Minggu, 11 Januari 2026

Umrah di akhir tahun 2025 (2)






Hari kelima, Senin 29 Desember 2025

Hari ini adalah hari terakhir kami di Mekah. Sebelum meninggalkan Mekah, jam 7.30 bersama-sama melaksanakan Tawaf Wada. Kami berkumpul di lobi setelah makan pagi dan bersama-sama Ustad Faqih menuju Masjid. Transmitter dan Earphone sudah aku serahkan kemaren. Aku ingin membaca Doa Tawaf Wada dalam bahasa Indonesia agar lebih menghayati. Buku doa yang sudah aku tandai dan lipat bagian yang akan dibaca, aku kalungkan di leher. Nanti tinggal buka saja. Selain itu, aku juga ingin berdoa sesuai kata hatiku.

Tak terasa 7 putaran telah selesai. Kami mencari tempat didekat Kabah untuk berdiam sejenak sambil merenung. Masih adakah kemungkinan Allah memanggilku kesini lagi? Masih sanggupkah di usiaku nanti aku umrah lagi? InshaAllah, Semoga.....

Terakhir, kami berfoto bersama seluruh rombongan yang ikut Tawaf Wada dan berfoto sekeluarga dengan background Ka’bah.



 


Keluar dari Masjid, kami melewati Gerai KFC. Ingatanku kembali ke masa lalu, ketika umrah berdua bersama sahabatku Rita. Kami membeli KFC, dan ternyata tidak ada sambalnya sebagaimana di tanah air. Sambalnya berupa saus berasa kentang. Waktu itu aku masih agak muda, masih agresif dengan  sambal. Sebagai obat kangen, aku ajak cucuku Dedek Allura mampir beli yang original dan yang krispi. Rupanya sekarang ada saus kecapnya.

Dari WA grup diingatkan lagi, bahwa koper bagasi supaya disiapkan di depan kamar paling lambat jam 10. Petugas Tazkia akan membawa koper-koper itu berangkat lebih dulu dengan kereta ke Medinah sebelum rombongan berangkat. Rombongan berangkat dengan kereta jam 16.20. Dari Tazkia diberikan jadwal waktu seperti ini :

- 12:23 : sholat dzuhur dan ashar dikerjakan dengan

              Jamak Taqdim di hotel

- ⁠13:00 : makan siang di restaurant 

- ⁠14:00 : kumpul di lobby

 

Sesuai jadwal, pada jam 14.00 kami segera naik bus menuju Stasiun Kereta. Jarak antara Masjidil Haram ke Stasiun Kereta Cepat nggak ada 10 km, hanya memerlukan waktu 15-20 menit.

Stasiun Kereta Cepat di Kota Mekah tampak sangat modern. Bangunan depan Stasiun berwarna hitam. Terdapat toko-toko, yang sayangnya hanya sedikit yang buka. Ketika kami datang, stasiun masih sepi. Baru beberapa waktu kemudian mulai berdatangan calon penumpang lain, diantaranya  Jemaah Umroh dari Travel Indonesia maupun negara lain. 

Kami menunggu di deretan kursi tunggu. Tiket sudah dibagikan. Kereta yang nanti kami tumpangi bernomor 00162. Kereta ini akan berangkat jam 16.20, tiba di Al Sulimaniyah Jeddah jam 16.48. Kemudian dari Al Sulimaniyah Jeddah jam 16.52 menuju Madinah, tiba  jam 18.45. Harga tiketnya 39 SAR ditambah 155,25 SAR menjadi 194,25 SAR. Mahal juga ya, sekitar Rp. 871.794.

Sebelum kereta berangkat, aku menyempatkan ke Toilet lebih dulu. Toiletnya juga modern, bukan toilet jongkok. Sayangnya, seperti biasa, kertas tisu berceceran, bahkan ada yang dibuang di kloset. Aku bertanya dalam hati, apakah yang bertingkah laku seperti ini Jemaah Indonesia, apa Jemaah negara lain? Mengapa Pemerintah Saudi tidak menempatkan seorang Petugas supaya toiletnya selalu bersih?

Ketika waktu berangkat tiba, kami langsung menuju kereta. Nama resminya adalah Haramain High Speed Railway. Kecepatannya hingga 300 km per jam. Bersih dan nyaman. Tempat duduknya bisa diputar balik, jika yang duduk satu keluarga.




Kereta mulai bergerak, makin lama makin kencang. Sepanjang perjalanan hanya melihat  tanah kosong, sesekali di kejauhan ada bangunan. Dari kereta, tampak pemandangan sunset berwarna pink jingga orange yang cantik.

Tiba di Madinah hari sudah gelap. Tak lama menunggu, kami dijemput bus langsung menuju hotel. Terasa lebih dingin udara di kota Madinah dibandingkan Mekah. Memang Madinah lebih ekstrim, di musim panas lebih panas, di musim dingin lebih dingin.

Madinah Al Munawwaroh atau kota yang bercahaya. Itulah nama kota Madinah, dimana Rasulullah bertempat tinggal, berjuang menegakkan Islam selama 10 tahun hingga wafatnya. Memasuki pusat kota, lampu gemerlapan. Suasana lebih adem dibanding kota Mekah.

Hotel kami bernama Ruve Hotel, kira-kira berjarak 100 meter dari Masjid. Untuk   ke Masjid, hanya menyeberang jalan 2 kali, sudah tampak Pintu Masjid Nabawi nomor 338. Kali ini berbeda dengan Umroh terakhirku di 2017, dimana hotel yang kami tempati adalah Hotel Anwar Movenpick yang berlokasi persis di sisi Masjid.

Kunci dibagi, aku berdua Mas Suami mendapat kamar 1308, dan keluarga anak cucu di kamar 1306. Kami memasukkan koper, kemudian turun untuk makan malam di lantai Mezanin. Dibandingkan hotel kami di Mekah Makarem Ajyad, yang di Medinah ini lebih bagus, lebih mewah. Demikian pula hidangan makanannya lebih lengkap seperti standard hotel bintang lima.

Walau waktu sholat Isya telah lewat, kami akan tetap sholat berjamaah di Masjid, yaitu sholat Jamak Takhir Magrib dan Isya dipimpin Ustad Faqih. Bukan di dalam Masjid tapi di  dibawah payung-payung di halaman Masjid.

 

Hari keenam, Selasa 30 Desember 2025.

Pagi yang sejuk di Masjid Nabawi. Hari ini untuk pertama kali aku masuk Masjid Nabawi karena kemaren malam hanya sholat di halaman saja. Tampak payung-payung cantik masih mengembang. Waktu subuh di Madinah jam 05.41 waktu setempat. Dari hotel yang hanya 100 M dari Masjid, aku berdua Mas Suami jalan santai saja.

Kami memasuki Masjid melalui pintu nomor 338, dan janjian untuk ketemu nanti setelah selesai sholat di tiang pertama paling dekat dengan pintu tersebut. Sholat subuh diawali dengan azan pertama. Ketika azan pertama itu aku baru berangkat. Di halaman yang berkarpet hijau, sudah banyak jemaah ibu-ibu. Sepertinya jemaah lebih suka sholat di halaman. Aku masuk terus hingga ke depan, ternyata masih ada tempat.

Aku segera duduk manis memperhatikan suasana di dalam Masjid sambil mengambil video. Setelahnya baru sholat Tahiyatul Masjid 2 rakaat. Memperhatikan  lengkungan-lengkungan,  garis-garis, serta hiasan lampunya yang indah dan tidak berubah dari pertama kali dulu aku kesini, terasa adem di hati. Siapakah arsitek dan desain interiornya?




Setelah azan kedua sekitar 10 menit sholat dimulai. Karena setiap hari selalu ada sholat jenazah, dan hanya jeda beberapa menit, nggak cukup waktunya jika kita mau sholat sunah bakdiah. Maka sebaiknya ditunggu setelah sholat jenasah selesai, baru sholat sunah bakdiah. Hanya shoat dzuhur, magrib dan isya yang ada sholat sunah bakdiyah.

Bubaran sholat, aku menunggu Mas Suami di tiang dekat pintu nomor 338. Lokasi sholat Jemaah laki-laki agak jauh dari pintu masuk kami tadi, sehingga lumayan lama menunggunya.  Kami ke hotel bersam-sama, langsung sarapan pagi.

Acara tour hari ini dimulai jam 8.00 pagi. Peserta sudah berkumpul di Lobi. Aku mempersiapkan diri dengan mengenakan kaos dalam yang hangat dan membawa syal, khawatir dinginnya kota Madinah menjadikanku Flu. Tujuan pertama adalah Jabal Uhud, gunung sepanjang 7 km yang terletak sekitar 5 km dari Masjid Nabawi.

Sampai di tempat tujuan, aku agak pangling. Terakhir kesini, yang kuingat adalah tempat yang masih berupa tanah berdebu dan hanya ada satu-satunya Bangunan Pemakaman para Syuhada Perang Uhud. Sekarang telah jauh berbeda. Kondisi sekitar Pemakaman sudah berlantai bagus dengan beberapa tanaman sebagai hijauan.




Ustad Faqih menceritakan sejarah Perang Uhud yang terjadi pada tahun ke 3 Hijriah, dimana Pasukan Pemanah kaum muslimin yang merupakan pasukan inti ditempatkan di Jabal Rumat, diperintahkan untuk tetap tinggal disitu walau apapun yang terjadi. Tetapi mereka tidak disiplin mematuhi perintah, turun ke medan perang setelah dilihat Pasukan Kafir Quraisy kalah. Padahal setelah itu pasukan Kafir Quraisy kembali lagi dengan tambahan pasukan,  sehingga mengakibatkan kekalahan kaum Muslimin.  

Paman Nabi, Sayidina Hamzah bin Abdul Muthalib, gugur di Medan perang. Rasulullah pun terluka, walaupun dijaga dan dilindungi mati-matian oleh seorang Sahabat yang namanya Thalhah bin Ubaidilah.  Thalhah menerima status Syahid meskipun tidak gugur karena 70 panah menancap di tubuhnya. Kami dibimbing Ustad Faqih mengirimkan doa kepada para Syuhada Perang Uhud.

Kembali ke bus, kami menuju ke Pasar Kurma. Pasar ini sebenarnya hanya satu ruangan besar yang di tengahnya didominasi Pedagang Kurma. Disini, para pengunjung tanpa membeli kurmapun boleh mencicipi sepuasnya. Layaknya pasar, banyak pedagang berteriak-teriak menawarkan dagangannya. 

"Ayo beli. murah, murah"

"Azwa, Sukari, murah, murah"

Rupanya karena banyak pengunjung dari Indonesia, mereka gunakan bahasa Indonesia. Beberapa diantaranya memang wajah-wajah orang Indonesia. Entah dia Pemilik atau Karyawannya.

Berbagai jenis kurma tersedia. Yang aku kenal karena sering makan adalah Kurma Azwa atau kurma Nabi, Kurma Sukari dan yang butirannya paling besar dan banyak dagingnya adalah Kurma Medjool. Sebenarnya aku kurang suka makanan manis, jadi tidak tertarik dengan kurma. Tapi aku suka Ruthob, kurma setengah matang yang masih renyah/krenyes-krenyes, rasanya manis legit mirip sawo, berwarna kuning. Disini aku kenyang icip-icip Ruthob. 

Selain kurma juga dijual berbagai barang yang biasa dijual untuk oleh-oleh. Di pojok, ada yang jual gamis. Ditawarkan dengan harga 100 SAR dapat 3 gamis, kalau beli 1 harganya 40 SAR.  Padahal kemaren aku beli di Mekah 60 SAR. Jadilah beli 1 warna hitam, ukuran S, biar kayak orang Arab ...  he he he .....

Kembali ke bus, rombongan langsung menuju hotel. Ditengah jalan sudah terdengar Azan berkumandang, artinya kami akan sholat dikamar.

 

Hari ketujuh,  Rabu 31 Desember 2025.

Dari Itinerary yang dibagikan, hari ini acara kita adalah ziarah di sekitar Masjid Nabawi,  antara lain ke Makam Rasulullah SAW dan para Sahabat, Makam Baqi, dan tempat-tempat yang bersejarah disekitar Masjid.

Kami sarapan di resto hotel lantai Mezanin dengan santai, setelah kembali dari Masjid untuk sholat subuh. Minum kopi dan makan roti yang disediakan di resto dan tak lupa buah-buah nya. Menu Resto hotel Ruve cukup variatif. Kemaren ada cream sup yang hangat. Aku suka sekali, hingga nambah. Saladnya juga berganti-ganti. Selesai sarapan selanjutnya kami bersiap-siap ikut ziarah. Kalau saat ziarah ke Jabal Uhud hanya aku berdua suami, kali ini berenam, keluarga Boby lengkap ikut.

Ustad Faqih dan Ustad Saiful menunggu di lobi jam 8.15 untuk bersama-sama berangkat. Suasana pagi di sekitar Masjid sangat nyaman, ada matahari yang muncul ditengah dinginnya udara Madinah. Saat ini suhu sekitar 17 derajat. Burung-burung dara berkumpul di tempat dimana  banyak pengunjung memberi makan. Bergerombol dan segera terbang bersama-sama, ketika ada yang mengganggunya. Ini menjadi obyek foto yang bagus.

Yang kami kunjungi adalah :

-Tsaqifah bani Saidah, tempat dimana Abu Bakar Sidik dilantik sebagai Khalifah Pertama setelah Rasulullah Nabi Muhammad SAW wafat.

-Masjid Ghamamah (awan) tempat Nabi shalat Id dan sholat Istisqa (memohon hujan).

-Masjid Ali bin Abi Thalib, tempat Nabi pernah sholat Id.

-Pemakaman Baqi, tempat dimakamkannya keluarga Rasulullah, para Sahabat dan para Ulama yang sudah ada sejak jaman Nabi.

-Makam Rasulullah, Abu Bakar Sidik dan Umar Ibnu Chatab.

Makam-makam itu berada di kamar Siti Aisyah yang tetap berdiam disitu selama 12,5 tahun. Ketika wafatnya Umar Bin Chatab, barulah Siti Aisyah pindah untuk digunakan sebagai makamnya Umar Bin Chatab.





Sambil berjalan pelan-pelan berkeliling sekitar Masjid, Ustad Faqih menunjukkan Lokasi Tsaqifah bani Saidah, yang sekarang dipagar tertutup. Kemungkinan akan didirikan suatu bangunan. Ustad menceriterakan sejarah Islam setelah Rasulullah wafat, dimana akhirnya antara Kaum Anshor dan Muhajirin sepakat membaiat Abubakar Sidik menggantikan Rasulullah sebagai Khalifah Pertama.

Disekitar tempat kami berada, tampak sudah banyak tanaman-tanaman atau pepohonan hijau yang membuat udara terasa lebih segar. Tanaman-tanaman itu belum tinggi dan belum rimbun, tetapi ada yang sudah berbunga, berwarna kuning. Pastinya dirawat dengan baik, karena kota Madinah mempunyai iklim yang ekstrim. Tanpa perawatan, tidak mungkin bisa bertahan.

Ketika tampak Kubah Hijau, disanalah terdapat makam Rasulullah Muhammad SAW, kami dibimbing mengucapkan salam.

“Assalamu’alaika Ya Rasulullah, Assalamu’alaika Ya Nabiyallah, Assalamu’alaika Ya Habiballah”

Demikian pula salam kepada Abubakar Sidik dan Umar Ibnu Chattab, yang makamnya berada disamping makam Rasulullah.

Rombongan sampai ke Pemakaman Baqi, yang merupakan Tabiin (Tabiin Adalah generasi yang bertemu dengan Para Sahabat Nabi dalam keadaan Islam serta meninggal dalam keadaan Islam), kamipun mendoakan mereka juga.





Hari ini adalah hari terakhir kami di Madinah. Tinggal nanti malam  acara ke Raudhah. Ada keinginan untuk membeli sekedar oleh-oleh, tapi Mas Suami mengingatkan bahwa kemampuan untuk itu sangat terbatas. Bawa diri agar tetap dalam keadaan sehat saja sudah kesulitan. Mengapa repot-repot? Ya sudahlah. Kita terima keterbatasan lansia.

Tapi mau pulang ke tanah air belum ngerasain kebab? Makanan khas Arab yang dulu sering aku temui dan sekarang jarang aku lihat. Dulu, dari jauh sudah tercium bau sedap dari daging sapi yang ditumpuk kemudian diputar di sebuah pemanas listrik. Sekarang toko kebab tertutup kaca, nggak ada bau yang keluar.

Aku bertanya ke beberapa Penjaga Toko. Katanya, ada di jalan yang sejajar dengan jalan samping hotel kami. Aku cari sambil pulang ke hotel dan memang ada. Harganya 15 SAR. Beli satu minta dipotong jadi dua untuk dinikmati nanti di kamar.

Dari Tazkia diperoleh jadwal untuk ke Raudhah : Bapak-bapak mendapat giliran jam 15.00 dan Ibu-ibu jam 20.30 malam. Oleh karena itu, untuk Bapak-bapak diminta berkumpul di lobi pada jam 14.30 untuk bersama-sama sholat ashar, selanjutnya ke Raudhah dengan Ustad Faqih.

 

Untuk ibu-ibu, setelah makan malam berkumpul di lobi jam 20.30 dalam keadaan berwudhu, akan ke Raudhah bersama Muttawifah yang disediakan Tazkia. Saat kami telah berkumpul di lobi, Ustad Faqih memperkenalkan kami  dengan Muttawifah Ibu Sam yang berasal dari Makasar. 

Untuk bisa masuk berdoa di Raudhah, sekarang harus mendaftar melalui Aplikasi Nusuk. Apa itu? Menurut Google : Aplikasi Nusuk adalah platform digital resmi dari Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi untuk mempermudah seluruh proses perjalanan ibadah haji dan umrah, mulai dari pendaftaran, perizinan (seperti masuk Raudhah), pemesanan tiket kereta cepat, hingga layanan pendukung lainnya, berfungsi sebagai identitas digital penting bagi jemaah di Tanah Suci. 

Mengenai kesempatan berdoa di Raudhah ini, sudah diuruskan oleh Tazkia. Tetapi jika menginginkan ke Raudhah untuk kedua kalinya, maka bisa mengajukan sendiri.

Berjalan bersama-sama, kami mengikuti Ibu Sam masuk ke Pintu Wanita, nomor berapa ya? Perasaanku masuk dari depan ke ujung sebelah kiri Masjid. Rupanya begitu banyak jemaah wanita yang antri untuk masuk Raudhah. Kami berdiri berbaris satu persatu, dan saling merapat agar tidak terlepas atau disusupi jemaah bukan rombongan Tazkia. Begitu masuk Masjid, sambil menunggu giliran, kami sholat Tahiyatul Masjid 2 rakaat. Melihat kemampuannya membimbing kami dan ketegasannya terhadap Jemaah dari negara lain, pasti beliau sudah lama mendampingi jemaah Tazkia dan sudah lama menetap di Mekah. 

Dengan sabar, cukup lama kami menunggu giliran, akhirnya sampai juga giliran masuk ke Raudhah. Pertama, kami sholat 2 rakaat. Setelahnya, aku tumpahkan segala doa dan harapan, yang intinya adalah :

- Memohon kiranya aku dapat  kembali kehadiratNya dengan Husnul

  Khotimah.

- Memohon kiranya sepeninggalku, anak, mantu, cucu tetap dalam lindunganNya,

  menjadi Hamba-hamba yang taat patuh kepada Allah, menjadi hamba-hamba

  yang selalu bersyukur serta memperoleh RidhoNya.

- Memohon kiranya Allah berkenan menjadikan negeri tercinta Indonesia, menjadi

  negeri yang aman tenteram dan subur makmur, rakyatnya bahagia dan

  Sejahtera. Kondisi saat ini yang sedang tidak baik-baik saja segera berakhir.

- Memohon kiranya Allah berkenan mengabulkan doa titipan dari teman-teman di 

  tanah air (dengan menyebutkan satu persatu nama-nama yang aku ingat).

Waktu yang diberikan untuk kami berada di Raudhah, sekitar 15 menit. Segera setelahnya di minta keluar oleh Petugas. Bu Sam minta kami segera menyelesaikan doa.   Keluar dari Raudhah, kami diberi sepotong kue semacam enting-enting yang terbuat dari kurma dan kacang serta sebotol air zamzam. Alhamdulillah, kuenya enak. Dimakan sambil jalan menuju hotel. Bu Sam juga sempat mengambil foto kami ketika di Raudhah dan di depan Mimbar Nabi.

Suasana Masjid Nabawi sebagaimana Masjidil Haram, tetap ramai walau hari semakin malam. Di halaman Masjid, dibawah payung-payung, banyak pengunjung berkumpul, bermain besama anak-anaknya.

 



Hari kedelapan, Kamis 1 Januari 2026.

Pagi ini adalah Sholat subuh terakhir kami di Masjid Nabawi, karena nanti siang kami akan kembali ke tanah air. Aku memohon kiranya Allah memberi kesempatan lagi untuk kembali ke Tanah Suci. Seandainya tak ada kesempatan lagi, mohon kiranya mengganti dengan kehidupan yang husnul khotimah.

Dari grup WA diumumkan agar koper sudah diletakkan didepan kamar pada jam 8.30 dan kami akan cek out jam 11.30. Koper-koper tersebut akan ditimbang, agar jika ada yang berlebih dapat diketahui dari awal. Penerbangan dengan Saudia lebih longgar dalam hal bagasi, yaitu per orang 2 x 23 kg. Maksudnya 23 kg itu berat maksimal untuk satu koper.

Setelah sarapan pagi, segera kami rapi-rapi koper, walau sebenarnya dari awal sudah aku atur penempatan baju kotor dan baju bersih agar nantinya tidak buru-buru. Mas Suami sempat tidur, mungkin kecapean. Aku masih ada waktu untuk menikmati kopi susu (sachet), yang aku ambil dari Resto saat sarapan tadi.

Tepat jam 11.30 bus yang akan membawa kami sudah siap. Segara kami bergegas naik dan di sepanjang perjalanan menuju Bandara, kami berdoa bersama untuk keselamatan perjalanan hingga nanti tiba di tanah air. Kami juga pamit kepada Rasulullah, untuk meninggalkan Masjid Nabawi dan Kota Madinah Al Munawaroh.

Tiba di Bandara Madinah, yang nama resminya adalah Bandara Internasional Pangeran Mohamad Bin Abdulaziz. Koper-koper sudah diurus oleh Petugas Tazkia. Sambil menunggu, giliran masuk Cek In, kami berkumpul di Ruang Tunggu, dimana kita bisa sholat dan ke Toilet. Petugas Tazkia membagikan ke masing-masing jemaah, 1 Box makan siang masakan Indonesia dan 1 Box  Albaik Chicken. Albaik Chiken adalah ayam goreng cepat saji semacam KFC ala Arab. Isinya 4 potong atau setengah ayam, yang sangat digemari jemaah Indonesia. Mengingat repot membawanya, untuk 2 Box makan siang aku minta tolong agar disedekahkan buat yang memerlukan. Sedang 2 Box Albaik aku bawa pulang buat dimakan bersama dengan Mbak Karni dan Pak Toni.

Ketika sudah dibolehkan masuk, aku melihat antrian Cek In yang mengular dan berdesakan nggak tertib. Apa hari-hari begini ya? Apa karena musim liburan, penerbangan untuk kota-kota di Timur Tengah sangat padat?

Lega rasanya setelah pemeriksaan paspor. Tak lama kemudian segera naik ke pesawat. Penerbangan kami dengan SV 820, Pesawat Boing 777-300 ER, pesawat yang sangat besar. Kami berdua mendapat tempat yang lebih enak, satu deret hanya untuk 2 orang dan tidak jauh dari toilet. Setelah dibagikan makan malam oleh Pramugari, aku segera minum setengah tablet Esilgan, hingga langsung tidur nyenyak nggak terasa sudah mau mendarat.

Alhamdulillah tiba di negeri tercinta Indonesia.......


Wassalamualaikum ww.

 








Umrah di akhir tahun 2025 (1)




Assalamualaikum ww.

Hari pertama, Kamis 25 Desember 2025.

Kami berdua bersama keluarga putriku Adik Hesty dan Boby serta kedua anaknya yang biasa kupanggil Kakak Lila dan Dedek Allura, berangkat Umrah dengan Travel Tazkia.  Travel ini telah lama kami gunakan jasanya jika Umrah.  Mereka memberangkatkan jemaah di tanggal-tanggal tertentu di bulan Desember ini. Kami yang berangkat tanggal 25 Desember termasuk dalam Grup MINA. Sesuai itinerary yang telah dibagikan, kami berkumpul di Resto Pepper Lunch Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta jam 15.00 WIB. Dari Tazkia, Tour Leader yang membersamai adalah Mbak Lis, yang sudah aku kenal baik sebelumnya.

Aku bersama Mas Suami dijemput putra sulungku Mas Dandy – mbak Dini, diantar ke Bandara. Sedang keluarga putriku Adik Hesty - Boby sekeluarga langsung ke Bandara naik taxi. Setelah pengumpulan koper bagasi dan koper kabin, kami duduk ngobrol di Resto dan sempat pula berfoto bersama keluarga dan jemaah Tazkia seluruhnya.

Beberapa waktu yang lalu, ketika Kakak Lila berulang tahun ke 17, aku menyarankan putriku agar jika ada kesempatan mengajaknya pergi umrah. Memohon kiranya Allah SWT berkenan memberi bimbingan kepada Kakak Lila dalam belajar, menuntut ilmu, menjalani masa dewasa, memilihkan jodoh serta pekerjaan yang sesuai kehendakNya. Saatnya untuk berserah diri bagi orang tuanya, memohon kelak diberikan takdir kehidupan yang baik bagi putrinya. Dan saran itu hari ini dilaksanakan. 

Aku berdua berusaha untuk bisa ikut ke Tanah Suci, mumpung pergi bersama anak mantu cucu, akan ada yang menjaga dan membantu jika mengalami kesulitan. Aku sangat ingin ke Tanah Suci, barangkali saja ini kesempatan terakhir mengingat usia kami sudah 78 tahun dan 73 tahun. Yang kami mohon hanyalah agar kami dapat kembali kepadaNya dengan husnul khotimah dan meninggalkan keluarga yaitu anak mantu cucu yang taat patuh kepadaNya serta senantiasa mendapat ridhoNya.

Sudah menjadi kebiasaanku untuk menuliskan pengalaman perjalanan. Tulisan itu merupakan Catatan Perjalanan menurut perespektif atau sudut pandang kaca mata aku. Tentu setiap orang mengalami hal yang berbeda. Mengenai perjalanan Umrah, aku pernah membuat dua tulisan di Blog-ku, wenidarmono.com. Jika berkenan membacanya, bisa di klik : 

  

https://www.wenidarmono.com/2017/12/kenangan-perjalanan-umroh-dan-tour-ke.html dan https://www.wenidarmono.com/2016/06/umroh-ke-tanah-suci-tahun-2016.html

Kami berdua mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Periksa ke Dokter, mengikuti sarannya, menyiapkan obat-obatan serta melakukan Vaksin Flu. Lengan kananku yang sakit, aku periksakan ke Dokter Ahli Rehab Medik. Diagnosa Dokter adalah Frozen Shoulder. Diberi obat serta diharuskan Fisioterapi. Alhamdulilah mulai sembuh. Mas Suami selain ke Dokter juga mulai latihan jalan secara intensif.

Sambil melaksanakan sholat magrib di Bandara, para Bapak sudah berganti mengenakan kain ihram bagian bawah dan sandal, tetapi masih mengenakan hem diatasnya. Ini karena akan langsung melaksanakan umrah dengan mengambil miqat di pesawat pada saat melewati Yalamlam. Yalamlam adalah titik lokasi disebelah tenggara kota Mekah yang ditetapkan sebagai tempat dimulainya berniat ihram bagi jemaah dari negara-negara tertentu (Yaman dan negara-negara di sebelah timur kota Mekah). Nanti sekitar 45 menit sebelum mendarat akan ada pemberitahuan bahwa pesawat sudah diatas Yalamlam. Saat itu jemaah pria mulai berganti sehingga sudah mengenakan kain ihram seluruhnya.

Penerbangan kami SV 819 CGK -JED 19.05 – 01.05 dengan menggunakan Pesawat Boing 777-300 ER. Dari Jakarta langsung Jeddah. Begitu pesawat naik, aku minum setengah tablet Esilgan yang sudah kupersiapkan, langsung jatuh tertidur. Baru bangun ketika mendengar pemberitahuan sudah melawati Yalamlam, yang artinya sudah menjelang turun.

 


Hari kedua, Jum at 26 Desember 2025.

Rombongan Tazkia menyediakan bus untuk kami. Bagasi dicek kembali, apakah koper kita sudah ada semua. Begitu sudah lengkap, bus menuju hotel. Perjalanan ke hotel sangat macet, harus sabar. Hotel kita di Mekah adalah Hotel Makarem Ajyad, lokasinya di belakang samping Tower Zam Zam.

Kami dibagi kunci kamar, aku berdua di lantai 4 nomor 409, sedangkan keluarga Boby ada di lantai 5.  Mereka mengambil yang sekamar satu keluarga berempat. Rencananya setelah sarapan pagi, kami bersama-sama berangkat dari hotel ke Masjid untuk melaksanakan umrah.

Pagi masih sejuk, walau ditengah ribuan manusia yang sama-sama akan menuju atau pulang dari Masjid. Memang benar Masjidil Haram sangat padat. Saat ini negara Arab Saudi sedang berada di puncak musim dingin. Musim yang nikmat untuk berumroh. Saat iburan anak sekolah dan liburan akhir tahun orang tuanya bagi jemaah Indonesia, begitu pula bagi masyarakat Saudi dan negara-negara Timur Tengah lainnya. 

Dulu, yang aku temui saat umrah adalah jemah dari negara-negara Timur Tengah, Turki, India - Pakitan, Malaysia - Indonesia. Tetapi sekarang sepertinya bertambah banyak, dari negara-negara pecahan Rusia seperti Kazakhstan, Kirgistan, Ubekistan dan juga banyak dari China.

Grup kami dipimpin oleh Ustad Muhammad Faqihuddin serta Ustad Saiful.  Kami dibuatkan WA grup untuk memudahkan komunikasi. Dari grup sudah mengumumkan, siapa yang akan menggunakan Buggy Car untuk tawafnya, akan dikoordinir dan disediakan Muthawif yang menemani. Aku sudah tanyakan ke Mas Suami, apakah mau ikut Buggy Car untuk tawafnya? Katanya enggak mau. InshaAllah kuat. Semoga.

Dari Tazkia, masing-masing jemaah diberi alat Transmitter dan Earphone. Untuk Jemaah Wanita, Transmiter digantungkan di leher dalam jilbab, dan kabel Earphone dimasukkan ke telinga, juga di dalam jilbab. Dengan peralatan ini jemaah bisa mendengarkan dan mengucapkan/ menirukan dengan jelas doa-doa yang disampaikan Ustad Faqih.

Tawaf memerlukan kesabaran. Ditengah jemaah yang sama-sama tawaf, berdesakan dengan rombongan lain yang kadang lebih besar dan lebih kuat, kita mengalah saja. Waktu untuk melaksanakan tawaf menjadi lebih lama karena adanya peraturan baru. Sholat di Hijir Ismail diperbolehkan dengan sistim antrean, yang diatur oleh Petugas Masjidil Haram. Bagi pria disediakan di waktu pagi, wanita di malam hari. Sebelum adanya aturan ini, dulu kita bisa masuk kapan saja sholat di Hijir Ismail, tetapi memang berdesakan pria antara dan wanita. Putaran Tawaf dihentikan pada saat mereka yang akan sholat di Hijir Ismail itu  lewat, baik masuk maupun keluar (dengan dikawal Petugas).

Alhamdulillah tawaf 7 putaran sudah terlaksana. Setelah menyelesaikan tawaf, kemudian kami mundur beberapa meter untuk berdoa bersama dibelakang Maqam Ibrahim dipimpin Ustad Faqih. Kebetulan aku mendapat tempat  persis lurus dengan Multazam. Selesai berdoa bersama, aku sempatkan berdoa untuk diri sendiri, keluarga dan negeri tercinta Indonesia. Aku yakin doaku akan Allah ijabah.

Kami menuju Bukit Safa untuk memulai sai. Tapi rombongan terpisah, Boby dan Lila tidak kelihatan bersama kami. Setelah ditelpon, ternyata berada di tempat sai lantai 2. Kata Ustad, ya sudah, dilanjutkan saja sai di lantai 2, karena akan sulit untuk mencari lokasi rombongan ditengah begitu banyaknya manusia. Ditempat sai ini pun terasa penuh walau tidak sampai bersenggolan seperti ketika tawaf. Setelah 7 putaran bolak balik, Ustad mengajak mencari tempat untuk sholat Jum at di depan Kabah, karena sebentar lagi waktunya tiba.

Para jemaah yang semula melaksanakan Sai sudah mulai minggir mencari tempat untuk bersiap-siap mengikuti sholat Jum at. Aku merasa ingin ke toilet, aku minta supaya tahalul dulu, dan untuk kami berdua sholatnya nanti di tempat lain dimana saja sedapatnya.

Benar saja, setelah keluar dari toilet, Azan berkumandang. Tempat yang aku pilih bersama ibu-ibu Jemaah Turki sebenarnya sudah enak, berada di dekat pintu keluar sai. Tiba-tiba ibu-ibu itu menunjuk ke sajadahku yang kejatuhan kotoran burung dara dari atas. Wah, terpaksa aku gulung sajadah dengan hati-hati supaya nggak batal wudhu. 

Maka pindahlah aku mencari tempat lain. Sebenarnya banyak tempat di halaman Masjid dan ada karpetnya juga, sayang tempat itu panas. Padahal sholat Jum at belum dimulai, baru mendengarkan khotbah. Sambil menunggu selesai khotbah, aku berdiri saja di pinggir Masjid yang teduh yang dijaga Petugas karena tidak diperbolehkan sholat disitu. Pada akhirnya aku sholat di  karpet hijau, di tempat yang panas. Tapi tidak lama, hanya beberapa menit sholat 2 rakaat mengikuti Imam.

Tadi mas Suami berpesan sambil menunjuk ke suatu tempat, supaya aku menunggu di tempat yang ada tangganya itu. Aku cukup lama menunggu, tapi beliaunya nggak muncul. Padahal Hp nya aku yang bawa. Aku coba tanya putriku. Rupanya mereka sudah sampai hotel, sedang makan siang di resto. Katanya :

“Mama pulang saja dari pada tunggu-tungguan”.

Aku khawatir kalau Mas Suami juga sedang nyari 

lokasi tempat aku menunggu.

“Nanti kalau Papa sudah sampai, kabari mama saja ya”

Setelah diberitahu bahwa Mas Suami sudah sampai resto hotel, aku meninggalkan Masjid pulang ke hotel. Anehnya, ketika aku tanya, beliaunya merasa nggak pesan supaya menunggu di tempat yang ada tangganya itu. Lho, siapa tadi yang pesan?  Sudah lupa?

Hari ini, sangking capainya aku tidur nggak terbangun sampai waktu ashar tiba. Akhirnya kami sholat ashar dan magrib di kamar saja. Baru keluar lagi saat menjelang Isya.

 

Hari ketiga, Sabtu 27 Desember 2025.

Menurut itinerary yang dibagikan, hari ini acaranya adalah City Tour ke Thaif. Thaif adalah  sebuah kota yang berjarak sekitar 67 km dari Mekah. Kota pegunungan yang berhawa dingin, penghasil bunga mawar. Dulu di tahun ke 10 kenabian, dakwah Rasulullah ditolak dengan kejam oleh penduduk Thaif bahkan Rasulullaah sampai terluka. Tetapi pada akhirnya mereka memeluk Islam pada saat Fathu Makkah, dimana Nabi beserta  10.000 pasukan Islam membebaskan Mekah dari Kafir Quraisy.

Ketika aku tanyakan ke Mbak Lis Tour Leader Tazkia, berapa lama kita disana,  katanya ke Mekah sekitar jam 16 sore. Kami memutuskan untuk tidak ikut. Rasanya lebih baik tetap berada di Mekah, selain melaksanakan sholat juga untuk lebih mengenal sudut-sudut Masjidil Haram.

Kami berenam bersama-sama berangkat sholat subuh. Pagi masih dingin. Suhu waktu subuh di Mekah sekitar 15-20 derajat C. Biasanya satu jam sebelum waktu sholat tiba, pintu-pintu Masjid sudah dijaga. Jemaah sudah tidak bisa masuk. Tinggal ke Pintu nomor 94 yang ada escalatornya, untuk sholat di roof top. Karena udara sejuk, memang nyaman sholat disini. Pemandangan diatas masjid dipenuhi lampu-lampu indah dengan background gedung-gedung tinggi, diantaranya yang ikonik adalah Tower Zam Zam.  Kami masih mendapat tempat sholat yang enak. Selesai sholat berfoto rame-rame.




Setelah selesai sholat subuh, Boby mengajak ke Tower Zam Zam jalan-jalan cari kopi di food courtnya. Aku baru pertama kali kesini. Suasana food court terang benderang dan cukup ramai, karena banyak Café dan resto yang buka 24 jam. Kami menikmati kopi Juju, maksudnya Barn’s yang ditulis dalam huruf Arab. Ini kedai kopi lokal yang sangat digemari Jemaah Indonesia, karena variasi menunya yang beragam. Aku dipesankan Latte, yang tidak pahit. Ada beberapa roti enak yang dipotong-potong, aku cicipi sedikit.




Kembali ke Hotel berdua saja, karena mereka masih ingin jalan-jalan. Keluarga putriku memang suka menjelajah, baik di tanah air maupun di luar negeri. Biasa jalan sendiri, tidak menggunakan travel. Kami berdua mau sarapan di resto hotel saja, dimana menunya banyak tersedia buah dan salad.

Aku kepengin sekali bisa shalat di dekat Ka’bah. Penasaran, bagaimana caranya supaya bisa sampai kesana? Sekarang ini pintu-pintu masjid dibagi. Ada yang hanya untuk jemaah wanita dan ada yang bisa pria dan wanita.

Saat sholat dzuhur kami berdua bisa masuk ke dalam masjid. Kemudian aku mencari tempat yang masih kosong. Mas Suami mencari tempat yang berdekatan agar nanti bisa bersama-sama mencari jalan ke arah Ka’bah. Setelah sholat dzuhur selesai, kami berdua jalan terus didalam Masjid. Jika keluar, akan sulit untuk masuk lagi.

Setelah bertanya kesana kemari, akhirnya ketemu. Masuknya dari pintu nomor 79 terus turun Escalator, sudah tampak Kabah. Jika turun sekali lagi, itu sudah tempat tawaf. Untuk kesini hanya diperbolehkan wanita saja. Sedangkan untuk laki-laki diperbolehkan jika berpakaian ihram.

Aku nggak sampai ke tempat tawaf, cukup melihat Ka'bah saja. Disitu aku bisa berdoa khusuk walaupun posisi berdiri. Aku  mendoakan putraku mas Dandy dan keluarganya, khususnya untuk cucuku Kakak Aisha, yang sedang berjuang menuntut ilmu untuk masa depannya. Mengingat mas Suami menunggu di tempat shalat dekat Pintu nomor 70, akupun menuju ke arah sana sekaligus mencari tempat untuk sholat ashar. Selesai sholat, kami jalan menuju hotel.




Informasi mengenai Pintu nomor 79 yang bisa langsung ke Ka’bah itu aku sampaikan ke Putriku, biar Kakak Lila bisa diajak kesana. Pastinya berdoa disana inshaAllah dikabulkan. Selama ini aku merasa bahwa Allah SWT telah memberikan karunia yang besar, semua permohonanku  Allah kabulkan. Semoga untuk keluargaku demikian pula.

  

Hari keempat, Minggu 28 Desember 2025.

Acara hari ini menurut Itinerary adalah tour ziarah sekitar Mekah, mengunjungi Jabal Nur, Gua Hira, Arafah, Jabal Rahmah, Muzdalifah, Mina dan terakhir ke Masjid Ji’ronah untuk  mengambil miqat melaksanakan Umrah Kedua. Umrah Kedua ini tentative, bagi yang uzur boleh tidak melaksanakannya.

Karena ziarah ke tempat-tempat tersebut sudah pernah kami lakukan, kami memberitahukan  ke Tazkia untuk tidak ikut ziarah, tetapi mau langsung  melaksanakan Umrah Kedua. Untuk itu minta didampingi Muthawif dari Tazkia. Pagi-pagi aku sudah mandi ihram dan berpakaian putih, siap turun sarapan di resto hotel.

Jam 8.00 kami berempat berkumpul di lobi. Untuk Umroh Kedua ini Mas Suami dan Dedek Allura nggak ikut. Mas Suami kami sarankan nggak ikut, kawatir kecapaian. Dedek Allura sedang nggak enak badan. Jadi Pererta Tawaf kedua (mandiri) ini berempat saja.

Muthawwif yang akan membimbing dan menemani kami adalah Ustad Jaelani Lombok. Namanya Jailani berasal dari Lombok. Mungkin ada nama yang sama, sehingga harus ditambahkan nama daerah asalnya. Ustad Jaelani sudah memesan mobil untuk kita mengambil miqat di Masjid Tan Im. Ketika mobil datang kita berempat segera berangkat. Driver mobil ini benar-benar nggak enak cara membawa mobilnya. Ugal-ugalan, siat-siut ke kanan ke kiri cepat sekali. Aku jadi pusing, mata kupejam terus, takut vertigo aku kambuh.

Sampai di Masjid Tan Im kami sholat sunah Tahiyatul Masjid 2 rakaat dan sholat sunah ihram 2 rakaat. Kemudian dibimbing Ustad mengucapkan niat. Selanjutnya kembali ke Masjidil Haram untuk mengerjakan Tawaf 7 putaran, sholat di belakang Maqam Ibrahim dan kemudian Sai 7 kali bolak-balik. Terakhir, Tahalul dengan menggunting sedikit rambut. Ustad Jailani masih punya tugas lain, kami persilahkan untuk meninggalkan kami berempat.




Ketika Azan sholat Dzuhur berkumandang, kami mengambil tempat di sisi kanan dan kiri jalur Sai. Sholat disini lebih tenang tidak berdesakan. Begitu sholat selesai mereka yang Sai-nya terpotong, melanjutkan Sai lagi. Kamipun kembali ke hotel.




Besuk siang kami akan meninggalkan kota Mekah setelah Tawaf Wada. Baju Gamis aku jumlahnya sudah menipis. Memang aku ingin beli 1 atau 2 potong di Mekah atau Madinah. Jika ada kesempatan, pulang sholat mau lihat-lihat di Pasar Safa.



Dilanjutkan : Umrah di akhir tahun 2025 (2)

 d









Rabu, 14 Mei 2025

WISATA KELUARGA KE BALI



Assalamualaikum ww.

Kami lima bersaudara adalah putra-putri Almarhum Bapak Sunardjo dan Almarhumah Ibu Kadarti. Mbak Sam adalah anak pertama, telah berusia 73 tahun. Aku, di urutan kedua, sekarang berusia 72 tahun. Adik nomor tiga, Dik Gun usianya 71 tahun. Adik nomor 4, Dik Pri 69 tahun. Adik nomor 5, Dik Sus telah mendahului kami beberapa tahun yang lalu.

Apa yang membuat aku ingin berwisata bersama se-saudara? Kami sudah berusia 70 an, usia yang merupakan bonus. Rasulullah SAW tidak sampai seusia kami. Di usia ini, kami harus saling memaafkan, saling bersilaturahmi, dan senantiasa berbuat kebaikan. Belum tentu diantara kami berempat dapat bertemu lagi dalam suasana sehat dan gembira. Itulah, maka aku buat acara Wisata Bersama ini, sekaligus memperingati hari ulang tahun Mas Suami di bulan April kemarin.

Di rombongan ini, selain kami empat bersaudara, ada Mas Suami dan Dik Astrid, isteri dari Dik Pri. Satu lagi ikut dalam rombongan, Mas Kimin yaitu orang yang menjadi kepercayaan Almarhum Mas Warno, suami Mbak Sam dan sekarang dia selalu mendampingi Mbak Sam yang sudah mulai sering lupa.

Kecuali Mbak Sam dan Mas Kimin yang tinggal di Solo, kami semua tinggal di Jakarta dan Bekasi. Agar bisa bersama-sama, kami berangkat dari Solo. Penerbangan dari Solo ke Denpasar hanya ada Lion dan Air Asia, jadi kami memilih untuk ke Surabaya terlebih dahulu, selanjutnya menggunakan Citilink ke Denpasar.


Hari I, Tanggal 5 Mei 2025.

Berangkat dari Solo menuju Surabaya, kami sudah memesan Travel Rosalia jauh-jauh hari secara on-line, agar bisa bertujuh dalam satu kendaraan. Kendaraan yang digunakan Rosalia adalah Toyota Hi Ace yang memuat 11 penumpang. Travel ini tidak menjemput penumpang, melainkan penumpang memilih untuk berangkat dari pemberangkatan di 3 tempat yaitu Kartosuro, Gilingan dan Palur. Setelah dari Palur, Kendaraan langsung masuk jalan tol hingga ke kota Surabaya.

Tiba di pemberangktan Gilingan jam 7.30, dan Kendaraan berangkat jam 8.00 tepat. Sebelum berangkat, setiap penumpang mendapat pembagian satu tas kecil yang berisi makanan untuk sarapan berupa Arem-arem, Roti dan Aqua. Tas kertasnya lucu dan makanannya enak.

Mobil sudah penuh, tinggal seorang penumpang yang akan naik dari Palur. Perjalanan sangat lancar, karena jalan tol Solo – Surabaya sepi. Perjalanan sekitar 3 jam.  Tiba di Surabaya, di Terminal Bungur Asih sebelum jam 12 siang. Rupanya Rosalia punya tempat tersendiri di Terminal ini, tidak bercampur dengan Bus atau kendaraan lain.

Kami memilih taxi Blue Bird, karena belum pernah mengenal liku-liku kota Surabaya.    Penginapan yang sudah aku pesan, Sunshine Family Homestay di Jl. Kundi nomor 7, aku peroleh dari pencarian di internet. Aku mencari penginapan yang dekat dengan Bandara Juanda agar tidak repot untuk berangkat ke Bandara. Tentu saja mempertimbangkan harga yang lebih miring dari harga Hotel.

Dua taxi Blue Bird tiba di Homestay yang ternyata lumayan bersih, tidak mengecewakan. Karena belum saatnya waktu cek-in, kami duduk-duduk di lobinya. Resepsionis menawarkan, jika ingin masuk kamar sudah siap, tetapi ada tambahan membayar 50 ribu rupiah per kamar karena belum saatnya cek-in. Ya sudahlah, nggak papa 50 ribu rupiah biar bisa langsung masukkan koper-koper dan melepas lelah. Maklum kami semuanya lansia.

Aku berdua Dik Astrid mencoba melihat-lihat keluar Homestay, ada makanan apa yg dijual disekitarnya. Lokasi Jalan Kundi ini ramai sekali, kendaraan berlalu Lalang tanpa henti. Jalannya tidak terlalu besar, banyak Warung Makan disekitarnya yang menjual bermacam-macam makanan. Ada Penyetan Ayam, Bakso, Somai, Sate, Soto dan lain-lain. Sayangnya tempatnya agak kumuh untuk makan disitu. Ternyata di seberang Homestay ada Warteg Bahari yang baru buka, tempatnya bersih. Wartegnya bercat hijau, lantai putih, demikian pula meja dan kursinya masih baru. Kesanalah kami bertujuh makan siang. Masakannya seperti masakan dirumahku yang dimasak mbak Karni. Oseng Labu Siam, Oseng Tauge, Tempe Tahu goreng, Ayam goreng, Telur, Sambel dan Karak. Lumayanlah, serasa makan dirumah.

Selesai makan, kami kembali ke Homestay untuk istirahat siang. Hingga sore kami hanya rebahan saja sambil bikin kopi untuk diminum dibawah payung-payung didepan kamar. Dik Gun sudah janjian dengan temannya di Surabaya, mau nge-Mall. Malamnya kami duduk-duduk ngobrol dibawah payung sambil makan camilan. Aku berdua Mas Suami   tidak makan malam, perut lansia tidak biasa banyak makan. Yang lain cari jajanan sendiri sambil jalan-jalan disekitar Homestay. 


Hari II, Tanggal 6 Mei 2025.

Karena sudah cukup tidurnya, pagi sekali sudah pada bangun. Aku bertiga dengan Dik Gun dan Dik Astrid jalan mengelilingi homestay selagi kamar-kamar masih pada tutup, penghuninya masih tidur. Setengah hingga sejam cukuplah. Sambil jalan kuperhatikan suasana home stay. Sebenarnya taman yang memanjang sepanjang kamar-kamar dibuat cukup bagus, dengan bunga Sepatu Hibrida pinky yang sedang mekar. Sayangnya menurutku agak kurang terawat. Rumput sudah melebar kearah pinggir konblok dibawah payung, tetapi belum dipotong.

Jam 10 tepat kita menuju Bandara Juanda dengan 2 taxi Blue Bird. Setelah cek in, sambil menunggu keberangkatan, kami makan siang di Restoran Gocit di Bandara. Masakannya bermacam-macam Mi dan lain-lainnya, seperti di Bakmi Gajah Mada. Sudah aku tanyakan ke Pramusajinya, katanya halal. Sebelum boarding aku kirim WA ke Dandy dan Adik Hesty, bahwa Papa Mama sudah boarding. Pesawat tidak penuh, ada beberapa tempat duduk yang kosong. 

Mendarat di Bandara I Gusti Ngurah Rai, kami sudah dijemput kendaraan yang sudah kami pesan sebelumnya dari Bali Mutia Rental. Untuk ber-tujuh, aku pilih mobil Hyundai H1 yang nyaman. Drivernya Bli (Bahasa Bali untuk Mas) Kadek Soma yang masih muda dan cukup komunikatif, melayani kami dengan sopan.

Dari Bandara menuju Ubud, ternyata memerlukan 1,5 sampai 2 jam perjalanan, karena menempuh jalur yang padat. Sampai di Ubud, kami melihat-lihat keramaian di depan Ubud Market yang dipenuhi para wisatawan domestik maupun mancanegara. Aku didekati seorang Mbok (Bahasa Bali untuk Mbak) yang menawarkan tiket pertunjukan Tari Legong dan Tari Kecak di tempat yang berbeda disekitar Ubud Market, pada jam 19.30. Tiketnya seharga 100 ribu rupiah per orang. Sayang sekali, kami masih harus makan malam dan mencari Lokasi Hotel.

Setelah sejenak kami melihat-lihat sepintas apa yang ada di Ubud Market dan menikmati suasana sore yang ramai, selanjutnya kami makan malam di Nasi Ayam Kadewatan Ibu Mangku. Ini rekomendasi dari teman, yang katanya halal. Aku belum pernah menginap di Ubud, jadi agak hati-hati masalah makanan. Tapi ternyata sekarang banyak Resto-resto maupun Warung makan masakan Jawa menjamur di sekitar Ubud.

Aku sudah memesan sebuah Bungalow melalui pencarian di internet. Mobil menuju ke arah lokasi tersebut. Namun ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi. Lokasinya jauh dari keramaian Ubud, dan melalui jalan-jalan yang sepi. Aku memutuskan mencari Hotel lain saja, toh baru pesan, belum membayar. Akhirnya kami mendapatkan hotel dan menginap di Hotel Puri Padma Ubud yang berada di pusat kota.

 

Hari ke III, Tanggal 7 Mei 2025.

Hotel ini walaupun kecil tapi cantik. Kamar superiornya sangat nyaman. Semua peralatan lengkap. Penataan tamannya juga bagus. Dari kamarku di lantai atas tampak tanaman-tanamannya tertata apik. Kolam renangnya kecil, sepertinya hanya untuk anak-anak. Kami sarapan di restonya yang minimalis, dengan menikmati pemandangan hijaunya lembah, tak jauh dari tempat kami sarapan. Harga kamar termasuk breakfast. Dipersilahkan memilih menu sarapan yang ada di Daftar Menu, seharga 75 ribu rupiah per orang. Boleh menu American Breakfast, Continental atau menu Indonesia. Aku mencoba nasi kuning, termasuk di dalamnya Kopi atau Teh dan Buah potong. Jika tidak dinikmati di sini, bisa dibungkus untuk dibawa jalan. Karena merasa puas dengan hotel maupun pelayanannya, maka aku perpanjang menginap semalam lagi. Besuk kami masih disini.


Bli Kadek Soma sudah menjemput di depan hotel. Suasana pagi cukup sejuk setelah turun hujan semalam. Hari ini kami mulai perjalanan keluar kota. Ke Panglipuran dan Kintamani. Baliknya, baru ke tempat-tempat wisata yang searah. Perjalanan keluar Ubud agak padat, setelahnya baru lancar.

Setengah jam perjalanan, kami sampai ke sebuah Desa Adat nan cantik, namanya Penglipuran. Untuk ke Desa Adat ini, kami membeli tiket seharga 25 ribu rupiah. Menurut Unesco, Panglipuran merupakan Desa Adat paling bersih.  Aku berdua mas Suami pernah kesini, saat itu suasana sepi sehingga tampak sekali kecantikannya. Bunga-bunga bermekaran menyambut kedatangan kami. Pengunjung hanya kami berempat, aku berdua dan 2 orang lainnya, Ibu Edith teman Mas Suami dan Dik Nuk, adik sepupu Mas Suami. Bisa berfoto sepuasnya.

Hari ini sangat berbeda.  Rombongan anak sekolah ber bus-bus sudah memadati tempat parkir. Saatnya mereka studi tour atau mau perpisahan setelah ujian akhir. Mobil-mobil Travel Agent juga berjejer dideretan lainnya. Jalanan Desa Penglipuran sudah penuh manusia. Meski jika diamati, bunga-bunga cantik berseri dengan senyuman menyambut pengunjung, namun karena padatnya manusia bunga-bunga itu tak lagi menarik perhatian.

Kami masuk ke salah satu Pintu Gapura  rumah nomor 32. Sebelum masuk , aku berfoto berdua di pintunya. Di meja yang ada di belakang pintu terhidang banyak buah durian berkulit kuning yang harum baunya.

"Berapa harganya yang ini bu? Aku menunjuk salah satu yang kuning mulus.

“Sudah matang, bisa dibuka?"

"Delapan puluh ribu rupiah" katanya.

Aku setuju, kemudian diajak kebelakang untuk duduk di depan meja di sebuah saung menikmati durian asli Penglipuran.  Ibu Penjual menyediakan sarung tangan plastik dan baskom buat cuci tangan. Wah, nggak salah, memang legit.

Tak lama aku panggil adik-adikku yang hobi makan durian untuk membuka durian yang kedua, setelah yang pertama tinggal separuh. Kami makan durian sambil melihat-lihat apa yang dijual di rumahnya. Di lemari kaca tampak kebaya-kebaya brokat warna-warni berjejer untuk disewakan. Demikian pula sarung dan selendang untuk dipasang di pinggang. Ada juga Sandal-sandal Bali, Tas anyaman, Kipas dan kerajinan lainnya. Mbak Sam pilih-pilih dan mencoba sandal untuk dipakai sendiri dan buat oleh-oleh. Kesempatan disini, aku minta ijin ke kamar kecil. Toilet ala kampung, tapi bersih yang airnya sangat dingin.

Keluar dari rumah no 32, kami mengikuti arus pengunjung lain menuju ke arah atas untuk mencari tempat berfoto yang bagus. Tempat untuk foto yang pas itu banyak yang menunggu, jadi harus bergantian. Wisatawan mancanegara bule-bule yang sudah duluan antri. Akhirnya kami berfoto di tempat lain, asalkan hasilnya tampak jelas. Sekitar satu jam kami berada di Panglipuran.

Jalan menuju Kintamani tidak banyak berkelok-kelok seperti jalan ke Puncak Pas Jawa Barat. Tiba di atas, tampak Gunung Batur dan Danau Batur sudah di depan mata. Gunung yang pernah meletus itu kelihatan lavanya yang menghitam. Danau Batur dilihat dari atas tampak bersih dan di pinggirnya tetumbuhan sudah mulai subur. Tinggal di puncak Gunungnya yang tidak tampak adanya pepohonan.

Saatnya tiba jam makan siang. Sesuai rekomendasi teman, ada 2 Restoran yang bersertifikat halal. Grand Puncak Sari dan Tegu Kopi, keduanya merupakan Restoran terbesar di Kintamani. Kelihatannya dari depan berjejer tapi di belakang menyatu. Restoran yang menyuguhkan pemandangan cantik yang dapat dilihat dari setiap lantainya. Di Grand Puncak Sari, begitu banyak tersedia tempat duduk bagi pengunjung rombongan. Makanannya All You Can Eat, dihidangkan secara prasmanan.

Setelah mendapat tempat duduk yang cocok di Tegu Kopi, kami memesan makanan ala carte saja. Aku belum pernah merasakan masakan ini, Ikan Mujair Nyat Nyat. Menu lainnya ada Ayam Bakar, Cap Jay sayuran dan Tempe Tahu. Mas Suami pesan Beef Burger. Sambil menunggu makanan, saatnya berfoto dengan back ground pemandangan alam yang indah.


Masakan Ikan Mujair Nyat Nyat itu ternyata spicy, full rempah Bali. Ikannya bisa diganti ikan apa saja. Masakan lainnya sih biasa saja, tidak beda dengan di restoran lain. Ketika aku berdua mas Suami mau ke toilet, wah, ternyata harus naik turun tangga yang cukup mengkhawatirkan buat lututku. Memang Resto dan Café ini sangat besar, dibuat bertingkat-tingkat, masing-masing dengan tempat duduk yang menghadap Gunung dan Danau Batur. Kami berfoto di spot-spot yang telah disediakan, diantaranya foto Empat Bersaudara.

Turun dari Kintamani, kami menuju tempat wisata yang searah yaitu Pura Tirta Empul di Tampaksiring. Untuk masuk ke Pura ini, tiketnya seharga 50 ribu. Pura ini dibangun sebagai tempat pemujaan Dewa Indra bagi umat Hindu Bali. Wisatawan harus mengenakan Sarung Bali. Bahkan jika akan masuk ke pemandian untuk menyucikan diri atau disebut melukat, akan diberikan pakaian khusus berwarna hijau polos. Untuk pakaian Sarung ini, tidak dikenakan sewa, sudah termasuk dalam harga tiket masuk. Kebanyakan Wisatawan Eropa dan India antri untuk ikut masuk ke kolam, ikut melakukan pembersihan diri seperti yang dilakukan oleh orang Bali. Di Pura ini terdapat 2 kolam dan 26 pancuran air suci. Berada di kolam dengan beberapa pancuran air yang bening, mereka berdoa. Tampak seorang Bapak dari India menggendong bayinya melukat di pancuran. Setelah puas berkeliling dan berfoto, kami melepaskan Sarung dan meninggalkan Pura Tirta Empul.

Kepalaku terasa nyut-nyut-an. Kenapa ya? Oh iya. Tadi pagi nggak minum kopi, hanya   minum susu edamame saja. Pantas nagih kopi. Sepanjang jalan keluar dari Pura ke tempat parkir, kami melewati penjual baju-baju dan barang-barang kerajinan setempat. Mendekati tempat parkir aku lihat ada resto-resto kecil yang menjual kopi. Langsung deh, beli kopi sachet Indo Cafe sekalian air panasnya.

Baru beberapa langkah keluar dari Resto, aku terpeleset dan kopi panas yang kubawa terlempar. Rupanya sandalku licin, ketika menuruni lantai yang miring. Lumayan, lututku memar. Restonya membuatkan lagi kopi yang sama tanpa mau dibayar. Terima kasih orang baik.

Kendaraan melaju menuju Ubud. Kami akan mengunjungi Pura Saraswati yang merupakan Pura untuk pemujaan Dewi Saraswati sebagai Dewi penguasa ilmu pengetahuan. Tempat wisata Pura Saraswati aku temukan di artikel "Wisata Ubud". Di fotonya, tampak sebuah Pura yang kolamnya dipenuhi tanaman bunga lotus. Lokasinya di tengah kota Ubud, dibelakang Café Lotus.

Tak kusangka, ternyata berbeda jauh dari foto yang pernah aku lihat. Mungkin itu artikel lama. Begitu masuk ke lokasi, kami membeli tiket seharga 35 ribu rupiah, kemudian harus mengenakan Sarung Bali berwarna putih dan Baju (model kimono) warna ungu. Disediakan pula Welcome Drink, bisa pilih minuman orange atau strabery.

Di atas kolam didepan kami, tanaman lotus beberapa bunganya mekar. Kami boleh melewati kolam dengan menginjak bulatan-bulatan semen yang ada di kolam, sambil berfoto. Kesempatan untuk kami bersaudara nampang bersama diatas pijakan-pijakan semen itu. Entah karena terlalu asyik atau bagaimana, adikku Dik Gun terjatuh atau terpeleset di kolam hingga basah kuyup.....



Setiap malam pada jam 19.30 digelar pertunjukan tari dengan harga tiket 100 ribu rupiah. Saat kami berada disana, petugas sedang menata karpet mempersiapkan pertunjukan tersebut. Karena kami sudah cukup capai, harus beristirahat untuk esok mengunjungi tempat wisata lainnya.  Hari ini kami punya kenangan manis. Di Pura Tirta Empul aku jatuh terpeleset dan di Pura Taman Saraswati Dik Gun yang jatuh tercebur di kolam.

Acara selanjutnya adalah jalan-jalan melihat sepotong jalan yang terkenal di Ubud, namanya Jalan Gautama. Jika sore hingga malam hari, wisatawan mancanegara (bule maupun Asia lainnya) memenuhi Resto dan Cafe-cafe di jalan ini. Bli Kadek Soma ngedrop kami di ujung jalan, dan jika sudah selesai kami akan telpon untuk dijemput.  Lalu lintas di Ubud sangatlah padat, sulit untuk parkir atau berlama-lama dipinggir jalan. Memang suasana Ubud setiap hari begitu ramai seperti jika ada perayaan Tahun Baru di Jakarta.








Hari ke IV, Tanggal 8 Mei 2025.

Setelah sarapan, kami bersiap untuk dijemput jam 9 pagi. Hari ini kami sekaligus cek out dari Hotel Puri Padma, sehingga koper-koper sekalian dibawa ke mobil. Tujuan kami adalah menuju Bedugul dengan Pura Ulun Danu dan Danau Beratan yang indah.

Aku belum memesan hotel untuk hari ini. Tapi semalam sudah minta tolong mas Dandy anakku, untuk memesankan hotel di sekitar Kuta, supaya ada kesempatan pagi-pagi bisa main ke pantai. Aku pilih hotel Fave (low budgetnya Hotel Aston) yang dekat dengan Mall Discovery. Mas Dandy berhasil dapat untuk semalam saja, esoknya ganti hotel lain lagi. Nggak pa pa, buat pengalaman. Jadi, nanti 2 malam kami menginap di Kuta.

Perjalanan dari Ubud ke Bedugul sekitar satu setengah jam. Setelah bermacet-macet ria disekitar Ubud, akhirnya perjalanan lancar, kami dapat melihat pemandangan pedesaan yang hijau menyegarkan mata. Bali sebenarnya tetap indah, meskipun di beberapa tempat memang sudah over turis.

Begitu sampai di Bedugul, ternyata sudah banyak bus parkir disana. Rombongan turis mancanegara, rombongan anak sekolah serta banyak mahasiswa dari kota-kota di Pulau Jawa datang untuk study tour atau sekedar piknik. Dari Purwokerto, Wonosari, Jombang dan entah mana lagi tampak dari kaos seragam atau benderanya. Juga tak ketinggalan  ibu-ibu berseragam dan berjilbab merah mengantri tiket.

Kami bertujuh membeli tiket masuk yang harganya 40 ribu. Sedang Bli Kadek Soma selaku Tour Guide masuk gratis. Menuju Pura, kami melewati taman bunga yang indah menyegarkan mata dan menenangkan hati. Bunga-bunga bermekaran menyambut tamu-tamu yang hadir mengagumi keindahannya. Disetiap sudut dibuat gapura ataupun bangunan indah untuk spot-spot foto pengunjung. Berada di ketinggian 1.200 meter diatas permukaan laut, menjadikan lokasi disini sejuk dan dingin. Disediakan pula tempat duduk   berupa patung atau ukiran bagi pengunjung yang capai untuk istirahat sejenak.  

Pura Ulun Danu dalam Bahasa Bali berarti Pura diatas danau. Pura ini disakralkan bagi orang Bali, karena dianggap sebagai sumber pemberi kemakmuran. Istimewanya, sebagian Pura berada diatas air, hingga tampak mengambang. Gambar Pura Ulun Danu terlukis di pecahan uang 50 ribu rupiah edisi tahun 2016.





Pada hari-hari besar umat Hindu, seperti hari raya Galungan dan Kuningan, di Pura ini diselenggarakan prosesi persembahyangan, Memang ada bagian-bagian di lokasi ini  yang tertutup bagi publik, hanya untuk upacara saja.

Tempat wisata ini memang sangat luas, sehingga walau banyak pengunjung masuk tetapi tidak kelihatan penuh sesak. Toiletnyapun bersih dan wangi. Udara yang sejuk dingin membuat kami lupa waktu. Bahkan adik-adik masih ingin naik speed boat mengelilingi danau. Begitulah hingga lebih dari jam 12 kami masih berada di sekitar Pura Ulun Danu.

Keluar dari Pura Ulun Danu, sebagian dari kami ingin melihat Kebun Raya Bedugul dan sebagian lainnya ingin ke Bali Farm House tempat binatang-binatang lucu yang biasanya hanya ada di luar negeri. Binatang-binatangnya antara lain Alpaka, Kuda Poni, Osricht (burung Kasuari), Sapi, Domba, dan lain-lainnya.

Aku suka anggrek, memilih ke Kebun Raya, khusus untuk melihat jenis anggrek-anggrek yang ada di habitat setempat. Beberapa tahun yang lalu, aku kesini tapi Koleksi Anggreknya sedang ditutup, di renovasi. Kebun Raya ini nama resminya adalah Kebun Raya Eka Karya Bali.

Setelah membeli tiket masuk dan tiket kendaraan yang mengantar ke Lokasi seharga 30 ribu rupiah. Kami berlima masuk ke bagian belakang Kantor untuk segera naik kendaraan terbuka, seperti odong-odong, yang hanya muat beberapa orang saja.

Sebenarnya beraneka flora menjadi koleksi Kebun Raya seluas 157,5 hektar ini, seperti jenis tanaman hias, tanaman obat, tanaman untuk upacara keagamaan HinduBali dan jenis tanaman lainnya. Karena terbatasnya waktu kunjungan dan memang hanya boleh satu tujuan saja, maka aku ke Koleksi Anggrek dan Kaktus yang lokasinya berdekatan. Kepada pengunjung diberikan nomor WA Petugas untuk menghubungi jika sudah selesai.

Dari begitu banyak jenis anggrek yang dikembangkan di Kebun Raya ini, hanya jenis anggrek Paphiopedillum bunga berwarna pink yang sedang mekar. Jenis anggrek ini aku pernah punya, yang bunganya berwarna coklat. Memang indah sekali.




Ada perasaan heran dan kecewa melihat kondisi koleksi anggrek milik Pemerintah (BRIN) kok dibiarkan tidak terawat. Padahal banyak wisatawan mancanegara dan mahasiswa yang berkepentingan mengunjunginya. Mereka pasti juga kecewa. Aku yang hanya pemerhati dan penyuka anggrek sangat menyayangkannya.



Setelah adik-adik yang ke Farm House tiba, kami meninggalkan Kebun Raya. Aku ingat suatu tempat yang juga indah, namanya The Secreet Garden Village.

"Kalau mama ke Bedugul, minum kopinya di Secreet Garden Ma”

Begitu pesan menantuku Dini, merekomendasikan untuk kesini.

Tempat ini sebenarnya Rumah Makan dan Cafe yang sangat estetik. Juga tempat edukasi untuk menjelajahi indahnya warisan Bali seperti Spa, Jamu, Parfum dan Sufenir patung yang lucu-lucu. Juga tempat permainan Swing atau ayunan dengan spot pemandangan sawah terasering dan air terjun. 

Harga tiket masuk 50 ribu rupiah per orang, yang 25 ribu rupiah bisa diperhitungkan dengan harga makanannya dan yang 25 ribu rupiah diperhitungkan jika kita membeli produknya, seperti biji kopi, parfum herbal dan lain-lain. Didalam Secreet Garden, ada Resto Bebek Timbungan, jenis masakan Bali dengan rempah yang lengkap. Wah, aku belum pernah mengenal kuliner ini. Seperti apa ya?

Bli Soma mendapat jatah sebagai Guide/Driver, tapi kami ajak duduk dan makan bersama didalam Resto. Untuk Mas Suami yang tidak makan daging bebek, aku pesankan Nasi Goreng dan ngopi.

Bebek yang sudah dibumbui dan dipresto hingga empuk tersaji didalam sepotong  bambu yang bisa dibuka karena dibelah tengahnya. Segeralah kami eksekusi. Daging bebeknya benar-benar empuk, bahkan sudah terlepas dari tulangnya. Satu paket Bebek Timbungan dilengkapi dengan Plecing Kacang Panjang dan 3 macam sambal, antara lain sambal matah khas Bali.

Selesai menikmati makan siang. kami berfoto ria. Karena tidak membeli produknya, maka diskon 25 ribu rupiah untuk 7 orang menjadi tidak terpakai. Makan kami berdelapan, ditambah harga tiket masuk menjadi 1.075 ribu rupiah. Sepadan dengan apa yang telah kami nikmati.




Kembali ke mobil, selanjutnya kami menuju ke arah Kuta, dimana kami akan menginap di Fave Hotel Kartika Plaza, untuk cek in. Sebelum cek ini, mampir dulu di Indomart untuk membeli Aqua dan roti buat persediaan jika diperlukan.

Aku berdua Mas Suami hanya meletakkan koper saja, karena harus melihat Hotel yang sudah aku pesan dan bayar uang muka sebelumnya, tapi belum tahu lokasinya berada dimana. Bli Soma mengantarkan ke Hotel Pavilion Kuta.

Suasana Kuta sore hari ini sangat macet, mobil berderet mengular mengikuti jalan yang searah. Lokasi yang sebenarnya tidak jauh dari Fave Hotel, menjadi jauh karena harus memutar. Jika jalan kaki pasti sudah sampai.

Hotel yang aku pesan itu hotel kecil, lokasi di jalan kecil, tapi cukup bersih dengan tampilan tanaman-tanaman yang hijau. Tampak beberapa Wisatawan Eropa dengan keluarganya menginap disitu. Menurutku tidak mengecewakan, sesuai dengan yang aku bayar.

Kembali ke Fave Hotel untuk mandi dan istirahat. Adik-adik yang ingin jalan lagi melihat Kuta di malam hari sambil mencari Nasi Jinggo dipersilahkan. Nasi Jinggo adalah Nasi bungkus murah meriah, isinya nasi putih dengan lauk ayam suwir dan oreg tempe, ditambah sambal pedas. Harganya 6 ribu rupiah sebungkus. Kalau di Solo, itu semacam Nasi Kucing, lauknya secuwil Ikan Bandeng goreng dengan sambelnya yang khas.

 

Hari ke V, Tanggal 9 Mei 2025.

Aku bangun pagi agak terlambat, padahal aku bertiga dengan Dik Gun dan Dik Astrid sudah janjian mau ke pantai jam 6.30. Agak bingung, key card kamar hanya diberi 1. Kalau aku bawa, lampu dan AC kamar akan mati. Bagaimana ya? Aku mendapat ide. Di tempat yang biasanya diletakkan key card aku ganti dengan kartu tol. Key card-nya aku bawa.

Keluar dari hotel, belok kanan, kemudian masuk melalui Mall Discovery menuju belakang, sampailah ke pantai. Menyusuri jalan seluas 1 meter yang sudah dibuat rapi ke arah timur, ketemulah dengan kedua Adik yang lagi asyik foto-foto.

Kondisi Pantai Kuta yang sekarang ini jauh berbeda dengan beberapa tahun lalu. Batu-batu menggunung di pinggir Pantai, hingga hanya sedikit pasir yang bisa diinjak kaki telanjang.  Dulu, aku berdua Mas Suami pernah menginap di Kartika Plaza. Saat itu Pantai masih asli, kami berjalan-jalan disepanjang pantai dengan pasir putihnya hingga jauh sepuasnya.

Hari ini kami berencana explore ke Pantai-pantai di sekitar Kuta seperti Pantai Melasti dan lain-lain. Syukur jika bisa melihat Canggu, daerah baru yang katanya disukai turis mancanegara.

Kami cek out dari Fave Hotel, sekalian membawa koper-koper karena nanti malam nginapnya di Hotel Pavilion Kuta. Bli Soma bilang bahwa lebih baik ke Canggu dulu, baru ke tujuan lainnya. Walaupun tidak jauh tapi karena kendaraan padat sekali, akan memerlukan waktu lama untuk sampai kesana.

Jam 9 meninggalkan hotel. Baru keluar dari Kuta belum seberapa jauh, sudah macet.  Didalam mobil terasa AC kurang dingin, mulai pada berkeringat. Bli Soma menelpon ke kantornya untuk meminta tukar mobil. Kami mampir dulu ke Bali Mutia Rental di Kerobokan. Hyundai H1 yang kami tumpangi  diganti dengan Hi Ace yang lebih longgar.

Benar sekali. Jalan menuju Canggu sangat macet. Canggu merupakan daerah bule-bule. Disepanjang jalan, mereka bertelanjang dada memperlihatkan tatonya, naik motor sendiri atau membonceng gojek. Cewek-cewek dengan rambut dicat warna-warni, dengan santai   mengendarai motor sewaan.

Semula kami mau duduk santai ditepi Pantai, tapi ternyata panas. Kemudian Bli Soma masuk ke sebuah Cafe, namanya The Lawn Beach. Sebelum masuk, aku sedikit ragu. Cafe elite begini pasti makanannya mehong ...... tapi sudah terlanjur.

Benar juga. Karena sudah terlanjur masuk, aku pilih-pilih menu dan pesan makanan.

- Piza Margaretha yang berisi 6 slices : 2 pcs

- Piza Mushroom yang berisi 6 slices  : 1 pcs

- Kelapa muda fresh : 8

- dan teh hangat buat mas Suami.

Sambil menunggu makanan, aku dan adik-adik turun ke pantai. Foto-foto dengan background laut yang tenang dan payung-payung yang cantik. Pastinya Cafe cantik seperti ini akan penuh pengunjung yang menikmati sun set di sore hari.






Mengingat kembali ke Kuta akan dihadang kemacetan lagi, kami meninggalkan The Lawn Beach sekitar jam 12 an. Di Canggu ini, dik Nandya keponakan Mas Suami punya usaha  Cafe, namanya : BRUUN Bake house, a home for breakfast. Bisa dilihat di Google maupun di IG. Mas Dandy yang pernah main ke Cafenya. Tadinya kami mau mampir, tapi ternyata lokasinya harus memutar dari jalan yang kami lewati sekarang, dan nanti kembalinya lewat jalur kemacetan ini lagi. Kami putuskan untuk tidak jadi mampir.

Dari Canggu masuk ke Kuta, kami langsung mencari tempat makan siang. Teman Dik Astrid merekomendasikan Rumah Makan Pink Tempong yang ada di Kuta.  Nasi Tempong ini banyak dicari Wisatawan Domestik, yang pasti  halal. Tempong adalah nama sambal tomat yang sangat pedas, khas dari Banyuwangi.

Rumah Makan berwarna pink ini penuh sesak pada jam makan siang. Kami antri untuk bisa duduk, dan mendapat nomor 69 dan 419. Dik Astrid yang pesan sekalian bayar di Kasir, 4 Nasi Tempong dengan lauk Ayam Goreng dan 4 dengan Ayam Bakar. Kelengkapannya ditambah sayuran berupa bayam rebus dan timun, ikan asin dan sambal. Selain Ayam goreng, boleh juga lauk lainnya seperti ikan lele atau Udang. Untuk 8 Nasi Tempong dengan lauk Ayam dan minuman teh, bill-nya 453 ribu rupiah. Sangat memuaskan, terutama sambelnya yang terasa seperti menggigit…..

Tujuan selanjutnya adalah ke Pasar Kedonganan. Aku sering melihat Youtube nya para Traveller yang belanja ikan segar di Pasar Kedonganan, kemudian dimasakkan di Tukang Jasa masak di belakang pasar. Hasil masakannya dinikmati sambil menunggu datangnya sun set di Pantai Kedonganan. Kepengin seperti itu, tapi sayang kami datang kesorean. Pasar mau tutup.

Sebenarnya, karena habis makan Nasi Tempong, perut masih kenyang. Kami hanya ingin duduk-duduk santai di pinggir pantai. Rencana hari ini ke Pantai Melasti tidak terpenuhi jadi masih penasaran. Bli Soma menurunkan kami di Resto Jukung dipinggir Pantai. Resto-resto disini seperti yang ada di Jimbaran. Sudah aku duga, pasti harga makanannya mihil…..  Dan memang benar, ketika aku lihat Daftar Menu, paket untuk 6 orang harganya 3,5 juta rupiah. 

Aku masih ragu-ragu, masih kepengin santai-santai di Pantai Kuta sebelum besuk pulang ke Jakarta. Betapa tidak? Di Pantai Kuta aku ber-empat dengan anak-anak ketika mereka masih kecil-kecil pernah berlibur. Demikian pula aku berdua dengan Aisha, dengan Lila dan Lura juga pernah menikmati kebersamaan ketika mereka masih kanak-kanak. Sedangkan sekarang sudah menjadi gadis-gadis…..


Akhirnya Mas Suami yang memutuskan, untuk duduk-duduk sekedar ngemil menghabiskan waktu  di Warung Made di Kuta. Warung Made sudah sangat terkenal di Bali. Sejak aku pertama kali ke Bali, sudah ada. Walaupun namanya Warung, tapi sebenarnya restoran. Banyak bule makan disini. Karena sebenarnya masih kenyang, kami hanya makan sekedarnya saja. Mas Suami, aku dan Dik Gun pesan French Fries. Dik Astrid pesan Rujak. Demikianlah, karena harus istirahat, kami pulang ke Hotel Pavilion.

 

Hari ke VI, Tanggal 10 Mei 2025.

Pagi-pagi semua sudah siapkan kopor-kopor dan tas-tas lainnya untuk cek out dari hotel, yang aku rencanakan pada jam 9.30. Jarak hotel ke Bandara I Gusti Ngurah Rai tidak terlalu jauh. Karena tiket Mbak Sam dan Mas Kimin penerbangan Garuda ke Yogya jam 12.05 dan tiket kami yang lain Citilink ke Cengkareng jam 13.55, maka dari hotel jam 9.30 agar tidak kemrungsung. Diharapkan sampai Bandara sekitar jam 10 atau 2 jam sebelum take off.

Sebelum cek out, pihak hotel minta kami berfoto bersama dipinggir kolam renang, untuk diposting di IG nya. Boleh juga….. 

Untuk ke Bandara, kami dipesankan Taxi Blue Bird. Proses di Bandara lancar, tidak ada masalah yang berarti. Setelah tiket ditangan dan mengetahui nomor Gate nya, maka sambil menunggu kami cari sarapan. Warung Made di Bandara tempatnya luas dan makanannya beragam. Aku berdua sarapan ketupat sayur ala Made dengan teh hangat. Ada yang pesan nasi Jinggo, bubur dan lainnya.

Demikianlah kami semua selamat sampai tujuan rumah masing-masing di sore hari sekitar jam yang sama. Kegembiraan dan silaturahmi keluarga SUNARDJAN sebisanya dilanjutkan hingga kami semua Allah panggil pulang menghadapNya. InshaAllah…...


Jakarta, 14 Mei2025. 

Wassalamualaikum ww.