Senin, 13 Desember 2021

Bali setelah Pandemi (2)



Lanjutan dari : Bali setelah Pandemi (1)

Hari Ketiga : Pantai-pantai di Bali.

Matahari yang biasanya bersembunyi di bulan Desember, hari ini tampak cerah bersinar. Kami bersemangat untuk mengunjungi pantai-pantai indah di Bali. Kata Pak Komang, Pantai Melasti yang baru selesai dibangun adalah pantai terbaru dan terbagus yang harus dikunjungi. Pantai berpasir putih ini berlokasi di daerah Ungasan yang bisa ditempuh dalam 40 menit dari Kuta, lokasi kami menginap. Aku coba melihat di peta, pantai ini terletak di ujung selatan Pulau Bali.

Menuju ke sini, dari Denpasar jalanan terus naik kearah selatan, walaupun suasana masih terasa berada di perkotaan. Jalan begitu mulus hingga masuk kearah pantai. Menurut penglihatanku, pantai ini berada dibalik gunung batu. Di belokan terakhir dari jalan yang memasuki pantai dimana air laut yang membiru tampak didepan mata,  Patung 5 Penari Bali berjajar manis menyambut pengunjung. Selain Patung, Gapura masuk sudah bernuansa khas Bali. Di sebelah kananku, tembok tebing disulap menjadi taman cantik untuk spot-spot foto dan anak-anak bermain. Tempat parkir juga tersedia luas, bisa memuat banyak mobil. Mungkin karena masih baru, dan mungkin juga karena suasana Pandemi tidak banyak pengunjung, keseluruhan Pantai Melasti kelihatan bersih.






Ketika kami tiba, hari masih pagi, seorang bapak sedang menata kursi dan payung dipinggir pantai. Langsung saya menanyakan, apakah kursi dan payung ini disewakan? Ternyata benar, ini adalah properti milik hotel yang ada diatas bukit itu. Aku melihat keatas, tampak sebuah bangunan dengan kaca-kaca bertengger diatas bukit. Hotel apa itu ya? 2 buah kursi pantai panjang dengan payung disewakan Rp. 100 ribu. Aku sepakat untuk menyewanya.  Di dekat kami duduk santai, terdapat taman kecil dengan pohon Pandan Bali. Pasir putih dengan ombak bergulung kecil membuat nyaman berjalan-jalan dipinggirannya. Aku jadi teringat dengan ketiga gadis-gadis tanggung yang tertinggal di Jakarta. Alangkah bahagianya jika ke Pantai Melasti bersama mereka.....





Ketika matahari semakin naik, suasana cerah berubah mendung dengan hujan rintik-rintik. Jika kami bertahan dibawah payung ini, lama kelamaan pasti akan basah juga. Kamipun berkemas untuk meninggalkan Melasti menuju pantai lainnya. Menuruni jalan keluar dari Melasti, kemudian belok kekanan, kami menuju Pantai Pandawa. Suasana hujan yang semakin deras mengaburkan pandangan mata. Pantai Pandawa sangat sepi. Pantai ini sebenarnya satu deretan dengan Pantai Melasti, juga tersembunyi berada dibalik gunung atau tebing batu. Mengapa disebut Pantai Pandawa? Yah, karena di salah satu sisi tebingnya  terdapat Patung Pandawa yang ditempatkan pada lubang-lubang tebing. Ditepi jalan yang kami lalui, terdapat bangunan-bangunan tinggi yang mangkrak tidak dilanjutkan. Barangkali direncanakan untuk Hotel, tetapi karena Pandemi terpaksa terhenti. Hujan deras menjadikan kami tidak melanjutkan eksplorasi di pantai ini. Sepintas memang jauh lebih bagus Pantai Melasti dari pada Pantai Pandawa.

Dimana kita akan makan siang hari ini? Pak Komang mengusulkan ke sebuah restoran di sekitar pantai juga, yang menghidangkan masakan ikan segar. Aku lupa nama restorannya. Masakan Sop Ikan yang dikemas dalam menu per paket. Rasa masakannya seperti Sop Ikan Batam yang ada di Jakarta. Alhamdulillah……

Pantai terakhir yang kami kunjungi hari ini adalah Pantai Kuta, pantai penuh kenangan. Ke pantai inilah saat pertama kali aku mengenal Bali, mengajak kedua putra-putriku Dandy dan Hesty. Dandy masih berusia sekitar 10 tahun dan adiknya 5 tahun. Wouw…. 35 tahun yang lalu ….. Suasana maupun foto-fotonya masih tersimpan di ingatanku, begitu indahnya siluet senja di Pantai Kuta yang saat masih sepi.

Di pantai ini juga kami bersama Aisha kecil, cucu kami dari Dandy, makan di Restoran belakang Mall Discovery. Masih adakah Mall dan Restonya itu setelah sekian tahun berlalu? Sayang tidak sempat mengunjunginya lagi.

Ke pantai ini juga kami bersama Lila dan Lura, cucu kami dari Hesty. Lila waktu itu masih kecil, belum sekolah dan Lura masih baby. Kami berlibur bersama keluarga putriku, menginap di Hotel Haris, yang berada di seberang pantai ini. Sekarang sepertinya Hotel Haris sudah tidak ada di Kuta. Waktu itu bundanya Lila khusus membawakan mainan cetakan untuk bermain pasir di pantai. Kami menunggu Lila main pasir di pantai sampai puas.





Hari ini kami hanya berdua, menapaki bibir Pantai Kuta yang deburan ombaknya tak seberapa besar. Sepanjang garis pantainya dipenuhi manusia. Kebanyakan penjual makanan yang menawarkan jajanan dan minuman, ibu-ibu penjual gelang-gelang mote dan ibu-ibu pemijat yang mengikuti kemana kami pergi. Pantai ini menjadi tak indah lagi sebagaimana yang ada dalam memori kenanganku..........

Hari keempat : Jatiluwih dan Bedugul

Mas Suami masih belum puas melihat indahnya deretan sawah di Tegalalang. Hari ini ingin ke lokasi serupa yaitu di Desa Jatiluwih, yang berada di Kecamatan Penebel, termasuk dalam wilayah Kabupaten Tabanan. Karena keindahannya, Mantan Presiden Barack Obama dalam liburannya ke Bali di tahun 2017 menyempatkan untuk mengunjunginya. Jatiluwih juga telah ditetapkan oleh Unesco sebagai salah satu World Heritage atau Warisan Budaya Dunia di tahun 2012.

Tujuan wisata ini berjarak 55 Km dari Kuta, dan dapat ditempuh dalam waktu 1,5 hingga 2 jam. Keluar dari Denpasar, aku memasang aplikasi "waze" untuk memudahkan pencarian alamat. Berada di lereng Gunung Batukaru dengan ketinggian 700 m diatas permukaan laut wilayah ini sangat subur. Gunung Batukaru adalah gunung tertinggi kedua setelah Gunung Agung, tingginya 2.776 meter diatas permukan laut. Dimana-mana tampak sawah terbentang, Jalanan semakin naik, udara mulai dingin. Jalur yang kami lewati sangat sepi, bahkan seperti memasuki hutan karena sepanjang jalan rimbun dengan pepohonan yang tidak biasa. Aku sempat khawatir, jangan-jangan tersesat. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan kendaraan kami, siapa yang menolong, sedangkan jauh dari perkampungan. Apalagi hujan turun rintik-rintik diselingi bunyi suara-suara denging serangga hutan, membuat suasana semakin sunyi.

Rupanya si "waze" mencari jalur alternatif yang lebih pendek. Dibelakang kami juga ada kendaraan yang mengikuti mobil kami. Bernafas lega rasanya ketika melihat petunjuk jalan, Jatiluwih tinggal beberapa kilometer lagi.

Nah, inilah pemandangan sawah terasering yang cantik dengan menggunakan sistem pengairan tradisional Bali yang disebut Subak. Disini air berlimpah, lancar mengalir di selokan-selokan dipinggir jalan. Tampak di seberang sana persawahan berundak-undak dengan pembatas (bahasa Jawa : galengan) yang rapi. Sayang hujan dan kabut menjadikan foto yang kami ambil tidak bagus. Foto yang bagus ini  aku ambilkan dari Google.



Jatiluwih  juga  merupakan  
Lumbung Beras Merah Organik di Bali. Beras  merah  yang dihasilkan sangat khas rasanya, ditanam tanpa pupuk kimia sehingga menghasilkan beras merah yang berkwalitasi, memiliki serat tinggi, mengandung vitamin dan mineral serta anti oksidan tinggi.



Kami mampir disebuah warung yang berseberangan dengan lokasi sawah terasering, serta dekat dengan lokasi
Papan Penghargaan dari Unesco. Sambil menikmati indahnya panorama dan  dinginnya  kabut yang turun, ngopi adalah sebuah kenikmatan. Udara  dingin  membuat  perut lapar sebelum jam makan, maka sebaiknya diganjal dulu dengan sepiring omelette dan kentang goreng yang kami habiskan berdua. Pak Komang asyik menyantap nasi goreng.

Meninggalkan Jatiluwih, hujan masih bertahan rintik-rintik. Kata Pak Komang, jarak dari Jatiluwih ke Bedugul hanya 25 km. Jika lancar, tidak memerlukan waktu lama.  Jalanan lebih bagus dari ketika berangkat tadi sehingga dalam setengah jam sudah memasuki Bedugul.

Kami menuju Kebun Raya Bedugul, tetapi karena hujan semakin deras, rasanya nggak mungkin turun dari mobil. Kemudian balik kearah Danau Beratan untuk mencari tempat makan.

Rupanya Bedugul sudah sangat berubah. Aku tak lagi mengenalinya. Ingatanku tentang Danau Beratan di Bedugul itu airnya berlimpah hingga tampak seperti penuh hampir meluap. Kini tidak seperti itu. Demikian pula aku tidak melihat Pura Ulun Danu karena derasnya hujan.  Karena hujan semakin deras dan kami tidak menemukan tempat untuk istirahat sekaligus makan siang, maka kami putuskan untuk putar-putar dan akhirnya balik lagi ke Kebun Raya ketika hujan sudah reda. Kami membeli tiket untuk naik Shuttle Bus berkeliling. di Kebun Raya. Driver sekaligus Guide akan memberi penjelasan jika pengunjung bertanya.




Kebun Raya Bedugul resminya bernama Kebun Raya Eka Karya Tabanan  Bali, berada di ketinggian 1.240 m diatas permukaan laut. Udaranya sangat sejuk dan sering berkabut. Kebun Raya dengan luas 157,5 ha ini juga merupakan salah satu hutan lindung di Bali.

Shuttle bus berisi 2 keluarga, aku berdua suami dan pengunjung warga Bali bertiga dengan isteri dan anaknya. Ada beberapa shuttle bus yang tampak di jalan berpapasan. Di satu titik, kami diberi kesempatan untuk berfoto dengan background pemandangan Danau Beratan nun jauh disana. Dengan shutle bus, rasanya cepat sekali mengelilingi Keun Raya. Memang selama Pandemi beberapa ruas jalan ditutup dan yang membuat aku kecewa adalah Koleksi Anggrek tidak dibuka. Padahal disitulah keberadaan beberapa jenis anggrek langka yang ingin aku lihat. Dari informasi yang aku dapatkan, di Kebun Raya ini juga ditanam lengkap semua tumbuhan yang digunakan untuk upacara Umat Hindu Bali. Sesuatu yang sangat berharga untuk dilewatkan. Sayang sekali tidak ada kesempatan untuk melihatnya.




Demikianlah kunjungan ke Kebun Raya Bedugul, yang menurutku kurang memuaskan. Deretan pepohonan yang sebenarnya indah untuk dinikmati, hanya seperti sekelebatan saja. Jika bukan musim hujan, pasti bisa leluasa mendekatinya. Rasanya kepengin menjelajahi suatu ketika nanti jika masih ada kesempatan.

Kami meninggalkan Bedugul menuju Denpasar, untuk melakukan Tes Antigen sebagai syarat untuk terbang esok pagi. Selamat tinggal Bali yang tetap cantik. InshaAllah kenangan indah bersamamu akan tetap tersimpan dihatiku.

 

Jakarta, 12 Desember 2021.

Wassalamualaikum ww.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


5 komentar:

  1. Asyiiikk.b.joko...
    Seneng lihat nya...ikut terhanyut..
    Dgn pemandanganndan suasana alam dsna..bravo bu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih..... Mohon maaf dengan siapa ya?
      Yang panggil aku bu Djoko, pasti teman-teman ex DW ....
      Benerkah?

      Hapus
  2. Terima kasih apresiasinya.
    Mohon maaf dengan siapaini ya?

    BalasHapus
  3. Assalamualikum
    Semoga ibu dan suami selalu sehat dan bahagia, aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih telah membaca tulisanku. Mohon maaf, dengan siapa ya?

      Hapus