam 7.30 bersama-sama melaksanakan Tawaf Wada. Kami
berkumpul di lobi setelah makan pagi dan bersama-sama Ustad Faqih menuju
Masjid. Transmitter dan Earphone sudah aku serahkan kemaren. Aku ingin membaca
Doa Tawaf Wada dalam bahasa Indonesia agar lebih menghayati. Buku doa yang sudah
aku tandai dan lipat bagian yang akan dibaca, aku kalungkan di leher. Nanti
tinggal buka saja. Selain itu, aku juga ingin berdoa sesuai kata hatiku.
Tak terasa 7 putaran telah selesai. Kami mencari tempat didekat Kabah untuk berdiam sejenak sambil merenung. Masih adakah kemungkinan Allah memanggilku kesini lagi? Masih sanggupkah di usiaku nanti aku umrah lagi? InshaAllah, Semoga.....
Terakhir, kami
berfoto bersama seluruh rombongan yang ikut Tawaf Wada dan berfoto sekeluarga
dengan background Ka’bah.
Keluar dari
Masjid, kami melewati Gerai KFC. Ingatanku kembali ke masa lalu, ketika umrah
berdua bersama sahabatku Rita. Kami membeli KFC, dan ternyata tidak ada
sambalnya sebagaimana di tanah air. Sambalnya berupa saus berasa kentang. Waktu
itu aku masih agak muda, masih agresif dengan
sambal. Sebagai obat kangen, aku ajak cucuku Dedek Allura mampir beli
yang original dan yang krispi. Rupanya sekarang ada saus kecapnya.
Dari WA grup diingatkan lagi, bahwa koper bagasi
supaya disiapkan di depan kamar paling lambat jam 10. Petugas Tazkia akan
membawa koper-koper itu berangkat lebih dulu dengan kereta ke Medinah sebelum
rombongan berangkat. Rombongan berangkat dengan kereta jam 16.20. Dari Tazkia
diberikan jadwal waktu seperti ini :
- 12:23 : sholat
dzuhur dan ashar dikerjakan dengan
Jamak Taqdim di hotel
- 13:00 : makan siang di restaurant
- 14:00 : kumpul di lobby
Sesuai jadwal,
pada jam 14.00 kami segera naik bus menuju Stasiun Kereta. Jarak antara
Masjidil Haram ke Stasiun Kereta Cepat nggak ada 10 km, hanya memerlukan waktu
15-20 menit.
Stasiun Kereta Cepat di Kota Mekah tampak sangat
modern. Bangunan depan Stasiun berwarna hitam. Terdapat toko-toko, yang
sayangnya hanya sedikit yang buka. Ketika kami datang, stasiun masih sepi. Baru
beberapa waktu kemudian mulai berdatangan calon penumpang lain,
diantaranya Jemaah Umroh dari Travel Indonesia
maupun negara lain.
Kami menunggu di deretan kursi tunggu. Tiket sudah
dibagikan. Kereta yang nanti kami tumpangi bernomor 00162. Kereta ini akan
berangkat jam 16.20, tiba di Al Sulimaniyah Jeddah jam 16.48. Kemudian dari Al
Sulimaniyah Jeddah jam 16.52 menuju Madinah, tiba jam 18.45. Harga tiketnya 39 SAR ditambah
155,25 SAR menjadi 194,25 SAR. Mahal juga ya, sekitar Rp. 871.794.
Sebelum kereta berangkat, aku menyempatkan ke Toilet
lebih dulu. Toiletnya juga modern, bukan toilet jongkok. Sayangnya, seperti
biasa, kertas tisu berceceran, bahkan ada yang dibuang di kloset. Aku bertanya
dalam hati, apakah yang bertingkah laku seperti ini Jemaah Indonesia, apa
Jemaah negara lain? Mengapa Pemerintah Saudi tidak menempatkan seorang Petugas supaya
toiletnya selalu bersih?
Ketika waktu berangkat tiba, kami langsung menuju
kereta. Nama resminya adalah Haramain High Speed Railway. Kecepatannya hingga
300 km per jam. Bersih dan nyaman. Tempat duduknya bisa diputar balik, jika
yang duduk satu keluarga.
Kereta mulai bergerak, makin lama makin kencang.
Sepanjang perjalanan hanya melihat tanah
kosong, sesekali di kejauhan ada bangunan. Dari kereta, tampak pemandangan
sunset berwarna pink jingga orange yang cantik.
Tiba di Madinah hari sudah gelap. Tak lama menunggu,
kami dijemput bus langsung menuju hotel. Terasa lebih dingin udara di kota Madinah
dibandingkan Mekah. Memang Madinah lebih ekstrim, di musim panas lebih panas,
di musim dingin lebih dingin.
Madinah Al Munawwaroh atau kota yang bercahaya. Itulah
nama kota Madinah, dimana Rasulullah bertempat tinggal, berjuang menegakkan
Islam selama 10 tahun hingga wafatnya. Memasuki pusat kota, lampu gemerlapan. Suasana
lebih adem dibanding kota Mekah.
Hotel kami bernama Ruve Hotel, kira-kira berjarak 100
meter dari Masjid. Untuk ke Masjid, hanya
menyeberang jalan 2 kali, sudah tampak Pintu Masjid Nabawi nomor 338. Kali ini
berbeda dengan Umroh terakhirku di 2017, dimana hotel yang kami tempati adalah
Hotel Anwar Movenpick yang berlokasi persis di sisi Masjid.
Kunci dibagi, aku berdua Mas Suami mendapat kamar
1308, dan keluarga anak cucu di kamar 1306. Kami memasukkan koper, kemudian
turun untuk makan malam di lantai Mezanin. Dibandingkan hotel kami di Mekah
Makarem Ajyad, yang di Medinah ini lebih bagus, lebih mewah. Demikian pula
hidangan makanannya lebih lengkap seperti standard hotel bintang lima.
Walau waktu sholat Isya telah lewat, kami akan tetap
sholat berjamaah di Masjid, yaitu sholat Jamak Takhir Magrib dan Isya dipimpin
Ustad Faqih. Bukan di dalam Masjid tapi di
dibawah payung-payung di halaman Masjid.
Hari
keenam, Selasa 30 Desember 2025.
Pagi yang sejuk di Masjid Nabawi. Hari ini untuk
pertama kali aku masuk Masjid Nabawi karena kemaren malam hanya sholat di
halaman saja. Tampak payung-payung cantik masih mengembang. Waktu subuh di
Madinah jam 05.41 waktu setempat. Dari hotel yang hanya 100 M dari Masjid, aku
berdua Mas Suami jalan santai saja.
Kami memasuki Masjid melalui pintu nomor 338, dan
janjian untuk ketemu nanti setelah selesai sholat di tiang pertama paling dekat
dengan pintu tersebut. Sholat subuh diawali dengan azan pertama. Ketika azan
pertama itu aku baru berangkat. Di halaman yang berkarpet hijau, sudah banyak
jemaah ibu-ibu. Sepertinya jemaah lebih suka sholat di halaman. Aku masuk terus
hingga ke depan, ternyata masih ada tempat.
Aku segera duduk manis memperhatikan suasana di dalam
Masjid sambil mengambil video. Setelahnya baru sholat Tahiyatul Masjid 2
rakaat. Memperhatikan lengkungan-lengkungan,
garis-garis, serta hiasan lampunya yang
indah dan tidak berubah dari pertama kali dulu aku kesini, terasa adem di hati.
Siapakah arsitek dan desain interiornya?
Setelah azan kedua sekitar 10 menit sholat dimulai.
Karena setiap hari selalu ada sholat jenazah, dan hanya jeda beberapa menit,
nggak cukup waktunya jika kita mau sholat sunah bakdiah. Maka sebaiknya
ditunggu setelah sholat jenasah selesai, baru sholat sunah bakdiah. Hanya shoat
dzuhur, magrib dan isya yang ada sholat sunah bakdiyah.
Bubaran sholat, aku menunggu Mas Suami di tiang dekat
pintu nomor 338. Lokasi sholat Jemaah laki-laki agak jauh dari pintu masuk kami
tadi, sehingga lumayan lama menunggunya. Kami ke hotel bersam-sama, langsung sarapan
pagi.
Acara tour hari ini dimulai jam 8.00 pagi. Peserta sudah
berkumpul di Lobi. Aku mempersiapkan diri dengan mengenakan kaos dalam yang
hangat dan membawa syal, khawatir dinginnya kota Madinah menjadikanku Flu.
Tujuan pertama adalah Jabal Uhud, gunung sepanjang 7 km yang terletak sekitar 5
km dari Masjid Nabawi.
Sampai di tempat tujuan, aku agak pangling. Terakhir
kesini, yang kuingat adalah tempat yang masih berupa tanah berdebu dan hanya
ada satu-satunya Bangunan Pemakaman para Syuhada Perang Uhud. Sekarang telah
jauh berbeda. Kondisi sekitar Pemakaman sudah berlantai bagus dengan beberapa
tanaman sebagai hijauan.
Ustad Faqih menceritakan sejarah Perang Uhud yang
terjadi pada tahun ke 3 Hijriah, dimana
Pasukan Pemanah kaum muslimin yang merupakan pasukan inti ditempatkan di Jabal
Rumat, diperintahkan untuk tetap tinggal disitu walau apapun yang terjadi. Tetapi
mereka tidak disiplin mematuhi perintah, turun ke medan perang setelah dilihat
Pasukan Kafir Quraisy kalah. Padahal setelah itu pasukan Kafir Quraisy kembali
lagi dengan tambahan pasukan, sehingga
mengakibatkan kekalahan kaum Muslimin.
Paman Nabi, Sayidina Hamzah bin Abdul Muthalib, gugur
di Medan perang. Rasulullah pun terluka, walaupun dijaga dan dilindungi
mati-matian oleh seorang Sahabat yang namanya Thalhah bin Ubaidilah.
Thalhah menerima status Syahid meskipun tidak gugur karena 70 panah menancap di
tubuhnya. Kami dibimbing Ustad Faqih mengirimkan doa kepada para Syuhada Perang
Uhud.
Kembali ke bus, kami menuju ke Pasar Kurma. Pasar ini
sebenarnya hanya satu ruangan besar yang di tengahnya didominasi Pedagang
Kurma. Disini, para pengunjung tanpa membeli kurmapun boleh mencicipi
sepuasnya. Layaknya pasar, banyak pedagang berteriak-teriak menawarkan
dagangannya.
"Ayo beli.
murah, murah"
"Azwa,
Sukari, murah, murah"
Rupanya karena banyak pengunjung dari Indonesia,
mereka gunakan bahasa Indonesia. Beberapa diantaranya memang wajah-wajah orang
Indonesia. Entah dia Pemilik atau Karyawannya.
Berbagai jenis kurma tersedia. Yang aku kenal karena
sering makan adalah Kurma Azwa atau kurma Nabi, Kurma Sukari dan yang
butirannya paling besar dan banyak dagingnya adalah Kurma Medjool. Sebenarnya aku
kurang suka makanan manis, jadi tidak tertarik dengan kurma. Tapi aku suka
Ruthob, kurma setengah matang yang masih renyah/krenyes-krenyes, rasanya manis
legit mirip sawo, berwarna kuning. Disini aku kenyang icip-icip Ruthob.
Selain kurma juga dijual berbagai barang yang biasa
dijual untuk oleh-oleh. Di pojok, ada yang jual gamis. Ditawarkan dengan harga
100 SAR dapat 3 gamis, kalau beli 1 harganya 40 SAR. Padahal kemaren aku
beli di Mekah 60 SAR. Jadilah beli 1 warna hitam, ukuran S, biar
kayak orang Arab ... he he he .....
Kembali ke bus, rombongan langsung menuju hotel.
Ditengah jalan sudah terdengar Azan berkumandang, artinya kami akan sholat
dikamar.
Hari
ketujuh, Rabu 31 Desember 2025.
Dari Itinerary yang dibagikan, hari ini acara kita adalah
ziarah di sekitar Masjid Nabawi, antara
lain ke Makam Rasulullah SAW dan para Sahabat, Makam Baqi, dan tempat-tempat
yang bersejarah disekitar Masjid.
Kami sarapan di resto hotel lantai Mezanin dengan
santai, setelah kembali dari Masjid untuk sholat subuh. Minum kopi dan makan
roti yang disediakan di resto dan tak lupa buah-buah nya. Menu Resto hotel Ruve
cukup variatif. Kemaren ada cream sup yang hangat. Aku suka sekali, hingga
nambah. Saladnya juga berganti-ganti. Selesai sarapan selanjutnya kami bersiap-siap
ikut ziarah. Kalau saat ziarah ke Jabal Uhud hanya aku berdua suami, kali ini berenam,
keluarga Boby lengkap ikut.
Ustad Faqih dan Ustad Saiful menunggu di lobi jam 8.15
untuk bersama-sama berangkat. Suasana pagi di sekitar Masjid sangat nyaman, ada
matahari yang muncul ditengah dinginnya udara Madinah. Saat ini suhu sekitar 17
derajat. Burung-burung dara berkumpul di tempat dimana banyak pengunjung memberi makan. Bergerombol
dan segera terbang bersama-sama, ketika ada yang mengganggunya. Ini menjadi
obyek foto yang bagus.
Yang kami kunjungi adalah :
-Tsaqifah bani
Saidah, tempat dimana Abu Bakar Sidik dilantik sebagai Khalifah Pertama setelah
Rasulullah Nabi Muhammad SAW wafat.
-Masjid Ghamamah
(awan) tempat Nabi shalat Id dan sholat Istisqa (memohon hujan).
-Masjid Ali bin
Abi Thalib, tempat Nabi pernah sholat Id.
-Pemakaman Baqi,
tempat dimakamkannya keluarga Rasulullah, para Sahabat dan para Ulama yang
sudah ada sejak jaman Nabi.
-Makam Rasulullah,
Abu Bakar Sidik dan Umar Ibnu Chatab.
Makam-makam itu
berada di kamar Siti Aisyah yang tetap berdiam disitu selama 12,5 tahun. Ketika
wafatnya Umar Bin Chatab, barulah Siti Aisyah pindah untuk digunakan sebagai
makamnya Umar Bin Chatab.
Sambil berjalan pelan-pelan berkeliling sekitar
Masjid, Ustad Faqih menunjukkan Lokasi Tsaqifah bani Saidah, yang sekarang
dipagar tertutup. Kemungkinan akan didirikan suatu bangunan. Ustad menceriterakan
sejarah Islam setelah Rasulullah wafat, dimana akhirnya antara Kaum Anshor dan
Muhajirin sepakat membaiat Abubakar Sidik menggantikan Rasulullah sebagai
Khalifah Pertama.
Disekitar tempat kami berada, tampak sudah banyak
tanaman-tanaman atau pepohonan hijau yang membuat udara terasa lebih segar.
Tanaman-tanaman itu belum tinggi dan belum rimbun, tetapi ada yang sudah
berbunga, berwarna kuning. Pastinya dirawat dengan baik, karena kota Madinah
mempunyai iklim yang ekstrim. Tanpa perawatan, tidak mungkin bisa bertahan.
Ketika tampak Kubah Hijau, disanalah terdapat makam
Rasulullah Muhammad SAW, kami dibimbing mengucapkan salam.
“Assalamu’alaika Ya Rasulullah, Assalamu’alaika Ya Nabiyallah,
Assalamu’alaika Ya Habiballah”
Demikian pula salam kepada Abubakar Sidik dan Umar
Ibnu Chattab, yang makamnya berada disamping makam Rasulullah.
Rombongan sampai ke Pemakaman Baqi, yang merupakan Tabiin
(Tabiin Adalah generasi yang bertemu dengan Para Sahabat Nabi dalam keadaan
Islam serta meninggal dalam keadaan Islam), kamipun mendoakan mereka juga.
Hari ini adalah hari terakhir kami di Madinah. Tinggal
nanti malam acara ke Raudhah. Ada keinginan untuk membeli sekedar
oleh-oleh, tapi Mas Suami mengingatkan bahwa kemampuan untuk itu sangat
terbatas. Bawa diri agar tetap dalam keadaan sehat saja sudah kesulitan.
Mengapa repot-repot? Ya sudahlah. Kita terima keterbatasan lansia.
Tapi mau pulang ke tanah air belum ngerasain kebab?
Makanan khas Arab yang dulu sering aku temui dan sekarang jarang aku lihat.
Dulu, dari jauh sudah tercium bau sedap dari daging sapi yang ditumpuk kemudian
diputar di sebuah pemanas listrik. Sekarang toko kebab tertutup kaca, nggak ada
bau yang keluar.
Aku bertanya ke beberapa Penjaga Toko. Katanya, ada di
jalan yang sejajar dengan jalan samping hotel kami. Aku cari sambil pulang ke
hotel dan memang ada. Harganya 15 SAR. Beli satu minta dipotong jadi dua untuk
dinikmati nanti di kamar.
Dari Tazkia
diperoleh jadwal untuk ke Raudhah : Bapak-bapak mendapat giliran jam 15.00 dan
Ibu-ibu jam 20.30 malam. Oleh karena itu, untuk Bapak-bapak diminta berkumpul
di lobi pada jam 14.30 untuk bersama-sama sholat ashar, selanjutnya ke Raudhah dengan
Ustad Faqih.
Untuk ibu-ibu,
setelah makan malam berkumpul di lobi jam 20.30 dalam keadaan berwudhu, akan ke
Raudhah bersama Muttawifah yang disediakan Tazkia. Saat kami telah berkumpul di
lobi, Ustad Faqih memperkenalkan kami
dengan Muttawifah Ibu Sam yang berasal dari Makasar.
Untuk bisa masuk berdoa di Raudhah, sekarang harus
mendaftar melalui Aplikasi Nusuk. Apa itu? Menurut Google : Aplikasi Nusuk
adalah platform digital resmi dari Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi untuk
mempermudah seluruh proses perjalanan ibadah haji dan umrah, mulai dari
pendaftaran, perizinan (seperti masuk Raudhah), pemesanan tiket kereta cepat,
hingga layanan pendukung lainnya, berfungsi sebagai identitas digital penting
bagi jemaah di Tanah Suci.
Mengenai kesempatan berdoa di Raudhah ini, sudah
diuruskan oleh Tazkia. Tetapi jika menginginkan ke Raudhah untuk kedua kalinya,
maka bisa mengajukan sendiri.
Berjalan bersama-sama, kami mengikuti Ibu Sam masuk ke
Pintu Wanita, nomor berapa ya? Perasaanku masuk dari depan ke ujung sebelah
kiri Masjid. Rupanya begitu banyak jemaah wanita yang antri untuk masuk
Raudhah. Kami berdiri berbaris satu persatu, dan saling merapat agar tidak
terlepas atau disusupi jemaah bukan rombongan Tazkia. Begitu masuk Masjid, sambil
menunggu giliran, kami sholat Tahiyatul Masjid 2 rakaat. Melihat kemampuannya
membimbing kami dan ketegasannya terhadap Jemaah dari negara lain, pasti beliau
sudah lama mendampingi jemaah Tazkia dan sudah lama menetap di Mekah.
Dengan sabar, cukup lama kami menunggu giliran, akhirnya sampai juga giliran masuk ke Raudhah. Pertama, kami sholat 2 rakaat. Setelahnya, aku tumpahkan segala doa dan harapan, yang intinya adalah :
- Memohon kiranya aku dapat kembali kehadiratNya
dengan Husnul
Khotimah.
- Memohon kiranya sepeninggalku, anak, mantu, cucu
tetap dalam lindunganNya,
menjadi Hamba-hamba
yang taat patuh kepada Allah, menjadi hamba-hamba
yang selalu bersyukur
serta memperoleh RidhoNya.
- Memohon kiranya Allah berkenan menjadikan negeri
tercinta Indonesia, menjadi
negeri yang aman tenteram dan subur makmur,
rakyatnya bahagia dan
Sejahtera.
Kondisi saat ini yang sedang tidak baik-baik saja segera berakhir.
- Memohon kiranya Allah berkenan mengabulkan doa titipan dari teman-teman di
tanah air (dengan menyebutkan satu persatu nama-nama yang aku ingat).
Waktu yang diberikan untuk kami berada di Raudhah, sekitar 15 menit. Segera setelahnya di minta keluar oleh Petugas. Bu Sam minta kami segera menyelesaikan doa. Keluar dari Raudhah, kami diberi sepotong kue semacam enting-enting yang terbuat dari kurma dan kacang serta sebotol air zamzam. Alhamdulillah, kuenya enak. Dimakan sambil jalan menuju hotel. Bu Sam juga sempat mengambil foto kami ketika di Raudhah dan di depan Mimbar Nabi.
Suasana Masjid Nabawi sebagaimana Masjidil Haram,
tetap ramai walau hari semakin malam. Di halaman Masjid, dibawah payung-payung,
banyak pengunjung berkumpul, bermain besama anak-anaknya.
Hari kedelapan, Kamis 1 Januari 2026.
Pagi ini adalah Sholat subuh terakhir kami di Masjid
Nabawi, karena nanti siang kami akan kembali ke tanah air. Aku memohon kiranya
Allah memberi kesempatan lagi untuk kembali ke Tanah Suci. Seandainya tak ada
kesempatan lagi, mohon kiranya mengganti dengan kehidupan yang husnul khotimah.
Dari grup WA diumumkan agar koper sudah diletakkan didepan
kamar pada jam 8.30 dan kami akan cek out jam 11.30. Koper-koper tersebut akan
ditimbang, agar jika ada yang berlebih dapat diketahui dari awal. Penerbangan
dengan Saudia lebih longgar dalam hal bagasi, yaitu per orang 2 x 23 kg.
Maksudnya 23 kg itu berat maksimal untuk satu koper.
Setelah sarapan pagi, segera kami rapi-rapi koper,
walau sebenarnya dari awal sudah aku atur penempatan baju kotor dan baju bersih
agar nantinya tidak buru-buru. Mas Suami sempat tidur, mungkin kecapean. Aku
masih ada waktu untuk menikmati kopi susu (sachet), yang aku ambil dari Resto
saat sarapan tadi.
Tepat jam 11.30 bus yang akan membawa kami sudah siap.
Segara kami bergegas naik dan di sepanjang perjalanan menuju Bandara, kami
berdoa bersama untuk keselamatan perjalanan hingga nanti tiba di tanah air. Kami
juga pamit kepada Rasulullah, untuk meninggalkan Masjid Nabawi dan Kota Madinah
Al Munawaroh.
Tiba di Bandara Madinah, yang nama resminya adalah Bandara Internasional Pangeran Mohamad Bin Abdulaziz. Koper-koper sudah diurus oleh Petugas Tazkia. Sambil menunggu, giliran masuk Cek In, kami berkumpul di Ruang Tunggu, dimana kita bisa sholat dan ke Toilet. Petugas Tazkia membagikan ke masing-masing jemaah, 1 Box makan siang masakan Indonesia dan 1 Box Albaik Chicken. Albaik Chiken adalah ayam goreng cepat saji semacam KFC ala Arab. Isinya 4 potong atau setengah ayam, yang sangat digemari jemaah Indonesia. Mengingat repot membawanya, untuk 2 Box makan siang aku minta tolong agar disedekahkan buat yang memerlukan. Sedang 2 Box Albaik aku bawa pulang buat dimakan bersama dengan Mbak Karni dan Pak Toni.
Ketika sudah dibolehkan masuk, aku melihat antrian Cek In yang mengular dan berdesakan nggak tertib. Apa hari-hari begini ya? Apa karena musim liburan, penerbangan untuk kota-kota di Timur Tengah sangat padat?
Lega rasanya setelah pemeriksaan paspor. Tak lama kemudian segera naik
ke pesawat. Penerbangan kami dengan SV 820, Pesawat Boing 777-300 ER, pesawat
yang sangat besar. Kami berdua mendapat tempat yang lebih enak, satu deret
hanya untuk 2 orang dan tidak jauh dari toilet. Setelah dibagikan makan malam
oleh Pramugari, aku segera minum setengah tablet Esilgan, hingga langsung tidur
nyenyak nggak terasa sudah mau mendarat.
Alhamdulillah tiba di
negeri tercinta Indonesia.......
Wassalamualaikum ww.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar