Kamis, 01 September 2016

Travelling ke Borneo : Pampang, Desa Budaya Suku Dayak Kenyah.



Assalamu’alaikum ww.
Apakah yang teman-teman pikirkan jika mendengar kata Dayak? Jangan dulu berpikir terlalu jauh, apalagi hal-hal yang menyeramkan. Yang aku temui di Desa Pampang, lebih kurang 20 km dari kota Samarinda, adalah Pentas Seni berupa Tarian dan Musik yang diselenggarakan di sebuah Rumah Adat  yang disebut Lamin. Lamin berupa rumah panjang, terbuat dari kayu ulin dengan atap sirap dan dihiasi ukiran dan lukisan khas suku Dayak yang indah. Lamin disini difungsikan sebagai panggung. Sebagai latar panggung, dindingnya dilukis  dengan lukisan berupa daun-daun paku berwarna kuning-hitam. Di dalam Lamin telah tertata kursi-kursi menghadap ke tengah. Rupanya sudah banyak penonton yang datang, diantaranya wisatawan dari luar negeri, dan rombongan kami segera mengisi baris kedua deretan tengah, supaya lebih jelas untuk mengambil foto.

Tarian mereka diiring alat musik dari kayu bersenar yang dilubangi bagian belakangnya, disebut sampeq. Musiknya sederhana, terdengar seperti musik dari Cina mengalun tenang, teduh, dengan gerak penari yang perlahan berirama. Para penarinya cantik dan gagah. Penari wanita mengenakan busana manik-manik dengan desain yang indah, mengenakan kalung dengan hiasan mote-mote dan taring macan serta membawa bulu burung di tangannya. Mereka juga mengenakan gelang kaki yang hentakannya seirama dengan gerakan tariannya. Penari pria mengenakan busana penutup dada dari kulit macan (imitasi lho....) dengan bulu burung Enggang di kepalanya, membawa senjata mandau dan tameng/perisai dengan ukiran dan warna yang indah. Penari-penari kecilnya juga manis-manis dan lucu-lucu, tak beda dengan ketiga  gadis-gadis kecilku Aisha, Lila, Allura di Jakarta.

Kami disuguhi 10 tarian, yang rata-rata hanya beberapa menit saja. Dimulai dari Tari untuk membersihkan halaman, Tari selamat datang, Tari persahabatan, Tari perjuangan, Tari perdamaian,  Tari Perang, Tari Tali, Tari Topeng dan lain-lain. Pada umumnya tarian mereka sangat lembut, kecuali pada Tari Perang, para penari pria mengeluarkan pekikan dengan penuh semangat. Kemudian diakhiri dengan Tarian yang melibatkan para penonton yang ingin mencoba ikut menari. Jangan salah, menari tarian yang terakhir ini harus fokus. Penari pengunjung harus meloncat diantara kayu-kayu yang digerakkan oleh para penari. Jika tidak fokus, kaki bisa kejepit kayu. Seorang cewek muda Turis Bule dari Belanda ikut mencoba menari, untung dia sigap dan sukses tanpa terjatuh atau terjepit hingga selesai.

Suku Dayak yang berada di Desa Pampang ini adalah termasuk Suku Dayak Kenyah. Pada umumnya mereka berperilaku dan bersikap halus. Demikian pula tarian dan musik yang mereka bawakan, sangat lembut. Barangkali jika di Solo - Jogya, ini jenis tarian ksatria, bukan tarian raksasa atau buto cakil. Seorang teman, Ibu Atiek Wirasmo membuat video salah satu tarian yang gerakannya lemah gemulai bagaikan gerakan burung Enggang. Yuk kita nikmati bersama penampilan mereka...

video

Selain para Penari yang cantik-cantik dan gagah-gagah tadi, ada dua  orang  bapak yang bertelinga panjang dengan anting-anting yang berat, mengenakan pakaian adat asli suku Dayak dengan Bulu Burung Enggang di kepalanya menyambut kami di pintu Lamin. Penampilan seperti kedua orang tersebut sekarang sudah sangat jarang, kalaupun ada hanya di Pedalaman. Inilah bagian dari Nusantara kita.Mereka adalah suku asli yang mendiami bumi Borneo yang sangat luas ini. Ketika pertunjukan usai, kami segera menghambur keluar, untuk antri berfoto dengan keduanya. Aku sebenarnya merasa iba kepada bapak yang berada di sebelah kiri pintu Lamin, karena sudah demikian sepuh, usianya 93 tahun. Dia duduk sambil mengatupkan mata, seolah sudah sangat capai. Sedang bapak yang  berdiri disebelah kanan pintu lamin masih belum terlalu tua. Mereka masing-masing ditemani oleh penari muda yang menerima dan menyimpan uang dari para pengunjung.



Menurut sejarah, suku Dayak di abad kedua Masehi datang dari daratan Asia, menyebar dan menjadi penghuni asli pulau Kalimantan. Kata “Dayak” berarti hulu. Orang Dayak berasal dan tinggal di hulu sungai di pedalaman. Baik di Malaysia maupun di Indonesia, namanya sama, Dayak. Ada beberapa rumpun besar suku Dayak menurut para Ahli, yaitu rumpun Iban, rumpun Apokayan, rumpun Murut, rumpun Ot Danum Ngaju dan rumpun Punan. Mereka memiliki beberapa ciri khas, yang tampak berbeda dengan suku-suku  lain. Ciri khas yang pertama   yaitu  telinganya yang bisa sangat panjang. Bagaimana hingga bisa sepanjang itu? Ketika masih kecil, mereka  mengenakan anting kecil, semakin bertambah usia, antingnya semakin berat.  Apa alasan mereka hingga harus bertelinga panjang? Telinga panjang, erat hubungannya dengan status sosial kebangsawanan. Antara laki-laki dan perempuan memiliki aturan panjang telinga yang berbeda. Kaum laki-laki tidak boleh memanjangkan telinganya sampai melebihi bahunya, sedangkan untuk perempuan boleh memanjangkannya hingga sebatas dada. Tradisi ini sudah mulai punah. Mereka yang masih muda enggan melakukannya, tinggal para tetua  yang masih bertelinga panjang. Ciri khas yang kedua adalah bertato, baik laki-laki maupun perempuan.  Tato mereka memiliki makna. Bisa dimaksudkan untuk menghias dan bisa juga untuk memberi  identitas,  misalnya menunjukkan bahwa dia seorang bangsawan. Bagi wanita, tato adalah semacam emansipasi, mempersamakan derajad dengan pria. Wanita tidak hanya menjadi ekor, bisa juga  menjadi kepala. Ciri khas ketiga, adalah senjata yang mereka kenakan di pinggang bernama Mandau. Ciri khas keempat, kemahirannya menggunakan Sumpit sebagai senjata yang mematikan, karena sumpit itu direndam dalam larutan racun. Dan ciri khas kelima, Suku Dayak memiliki ilmu magic atau sihir. 

Suku Dayak pada awalnya memiliki kepercayaan yang disebut Kaharingan. Namun di perjalanan jaman, dengan masuknya misionaris, mereka menganut agama Kristen dan Katolik, bahkan sudah ada yang masuk Islam. Yang berada di Pampang ini termasuk suku Dayak Kenyah, yang awalnya berdiam di Dataran Tinggi Apo Kayan, suatu daerah di paling utara Kalimantan Timur, dekat Serawak. Dari sana mereka menyebar, mencari penghidupan baru dan  mendekatkan diri dengan pendidikan. Kata Pampang berasal dari Simpang atau Persimpangan. Sejarah kedatangan  mereka ke desa Pampang ini dimulai sejak tahun 1970, tetapi baru di tahun 1995, desa Pampang diresmikan sebagai Desa Wisata Budaya. Orang-orang Dayak yang tinggal didesa ini  bekerja di berbagai bidang pekerjaan, tetapi memang mereka masih mempertahankan tradisi dan budaya nenek moyangnya.  

Jika menikmati tarian dan musik Dayak yang lembut ini, serta melihat kemahiran mereka dalam hal seni seperti membuat ukiran, lukisan dan hiasan manik-manik yang cantik, timbul pertanyaan. Benarkah cerita-cerita tentang kesaktian dan kegarangan para Panglima Suku Dayak yang dikenal sebagai Panglima Burung dan Panglima Kumbang  yang kebal dan memiliki kesaktian luar biasa itu?  Cerita-cerita itu tentu bukan hanya kabar bohong, karena telah  dibuktikan dengan kenyataan yang diketahui umum  pada Peristiwa Sampit Februari tahun 2001. Pada dasarnya orang-orang suku Dayak adalah penyabar dan baik hati. Jika sudah sangat keterlaluan, barulah mereka menggunakan kesaktiannya. Dan salah satu kesaktiannya itu, mereka bisa membedakan mana musuhnya dan mana yang bukan, sehingga tidak akan salah sasaran. Di perjalanan jaman, karena pengaruh lingkungan, pendidikan dan kemajuan teknologi, banyak hal sudah berubah. Kecuali di daerah pedalaman, kehidupan mereka sudah seperti kita di daerah lain di Indonesia. Senjata mereka Mandau dan Sumpit itu sekarang (tiruannya) dijual bebas di toko-toko cinderamata sebagai barang suvenir.

Apa yang baru saja aku lihat tentang keindahan kesenian mereka, demikian pula apa yang pernah aku dengar tentang kesaktian dan kegarangan mereka, itulah kekayaan budaya tanah air Indonesia. Tanpa mereka  tidak lengkaplah NKRI. Aku bersyukur, Allah SWT telah memberi kesempatan untuk melihat,  mengalami dan menikmati sesuatu yang selama ini aku ketahui hanya sebagai informasi. Jika suatu ketika berkesempatan lagi, ingin rasanya mengenal suku Dayak yang lain, yang juga mempunyai kekhasan dan keunikan tersendiri. Biasanya ada di Pesta Adat Tahunan yang diselenggarakan di Rumah Betang mereka di Pontianak, Kalimantan Barat. Inshaallah..---.....

Wassalamu’alaikum ww.
Jakarta, 30 Agustus 2016.









Kamis, 25 Agustus 2016

Travelling ke Borneo : Tenggarong.




Assalamu'alaikum ww.  
Sebagian besar dari grup kami belum pernah menginjakkan kaki di Pulau Kalimantan, oleh karena itu kali ini Grup Travelling Not & Friends mencoba menjelajahi sebagian kecil dari wilayah Indonesia tanah air yang kita cintai ini. Mungkin ada sedikit pertanyaan teman-teman, apa dan siapa itu Not & Friends? Bermula dari niatku untuk mengajak Staf Kantor Notaris berwisata setahun sekali, akhirnya setiap tahun selalu ada rekan, saudara, kerabat atau teman yang ingin ikut. Jadilah kami namakan Not & Friends. Kantor Notaris dengan anggota tetap, Friends boleh berganti-ganti. Perjalanan wisata Not & Friends itu sebenarnya sudah dimulai dari tahun 1998. Ke Gunung Bromo, selanjutnya ke Bali dan sekitarnya,  ke Padang dan sekitarnya, ke Danau Toba dan sekitarnya, Ke Solo dan sekitarnya,ke Pulau Belitung, Ke Pulau Lombok, dan terakhir tahun 2015 kami ke Tana Toraja. Perjalanan tersebut selalu aku buatkan catatan untuk dokumentasi, Sayang sekali beberapa tidak dapat lagi diketemukan. Dan kalaupun diketemukan, tentu saja jika ditulispun sudah berbeda kondisinya dengan saat ini. Kali ini Goup Not & Friends berjumlah seluruhnya 20 orang, dimana lebih dari setengahnya berusia lebih dari sweet.... dak. Tetapi jangan dilihat usianya, Lihatlah semangatnya. 

Rabu, 03 Agustus 2016

SOLO, batik dan kulinernya.



Assalamu’alaikum ww.
Pernahkah teman-teman jalan-jalan ke kota Solo? Jika belum, supaya memiliki gambaran lebih jelas ketika suatu saat sampai ke Solo, lanjutkan membaca tulisanku ini. Mendengar tentang kota Solo,  yang pertama teringat adalah batiknya karena Solo adalah Kota Batik, dan kemudian yang kedua adalah kulinernya.
Batik sudah ditetapkan sebagai warisan budaya asli Indonesia oleh UNESCO pada bulan Oktober 2009, jadi batik sudah demikian dihargai. Saat ini batik merupakan pakaian untuk sehari-hari dan bisa  juga untuk pesta. Solo hanyalah salah satu dari banyak kota penghasil batik yang sudah terkenal sejak dulu. Kota batik yang lain adalah Yogya, Pekalongan, Cirebon, Madura, Lasem, Garut  dan sebagainya, dimana batik di kota-kota tersebut miliki kekhasan tersendiri. Batik Yogya dominan warna putih atau disebut bledak/latar putih. Batik Solo dominan coklat dan hitam, atau disebut sogan dan kelengan. Batik Lasem agak kemerahan, namanya Laseman. Batik Pekalongan menampilkan berbagai warna cerah. Demikian pula Batik Cirebon dan Batik Madura. 

Kalau berbicara tentang Batik Solo, tidak akan jauh-jauh dari Pasar Klewer, yang terbakar dan sekarang sedang dibangun kembali, Batik Keris, Batik Danarhadi, Batik Semar, Kampung Batik Laweyan dan Kampung Batik Kauman. Tempat-tempat itulah yang menjadi tujuan wisatawan jika ingin membeli batik. Untuk ukuran umum, harga kain batik asli, bukan printing, memang tidak murah.  Batik yang asli, baik batik tulis ataupun batik cap, memerlukan proses yang panjang, dan memerlukan bahan-bahan produksi khusus, seperti malam (lilin) dan pewarna baik dari alam maupun kimia. Itulah mengapa harganya cukup mahal. Yang harganya murah meriah dan terjangkau oleh umum itu, adalah tekstil  yang diprint dengan motif batik.  

Karena teman-temanku tahu aku orang Solo, maka sering diminta menemani mereka jalan-jalan ke Solo. Selain ke tempat-tempat wisata seperti ke Candi Roro Jonggrang di Prambanan, Candi Sukuh di Karang Anyar, Grojogan Sewu di Tawangmangu, tentu tak lupa membeli batik. Pernah suatu ketika menemani 5 orang Ibu-Ibu dari lingkungan kantor suami yang ingin jalan-jalan ke Solo. Wah, tidak tanggung-tanggung. Mereka ke Pasar Klewer memborong Kain Batik untuk pesta dan bahan-bahan batik untuk hem dan rok. Selain untuk sendiri juga untuk dijual. Salah satu Ibu bahkan mengirimkan sebagai dagangan ke kota asalnya di Padang Sidempuan, Sumatera Utara. Kata temanku itu, di kotanya belum ada model-model batik seperti yang ada di Solo. Rupanya dari sinilah trend model baru dilaunching.

Bagaimana dengan kulinernya? Kuliner Solo sangat khas. Mungkin masakan yang sama ada di kota lain, tetapi yang di Solo pasti rasanya berbeda. Rasanya enak, harganya pun murah. Apa yang menyebabkan harganya murah ya? Kalau harga dari bahan-bahan tentunya sama dengan kota-kota lain.

Baru-baru ini aku bersama suami mudik ke Solo. Kami memilih waktu mudik ketika para Pemudik lain sudah kembali ke ibukota. Kunjungan kami ke kota kelahiran ini selain untuk bersilaturahmi dengan keluarga, juga ingin bernostalgia, kangen dengan kuliner Solo. Selama 4 hari berada di Solo, kami mengunjungi tempat-tempat makan kenangan masa lalu yang hingga sekarang masih eksis, dan juga mencoba ke tempat-tempat makan baru yang saat ini sedang digemari warga Solo. Agar dapat merasakan nuansanya, yuk ikuti perjalananku selama 4 hari di Solo.

Hari kedua. Setelah di hari pertama acara kunjungan keluarga dan nyekar ke Makam Orang Tua, hari ini kami menuju ke Rumah Makan Ayam Goreng Mbak Mul di Sukoharjo, kota Kabupaten berjarak sekitar 20 km sebelah selatan kota Solo. Rumah Makan ini berlokasi di daerah Begajah,  merupakan Cabang dari Pusatnya yang berada di desa Tawangsari, dekat Pabrik Tekstil Sritex. Restorannya cukup besar,  halamannya menampung sekitar 12 mobil. Di tempat ini hidangan khasnya adalah Ayam Kampung yang digoreng empuk, disajikan dengan lalapan daun pepaya dan sambal  bawang. Daun pepayanya sama sekali tidak pahit. Duh, nikmatnya.......  Untuk ukuran kami, harganya sangat layak, tidak mahal. Kami berlima makan Nasi Ayam Goreng (dada, paha dan kepala) dengan lalapan serta minuman Es Teh dan Es Jeruk, hanya membayar Rp. 132.000,-


Perjalanan dilanjutkan mengelilingi kota Solo di siang yang panas. Solo, walaupun padat tetapi tidak macet. Banyak jalan satu arah sehingga membuat lalu lintas lebih tertib. Demikian pula kotanya cukup bersih, hingga ke jalan-jalan kecil di dalam kampung tidak aku temui sampah yang berceceran.

Di Solo pun sudah ada beberapa Mal besar. Kami mampir ngadem di  salah satu Mal baru yang berlokasi di  daerah selatan kota yaitu di Solo Baru,  namanya The Park. Sebagaimana Mal-Mal di Jakarta, kebanyakan isinya adalah Tempat Makan. Di lantai dasar The Park, berjejer Cafe yang nama-namanya sudah beken seperti Coffee Bean, Liberica, Excelso dan lain-lain. Kami masuk ke Excelso Cafe dan mencicipi minuman kopi dengan berbagai cita rasa dan kreatifitas penyajian. Aku memilih Jus Alpukat yang diatasnya diberi es krim vanila dan camilan Pisang Goreng coklat keju. Sebenarnya perut masih kenyang, tapi di sejuknya AC menjadikan kita betah mengobrol. Dari balik kaca aku perhatikan halaman Mal yang luas ditumbuhi pohon-pohon peneduh Ketapang Kencana. Jika saja pohon-pohon itu ditanam lebih rapat dan sudah tinggi, pasti akan lebih indah. Mal masih sepi. Banyak toko, tetapi sedikit pengunjung.

Sore hari ini adalah Malam Minggu. Waktunya warga kota, terutama yang masih muda-muda keluar rumah menikmati akhir pekan, walau hanya sekedar jalan-jalan. Kami berdua berjalan kaki dari hotel ke arah timur menyusuri trotoar sebelah kiri. Banyak Pak Tukang Becak menawarkan diri untuk mengantar, tapi kami sengaja ingin menikmati Malam Minggu dengan berjalan kaki. Melewati Ngarsopuro, nama sepotong jalan yang setiap Malam Minggu ditutup untuk digunakan sebagai tempat berjualan kaki lima. Kemudian belok kekanan dimana berderet tempat makan bisa dikunjungi. Tertarik dengan Cafe Tiga Tjeret yang saat ini sedang top di kalangan anak-anak muda Solo, kami masuk ke dalam. Dengan design atap semi terbuka dan lampu yang terang benderang, menjadikan Cafe ini menjadi tempat nongkrong yang nyaman. Sayang sekali meja-meja di lantai bawah sudah penuh. yang ada tinggal di lantai atas. Meskipun namanya Cafe, konsep jualannya adalah semacam Wedangan, dimana makanan dihidangkan berjejer dan Pengunjung memilih untuk kemudian dipanaskan di panggangan. Dalam ingatanku semasa kecil, khasnya sebuah Wedangan adalah adanya ceret-ceret yang selalu dalam keadaan mendidih, untuk membuat Teh, Kopi, Jahe dan wedang atau minuman  lainnya. Sekarang, mungkin masih ada ceret-ceret itu didapur atau dibagian belakang. Dari nama Cafe Tiga Tjeret, Cafe ini tidak melupakan kekhasan suatu wedangan. Kami hanya melihat-lihat sebentar, kemudian meneruskan perjalanan ke tempat lain.  

Di daerah Keprabon, di sisi sebelah timur jalan, berjejer Warung Nasi Liwet, dimana semua Warung itu menggunakan nama "Nasi Liwet Wongso Lemu". Menurut sejarahnya, di tahun 1950 an ibu Wongso Lemu adalah Penjual Nasi Liwet pertama yang sangat enak sehingga sangat laris. Mereka  yang sekarang berjualan di sepanjang jalan ini adalah keluarga ibu Wongso Lemu.  Nasi Liwet adalah nasi gurih (seperti nasi uduk) dengan sayur Sambal Goreng Labu Siem, ditambah suwiran Daging Ayam dan Areh (santan kental berwarna putih) sebagai pelengkapnya. Biasanya Penjual akan menanyakan mau pakai lauk apa? Maksudnya  lauk Telur Pindang yang kenyal dan masir berwarna coklat itu atau Opor Ayam dada, paha atau kepala. Nasi liwet ini dihidangkan di pincuk daun pisang sebagai wadahnya. Bagi yang tidak biasa menggunakan pincuk, bisa pakai piring biasa. Mereka juga menyediakan menu lain seperti Gudeg, Terik, Tumpang, Pecel, Ayam Goreng, Empal dan Tempe Tahu Bacem. Ada juga yang menyediakan Bubur Nasi yang dihidangkan hangat-hangat dengan sayur gudeg atau sambal goreng krecek. Aku lebih suka Bubur, karena tidak mengenyangkan. Di Warung Nasi Liwet, harga makanan standard. Nasi dengan lauk Ayam Rp. 13.000 – 15.000. Bubur dengan lauk Tahu Terik Rp. 8.000. Sepincuk Nasi Liwet dengan lauk telur sudah cukup menyenyangkan. Selain Nasi Liwet dengan berbagai masakan yang aku sebutkan tadi, juga ada minuman Teh hangat, Jeruk, Wedang Kacang Putih, Wedang Dongo dan sebagainya. 


Hari Ketiga. Kali ini kami makan siang di Rumah Makan Bakso Kadipolo yang berlokasi di depan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Solo. Tempat Makan ini termasuk yang sudah dari dulu ada di Solo.  Hidangan yang tersedia bukan hanya bakso, tetapi lengkap berbagai macam masakan Jawa tampak berderet dipinggir sebelah kanan. Pengunjung tinggal memilih dan akhirnya membayar di Kasir.

Sore hari setelah beristirahat, bersama keluarga makan malam di Warung Sri Rejeki. Sebenarnya tidak lapar, hanya ingin sekedar mengisi perut dengan menikmati minuman hangat dan makanan yang tidak mengenyangkan. Warung yang menjadi tujuan kami terletak di pinggir Beteng Baluwarti. Di Warung itu terpampang foto dan testimoni para Artis yang pernah makan di Warung ini. Apa keistimewaan tempat makan ini? Berbagai macam makanan ada disini. Nasi bungkus dengan porsi kecil, mungkin hanya seperempat bungkus Nasi Padang yang biasa kita beli di Jakarta, dengan lauk khas masakan Jawa, sering disebut Sego (Nasi) Kucing. Ada Nasi Terik berisi nasi putih dengan lauk daging sapi bumbu terik, Nasi Bandeng, nasi putih dengan lauk Ikan Bandeng Goreng berikut sambal tomat lombok goreng, Nasi Oseng, Nasi putih dengan lauk Oseng Tempe, Nasi Goreng dan lain-lain. Hidangan lainnya, ada bakmi (mi), mihun (bihun), serta gorengan Sosis Solo, Bacem Tahu/Tempe, Martabak, Resoles, Ati Rempelo (ati ampela) dan yang lainnya. Belum lagi ada Mi Ayam, Mi Bakso, juga  berbagai Minuman khas Solo seperti Wedang Kacang Putih, Kacang Ijo, Asle, Dongo, dan Ronde. Kami makan satu bungkus dinikmati bersama, kemudian bungkus kedua dengan lauk lain, juga dimakan bersama, demikian supaya merasakan berbagai macam makanan walaupun sedikit. Semuanya enak.............  

Hari keempat. Kali ini kami mencoba mengunjungi tempat Wedangan baru di Solo yang bernama Omah Lawas. Ada yang belum tahu apakah Wedangan itu? Wedangan dari kata dasar wedang dalam bahasa Jawa artinya minuman hangat. Dalam perkembangannya, sekarang Wedangan berarti Tempat minum (bukan minuman keras lho) seperti Cafe atau Rumah Makan yang buka di malam hari. Selain minuman hangat juga dijual berbagai makanan. 

 

Di Wedangan Omah Lawas, tempatnya cukup luas. Sebuah rumah besar yang tengahnya terbuka tanpa sekat, ada teras serta halaman yang luas. Hidangan diletakkan di meja panjang di teras rumah, di sebelah kiri pintu kemudian berbelok ke kanan, dan di ujung ada seorang Kasir yang akan menghitung harga makanan yang dipilihnya untuk kemudiaan Pembeli membayar. Di depan Kasir, ada tempat untuk membakar makanan, dimana Pengunjung dapat meminta agar makanannya dihangatkan yaitu dibakar diatas api. Makanan yang biasanya dibakar adalah  nasi,  tempe/tahu bacem, sosis dan lain-lain. Di sebelah kanan pintu, diletakkan gelas-gelas minuman dan peralatannya. Disini juga ada seorang Kasir yang akan menghitung berapa rupiah harus dibayar untuk minuman yang dipesan. Baik di dalam ruangan, di teras sebelah kanan dan kiri terdapat banyak meja dan kursi tempat duduk, ada juga yang lesehan di atas tikar dengan meja rendah. Selama hampir satu jam aku berada di Wedangan Omah Lawas ini, hampir semua tempat duduk terisi pengunjung yang datang dan pergi. Laris ya......

Berbagai hidangan Nasi Kucing dan makanan lain dapat dilihat di foto dibawah ini. Menggiurkan sekali. Berlima, kami membayar Rp. 140.000,- Untuk minumannya, bermacam-macam minuman panas  dengan bahan Jahe seperti Jahe kopi, Jahe Tape. Kemudian beberapa jenis Wedang, antara lain Wedang Ronde dan Wedang Dongo. Bagi yang mau minuman dingin, ada Es Kelapa, Es Jeruk, Es Gula Asem, EsTape, Es Beras Kencur. Wah, sepertinya semua ada disini....
Eits, tunggu dulu. Ada jenis minuman yang di tempat Wedangan lain ada, tetapi aku tidak melihatnya disini. Namanya minuman Kopi Joss yaitu Kopi yang dibuat dengan air mendidih dan kemudian dimasuki arang yang masih menyala ada apinya. Ketika arang itu dimasukkan ke kopi, bunyinya Josss.....

Hari Terakhir. Tak terasa empat hari telah berlalu, dan aku belum merasakan segarnya Soto. Kuliner Solo tidak akan bisa dipisahkan dari Soto. Diantara berbagai tempat makan Soto di Solo, menurut penilaianku yang paling enak adalah Soto Trisakti, yang ada di Jalan Kalilarangan Solo. Soto enak nomor dua adalah Soto Kirana dan yang ketiga, Soto Pak Keman. Kesempatan hari terakhir ini akan kami gunakan untuk Nyoto (bahasa Jawa : makan soto) di Warung Soto Trisakti. Mengapa aku memberi penilaian tinggi pada Soto Trisakti? Sotonya berkuah bening sehingga segar, tidak eneg dan juga tidak manis. Rata-rata masakan Jawa selalu ada manisnya, tetapi untuk Soto menjadi aneh kalau rasanya manis. Sampai di tempat Warung Soto Trisakti, pengunjung sudah banyak. Aku melihat warungnya selalu penuh.

Rumah Makan Soto lainnya adalah Soto Kirana. Aku tidak makan soto kesana, tetapi masih sangat ingat bagaimana rasa sotonya. Rasanya hampir seperti Soto Bangkong di Jakarta.  Di Soto Kirana  tidak hanya menyediakan hidangan Nasi Soto, banyak pilihan lainnya seperti Nasi Pecel, Nasi Gudangan (urap),  Nasi Tumpang, Nasi Asem-asem, Nasi Rawon dan lainnya. Di meja-meja panjang sudah terhidang berbagai macam lauk, yang khas adalah Tempe dan Paru yang digoreng kering hingga terasa kemripik. Daging parunya di potong tipis-tipis dan ditusuk dengan lidi, baru digoreng.

Warung Soto Pak Keman, lain lagi. Sotonya menggunakan dorongan, mangkal dipinggir Jalan dekat Lampu merah Serengan. Lauknya Daging Empal dan Jeroan berupa Iso, Babat dan Kikil yang besar-besar dan tebal. Jika kita mau lauk itu, Pelayan akan memotong-motongnya kemudian menyajikan di piring kecil. Soto Pak Keman tidak bening, melainkan berwarna kecoklatan. Dengan ditemani Sambal dan Karak saja, rasanya sudah sangat enak....

Masih banyak Warung Soto lain yang juga digemari, antara lain Soto Rempah, Soto Gading, Soto  Mbak Giyem, Soto Sawah, Soto Pak Geger dan lainnya. Menurut seleraku, tiga yang aku sebut tadi yang paling pas dan mak nyus.


Tidak hanya Soto, kuliner Solo yang lain yang juga terkenal dan selalu dicari adalah masakan dari daging kambing. Dulu aku sering ke Rumah Makan yang akan aku ceritakan ini. Namanya Sate Kambing Haji Bejo. Tetapi dengan bertambahnya usia, aku harus menjaga kesehatan, sekarang tidak lagi menikmati kuliner ini. Sate Kambing ala Solo selalu berbumbu kecap. Jika kita memesan Sate Kambing, pasti akan ditanya, daging atau campur, maksudnya campur dengan hati. Sate Kambing disajikan dengan Irisan halus Kol, Bawang merah dan Acar dari Timun dan Cabe rawit. Ada jenis sate lain yang juga sangat digemari yaitu Sate Buntel. Sate ini dibuat dari daging kambing dicacah, kemudian dibungkus (bahasa Jawanya dibuntel) lemak kambing, sehingga bentuknya seperti Sosis. Bau bakaran sate daging kambing ataupun buntel saja sudah sangat enak, apa lagi dagingnya, membuat  air liur menetes ............ Di Warung Sate Kambing, biasanya pembeli  juga akan memesan Gule. Gule Solo berbeda dengan Gulai Padang yang kental dan rasanya pedas. Gule Solo kuahnya encer berwarna kuning kemerahan dan tidak pedas. Gule ini kuahnya berisi Daging Kambing, Iga, Jeroan seperti Iso (usus), Babad, Ati dan Paru. Selain Gule, juga menyediakan masakan Tongseng. Masakan ini berbahan dasar daging kambing dan sayuran Kol, dengan bumbu-bumbunya. Kemudian diberi sedikit kuah gule dan kecap. Ada lagi yang namanya Tengkleng. Apakah Tengkleng itu? Bahan dasarnya Tulang (tulang kaki dan sendi), bagian dari Kepala yaitu Pipi (lumayan ada dagingnya), Telinga (terdiri dari tulang muda), Mata dan Otak. Wah, sepertinya kita ini GANAS ya........ segalanya dimakan, tak terkecuali kepala dan otak .....  Kuah Tengkleng berbumbu seperti Gule tetapi tidak bersantan. Masakan ini banyak penggemarnya karena walaupun porsinya besar, sebenarnya hanya sedikit yang bisa dimakan. Lagi pula karena tidak bersantan, tidak khawatir menaikkan kholesterol. Satu lagi yang hampir terlewat. Disini juga ada Nasi goreng kambing, buat yang suka nasi goreng. Pesan penting bagi yang akan mengunjungi Rumah Makan Sate Kambing Haji Bejo yaitu :  pastikan bahwa tubuh teman-teman sedang dalam kondisi sehat dalam arti tidak mempunyai tekanan darah tinggi. Jangan lupa, jangan sampai melampaui batas. Pesanlah untuk dimakan beramai-ramai, tidak untuk dinikmati sendiri. Jangan sampai berujung ke Rumah Sakit.


Setelah masakan, berikut ini cerita tentang kue-kue khas Solo. Salah satu kue yang menjadi ikon kota Solo yaitu Srabi Solo Notosuman. Sejak aku remaja makanan itu sudah terkenal. Dibuat dengan cara tradisional, di wajan tanah (gerabah) dengan bahan bakar arang. Kue srabi ini berbahan dasar tepung beras, gula dan santan. Dulu hanya putih polos begitu saja, tetapi sekarang sesuai dengan perkembangan jaman, sudah dimodifikasi dengan coklat. Aku tetap menyukai yang asli polos putih. Berbeda dengan kue srabi yang dijual di tempat lain, srabi Notosuman terasa gurih legit dan lembut. Harganya cukup murah, yang putih polos Rp. 2.300,- dan yang coklat Rp. 2.500,-


Kue khas lainnya adalah Onde-onde gandum. Berbeda dengan onde-onde ditempat lain, Onde-onde Gandum dibuat dari tepung terigu dan gula dengan taburan wijen di luarnya dan terbelah di bagian atasnya. Ada yang dibuat dengan ukuran besar segede kue muffin, ada yang kecil-kecil sebesar kelereng. Makan satu saja yang  besar, sudah kenyang karena jika ditambah minum, sudah seperti sepiring nasi. 


Ada jenis makanan tradisional lain yang cocok untuk oleh-oleh, namanya Ledre Pisang, dibuat dari beras ketan dengan pisang, kelapa dan gula. Ledre pisang dimasak di wajan kecil seperti wajan untuk memasak srabi. Setelah agak matang, dilipat dua sehingga bentuknya setengah lingkaran berwarna coklat agak gosong.

Apa lagi yang biasa dijadikan oleh-oleh jika pulang dari Solo? Intip Goreng. Jaman dahulu, ketika belum tercipta Rice cooker, orang Jawa memasak nasi di  kendil. Beras dan air dimasak hingga matang di kendil itu, atau ketika setengah matang dipindah ke dandang dengan kukusan, dimatangkan secara dikukus. Nah, jika dimasak di kendil hingga matang, itu namanya ngeliwet, akan meninggalkan kerak atau intip di dasar kendil. Intip ini di jemur kemudian digoreng, jadilah Intip goreng, bisa diberi rasa asin gurih atau manis dengan diberi gula jawa. Untuk yang asin gurih, enak dimakan sambil nonton TV, dan tidak akan mau berhenti sebelum habis. 


Kalau teman-teman mau oleh-oleh  jenis makanan  Roti atau Kue dari Bakery, langsung saja cari Mandarijn Orion. Bentuknya seperti Lapis Surabaya. Ini adalah produk Toko Roti Orion. Rotinya lembut, terdiri tiga lapis, bagian atas berwarna kuning, tengah coklat dan bawah kuning lagi. Dari sisi harga, cukup mahal, tapi sebanding dengan rasa dan penampilannya. Ada yang Special dan ada yang biasa. Untuk ukuran kecil, yang Spesial  harganya Rp. 100.000,- yang biasa Rp.85.000. Untuk ukuran besar, Spesial Rp. 190.000,- dan biasa Rp. 160.000,- 


 

Ada jenis Roti bulat biasa dengan lapis mentega yang dibuat oleh Toko Roti Luwes, ini adalah roti kenangan waktu aku kecil. Ibu akan membelikan roti ini kalau aku sakit. Dulu Roti Luwes menjual roti dengan kereta dorong yang selalu lewat di depan rumah. Sekarang roti lapis mentega ini juga tersedia di Toko Orion.

Demikianlah, selama 4 hari aku puas bernostalgia  menjelajahi dan menikmati Kuliner Solo. Ingin mencoba? Boleh aku temani jalan-jalan ke Solo, sambil menikmati jajanan yang enak dan murah serta berbelanja Batik. Saat ini Solo sedang bebenah menjadi kota wisata, banyak hotel-hotel baru, demikian pula pelayanan umum diperbaiki, kebersihan diperhatikan. Solo menunggu kedatangan teman-teman.........

Wassalamu’alaikum ww.
Jakarta  20 Juli 2016.