Rabu, 26 Februari 2020

Memaknai Harta dalam kehidupan kita.


Assalamualaikum ww.
Mas, mbak Dini, Bob dan Dik.

Sama dengan ketika ulang tahun mama yang ke  64, di ulang tahun yang ke 67 ini mama juga mau memberikan sedikit ilmu, mudah-mudahan bermanfaat untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa hal pasti sudah pernah diperoleh, khususnya Adik yang dulu sekolah di Al Azhar. Tetapi secara umum mama mengingatkan kembali apa-apa yang mungkin terlupa atau karena kesibukan tak sempat terpikirkan.

Semoga anak-anak dan cucu-cucu mama memperoleh ridhoNya hingga kelak kita semua bertemu di SurgaNya. Aamiin.

Wassalamualaikum ww.


1. Semua harta adalah milik Allah. Orang Jawa menyebutnya “titipan Gusti Allah”.

2. Didalam harta milik kita  terdapat  bagian  tertentu  milik  kaum dhuafa. Artinya, Allah  titipkan harta kaum dhuafa ke kita. Allah tidak menyebut berapa, tetapi ada Ulama yang menyebut sepertiga. Oleh karena itu wajib kita berbagi kepada mereka. Jika tidak, maka Allah yang akan mengambilkan dari harta kita dengan cara-cara Allah, yang tidak kita ketahui. Tahu-tahu harta kita berkurang. Misalkan barang kita hilang atau rusak, bisnis yang tertipu, mengeluarkan biaya untuk berobat karena sakit dan sebagainya.

3. Kewajiban setiap manusia terhadap hartanya, yang utama adalah berzakat. Besarnya zakat sudah ditentukan yaitu 2,5 %. Akan sangat bagus jika bisa melebihi kewajiban, misalnya 5%. Sebaiknya tidak ditunda-tunda, segera saja disisihkan untuk dilaksanakan, karena jika uangnya sudah tidak ditangan, maka kewajiban ini tidak akan laksanakan. 

4. Setelah  zakat  maka wajib  bersedekah. Sedekah bukan hanya diwaktu kita lapang. Diwaktu sempitpun juga diwajibkan bersedekah. Surat Ali Imran ayat 133 - 134. Sedekah  tidak  ditentukan jumlahnya, makin banyak atau makin sering, itu semakin baik. Mengapa? Karena  Allah Swt membalas 700 kali lipat  dari  apa yang kita sedekahkan dan akan melipatgandakannya lagi. Sedekah  tidak  akan membuat miskin. Makin banyak bersedekah,  makin banyak balasan kita terima dari Allah.

5. Sedekah sangat berarti. Sedekah bisa menolak "bala". Bagi  yang  punya masalah, dengan  bersedekah maka Allah akan memudahkan jalan  keluar dari masalahnya. Dengan bersedekah sesuatu yang hilang bisa diketemukan. Dengan bersedekah, hal-hal yang semula sulit Allah permudah. Bersedekahlah selagi masih hidup di dunia. Surat Al Munafikun ayat 10 : Manusia memohon kepada Allah untuk ditangguhkan kematiannya barang sebentar saja untuk bisa bersedekah.

6. Memperoleh harta dengan cara yang tidak halal seperti korupsi, menipu, meminjamkan uang dengan bunga (sebagai rentenir) dan selanjutnya memberi makan keluarga (anak dan isteri) dengan harta yang diperoleh secara tidak halal itu, akan mengakibatkan kehidupan keluarga hancur. Contoh : Anak terkena narkoba.

7. Harta  adalah  termasuk  salah satu dari bentuk rizki. Namun  rizki  tidak hanya berupa harta. Rizki  bisa berupa  kesehatan, kenikmatan, keberhasilan, kebaikan  dan   apa  saja yang Allah karuniakan kepada manusia. Rizki  telah Allah  sediakan bagi setiap manusia. Kita tinggal menjemputnya saja. Besar kecilnya atau banyak sedikitnya  rizki tergantung dari 3 variabel yaitu Usaha, Ilmu dan Rasa  Syukur.

Mengapa seseorang yang sudah memiliki ilmu (profesional), sudah berusaha sekuat tenaga (bekerja keras) tetapi belum memperoleh hasil sebagaimana yang diharapkan? Jawabnya adalah, tidak ada atau kurangnya Rasa Syukur.

8. Setiap manusia boleh berhutang, dengan ketentuan harus melunasinya. Semakin cepat melunasi semakin baik. Orang yang tidak mau membayar hutangnya sedangkan dia sudah mampu, maka itu sudah menunjukkan kefasikan. Jika sampai Allah Swt memanggilnya, sedangkan hutangnya belum dibayar, maka hutang itu diwariskan kepada ahli warisnya. Sering kita dengar saat kita melayat seseorang yang meninggal, Orang yang berpidato menyampaikan bahwa jika Almarhum/Almarhumah mempunyai sangkutan hutang supaya menghubungi ahli warisnya. 

9. Dalam suatu hadis disebutkan bahwa jika seseorang yang berhutang meninggal dunia sedangkan orang yang memberikan hutang itu tidak ridho, maka kebaikan/pahala yang dimilikinya akan digunakan untuk membayar hutangnya.

10. Ayat terpanjang dalam Al Qur an adalah ayat mengenai hutang, Surat Al Baqarah  ayat 282. Begitulah Allah Swt memerintahkan secara detil bagaimana agar jujur dalam urusan hutang.












1 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus