Jumat, 30 September 2016

Tour ke Kamboja (I)




Assalamualaikum ww.



Catatan perjalanan ini saya buat untuk mendokumentasikan pengalaman ketika berkunjung ke negara  lain. Pada perjalanan kali ini, saya pergi tidak bersama suami, sehubungan dengan  kesibukannya, dimana pada  hari-hari terakhir menjelang waktu keberangkatan harus berada di Jakarta. Untuk tidak mubazir, tempatnya digantikan saudara saya, dik Sri Muryati, atau biasa saya panggil dik Nuk. Kami berangkat bersama rombongan  sebanyak  26 orang dengan Biro Perjalanan Wisata DWIDAYA. Rombongan ditemani seorang tour leader, namanya Keny Verdian



Ada 2 negara yang saya kunjungi, yaitu pertama Kamboja dan kedua Vietnam. Dikedua negara tersebut, rombongan akan berada di 2 kota besar. Di Kamboja mengunjungi kota Phnom Penh dan Siem Reap, di Vietnam mengunjungi Saigon atau disebut juga Hochiminh City dan Hanoi. Kota-kota itu memiliki keistimewaan masing-masing.

Teman-teman seperjalanan,  semuanya baik. Yang paling sering ngobrol dan membantu mengambil foto saya berdua dengan dik Nuk adalah pak Budi, pemilik sebuah Toko Emas di kota Solo. Orangnya halus, seperti layaknya “priyayi Solo”.  Pak Budi ikut tour sendirian, karena toko emasnya tidak mungkin ditinggal pergi berdua dengan isteri. Dalam suatu obrolan di Coffee Shop Hotel pernah bercerita, akibat dari peristiwa G30S pak Budi tidak dapat melanjutkan sekolah, sehingga pendidikannya hanya sampai SMP, kemudian bekerja. Dengan usaha keras dan doa, kini mempunyai toko emas, yang dapat dikatakan sukses.

Teman seperjalanan lainnya, pasangan suami isteri yang selalu berduaan  bagai sepasang merpati, pak Petrus dan bu Ida. Mereka berasal dari Jawa Timur, kelihatan dari logat bicaranya. Pak Petrus orang Surabaya dan bu Ida dari kota Malang. Ada lagi ibu Sri Maryani yang berusia 73 tahun, seorang eyang, yang mengikuti tour ini bersama putranya bernama  Pak Lukman dan isteri serta putri mereka dua gadis yang masih kecil. Ibu Sri Maryani bercerita, suaminya sudah almarhum. Beliau sendiri tahun lalu, karena osteoartritis, tempurung lututnya  dioperasi dan sekarang dapat berjalan lagi. Hanya kadang-kadang  menggunakan tongkat yang sekaligus kursi kecil buat duduk. Pak Lukman telaten menggandeng ibunya di tempat-tempat dimana beliau  memerlukan bantuan, seperti waktu harus melompat ke kapal,  berada di perahu, di pasar dan sebagainya. Saya salut kepada puteranya.  Itulah yang membuat hidupnya berkah karena bakti kepada ibu.  Ada lagi keluarga pak Paulus dan bu Maria, yang juga asli Surabaya, yang pergi dengan seorang putrinya. Pak Paulus penganut Katolik yang taat, yang tetap berusaha menghadiri kebaktian di Gereja ketika hari Minggu di Saigon. Ada lagi keluarga muda bersama 2 putera-puteri yang sudah dewasa, dan keluarga muda bersama 2 orang putera yang masih remaja dan anak-anak.Semula saya merasa sedikit khawatir, apakah para peserta tour ini semua anak muda? Rupanya tidak demikian, ada kira-kira 6 orang yang usianya sepantaran saya. Sweet dak…..

Sebelum hari keberangkatan, saya ditanya oleh pihak Dwidaya mengenai pilihan jenis makanan apa yang dikehendaki ketika nanti disana. Yang dimaksud adalah, apakah makanan halal muslim, vegetarian atau tanpa pantangan.  Dari rombongan kami, saya dan dik Nuk minta makanan halal (setidaknya no pork), kemudian ada salah satu keluarga yang menghendaki makanan vegetarian, sedangkan yg lain tidak ada pantangan. Sebagai muslim, saya tetap menjalankan ibadah Shalat sebagaimana biasa. Saya berdua dik Nuk Shalat disetiap awal waktu didalam bus. Kebetulan baik Kamboja maupun Vietnam memiliki waktu yang sama dengan WIB.

Sejak muda saya memang suka travelling, khususnya ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi. Ada hubungan antara pribadi seseorang dengan tempat-tempat yang ingin dikunjungi.   Saya memang berminat pada hal-hal  yang ada hubungannya dengan ilmu pengetahuan, sejarah atau tempat-tempat  yang memiliki keistimewaan, misalnya tempat-tempat  yang masuk dalam daftar World Heritage. Kamboja memiliki Angkor Wat, Angkor Thom dan komplek candi-candi lainnya, sedangkan di Vietnam terdapat  Halong Bay yang sangat terkenal keindahannya. Untuk Indonesia, saya masih ingin melihat Pulau Komodo dan pulau-pulau Raja Ampat di Papua yang keduanya sangat eksotis.

Dari semua tempat-tempat itu, tentu yang paling saya prioritaskan adalah Tanah Suci, Mekah dan Madinah. Tempat-tempat bersejarah lainnya seperti Masjidil Aqsa, Betlehem, Yordan, Israel, Palestina, Mesir, Turki dan sekitarnya, adalah tempat suci dan kota dimana Allah SWT menurunkan para Nabi sebelum Rasulullah Muhammad SAW, sebagai panutan umat Islam. Tempat-tempat itu disamping tempat kelahiran beberapa Nabi adalah juga terdapat makam manusia-manusia istimewa sebagaimana disebutkan dalam Kitab Suci Al Qur’ an. Alhamdulillah kota-kota tersebut telah pernah saya kunjungi. Mudah-mudahan di waktu yang akan datang Allah SWT memberi kesempatan mengunjunginya lagi.
 

Hari Pertama, 25 Juni 2013.

Setelah mendarat di Bandara International  Cambodia, kami beserta rombongan menuju bus yang sudah disediakan. Sebelum keluar dari Bandara, terlebih dahulu mampir  ke tempat  penukaran uang, karena tidak membawanya dari Jakarta. Mata uang yang digunakan di negeri ini adalah Riel, yang nilainya kira-kira sama dengan 0,5 Rupiah.  US $ 40 mendapatkan penukaran 152.000 Khr (Khamboja riel). Tetapi pada umumnya mereka senang bila transaksi dibayar dengan US Dolar.

Guide yang menjemput kami dan nantinya akan mendampingi tour leader kami Kenny selama di Kamboja bernama Kim Lon, seorang pria Kamboja yang  masih muda, bapak 2 orang anak yang fasih berbahasa Indonesia. Dia belajar bahasa Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Phnom Penh 2 kali seminggu. Selain belajar bahasa, dia juga belajar kuliner Indonesia. Penampilan orang Kamboja persis bangsa kita. Seandainya kita berjalan bersama-sama mereka,  pasti tidak dapat dibedakan. Bila berbicara, baru akan diketahui bahwa mereka bukan orang Indonesia.

Di dalam bus, selama perjalanan, Kim Lon menjelaskan bahwa jumlah penduduk Kamboja seluruhnya berjumlah 14 juta jiwa. Penduduk yang berada di ibukota Phnom Penh, 2,5 juta. Sore itu kota Phnom Penh  relatif sepi dibandingkan dengan kota-kota yang pernah saya kunjungi. Jalan-jalan di kota cukup lebar. Belum banyak gedung tinggi. Kota ini baru berkembang sekitar 10 tahun terakhir, setelah dilanda perang saudara. Kami makan malam di sebuah restoran yang hidangannya  kebanyakan dari bahan sayuran. Ketimun dengan sedikit hati ayam, sawi dan kailan, sayur bayam kuah, daging ayam, dan ikan goreng. Diakhiri dengan buah semangka.

Setelah selesai dinner, untuk memanfaatkan waktu luang  sebelum masuk hotel, kami diajak jalan-jalan ke sebuah tempat bernama Naga World. Bangunan Gedung seperti Mal, tetapi isinya sebenarnya  adalah  toko-toko dikelilingi casino. Di bagian tengah terdapat pentas musik.  Selama beberapa menit kami berfoto dan menonton pertunjukan itu. Selanjutnya menuju Juliana Hotel  untuk beristirahat. Sebelumnya, Kenny telah menjelaskan bahwa selama kita berada di dua negeri ini, semua koper dan barang-barang yang dibawa adalah tanggung jawab masing-masing karena tidak dapat mengharapkan porter  untuk membawanya. Demikian pula di hotel, masing-masing peserta tour membawanya sampai ke kamar. Kalau mengharapkan bantuan hotel, akan lama sekali mengingat jumlah petugas hotel terbatas.

Hari Kedua, 26 Juni 2013.

Jam menunjukkan pukul 8 pagi, kami telah berada di restoran hotel. Hidangan breakfast yang khas adalah mi kuah, kalau di Jakarta seperti Po Hoa. Menu lainnya standard yaitu omelet, nasi, bubur, bihun, sosis, kentang, roti-roti, berbagai sayuran salad, bermacam-macam juice, dan buah potong. Setelah menyelesaikan breakfast, kami meninggalkan hotel. Acara hari ini diawali dengan city tour melalui jalan utama kota Phnom Penh. Pertama, kami melalui Independent Monumen, yg dibangun pada tahun 1958, ketika Kamboja merdeka dari Perancis. Di sebelah kiri tampak rumah dinas Perdana Menteri Hun Sen yang cukup bagus, berlantai dua. Hun Sen berusia 61 tahun dan memerintah sejak reformasi tahun 1993. Disebelah kanan rumah dinas Perdana Menteri terdapat  biara para Biksu.

Sebagaimana diketahui, mayoritas rakyat Kamboja memeluk agama Budha, meskipun pemeluk berbagai agama lain juga ada,  Muslim, Kristen, dan Hindu. Jumlah Biksu di Kamboja mencapai 50 ribu orang. Para Biksu itu pagi-pagi sudah keluar dari asrama. Cirinya adalah tidak berambut dan berpakaian kain khas. Sepintas pakaian itu seperti kain ihram warna orange.

Bus mulai melaju. Kepada anggota rombongan, Kim Lon membagikan suvenir topi dan  dompet keduanya terbuat dari anyaman daun lontar, berisi selendang seperti bahan lurik buatan Klaten di Indonesia. Rupanya topi itu sangat berguna ketika kita berada di bawah terik matahari Kamboja yang memanggang kepala. Bus menuju Chatomuk Mongkul, The Royal Palace, yaitu Istana raja Kamboja. Raja Kamboja yang sekarang bertahta adalah Raja Norodom Sihamoni, merupakan putra dari Raja Norodom Sihanouk yg baru meninggal beberapa waktu yang lalu. Sebelum meninggal beliau telah menyerahkan tahta kepada putranya. Sihamoni berusia 60 tahun dan dilantik menjadi raja pada 14 Oktober 2004. Dia banyak bergiat dibidang kesenian dan pernah menjadi Duta UNESCO. Selama 20 tahun dari usianya dia tinggal diluar Kamboja.

Kemarin, Kim Lon telah menyarankan kepada rombongan tour untuk berpakaian sopan ketika berkunjung ke Istana Raja. Hari ini peserta semuanya mengenakan celana panjang.   Saya,  sebagaimana biasa berpakaian sehari-hari memakai gaun panjang. Komplek Istana ini sangat bagus, terawat dengan sempurna, demikian pula taman-tamannya. Memasuki pintu pertama, sudah terasa teduh dengan pohon-pohon dan bunga-bunga tertata rapi.  Di komplek Istana itu terdapat banyak bangunan indah, semuanya berwarna kuning emas. Di Istana Utama, pengunjung tidak diperbolehkan masuk, kalau mau mengambil foto dari luar atau dari halaman. Didalamnya terdapat  Tahta yang hanya sekali diduduki Raja Kamboja, yaitu ketika pertama kali diangkat.  Setelah menjadi Raja, tidak lagi duduk di Tahta itu. Tampak beberapa kursi di lantai yang agak sedikit turun, disitulah tempat Raja menerima pejabat-pejabat negara. Di sebelah agak kekiri dari Istana Utama, adalah Istana tempat menerima tamu-tamu  negara. Di sebelah kanan dari Istana Utama, terdapat satu bangunan bernama Silver Pagoda, merupakan  tempat ibadah dengan lantai dari perak. Peraknya tidak tampak karena ditutup karpet.  Di tempat ini terdapat patung wanita seperti penari yang terbuat dari emas seberat 90 kg. Ada diantara anggota rombongan kami pemeluk agama Budha, berdoa beberapa saat di Pagoda ini. Kami berfoto ria di sekitar Istana, di halaman dengan bunga-bunga lotus berwarna putih, dan di depan bangunan seperti istana dalam bentuk kecil, yang nantinya menjadi tempat penyimpanan abu Raja Norodom Sihanouk.


 

Di halaman belakang Istana terdapat sebuah pohon dengan bunga-bunga  cantiknya yang berwarna pink peach, menempel pada pohon yang besarnya dua pelukan itu. Pohon seperti ini pernah saya temui di Taman Burung Bali. Menuju pintu gerbang keluar, saya melewati lorong panjang, dimana terpasang foto-foto Raja Norodom Sihanouk bersama tamu-tamu negara di seluruh dunia, diantaranya terdapat foto bersama Bung Karno dan juga foto bersama Pak Harto.
                          
Saya juga memperhatikan gamelan Kamboja, yang terdiri dari gambang dan kendang. Kendangnya bersuara mantap, seperti bedug. Ada kemiripan dengan apa yang ada di Indonesia. Iramanya hampir sama dengan irama gamelan Bali. Selain gamelan, bentuk pintu Istana berukir warna emas mirip dengan pintu-pintu yang ada di kota Palembang. Memang ada hubungan dengan budaya kita ya, mengingat dulu Kerajaan Sriwijaya yang pernah jaya adalah  kerajaan Budha di Indonesia. Di kompek Istana ini toiletnya sangat bersih.



Setelah meninggalkan istana, dari bus tampak bahwa lokasi Royal Palace berada persis di samping jalan raya di pinggir Sungai Mekong yang bersih, yang membelah kota Phnom Penh. Dalam perjalanan saya merenung, membandingkan Istana Raja Kamboja dengan Istana Raja-raja kita di Solo, Jogya,  Cirebon dan Medan yang pernah saya lihat. Sangat jauh berbeda. Istana raja-raja  di Indonesia kurang terawat, karena ketiadaan biaya. Seandainya istana-istana yang ada itu terawat dengan baik, tentu juga akan banyak dikunjungi wisatawan. Selain perawatan, tentu juga kemasan. Bagaimana membuat apa yang kita miliki itu menjadi suatu hal yang istimewa, perlu pengemasan yang baik. Nah, Indonesia perlu belajar hal-hal demikian. Keindahan alam dan budaya tanah air kita tidak akan diketahui pihak luar tanpa ada upaya untuk mengemas dengan baik.

Setelah mengunjungi Royal Palace, kami menuju Museum yang jaraknya tidak seberapa jauh. Tampilan Gedung Museum cukup bagus, bentuk bangunan depannya sama dengan bangunan istana, tetapi berwarna merah. Museum ini menampilkan patung-patung  batu, benda-benda logam, dan foto-foto penggalian situs arkeologi, sebagaimana yang ada di museum kita di Indonesia. Namun ada bedanya.  Apabila diperhatikan lebih dekat, dibandingkan dengan profil patung di museum ini, patung Loro Jonggrang  di Candi Prambanan memiliki wajah lebih cantik dan hidung lebih mancung. Di museum ini sebenarnya tidak boleh mengambil foto, tapi saya tidak membaca larangan itu. Saya terlanjur berfoto berdua dik Nuk di dalam museum. Ketika rombongan telah keluar dari museum, di halaman depan saya berpapasan dengan dua orang Biksu berpakaian orange yang sedang berada disitu. Kesempatan berfoto bersama Biksu tidak saya sia-siakan.



Waktu makan siang telah tiba. Kim Lon membawa kami ke sebuah restoran besar yang menyediakan makan prasmanan. Mengingatkan tentang jenis makanan yang saya minta, Kim Lon menunjukkan kepada saya makanan mana saja yang dapat saya nikmati. Dengan hati-hati saya mempertimbangkan untuk memilih makanan sayuran dan kaki/ceker bebek goreng saja. Di restoran ini banyak disediakan buah potong dan berbagai makanan kudapan seperti di Indonesia, es campur, cincau hitam maupun cincau hijau. Karena jam makan siang, restoran sebesar ini penuh pengunjung. Dan karena wajah-wajah kami dengan pengunjung lainnya sama, serasa berada di negeri sendiri. Kecuali tentu bahasanya yang  berbeda. Pelayan sangat cekatan mengisi piring-piring besar tempat makanan yang telah kosong. Tak lupa sebelum keluar dari restoran saya ke toilet dulu dan mendapati toilet mereka cukup bersih, bahkan saya melihat petugas menyemprotkan pewangi khas Kamboja.

Setelah makan siang, bus kami menuju ke Musium Genocide, Tuol Sieng, salah satu saksi kekejaman rezim Polpot. Ia seorang pemimpin Kmer Merah yang sangat kejam. Pada tahun 1998 Pol Pot meninggal dunia dalam usia 69 tahun. Pada tahun 1975 sampai 1979, telah terjadi peristiwa sejarah kelam yaitu perang saudara yang tak  akan terlupakan bagi rakyat  Kamboja.
Ketika itu Kamboja dipimpin oleh Polpot, yang menjanjikan akan merubah Kamboja menjadi lebih baik. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Polpot telah membunuh para cendekiawan, orang-orang yang berpendidikan, yang memiliki keahlian dan yang kritis secara membabi buta. Dalam rentang waktu 4 tahun, telah terbunuh 2 juta orang.

Yang kami kunjungi ini adalah sebuah bangunan bekas sekolah menengah, yang dijadikan tempat penyiksaan. Bukti-bukti terpampang di ruangan-ruangan bekas kelas itu, ratusan foto hitam putih dari tentara yang melakukan penyiksaan maupun foto para korban. Tentara laki-laki maupun perempuan berpakaian seragam dan topi. Sedangkan para korban laki-laki, perempuan dan anak-anak, adalah  yang fotonya bernomor. Rupanya sebelum diinterogasi, terlebih dahulu difoto. Di ruangan lain terdapat bekas-bekas pakaian mereka teronggok di sudut ruangan. Di bagian belakang terdapat sel-sel sempit bagi mereka yang telah selesai menjalani penyiksaan. Digambarkan pula dalam lukisan-lukisan yang ada disana, bagaimana para korban itu disiksa. Sungguh, sangat mengerikan.

Kemudian di ruangan berikutnya, terdapat foto berukuran sangat besar, sebuah lapangan terbuka tempat para korban dihabisi dan kemudian dikuburkan disitu. Bertumpuk tengkorak diketemukan setelah rezim Pol Pot dapat dikalahkan. Lokasi tempat yang ada di foto itu terletak 14 km dari bangunan sekolah ini. Tempat itu dinamakan Ladang Pembantaian, The Killing Fields, yang juga merupakan judul sebuah film yang menceritakan peristiwa menyedihkan ini.
 
Dua orang saksi hidup atas peristiwa ini, salah seorang diantaranya bernama Meng Bouw,  sekarang sudah sepuh, berada di halaman depan museum. Dia adalah seorang seniman yang ditugaskan oleh rezim Pol Pot menggambar/melukis untuk mendokumentasikan kegiatan mereka, sehingga karena keahliannya masih diperlukan, belum sempat dieksekusi. Tetapi isterinya sudah dibunuh lebih dahulu.

Mari kita lupakan sejenak kekejaman manusia atas manusia lain hingga sesadis itu …….


Setelah makan siang, sesuai dengan jadwal yang telah diberikan, hari ini kami meninggalkan kota Phnom Penh menuju kota Siem Reap, yang berjarak 315 km dari Phnom Penh. Karena kondisi jalan yang tidak bagus, jarak 315 km tersebut ditempuh dalam waktu sekitar  6 jam. Bus akan melewati 3 propinsi. Sepanjang perjalanan tampak rumah-rumah penduduk yang masih sederhana, berupa rumah panggung dengan tangga kayu, dimana dibawah rumah itu digunakan untuk menyimpan peralatan membajak sawah, motor bahkan mobil. Sawah-sawah disini dalam setahun hanya sekali tanam karena tidak ada pengairan. Setelah beberapa jam perjalanan, bus berhenti di pemberhentian pertama, memberi kesempatan bagi penumpang untuk ke toilet. Kami berhenti di sebuah Pasar Tradisional yang ada toiletnya. Sebagaimana di Indonesia, untuk memelihara kebersihan, toilet dijaga seorang wanita dan setiap pengguna  membayar 1000 riel, atau senilai 2500 rupiah.

Karena waktu sudah menjelang sore, pasar desa itu sudah sepi pengunjung. Yang ada adalah anak-anak kecil usia SD yang menjajakan buah-buah dalam tas plastik, seperti sesisir pisang (rasanya seperti pisang Lampung), nanas yang sudah dikupas, mangga mengkal yang sudah diiris dan sebagainya. Buah-buah itu dijual dengan harga sekitar 3000 riel, atau 7.500 rupiah kita. Cukup murah ya. Saya menemukan satu makanan yang dijual di pasar itu, yang tidak biasa dijumpai di negeri kita. Di pojok pasar, ada lapak penuh dengan makanan berwarna hitam, coklat dan kemerahan. Gorengan laba-laba, jangkerik dan belalang. Saya sempat berfoto bersama si penjual, yang cukup ramah meskipun saya tidak membeli barang jualannya. Bagaimana mau membeli, melihatnya saja sudah takut.  Di sepanjang perjalanan, tampak banyak pohon lontar yang buahnya berwarna ungu itu,  berdiri tegak di tengah-tengah persawahan. Itulah mengapa kerajinan daun lontar banyak ditemukan di Kamboja. Dan tentu saja buah lontarpun banyak dijual di pasar.

Pemberhentian kedua di Prey Pros Rest Area, suatu tempat dimana selain menyediakan toilet yang bersih juga menjual makanan camilan dan barang-barang souvenir. Untuk sekedar menghilangkan kantuk saya membeli kacang dalam wadah toples kecil, tertera namanya kacang wasabi. Sayang sekali rasanya aneh, berbumbu, agak pedas, tidak sesuai dengan lidah saya yang terbiasa dengan kacang Indonesia.

Bus kami akhirnya tiba di kota Seam Reap lebih cepat dari perkiraan. Lampu-lampu kota mulai terang benderang. Kelihatannya kota Seam Reap adalah kota wisata, yang lebih hidup dari pada Phnom Penh. Hotel-hotel berbintang lima bertebaran dengan wisatawan baik bule maupun dari Asia. Hotel-hotel megah dengan nama yang sudah familiar seperti Sofitel dan lain-lain. Hotel-hotel kelas melati pun hadir di sepanjang jalan utama kota. Demikian pula toko-toko besar terang benderang memajang baju-baju hem maupun kaos-kaos bermerk. Barangkali Seam Reap bisa disamakan dengan Yogyakarta, tetapi jumlah manusianya tidak sepadat kota Yogyakarta.

Ketika waktu makan malam tiba, makan malam ini disediakan di sebuah restoran bagus dengan taman yang tertata manis, namanya Tropical Restoran. Di bagian belakang restoran saya melihat kolam dengan air mancur  dan bunga-bunganya  yg bermekaran. Makanan yang dihidangkan hampir sama dengan yang kita nikmati di restoran sebelumnya, masakan sayuran, ayam, ikan, telur, terong, dan sapo tofu. Selesai menikmati makan malam, segera kami  menuju hotel untuk beristirahat. Hotel kami bernama Somadevi Angkor Hotel, terletak di pusat kota. Kami segera merapikan isi koper, karena rencananya akan  berada di hotel ini selama 2 malam. Kim Lon telah berpesan, bahwa esok pagi kita akan banyak berjalan, sehingga harus segera beristirahat. 

Hari ketiga, 27 Juni 2013.

Pagi hari sarapan di hotel Somadevi Angkor, cukup lengkap. Saya melihat teman-teman telah duduk di Coffee Shop hotel menikmati breakfast sembari ngobrol. Selama tiga hari bersama mereka, saya mulai mengenal dengan baik teman-teman seperjalanan kali ini. Saya menanyakan kepada waiter, makanan mana yang “no pork”.  Ternyata banyak yang bisa dinikmati. Seperti biasa, saya tidak bisa banyak makan karena di rumah tidak biasa makan pagi, biasanya cukup secangkir kopi saja.

Kali ini rombongan kami tidak lagi menggunakan bus besar, melainkan diganti 2 bus kecil. Menurut peraturan, bus besar tidak boleh masuk ke komplek candi yang akan kami kunjungi.  Hari ini kami diperkenalkan dengan guide khusus Angkor Wat, namanya A Kong. Dengan bahasa Inggrisnya yang fasih A Kong menjelaskan sejarah tentang Angkor Wat dan candi-candi lainnya. Di komplek Angkor Wat ini terdapat banyak guide yang ditugaskan mendampingi wisatawan. Mereka mengenakan baju hem seragam kuning dan Identity Card yang dikalungkan di leher. Dengan demikian rombongan kami didampingi 3 orang guide, Kenny, Kim Lon dan A Kong.

Hari ini ada banyak candi yg akan kami kunjungi. Udara di Kamboja panas sekali, melebihi panasnya udara Jakarta saat ini, kira-kira  35 derajat sampai 37 derajat Celcius. Oleh karenanya sebelumnya kami disarankan untuk memakai sun block dan membawa payung.

Di lokasi penjualan tiket, semua pengunjung dibuatkan Identity Card, dengan foto wajah secara otomatis. ID Card itu langsung jadi, kemudian masing-masing diberi plastik dan dikalungkan di leher. Tiket masuk seharga US $ 20 per orang, dan apabila ID Card itu hilang, diharuskan membuat lagi dengan membayar harga tiket masuk US$ 20 lagi. Saya melihat begitu banyak turis berkunjung, ber bus-bus dan banyak diantaranya naik mobil atau bersepeda, bahkan berjalan kaki. Saya menanyakan kepada Kim Lon, apakah pengunjung sepadat ini juga terjadi pada saat bukan peak season? Katanya, memang demikian kondisi sehari-harinya.

Yang pertama kami kunjungi adalah Angkor Thom, yaitu ibukota terakhir Kekaisaran Khmer atau Khmer Emperor, yang menurut penjelasan A Kong pada saat itu meliputi Kamboja, Vietnam, Thailand atau Champa dan Malaysia. Komplek ini dibangun di akhir abad ke 12 di masa pemerintahan Raja Jayavarman VII. Pada saat itu penduduk ibukota ini sudah mencapai 1 juta orang. Sedangkan pada saat  yang sama penduduk kerajaan Inggris belum mencapai jumlah tersebut. Luasnya meliputi 9 km persegi, dengan dikelilingi tembok yang masih utuh dan masih tampak kokoh, walaupun telah dimakan usia.  Pintu gerbang bentuknya seperti candi kecil, dimana puncaknya berupa  Budha bermuka 4 menghadap ke 4 penjuru.  Pintu gerbang semacam ini ada di empat penjuru, semuanya dengan bentuk yang sama yaitu  West Gate, North Gate, East Gate, South Gate dan Victory Gate. Seluruhnya terdapat 5 pintu gerbang. Sebelum memasuki pintu gerbang, kami disambut dengan deretan patung Budha disebelah kanan, dan deretan patung yang menggambarkan setan di sebelah kiri. 


Di dalam komplek Angkor Thom, terletak The Bayon Temple, sebuah kuil  atau candi yang telah mulai rusak di sana-sini. Dibangun di awal abad ke 13, merupakan tempat pemujaan yang digunakan oleh Raja Jayavarman VII, seorang pemeluk agama Budha Mahayana. Mengingat keterbatasan kaki saya yang tidak boleh beraktivitas berat, saya hanya melihat-lihat dari halaman. Beberapa orang ada yang  masuk hingga mengelilinginya. Kesempatan menunggu ini saya gunakan untuk mengobrol dengan teman seperjalanan, namanya Ibu Sri Maryani yang juga hanya melihat dari depan saja.

Bangunan The Bayon Temple merupakan bangunan agama Budha. Selain dari adanya patung Budha yg ada di gerbang, relief-relief di candinya juga menunjukkan lambang-lambang agama Budha.The Bayon Temple sudah direnovasi atas kerjasama Pemerintah  Kamboja dan Pemerintah India. Mengapa India ya? Mungkin ada hubungannya dengan candi-candi lainnya seperti  Preah Ko, sebuah candi yang dibangun oleh Raja Indravarman I yang beragama Hindu  di tahun 879 atau di abad ke sembilan, yang dipersembahkan kepada Dewa Shiva.  Sebagaimana di Indonesia, sebelum kedatangan agama Budha, masyarakatnya terlebih dahulu telah memeluk agama Hindu. Dan candi-candi itu merupakan tempat pemujaan agama Hindu. 

Saya perhatikan bahwa bangunan candi ini terbuat dari batu-batu yang berukuran besar, sepertinya lebih besar dari batu-batu  di Candi Borobudur. Namun yang lebih besar lagi adalah batu-batu  yang digunakan di Piramida Giza,  apalagi batu-batu di Stone Henge, yang belum pernah saya lihat aslinya, baru melihat filmnya.  Ketika saat itu saya berfoto di Piramida Giza, kelihatan lebih tinggi batunya dari pada tinggi badan saya. Batu-batu besar itu beserakan di halaman candi. Untuk mengangkat satu batu, perlu 5 orang. Seperti biasa, para fotografer amatir menawarkan jasanya dengan menunjukkan contoh pose-pose dan lokasi pemotretan yg bagus. Sayapun jadi ingin difoto di lokasi itu.

Tempat kedua yang kami kunjungi hari ini adalah Komplek Candi yg bernama Ta Prohm, atau Candi Kakek  berlokasi 1 km dari Angkor Thom. Ta Prohm atau aslinya bernama Rajavihara, dibangun di tahun 1186 oleh Raja Jayavarman VII.  Memasuki dari salah satu pintunya  menuju ke tengah atau lokasi candi, hingga pintu keluar lagi, panjangnya  3 km.

Ta Prohm diketemukan oleh seorang warga Perancis di sebuah hutan, yang ketika pohon-pohon sekitarnya dibersihkan, maka tampaklah reruntuhan candi itu. Rupanya reruntuhan batu  yang dililit oleh pohon-pohon raksasa itu merupakan pemandangan yang sangat eksotis. Tempat inilah yang dijadikan lokasi pengambilan film Thom Rider, dibintangi aktris Angelina Jolie. Wisatawan sangat menyukai berfoto di pohon-pohon raksasa itu. Cukup lama kami berada di Ta Prohm, karena rupanya telah terjadi saling mencari diantara rombongan kami, dikira ada anggotanya yang tertinggal. 





Setelah meninggalkan candi ini, rombongan menuju tempat makan siang yang berlokasi tidak jauh dari Ta Prohm. Walaupun kelihatannya menarik, setelah dicecap di lidah terasa aneh. Masakan mereka banyak menggunakan jahe, daun ketumbar, dan bumbu-bumbu  lain yg kurang pas di lidah Indonesia. Jadi teringat nasi padang ayam bakar Rumah Makan Susy, hem..……

Setelah acara makan siang, seharusnya kami  langsung ke Angkor Watt, berkeliling  sekaligus menunggu pemandangan sun set dari lantai atasnya. Akan tetapi berhubung matahari masih sangat terik hingga terasa sakit di ubun-ubun, sedangkan di lokasi Angkor Wat nanti tidak ada pepohonan yang rindang. Kim Lon dan A Kong mencarikan tempat untuk ngadem dulu sambil menunggu matahari agak turun. Kasihan peserta yang sudah berumur seperti saya dan dik Nuk, dan juga anak-anak kecil, tentu akan kepanasan. Oleh karena itu kami diajak berjalan jalan melihat toko souvenir di sekitar pertokoan sambil ngopi hingga kira-kira jam 3 sore. 

Rombongan berganti bus lagi. Bus kecil yang kami tumpangi diganti bus besar yang selama ini dipakai. Pergantian bus ini tidak diberitahukan ke semua anggota rombongan sehingga ada beberapa barang yang terbawa. Untunglah semua barang itu dapat ditemukan kembali. A Kong meminta maaf atas kelalaiannya.

Matahari mulai berkurang teriknya, kami segera menuju lokasi Angkor Wat, yang merupakan candi terbesar di Seam Reap. Angkor Wat memang bagus dan patut untuk dikunjungi. Karena keindahan dan nilai seninya, Angkor Wat masuk dalam daftar “Situs Warisan Dunia UNESCO”.  Dari jauh sudah kelihatan sosok cantiknya. Akan tetapi pada kenyataannya setelah didekati, jauh lebih bagus Candi Borobudur dari pada Angkor Wat. Saya tidak tahu, apakah mungkin karena sejarah penemuan dan keindahannya sehingga Angkor Wat menjadi warisan dunia. Umurnya lebih muda beberapa abad sesudah candi Borobudur. Sebagaimana diketahui, Borobudur didirikan oleh penganut Budha Mahayana sekitar 800-an Masehi pada masa pemerintahan Syailendra. Borobudur  ditemukan oleh Sir Thomas Stanford Raffles pada tahun 1814 yang saat itu menjadi Gubernur Jenderal di Nusantara. Ketika ditemukan, Borobudur keadaannya terkubur oleh abu gunung Merapi. Jadi selama ratusan tahun tidak terkena terik matahari, hujan, angin dan tidak aus.  Berfoto dengan background Angkor Wat dilakukan oleh semua peserta. Para tukang foto amatir semua kebagian rejeki karena kami ingin berfoto di lokasi yang paling OK.

Dikelilingi danau buatan yang sudah berumur ratusan tahun, menjadikan Angkor Wat, yang melambangkan mikro kosmos, sebagaimana Puncak  Maha Meru di kelilingi lautan, memang sangat eksotis. Danau buatan itu tetap penuh airnya, karena hutan di wilayah Seam Reap masih terjaga. Di ujung depan jembatan yang menghubungkan jalan raya dengan Bangunan Angkor Wat, terdapat sepasang patung sebagai penjaga, Naga berkepala tujuh. Sedangkan jembatan yang menghubungkan pintu gerbang dengan candi, terbuat dari batu-batu  berukuran besar yg tertata dengan baik, namun sebagian sudah ada ada yang miring. 


Sebelum memasuki candi, rombongan membuat foto group di lokasi yang sangat pas, dimana warna langit  dikala sore tampak kemerahan. Di lantai pertama candi, terdapat patung  besar setinggi 3 m, menggambarkan dewa Wisnu. Sayang tangannya telah hilang. Ketika saya baru saja menjejakkan kaki di lantai pertama candi, hujan deras turun ke bumi bagaikan dicurahkan dari langit, membuat suasana menjadi sendu. Rencana untuk melihat sun set dari lantai 3 tidak mungkin dilaksanakan, namun beberapa peserta tetap naik ke lantai 3. Kami meninggalkan Angkor Wat diiringi hujan rintik-rintik menyambut senja yang mulai gelap. Bangunan cantik bersejarah kreasi manusia masa lalu itu saya tinggalkan, entah kapan akan dapat berjumpa lagi. See you ….till we meet again….


Setelah hujan reda, rombongan segera berkumpul untuk kembali menuju hotel. Kami diberi waktu untuk mandi, dan pada jam 19.30 harus sudah  berada di lobby untuk bersama-sama makan malam sambil menikmati tarian Apsara Dance. Yang mana yang disebut Apsara Dance ya? Malam itu ada 4 tarian :  2 macam tarian klasik seperti tari Ramayana, dimana para penarinya mengenakan pakaian seperti Wayang Orang di Sriwedari Solo. Model penutup kepala mereka berbeda, agak runcing. Sedang 2 tarian lagi menggambarkan para petani muda sedang bercengkerama, mungkin sedang panen dan para nelayan sedang menangkap ikan dengan bubu. Pakaian para penari seperti pakaian petani atau nelayan, bahkan seperti baju koko kita. Kami menikmati tarian-tarian tersebut, sehingga menu makan malam tidak terlalu diperhatikan.


Malam ini adalah malam terakhir kami di Kamboja. Para peserta yang menghendaki, diberi kesempatan untuk mencari oleh-oleh di Pasar Malam, Night Market. Berangkat bersama-sama  naik bus, nanti kembali ke hotel sendiri-sendiri, bisa naik tuk-tuk, yaitu kendaraan beroda 4 seperti bajaj berisi 4 orang yang duduk berhadapan.  Pasar malam di Seam Reap merupakan tempat berbelanja barang-barang suvenir dan barang-barang  khas Kamboja. Saya membeli sedikit gantungan kunci, tempelan kulkas dan tas tangan khas Kamboja. Mengingat berangkat tanpa ditemani suami, berarti tidak ada yang akan membantu mengangkat koper, maka saya membatasi diri dari kebiasaan membawa oleh-oleh. Apa lagi oleh Dokter saya, Dokter Kiki, lutut saya harus diperlakukan semanis mungkin, tidak boleh diberi tugas berat. Jangankan mengangkat berat, mengenakan sepatu saja harus setipis mungkin. Tak apalah, dinikmati saja…..


Hari keempat, 28 Juni 2013.

Hari ini diberikan acara bebas sampai tiba  saatnya berangkat ke Airport. Pagi hari, kami bersama-sama breakfast sambil ngobrol santai. Beberapa teman bercerita bahwa kopernya telah hamil alias lebih berat, sudah diisi oleh-oleh. Bahkan ada yang telah beranak.  Pada jam 10.30 kami akan meninggalkan Seam Reap. Sebelum berangkat, saya menyiapkan sekedar tip untuk Kim Lon, guide yang baik yang telah membantu saya. Suatu ketika sepatu saya menganga, rupanya sepatu baru tapi tidak awet,  Kim Lon lah yang mencarikan lem, supaya sepatu itu bisa dipakai lagi. Demikian pula, ketika saya memerlukan brosur untuk melengkapi catatan-catatan kecil yang saya buat di perjalanan, Kim Lon dengan senang hati membantu mengambilkannya untuk saya.

Sebelum meninggalkan hotel Somadevi Angkor, tak ada salahnya mengambil foto diri dengan background tulisan nama hotel. Wah, norak ya?  Enggak juga, kan belum tentu akan sampai ke kota Seam Reap lagi. 




Bus mulai meninggalkan hotel menuju Airport. Restoran tempat dimana kami akan makan siang sebelum terbang  berlokasi di dekat bandara Seam Reap sehingga  searah dan tidak jauh. Namanya Restoran Tonle Mekong. Ketika kami tiba, Restoran telah buka, tetapi pelayan dan resepsionisnya belum berada di tempat.  Kami memang datang jam 11 sebelum waktu makan siang tiba, karena dikawatirkan terlalu mepet waktunya.
Nah, ini baru makanan yg cocok dengan lidah Indonesia. Bufet berbagai masakan lengkap. Dari makanan pembuka  seperti  jajan pasar, sama dengan  yang ada di Indonesia. Klepon, ketan kinca duren (ketan sarikaya), kolak, es  campur, es cendol, kue lapis, dodol dan lain lain. Sayuran rebusan dan lalapan lengkap dengan sambal terasi dan leuncaknya. Berbagai lauk, ikan, ayam, daging dan sebagainya. Tidak ketinggalan sayur seperti lodeh terong, oseng sawi dan lain-lain, tidak ingat macamnya lagi. Pokoknya sesuai selera Indonesia. Para peserta merasa puas dengan hidangan makan siang di restoran yang  terakhir ini.

Selesai makan siang, rombongan kami menuju Bandara Seam Reap untuk penerbangan menuju Hochiminh City dengan menggunakan Vietnam Air,  Pesawatnya Airbus 321. Bandara Siem Reap kecil, tetapi cukup bersih. Di toko-tokonya banyak dijual barang-barang  souvenir. Sedikit menyesal tidak membeli sedikitpun barang-barang khas Kamboja, karena ternyata negara Kamboja juga penghasil sutera bagus seperti Thailand.  Produk jadi yang dihasilkan antara lain selendang, taplak meja, sarung bantal, tas dan sebagainya. Sebagai salah satu dari negara-negara di Indochina, Kamboja berada di tempat ketiga sesudah Thailand dan Vietnam dalam hal perekonomiannya. Yang terakhir, yang masih dalam kondisi miskin adalah Laos. Pesawat mulai take off dan sayapun memanjatkan doa ke hadiratNya untuk keselamatan penerbangan ini.
Bye bye Kim Lon… bye bye Kamboja….

Bersambung ......


Tidak ada komentar:

Posting Komentar