Rabu, 29 Juni 2016

Mengunjungi sumur-sumur (minyak) tua di Cepu




Assalamu’alaikum ww.


Tulisan ini aku buat di bulan Nopember tahun 2014 dimana saat itu harga minyak dunia belum turun drastis seperti sekarang. Meskipun demikian, tentu kita berharap semoga situasi akan berubah mambaik, karena bagaimanapun juga, dunia dan manusia akan tetap membutuhkan “energi” sampai kapanpun. Inshaallah...


Pesawat Garuda mendarat mulus di Bandara Adisumarmo Solo, setelah berputar-putar diatas kota Solo selama lebih dari 15 menit karena antri menunggu pesawat lain yang sedang mendarat. Rupanya makin banyak penerbangan menuju Solo. Ini menjadi salah satu bukti nyata mulai menggeliatnya perekonomian di kota kelahiranku..

Kali ini aku menemani suami mengantarkan beberapa Calon Investor yang akan mengunjungi sumur-sumur (minyak) tua di sekitar kota Cepu. Kantor suamiku adalah sebuah Yayasan yang aktif di bidang sosial untuk masalah pertambangan, merupakan Partner dari Koperasi Unit Desa (KUD) yang diberi kewenangan Pemerintah Daerah Bojonegoro untuk mengatur aktifitas penambangan minyak mentah dari sumur-sumur tua peninggalan Belanda.

Dari Solo menuju Kota Cepu kira-kira memerlukan 3 jam perjalanan mobil. Jalanan ramai didominasi kendaraan besar bus dan truk. Mendekati kota Cepu disepanjang jalan tampak perkebunan jati berumur 5–7 tahun milik Pemerintah. Sungguh, Allah telah memberikan karuniaNya untuk wilayah ini. Diatas tanah tumbuh pohon-pohon Jati yang bernilai ekonomi tinggi, sedang dibawah tanah mengalir minyak dan gas yang akan memberikan kesejahteraan bagi Indonesia.

Setelah melewati kota Cepu, perjalanan masih 1 jam lagi hingga tiba di lokasi yang dituju yaitu desa Wonocolo, sebuah desa di sebelah barat/barat laut Kab Bojonegoro. Kota Cepu adalah kota tua, yang telah berkembang sejak jaman Belanda. Berada di kota ini, satu Lembaga Pendidikan Perminyakan yang sekarang telah menjadi Sekolah Tinggi Energi dan Mineral (STEM Akamigas) di bawah naungan Badan Diklat ESDM di bawah Kementerian ESDM.

Dilereng-lereng perbukitan yang gersang tampak aktifitas penambangan minyak mentah dengan teknologi yang sangat sederhana. Sumur dan peralatannya seperti drum, tangki dan ember-ember berwarna hitam legam. Menurut teman suami yang senior di bidang perminyakan, pemandangan ini bagaikan Texas abad lalu, di jaman awal diketemukannya minyak di Amerika. Karena kami tiba disana sudah hampir senja, aktifitas sudah hampir selesai, kalaupun masih ada tinggal menuntaskan pekerjaan saja. Beberapa mobil tangki berseliweran membawa minyak mentah itu untuk disetorkan ke Pertamina Eksplorasi dan Produksi (EP) Wilayah Blora Jawa Tengah.

 
Ketika dahulu Indonesia memenangkan Perang Kemerdekaan, Belanda yang semula telah mengoperasikan penambangan minyak di daerah Cepu dan sekitarnya, telah menutup sumur-sumur minyak itu dan menimbunnya dengan tanah. Pada masa pendudukan Jepang, sumur-sumur tersebut dicoba untuk digali. Setelah Perang Kemerdekaan berakhir, beberapa sumur yang diketemukan dicoba untuk  dikerjakan oleh masyarakat sekitar secara manual dengan menggunakan tenaga manusia. Minyak mentah itu ditimba dari dalam sumur kemudian ditarik menggunakan tali oleh beberapa orang. Hasil penimbaan ini masih bercampur dengan air dan sedikit lumpur kemudian dituang ke bak penampungan untuk dibersihkan dan diambil minyaknya. Dari sebuah foto lama, tampak para buruh dengan tubuh hitam legam berlumuran minyak menarik ember dengan tali yang dimasukkan dalam sumur. Sekarang aktifitas itu sudah lebih manusiawi. Tenaga manusia diperlukan hanya untuk mengawasi jalannya mesin pengangkat timba, mengarahkan timba, memisahkan minyak dengan air dan sebagainya. Tetapi tetap saja lokasi disekitar sumur itu becek, licin dan hitam. 



Dipohon-pohon di sekitar lokasi sumur terlihat banyak ditempeli tulisan : ORA KENO OEDOET dalam huruf latin maupun aksara Jawa. Dalam bahasa Indonesia artinya tidak boleh merokok. Peringatan untuk mengantisipasi kebakaran itu sudah ada sejak jaman Belanda dulu. Maklum,  orang Jawa dulu masih keukeuh dengan bahasa Jawanya,  jadi tidak menggunakan bahasa Indonesia.

Sekitar tahun 2012 Pemerintah Daerah Bojonegoro telah memberi Ijin 2 KUD untuk mengaktifkan kembali sumur-sumur minyak tua yang dulu ditinggalkan Pemerintah Belanda di 3 desa yaitu Wonocolo, Dandangilo dan Beji. Perkembangan teknologi yang semakin canggih, dengan alat GPS (Global Positioning System) memberikan kemudahan untuk menemukan kembali lokasi sumur-sumur minyak yang ditutup Belanda tersebut. Apalagi dengan adanya mesin bor yang mampu mengebor hingga kedalaman tiga ratusan meter lebih, maka minyak mentah dari sumur-sumur tua itu dapat ditambang kembali. Menurut data yang diperoleh Kantor suami, sumur-sumur tua itu rata-rata dapat menghasilkan antara 5.000 sampai 10.000 liter atau 1 sampai 2 tangki minyak mentah per hari, yang disetorkan ke Pertamina EP untuk diolah menjadi bahan bakar minyak.

Diantara sumur-sumur yang sederhana, saya melihat ada beberapa sumur yang tampak rapi dan bersih. Rupanya sumur itu milik Investor yang dalam melakukan penambangan bekerjasama atau dikerjakan oleh tenaga ahli dari luar negeri seperti Singapura, Filipina dan Amerika. Mereka menggunakan peralatan pengeboran yang lebih canggih. Bornya bisa mencapai kedalaman 1.000 m, area pengeborannya tertata rapi, bersih dan memperhatikan faktor lingkungan. Ada pula investor yang menimba lebih modern dengan menggunakan mesin angguk. Cara ini tidak banyak melibatkan warga setempat, karena minyak dipompa dan langsung dialirkan melalui pipa ke penampungan sekaligus disana dipisahkan antara minyak dengan air/lumpurnya. Untuk sumur semacam ini hampir dapat dikatakan tidak ada polusi kecuali deru genset yang dihidupkan untuk  mengganggukkan mesin.

Dengan adanya aktifitas sumur-sumur minyak tersebut, perekonomian mulai kelihatan tumbuh karena KUD mensyaratkan Investor untuk menggunakan tenaga kerja setempat, kecuali tenaga ahli pada saat awal dilakukan pengeboran. Kebanyakan ahli-ahli pengeboran didatangkan dari kota Bandung.
Saat ini KUD sedang giat mengundang investor.

Ketika harga minyak sedang mahal, harga beli Pertamina juga akan naik. Masyarakat akan berbondong-bondong untuk mengebor sumur. Sebaliknya ketika harga minyak anjlog drastis tidak ada yang menambang karena harga jual ke Pertamina EP sangat rendah, diatas biaya produksi. Karena hasil yang diperoleh fluktuatif, sumur-sumur itu disebut juga sumur marginal. Perusahaan besar seperti Pertamina atau Medco misalnya, tidak tertarik untuk menambangnya, karena tidak ekonomis. Ukuran ekonomis bagi mereka, setidaknya harus menghasilkan 30.000 barel per hari per sumur. Oleh karena itu, Pemerintah Daerah Bojonegoro memberi kesempatan kepada Investor Kecil Perorangan atau UMKM bekerja sama dengan KUD yang telah ditunjuk tersebut. 



Berapa sebenarnya modal yang diperlukan untuk berinvestasi? Untuk dapat mengaktifkan sebuah sumur tua disini, modalnya lumayan besar,  yah seharga sebuah rumah seluas 150 – 200 meter persegi di daerah Jabodetabek. (Ini perkiraan saya, yang sehari-hari berprofesi sebagai Notaris/PPAT). Hayo, siapa yang berminat ?????  

Senja berganti malam, ketika kami mengunjungi rumah Ketua KUD Wonocolo untuk bersilaturahmi dan ngobrol tentang kondisi bisnis di wilayahnya. Selanjutnya rombongan kami menuju kota Cepu menginap di Hotel Mega sebuah hotel bagus yang kelihatannya dipersiapkan untuk para Pebisnis atau Expatriat yang berhubungan dengan Exxon Mobil yang saat ini telah mulai berproduksi. Kami bersantap malam dengan menu utama Pecel Cepu, kuliner khas Cepu dengan menggunakan pincuk atau bungkus daun jati. Cukup nikmat.....

Hari Kedua. Setelah breakfast rombongan kami meninggalkan hotel untuk menuju ke sumur-sumur minyak di wilayah Kabupaten Blora, wilayah yang bersebelahan dengan Kabupaten Bojonegoro. Rombongan kami mengunjungi sebuah lokasi lapangan minyak di sebuah desa yang termasuk wilayah Kabupaten Blora. Disini aku temui pemandangan yang berbeda dengan kemaren. Lokasinya  masih perawan. Meski sederhana tetapi tertata rapi dan bersih, dengan pengolahan limbah yang dibuat bertingkat-tingkat dari atas ke bawah sehingga hasil akhirnya  air yang semula tercampur minyak menjadi bersih, bisa digunakan untuk pertanian.

Pemerintah Daerah Kabupaten Blora mempunyai kebijakan berbeda, yaitu memberikan ijin kepada Investor untuk per blok yang berisi beberapa sumur. Ijin diberikan dengan kewajiban untuk bekerjasama dengan BUMD. Investor harus berbentuk badan hukum. Pemberian ijin disertai aturan-aturan yang ketat, seperti kewajiban menata infrastruktur, amdal dan sebagainya. Memang seharusnya demikianlah pengelolaan sumur-sumur tua itu di masa depan, dengan administrasi yang tertib serta mempertimbangkan kelayakan lingkungan. Lokasi blok yang kami lihat ini adalah lokasi milik Grup Perusahaan besar yang sudah punya nama di bidang bisnis, memiliki 20 sumur.

Kami meninggalkan Blora ketika jam makan siang tiba. Menuju perjalanan pulang, rombongan menikmati satu lagi masakan khas kota Cepu, yaitu lontong opor. Rupanya untuk rombongan kami telah dipesankan sebelumnya, sehingga ketika sampai di tempat, hidangan telah siap menanti untuk dinikmati. Setelah selesai makan, kami singgah disalah satu toko untuk membeli oleh-oleh ledre, sejenis kue semprong yang dibuat dari buah pisang.


Wassalamu’alaikum ww.
Jakarta, 27 Juni 2016.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar