Jumat, 15 April 2022

WISATA SEMARANG, AMBARAWA, SOLO (II)

 



Kami berempat bersama Driver Pak Kimin turun dari Kota kecil Bandungan menuju arah jalan tol, kemudian masuk tol.  Inilah jalan tol dengan pemandangan indah, di kiri kanan jalan tampak pemandangan hijau segar. Kecepatan mobil sedang saja, kendaraan di tol juga tidak begitu banyak. Mobil keluar melaui pintu tol Boyolali. Setelah keluar dari tol, kami harus bersabar dengan lalu lintas yang padat.

Rasa lapar kami tahan dulu, karena Bu Rita penasaran banget dengan Ayam Goreng Mbah Karto Tembel  langganannya Pak Jokowi. Dari Boyolali mengikuti jalan utama Semarang – Solo, menuju Kartosuro, kemudian masuk ke kota Solo, terus ke Sukoharjo melalui Solo Baru. Sampailah ke tempat tujuan Warung Makan Mbah Karto Tembel. Jam makan siang belum lewat, meja kursi di dalam rumah maupun tikar lesehan di teras masih penuh pengunjung. Yah, nggak apa, nempel dulu di meja orang yang sudah mau selesai makan.

 

Beberapa kali Mbak Pramusaji lewat dekat tempat duduk kami sambil berteriak menyebut nama pemesan. Biasanya langsung ada yang menjawab. Kok belum menyebut nama Bu Rita ya? Aku mencoba ke bagian belakang, menanyakannya. Petugas yang menyediakan pesanan mengatakan bahwa agak terlambat karena banyak yang pesan selain dimakan disini  juga untuk dibawa pulang, jadi tamu yang menunggu malah keteteran. Akhirnya hidangan sampailah di meja kami. Nasi putih di piring dengan ayam goreng sesuai pesanan, dada, paha, kepala dan ati ampela. Dilengkapi dengan lalap sayuran dan 2 macam sambal. Yang satu sambal cabe pedas berwarna merah, satunya sambal blondo (dari ampas minyak kelapa) berwarna hitam. Memang ayam goreng kampung disini rasanya juara, menurutku  sangat enak dan memuaskan. Setelah makan, Mas Suami mau pesan kopi, sayang nggak menyediakan minuman itu.

Sebelum kami masuk ke hotel, kami ngopi dulu di Canting Londo, sebuah Resto dan Café yang masih termasuk baru di Solo. Aku mau menunjukkan ke Bu Rita, suasana Cafe di Solo.  Berbeda dengan Bandung - Lembang yang daya tariknya keindahan alam dan udara yang sejuk, di Solo lebih menonjolkan bangunan-bangunan kunonya. Kami menikmati kopi dibawah keteduhan pohon di sebuah bangunan kuno yang cantik. Meskipun meja kursi out door dibawah pohon besar, tapi di lantainya tidak banyak daun kering yang mengotorinya.  Ketika aku melihat ke atas, rupanya diatas terdapat paranet yang menghalangi jatuhnya daun kering.  Di sudut belakang tampak bekas dekorasi bunga-bunga dan pelaminan. Memang tempat ini kadang juga digunakan Wedding Party.



Bu Rita dan Bu Nur memesan minuman es kopi atau apa ya? Sedangkan aku mau Avocado Float. Mas Suami yang memang Tukang Ngopi, pesan Kopi Hitam. Setelah ngopi dan ngobrol beberapa saat, kami ke Hotel Paragon yang telah kami pesan sebelumnya untuk beristirahat. Rencananya nanti malam akan jalan ramai-ramai dengan Adik-adikku yang baru datang dari Jakarta menyusul ke Solo.



Memang kami berlima dengan Adik-adik, Dik Dib, Dik Pri dan Dik Astrid sudah berencana akan nyekar bersama sebelum bulan Ramadhan ini. Dan pastinya ingin menikmati kuliner Solo yang telah 2 tahun dirindukan. Baliknya ke Jakarta bisa bersama-sama semobil.  Sayang dik Gun nggak ikut serta. Dia baru saja pulang dari Acara Reuni dengan
Gengnya di Hotel Kusumo Sahid.

Aku dan Mas Suami berbagi tugas. Aku akan menemani Bu Rita dan Bu Nur selama 2 hari berada di Solo. Setelahnya, mereka berdua akan meneruskan wisatanya ke Yogyakata. Selama 2 hari tersebut Mas Suami bersama Adik-adik bikin acara sendiri, tetapi sarapan dan makan malam kita bertujuh bersama-sama.  Malam itu kami dijemput Adik-adik untuk menikmati kuliner Bubur Mbak Diah, yang berlokasi di sebelah utara Palang Kereta Api Jalan Urip Sumoharjo. Bubur hangat dengan sayur Gudeg dan Sambal Goreng Krecek Kacang Tolo, sedang lauknya bisa pilih Ayam Opor Dada, Paha, Kepala atau Ceker. Wah, bener-bener gurih dan pas di lidahku yang masih tradisional ini. Mbak Diah juga menjual Ketan Bubuk Kedele dengan kelapa dan gula merah. Ketannya sangat lembut, enak sekali. Karena ingin mencoba keduanya, aku pesan masing-masing separo, supaya muat di perut…….

Untuk diketahui teman-teman jika mau menikmati Kuliner Solo, yang enak-enak itu bukan yang berada di Restoran, tetapi yang model duduk lesehan di tikar Gaya Solo begini. Dan jangan kaget, setiap beberapa menit sekali terdengar gemuruh kereta api lewat dari Setasiun Jebres.

Bubur Mbak Diah biasanya buka jam 9 malam. Waktu kami datang mbak Diah baru beberes rapi-rapi. Tak lama kemudian, sudah banyak pengunjung berdatangan. Kami selalu menyempatkan diri mencicipi bubur dan ketannya jika sedang di Solo. Memang bener mak nyus….. tidak salah jika memamerkannya ke teman-teman dari Bandung.

Ketika dulu pertama kali kami jajan kesini, Mbak Diah baru saja berjualan meneruskan jualan ibunya yaitu Bu Kardi. Mbak Diah masih ayu kinyis-kinyis ….. eh sekarang sudah bahenol putranya sudah 2….. Itu artinya sudah sukses usahanya, dan sukses rumah tangganya….


Hari Keempat tanggal 28 Maret 2022.

Kota Solo di suatu pagi yang cerah. Kami meninggalkan hotel jam 8 pagi. Biasanya kami memang nggak breakfast di hotel jika berada di Solo. Kami bertujuh menuju ke Pasar Gede. Sampai di Pasar Gede, kami bertiga berpisah. Mas Suami dan Adik-adik yang akan ke rumah Mbak Darwanti. Mereka membeli camilan yang cocok buat teman ngopi  di rumah Mbak Dar. 

Bu Rita sudah jauh-jauh hari berpesan, kepengin  belanja oleh-oleh ke Pasar Gede Harjonagoro. Selain oleh-oleh juga mau memborong makanan dan lauk kering untuk berbuka dan sahur di bulan Ramadhan sebentar lagi. Aku juga kangen dengan Cabuk Rambak, jajanan masa kecilku. Dan tidak ketinggalan mencicipi Es Dawet (cendol) dengan isi bubur sum-sum, tape ketan, nangka dan selasih. Kami menikmati es dawet sambil berdiri atau duduk di dingklik nya. Tak perlu waktu lama, belanjaan sudah terkumpul banyak.

Selanjutnya kami menuju BTC (Beteng Trade Center) yang tidak jauh dari Pasar Gede dengan naik becak. Bu Rita dan Bu Nur di satu becak pertama, aku dengan barang belanjaan di becak kedua.  Menurutku BTC lebih enak buat berbelanja atau cuci mata saja  dari pada Pasar Klewer yang los-losnya sangat sempit. BTC baru buka jam 10. Berarti masih setengah jam lagi. Kami nongkrong dulu di Warung yang berada di seberang BTC sambil beli minuman. Ngobrol-ngobrol dengan Mbak Penjual, sambil bertanya, apakah boleh nitip barang belanjaan supaya ketika jalan-jalan nanti tidak repot. Mbak Penjual minuman tidak berkeberatan. Jadilah kami lenggang kangkung cuci mata di BTC. Kami tidak sempat berkeliling, karena ternyata hanya di satu Toko saja Bu Rita dan Bu Nur sudah selesai mborong berbagai macam batik.

Kita lanjut naik becak untuk menuju ke Sate Bu Haji Bejo, walau belum masuk jam makan siang. Lokasinya di Sangkrah, tidak jauh dari BTC.  Sate Bu Haji Bejo terkenal sejak anak-anakku masih kecil. Ketika itu namanya masih Sate Pak Bejo, warungnya kecil nempel disebuah toko di Jl. Pasar Kliwon.  Setelah Pak Bejo meninggal, dilanjutkan oleh Bu Bejo dan keluarganya. Warungnya berkembang hingga menempati sebuah Ruko. Hidangan yang paling aku sukai adalah Tengkleng dan Sate Buntel. Keduanya merupakan kuliner khas Solo yang sudah terkenal. Bu Rita pesan Sate campur Ati dan minuman Es Gula Asem yang rasanya asam manis. Minuman ini jarang ada di luar kota Solo. Tamu-tamu Bandung nampak puas menikmati kuliner ini.

Kami kembali ke hotel dengan naik taksi untuk menyimpan barang belanjaan sambil Shalat Dhuhur. Kemudian kembali keluar hotel memanfaatkan waktu yang tinggal setengah hari. Tujuan kami adalah  De Tjolomadu, bekas Pabrik Gula yang sekarang menjadi tempat wisata. Sayang sekali De Tjolomadu hari itu ditutup, sedang mempersiapkan diri  untuk menerima Delegasi Presidensi G20 yang mengunjungi Solo.

Tujuan selanjutnya adalah ke Museum Batik Danar Hadi yang berlokasi di Jalan Slamet Riyadi. Museum berada di belakang Tokonya yang luas sekali. Harga tiket masuknya Rp 35.000 untuk umum dan Rp. 15.000 untuk Mahasiswa - Pelajar. Hari itu ada beberapa Pelajar berseragam yang juga mengunjungi Museum. Untuk kami disediakan Guide yang akan menemani menjelajahi Museum dan menjelaskan secara singkat apa isi museum tersebut. Museum Batik Danar Hadi diprakarsai oleh Bapak Santoso Dullah, suami dari Ibu Danarsih yaitu Pemilik Perusahaan Batik Danar Hadi. Foto beliau berdua menghiasi Museum tersebut. Bapak Santoso Dullah sudah wafat, sedang Ibu Danarsih masih sehat walau sekarang sudah sepuh.

Guide menjelaskan sejarah batik dan hubungannya dengan kehidupan masyarakat Jawa.  Melalui helai-helai batik dengan corak dan warna yang sangat indah dan halus ini menggambarkan kehalusan budaya Jawa.  Di museum ini terdapat 1.000 lembar batik, dari batik kuno yang telah berumur ratusan tahun hingga batik kontemporer dengan corak yang unik. Kain-kain batik yang dipamerkan itu hanya boleh dipandang, tidak boleh dipegang, mengingat usianya. Dijelaskan pula motif-motif Batik Kraton yang hanya boleh digunakan oleh para Bangsawan, Batik Pesisir yang berwarna lebih terang, Batik China, Batik Belanda hingga Batik Peranakan. Kami juga dipersilahkan untuk mencoba membatik kain.  


Dulu ketika masih SMP - SMA, aku sudah biasa membatik kain mori karena dulu Ibu mempunyai usaha batik kecil-kecilan dengan beberapa orang Pembatik. Aku baru bisa membatik nerusi, yaitu membatik kain yang bagian depannya sudah dibatik. Jadi membatik bagian sebaliknya, mengikuti motif batikan yang sudah ada. Jika sudah mahir, baru boleh membatik ngengreng, yaitu membatik pertama kali langsung dari mori putih di bagian depan.

Setelah mengunjungi Museum Danar Hadi, kami mencoba melihat ke Musium Batik Keris. Sayang hari ini Museum tutup. Hari masih belum sore. Sebelum kembali ke hotel, lebih baik cuci mata dan ngopi dulu di Mal Paragon yang berada persis di sebelah hotel Paragon. 

Acara malam harinya, kami bertujuh melihat suasana malam di Wedangan Gareng. Wedangan adalah semacam Warung Makan khas Solo yang menjual berbagai minuman baik hangat maupun dingin. Minuman hangat seperti Wedang Jahe, Wedang Uwuh, Wedang Ronde, Wedang Dongo, Wedang Tape, Kopi atau Teh. Berbagai minuman  wedang itu sejak lama sudah ada. Dengan merebaknya Pandemi Covid 19, minuman yang berisi rempah-rempah itu sekarang menjadi terkenal.


Minuman dingin antara lain Es Tape, Es Jeruk dan sebagainya. Sambil ngobrol kami memesan Wedang Uwuh dan makanan camilan, seperti kacang, tempe tahu bacem, mi goreng, bihun goreng dan sebagainya. Wedang Uwuh disajikan digelas besar, yang penuh dengan irisan rempah seperti sereh, jahe, dan entah daun-daunan apa lagi. Dari segelas besar itu, air yang bisa diminum kira-kira hanya setengahnya. Sisanya menjadi uwuh, dalam bahasa Indonesianya adalah sampah.

Bungkusan daun pisang kecil-kecil itu apa ya? Inilah yang disebut sega kucing atau nasi kucing. Aneka nasi dan lauknya, ada nasi oseng-oseng, nasi bandeng, nasi ikan dan sebagainya. Jika kita memesan makanan camilan atau nasi kucing itu, maka lebih dahulu akan mereka panaskan yaitu dengan dibakar sebentar sebelum dihidangkan. Harga makanan dan minuman di Wedangan pada umumnya sih murah meriah.

Sebenarnya banyak Wedangan di Solo yang terkenal, tapi baru kali ini aku ke Wedangan Gareng. Tempat duduknya berupa meja kursi dari kayu atau dingklik panjang kayu yang sudah lawas atau tua. Wedangan baru ramai dI malam hari seperti sekarang ini. Bagi yang belum pernah ke Solo, perlu dicoba…… seru …..

Kami hanya duduk menikmati wedang dan camilan saja, belum makan malam. Setelah selesai menghabiskan minuman, kami lanjut menuju ke Lesehan mbak Giyem yang sederhana di daerah Solo Baru untuk makan malam. Mbak Giyem menyediakan berbagai hidangan masakan Jawa. Yang enak di mbak Giyem adalah Nasi Liwet dengan sayur labu siam, suwiran ayam, telur dan areh. Jika ingin menambah lauk, bisa pilih : tahu, ayam opor (dada, paha, kepala). Masakan Jawa lainnya yang tersedia seperti Oseng-oseng Kikil, Tumpang, Oseng-oseng Rambak Koyor, Pecel, Urap dan lain-lainnya. Aku pesan Nasi Tumpang, Mas Suami Nasi Liwet tambah Oseng-oseng Kikil, Adik-adik ada yang Nasi Liwet, ada yang lainnya. Bu Rita dan Bu Nur pesen apa ya, aku lupa…..

Lesehan ini dari dulu sudah sering kami kunjungi. Sudah lama nggak kesini, jadi pangling karena dulu mbak Giyem masih muda, sekarang aku lihat mbak Giyem sudah semakin tua. He he he.... akupun juga sudah eyang-eyang  …...... 



Hari Kelima tanggal 29 Maret 2022.

Sebelum teman-teman melanjutkan perjalanannya ke Yogya, hari ini kami sarapan bersama mencicipi kuliner soto di Rumah Makan Soto Kirana, Jalan Moh. Yamin nomor 68. Soto Solo khasnya adalah kuah bening, dan dinikmati bersama karak gendar, tempe goreng atau paru goreng. Selain hidangan soto daging dan soto ayam, juga tersedia masakan lainnya. Aku pesan nasi Soto daging, Mas Suami nasi Oseng-oseng kikil. Bu Rita dan Bu Nur pesen soto juga. Rasanya pas di lidah dan harganya tidak menguras kantong ....

Sampai disini kulineran kami bersama teman-teman dari Bandung. Kami masih dua hari berada di Solo, melaksanakan tujuan semula yaitu mengunjungi Mbak Darwanti dan Mas Warno, serta Nyekar Bapak Ibuku dan Bapak Ibu Mertua, di Pemakaman Keluarga Desa Plumbon, Kecamatan Bekonang, Kabupaten Sukoharjo.

Perjalanan yang menyenangkan. Semoga mendapat RidhoNya….. aamiin….

Wassalamualaikum ww. 



 

 

 

Sabtu, 09 April 2022

WISATA SEMARANG AMBARAWA SOLO (I)


Assalamualaikum ww.

Rencana untuk jalan-jalan sebelum bulan Ramadhan dengan teman-teman seperjuangan kelihatannya akan terwujud. Teman-teman seperjuangan itu adalah orang-orang terdekatku ketika aku masih bekerja. Berita bahwa Covid 19 Varian Omicron sudah mereda, ternyata terbukti dengan pengumuman Pak Jokowi sendiri. Masyarakat sudah boleh beribadah di Masjid dan sudah boleh Mudik Lebaran. Maka segera aku putuskan setelah ada kepastian dari teman-teman bahwa mereka bisa minta ijin ke kantornya di hari Jum’at, dan telah vaksin maupun boster. Kita akan pergi selama 3 hari 2 malam, berangkat pada hari Jum’at tanggal 25 Maret 2022. Wisata kemana ya, yang tidak terlalu jauh dan dapat ditempuh dengan jalan darat? Tak lama berpikir, ke sekitar Semarang, Jawa Tengah saja.

Mengingat saat ini kita masih berada di musim hujan, aku pesankan kepada teman-teman untuk ikhlas seandainya karena kondisi hujan tujuan wisata yang kita inginkan tidak tercapai maksimal. Yang penting kita sudah Reuni gembira sambil jalan-jalan.

Inilah Itinerary kami : Jakarta – Semarang – Ambarawa – Jakarta.

Kendaraan : Sewa Toyota Hi Ace dengan Driver Pak Ipin Mardipin.

Peserta : 11 orang, yaitu :

-       Aku (Ibu Weni) berdua Mas Suami (Bapak Djoko Darmono)

-       Mbak Ela berdua Mas Aen

-       Mbak Ina berdua Mas Sam

-       Mbak Ida berdua Mas Nano

-       Agus, masih sendiri, belum punya pasangan

(nantinya akan satu kamar dengan Driver)

-       Bu Rita berdua Bu Nur

(menggantikan mas Sukatno dan mbak Rahma)

Setelah selesai semua tujuan wisata sampai Ambarawa, Peserta yang empat : Aku, Mas Suami, Bu Rita dan Bu Nur lanjut ke Solo. Dua malam di Solo, Peserta yang dua : Bu Rita dan Bu Nur lanjut ke Yogya.


Hari Pertama, tanggal 25 Maret 2022.

Ketemuan kembali dengan teman-teman yang cukup lama tak berjumpa merupakan momen yang seru. Jika saat dulu kita masih bersama-sama kondisi fisik kami masih langsing-langsing, sekarang mah langsung-langsung ……

tandanya sudah makmur ya ……

Peserta yang lain, Bu Rita dan Bu Nur adalah temanku dari Bandung. Bu Rita teman pergi haji di tahun 2003, yang selanjutnya sangat akrab sudah seperti adikku sendiri.

Setelah mengatur bagasi, jam 07.00 tepat kami berangkat dari rumah Duren Tiga Buntu menuju Semarang. Terlebih dahulu menjemput Mbak Ela dan Mas Aen yang tinggal di Karawang, di Rest Area Km 57. Keluar dari rumah langsung masuk tol dalam kota, dilanjutkan dengan tol layang MBZ (Sheik Mohammed Bin Zayed). Alhamdulillah lancar di perjalanan. Makan siang di Rest Area yaitu Rumah Makan Padang Simpang Raya yang saat itu masih tutup karena waktu Shalat Jum’at. Tak lama kemudian dibuka dan kami menikmati makan siang bersama dilanjutkan shalat di Masjid Rest Area.

Perjalanan Jakarta Semarang biasanya perlu waktu 8 jam. Masuk ke kota Semarang sekitar jam 3 sore, langsung menuju Lawang Sewu. Sebenarnya aku sudah pernah ke tempat ini di tahun 2018, tetapi mungkin saja yang lain belum pernah.  Harga tiket masuknya per orang Rp. 10.000. Tempat ini dibangun tahun 1904 di jaman Belanda untuk Kantor Maskapai Kereta Api Swasta yaitu Indische Spoorweg Maatscappij. Kemudian setelah Indonesia merdeka menjadi Kantor Militer. Baru di tahun 2011 setelah direnovasi menjadi tempat wisata bersejarah. Disebut Lawang Sewu, artinya ada 1.000 pintu. Tapi tidak sejumlah itu lho, yang ada sebenarnya hanya 429 pintu. Lokasi ini cukup bagus jika pandai memilih sudut-sudutnya. Tapi tahukah teman-teman, bahwa di basement Gedung Lawang Sewu ini pada jamannya pernah difungsikan sebagai Penjara? Kita juga bisa jika mau melihat-lihat, ditemani Guide dari Lawang Sewu. Aku mencoba untuk berfoto di tempat yang sama dengan lokasi foto saat aku kesini dulu..



Setelah cukup puas mengelilingi Lawang Sewu (paling tidak sebagiannya) rombongan menuju Kota Lama. Kota Lama merupakan lokasi perkantoran di jaman Belanda. Setelah di rapikan lagi, maka suasananya menjadi seperti  di luar negeri. Gedung-gedung yang ada di Kota Lama ini sebagian masih dipergunakan sebagai Kantor dan sebagian lagi kelihatannya kosong. Gedung Jiwasraya, Gabungan Koperasi Batik, Pelni, Starbuck dll sempat aku lewati. Karena masih jam kantor, jalanan masih macet. Kendaraan ramai berlalu lalang di jalan besar yang searah.

Sementara matahari di sore hari bersinar terang menjadikan udara terasa panas walau di musim hujan. Sebagian teman-teman ada yang ke Masjid untuk shalat Ashar, sehingga rombongan terpisah. Aku dan Mas Suami berjalan duluan, dan ketika itu pas didepan kami, tampak sebuah Café yang berada di dalam sebuah Gedung Kuno. Langsung saja Mas Suami yang sudah ketagihan kopi kepengin masuk.  Inilah Spiegel Bar & Bistro. Ternyata di dalam Cafe sudah ada bu Rita dan Bu Nur. Berempat kami menikmati kopi sore di Kota Lama.




Kami mengelilingi Kota Lama dari pinggirnya hingga sampai di tempat parkir mobil lagi. Ketika lampu-lampu sudah mulai menyala, Kota Lama menjadi semakin cantik, sayang tak ada fotonya. Mengingat masih ingin menikmati jalan-jalan di Simpang Lima nanti malam, rombongan menuju Hotel Amaris untuk mandi dan beristirahat sejenak.

Menjadi tugas Mbak Ela untuk urusan Hotel. Seminggu sebelumnya aku telah memesan Hotel ini untuk 6 kamar, dan ketika di perjalanan tadi, Petugas Hotel Amaris mengirim WA untuk minta kepastian kedatangan kami jam berapa dan minta  50 % pembayaran. Sudah aku penuhi dengan transfer lewat mobile banking. Untunglah masalah Hotel sudah rapi sebelumnya, karena ternyata di hari-hari week end Hotel dengan lokasi strategis  dekat Simpang Lima seperti ini sudah full booked. Di depan Resepsionis Mbak Ela  antri beberapa saat untuk cek in. Sampai di hotel ini perasaanku sudah lega.  Sambil duduk-duduk, kami ngobrol. Ternyata kami mendapat kamar di satu lantai, aku di 707.

Masuk kamar, aku segera beberes koper dan mau membuat minuman panas. Ternyata di kamar tidak disediakan peralatan  untuk membuat teh atau kopi, tapi ada Dispenser yang diletakkan di koridor jalan. Setelah semua beres aku mau ngecas Hp. Baru sadar, tasku yang berisi Hp dan lain-lain tidak ada. Aku mulai panik. Segera menelpon Mbak Ela dan kami turun ke Resepsionis. Alhamdulillah tas memang ketinggalan di loby, disimpan oleh Mas Petugas Resepsionis. Terima kasih ya Mas, Hotel Amaris memang dapat dipercaya….

Aku jadi ingat pengalaman seperti ini di saat pergi Haji tahun 1991. Tas kecil berisi paspor dan dompet yang seharusnya dikalungkan di leher, mungkin aku lepas dan ketinggalan di Masjidil Haram. Perlu waktu lama mencari dan mengurus kehilangan itu hingga akhirnya aku harus mengambilnya di tempat yang jauh, di sebuah Rumah di bukit-bukit batu di Mekah. Itulah salah satu dari sifat slebor aku …..

Mas Suami sudah capai, jadi aku memutuskan nggak ikut jalan-jalan cari makan malam di Simpang Lima. Menurut Bu Rita yang malam itu ikut pergi jalan, suasana cukup ramai. Bu Rita dan Bu Nur mencicipi Nasi Gandul, kuliner khas dari Pati yang ternyata sangat enak.


Hari Kedua, tanggal 26 Maret 2022.

Pagi setelah sarapan kami langsung cek out dari Hotel, menuju Eling Bening, sebuah tempat wisata yang sedang viral di media sosial. Karena masih pagi, lokasi wisata ini masih sepi. Tiket masuk per orang Rp. 30.000 dan untuk mobil Rp. 10.000. Tampak dihadapanku Gedung bercat putih dengan banyak bunga Kana berwarna kuning merah tertanam rapi di pinggir halamannya yang sangat luas. Meja-kursi warna putih tersedia untuk para tamu menikmati keindahan alam berupa lembah hijau dengan view Rawa Pening nun jauh disana. Diatas gedung dibuat teras-teras untuk spot foto. Terdapat juga Kolam Renang dengan airnya yang biru.




Sebagai Ikon tempat wisata Eling Bening adalah Kapal Naga Putih yang cantik.  Siapapun yang sudah pernah kesini pasti akan berfoto di kapal itu. Karena mulai berdatangan pengunjung-pengunjung lain yang akan berfoto disitu, maka harus bergantian. Spot-spot foto lainnya masih cukup banyak, Pengunjung bisa naik ke teras yang bertingkat-tingkat, bisa di pinggir kolam renang atau di taman bunga. Teman-teman tak ketinggalan foto berdua dengan pasangan mencari spot terindah. Semoga foto-foto itu akan menjadi kenangan manis kelak jika sudah seusia aku dan Mas Suami.




Pagi itu suasana menjadi ramai setelah banyak bus yang datang membawa pengunjung, kebanyakan adalah ibu-ibu dari kota-kota sekitar Jawa Tengah. Mas Suami duduk bersantai menikmati pemandangan sambil menunggu kami puas berkeliling. Rasanya suasana tempat wisata yang ramai begini menunjukkan telah pulih kembali seperti sebelum Pandemi. Namun kami tetap memakai masker dan sering mencuci tangan. Semoga kerumunan ini tidak menjadikan kami terpapar Covid lagi setelah nanti kembali ke Jakarta. Setelah puas melihat pemandangan dan foto-foto, kami menuju mobil dan keluar dari Eling Bening, diiringi hujan rintik-rintik.

Tujuan kedua hari ini adalah Dusun Semilir yang lokasinya masih disekitar Eling Bening. Tiket masuknya Rp. 40.000 per orang. Menurutku Dusun Semilir lebih diperuntukkan anak-anak, karena ikonnya adalah Perosotan yang hanya bisa dinaiki anak-anak saja. Pastinya anak-anak kesini dengan orang tuanya. Permainan lain rasanya tidak menarik. Dari ujung ke ujung yang tampak hanya kios-kios makanan saja. Barangkali yang demikian ini  memang diaksudkan untuk membantu UMKM di sekitar dimasa Pandemi, dengan berjualan di lokasi wisata Dusun Semilir.



Tidak banyak yang bisa dijadikan spot foto. Kami mengambil foto di jalan masuk yang dihiasi rumbai-rumbai berwarna-warni. Dibagian tengah terdapat semacam danau buatan, dipinggirnya ada tribun bertingkat yang dilapisi  karpet rumput hijau dan bantal warna-warni. Pengunjung bisa duduk santai dibawah payungnya. Rombongan berkumpul di area ini, duduk-duduk santai sambil jajan makanan yang bisa dipesan dibelakang tempat duduk karpet hijau itu. Kami pesan Es Kelapa, Kopi dan Gorengan yang harganya relative murah.

Jam makan siang tiba. Saat itu hujan mulai deras. Kami kembali ke mobil untuk menuju Kampung Rawa, tempat makan siang kami sesuai rencana. Tempat makan yang kami tuju adalah Restoran Kampung Rawa, sebuah restoran yang dibuat seperti mengapung diatas air.  Untuk sampai ke tempat makan tamu harus naik getek dengan ditarik atau berpegangan pada tali. Resto ini menghidangkan masakan ikan air tawar hasil budi daya setempat seperti ikan emas, gurame dan sayur-sayuran. Kami memesan makanan untuk 2 meja, dan ternyata makanannya terlalu banyak, sehingga diminta Pak Ipin untuk dibungkus agar dapat diberikan kepada orang yang memerlukan diperjalanan nanti. Hujan sangat deras, sambil menunggu reda, kami bergantian shalat di mushalanya.

Kampung Rawa sudah sangat dekat dengan Rawa Pening, yaitu sebuah Rawa atau danau seluas kurang lebih 2.760 hektar,  berada di cekungan dari 3 gunung  yang berdekatan yaitu Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo dan Gunung Ungaran. Rawa Pening terkenal karena legendanya. Pernah mendengar ceritanya? Bisa browsing di Google ya….  

Dulu ketika aku masih kecil, legenda Rawa Pening ada dalam buku bacaan  sekolah di Solo. Yang masih  aku  ingat  adalah  Ular Naga  bernama  Baru Klinting, yang  sebenarnya  adalah  seorang manusia.

Sesuai rencana,  rombongan  lanjut ke  Susan Spa  yang  berlokasi di  daerah  Bandungan.  Susan Spa adalah sebuah Hotel dan tempat Spa, berada di sebuah Resort yang  memiliki  spot-spot f oto indah. Sayang  sekali  pada hari  itu  sedang  digunakan  untuk  Pesta Pernikahan, sehingga tidak dibuka untuk umum.

Bandungan merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten Semarang. Kota kecil ini merupakan tempat peristirahatan dan juga tempat wisata untuk masyarakat Jawa Tengah. Gagal ke Susan Spa, kami menuju Taman Bunga Celosia yang masih berada di daerah Bandungan. Jika dari sini terus naik keatas, kita akan sampai ke Ayanas dan Candi Gedhong Songo yang menjadi tujuan kami besuk pagi.





Sebelum Pandemi di 2018 aku sudah melihat Taman Bunga ini. Rupanya sekarang sudah sangat berbeda setelah direnovasi besar-besaran. Namanya menjadi New Celosia. Sebagian Taman dibuat indoor, dimana bergelantungan berbagai jenis tanaman yang ditata dengan cantik, membuat siapapun tergoda untuk berfoto. Taman yang diluar juga ditata dengan bagus. Ditengah-tengah taman banyak terdapat rumah-rumah kecil seperti Pos Jaga, cantik berwarna putih dengan beraneka bentuk, menjadi tempat kita berteduh jika sewaktu-waktu hujan turun. Sedang dipinggir agak jauh nun disana, tampak berderet bangunan seperti gedung-gedung dengan warna menyala, yang sebenarnya hanya dekorasi saja.





Suasana sangat ramai, di tengah arena terdengar suara musik berdentam-dentam  mendendangkan lagu-lagu gembira. Sepertinya sedang di booked untuk acara ulang tahun. Tapi keramaian itu tidak mengganggu  pengunjung lain yang sedang menikmati indahnya taman sambil bergoyang mengikuti irama lagunya.  2 orang  anak muda mendekatiku menawarkan untuk difoto dan nantinya setelah jadi akan berupa video, dimana orang yang difoto sedang berputar memandang ke seluruh taman. Yang sesungguhnya, kameranyalah yang berputar. Untuk foto tersebut hanya diminta membayar Rp. 20.000. Kesempatan yang jarang ada tidak boleh disia-siakan.  Segera saja Mbak Ida, Mbak Ela, Mbak Ina masing-masing dengan pasangan serta Bu Rita dan Bu Nur berturut-turut beraction, naik ke panggung kecil yang telah disiapkan. Aku berdua Mas Suami malahan enggak ikutan.

Hari itu merupakan hari minggu, New Celosia begitu banyak pengunjungnya. Suasana tempat wisata sudah pulih seperti dulu sebelum Pandemi. Tampak bus-bus memadati lokasi parkir. Setelah puas mengelilingi taman bunga, rombongan menuju hotel kecil yang sudah aku pesan yaitu Hotel Griya Wijaya yang beralamat di Jalan Tentara Pelajar nomor 90, Kerep, Panjang, Kecamatan Ambarawa. Untuk mencari lokasi hotel ini, mobil terus naik di jalan yang berbelok-belok dan menanjak hingga sampai dilokasi. Ternyata kamar-kamar yang bagus yang bisa melihat pemandangan dari lantai atasnya, sudah terisi penuh. Kami mendapat kamar didepan, dipinggir jalan masuk dan tempat parkir. Padahal dari kemaren sudah aku bayar DP nya. Jadi kecewa……

Tapi ya sudahlah, hanya semalam saja. Untunglah aku lihat kamarnya bersih dan rapi. Walaupun Hotel ini bukan berada dipinggir jalan besar, tetapi jalan ini adalah jalan menuju Gua Maria Kerep, tujuan wisata rohani bagi umat Kristiani. Jadi hotel selalu penuh di hari-hari libur.

Setelah istirahat dan mandi teman-teman aku persilahkan mencari makan malam keluar karena di sekitar hotel tidak ada rumah makan yang buka di malam hari. Hanya ada warung bakmi dan angkringan sederhana yang ada di seberang hotel. Aku dan Mas Suami ingin bersantai di hotel sambil melihat-lihat isi Hp.. Untuk menghangatkan perut di malam yang dingin aku memilih menikmati bakmi goreng dan bakmi godog di kamar saja. Di malam itu teman-teman jalan ke sebuah Rumah Makan Soto yang cukup terkenal dan enak di kota  Ambarawa. Syukurlah, mereka bisa menikmati jalan-jalan ini dengan gembira. Kami berdua sudah merasa puas,  selama ini Allah SWT telah memberi banyak kesempatan merasakan jalan-jalan ke berbagai daerah.


Hari Ketiga, tanggal 27 Maret 2022.

Pagi-pagi sekali, aku bangun dengan segar, merasakan dinginnya kota kecil Ambarawa. Setelah shalat subuh, aku membuat kopi dengan mengambil air panas dari dispenser depan. Sambil menikmati kopi pagi, aku duduk-duduk di teras di belakang kamar. Teras belakang difungsikan sebagai tempat untuk berkumpul, karena dibelakang setiap kamar disediakan sebuah meja dengan 2 kursi. Petugas Hotel mengantarkan sarapan berupa 2 piring berisi nasi liwet. Nasi gurih di bungkus daun pisang dengan sayur labu siam, suwiran ayam bumbu opor, dan setengah potong telur. Cukuplah mengenyangkan.

Setelah mandi, aku beberes koper. Hari ini kami berdua dengan Bu Rita dan Bu Nur tidak ikut kembali ke Jakarta bersama rombongan, melainkan melanjutkan perjalanan ke Solo. Kami mau nyekar, sedang Bu Rita dan Bu Nur dari Solo mau terus ke Jogyakarta. Dengan demikian, satu koper berisi baju kotor aku titipkan ke Mas Agus untuk diserahkan ke rumah. Kemaren aku juga sudah mendapat kepastian, akan dijemput Pak Kimin, Driver yang sudah kami kenal baik, dengan menggunakan mobil sewaan dari  Solo. Hasil diskusi dengan teman-teman semalam, hari ini mereka hanya memilih satu tujuan wisata saja, mengingat di hari Minggu malam, untuk masuk Jakarta biasanya sangat macet. Kami berfoto bersama di depan Hotel Griya Wijaya sebelum menuju Candi Gedhong Songo.



Candi Gedhong Songo adalah nama sebuah kompleks bangunan candi yang merupakan  Cagar  Budaya Indonesia Peringkat Nasional. Kompleks Candi  terletak di Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Tepatnya di  lereng Gunung Ungaran  yang  sejuk, pada  ketinggian  sekitar 1.200 m diatas permukaan laut. Di kompleks  candi ini  terdapat 9 candi, yang dahulu ditemukan oleh Raffles pada tahun 1804. Ini  adalah peninggalan budaya Hindu dari  zaman Wangsa Syailendra pada abad ke-9 yaitu tahun 927 Masehi. Dalam  bahasa Jawa, Gedhong  berarti  Bangunan, Songo artinya Sembilan.




Kompleks  Candi  Gedhong Songo  memiliki  persamaan  dengan Kompleks Candi Dieng di Wonosobo. Lokasi  ini memiliki  pemandangan  alam  indah. Selain itu, objek wisata ini juga dilengkapi  dengan Pemandian Air Panas dari mata air  yang mengandung belerang, Area Perkemahan, dan  Wisata Berkuda. Dari Kota Ambarawa diperlukan waktu tempuh perjalanan sekitar 40 menit, dengan kondisi jalanan yang naik, dan kemiringannya tajam. 

Tiba disana hari masih pagi, belum banyak Pengunjung yang akan naik ke Candi. Harga tiket masuknya Rp. 15.000 per orang. Jika ingin naik kuda, untuk sampai ke semua lokasi Candi ongkosnya Rp. 120.000. Menurutku ini cukup mahal. Padahal jika tidak semahal itu, pasti akan lebih banyak yang ingin naik kuda.




Berjalan pelan-pelan, tiba juga di Candi Pertama. Kami foto bersama lengkap seluruh peserta. Karena Mas Suami tidak ingin melanjutkan naik, aku bertiga dengan Bu Rita dan Bu Nur, ditemani Mas Fotographer pelan-pelan bisa mencapai Candi Kedua. Agar bisa berjalan lancar di jalan yang menanjak, sandal aku lepas, aku tenteng, hanya menggunakan alas kaos kaki. Di Candi Kedua ini masih banyak Pengunjung yang bisa mencapainya. Bentuk Candi Pertama dan Kedua berbeda.



Beranjak menuju Candi Ketiga. Dari rombongan kami rupanya hanya aku bertiga yang sampai ke Candi Ketiga. Mudah-mudahan ini  berkat senam dan olah raga jalan kaki yang aku tekuni selama ini. Yang lain kok nggak sampai keatas ya, apa karena nggak kuat atau karena ingin jalan-jalan sekitar candi dibawah saja?

Pemandangan di sekitar Candi tampak hijau segar walaupun tidak seindah taman. Jika saat ini jalan menuju Candi yang menanjak ini sudah enak dan nyaman untuk didaki, bagaimana kondisinya berabad-abad yang lalu? Terbayang betapa religiusnya nenek moyang kita di masa itu, membangun tempat khusus untuk mendekatkan diri kepada Tuhan  di puncak-puncak gunung, di tempat-tempat yang sunyi. Perhatikan lokasi candi-candi yang hingga saat ini masih bisa kita kunjungi. Di Puncak Pegunungan Dieng terdapat Kompleks Candi Dieng. Di Puncak Gunung Lawu terdapat Candi Sukuh dan Candi Ceto. Demikian pula di Bali, lokasi Pura berada di puncak-puncak gunung.



Mengingat waktu tidak mengijinkan untuk berlama-lama di Candi Gedhong Songo ini, kami putuskan untuk turun. Terima kasih Mas Fotographer yang telah menemani kami bertiga hingga ke Candi Ketiga. Hanya dengan biaya Rp. 100.000 untuk 5 kali foto, kami sudah dapat foto-foto bagus.

Turun dari Candi Gedhong Songo, kami menuju tempat parkir New Celosia, dimana kami berempat telah dijemput mobil dari Solo. Disini kami berpisah dengan teman-teman yang akan kembali ke Karawang dan Jakarta. Saling berpamitan dan mendoakan agar semuanya selamat diperjalanan  hingga sampai rumah. Alhamdulillah menurut info dari teman-teman, mereka mendarat di rumah Duren Tiga Buntu malam jam 12.10, sementara hujan deras mengguyur Jakarta.

Wassalamualaikum ww.

 

#bersambung ke Wisata Semarang Ambarawa Solo (II)

 

 

 

 

 

 

  

Selasa, 14 Desember 2021

Bali setelah Pandemi (1)

 


     Assalamualaikum ww

Secara tak direncanakan, ternyata aku akan mengunjungi Bali lagi. Mas Suami dan anakku Dandy sedang berada di Bali untuk suatu urusan yang akan selesai dalam waktu 3 hari. Dandy akan balik ke Jakarta, ganti aku kesana menemani mas Suami sekaligus refreshing setelah berkutat “dirumah saja” selama 2 tahun Pandemi. Inilah untuk pertama kalinya aku terbang dengan pesawat setelah lama tidak menginjakkan kaki di Bandara.

Hari ini Kamis tanggal 25 Nopember 2021 aku sudah di Bandara Soekarno Hatta Terminal 3. Begitu panjangnya jarak dari counter cek-in hingga Gate 21, aku berjalan sambil ngos-ngosan. Tiba di Bandara Ngurah Rai disambut dengan hujan deras.Yah, ini sudah bulan ber-ber, seluruh wilayah Indonesia sudah berada di musim hujan. Mas Suami menjemput bersama temannya dan kami menuju hotel yang sudah ditempati semula di Kuta.

Bali sedang menggeliat. Didepan hotel terlihat 2 bus besar dari kota Malang menurunkan Bapak-ibu dan anak-anak sekampung yang ceria telah berada di Bali. Wisatawan domestik sudah mulai berdatangan seiring dengan menurunnya jumlah penderita Covid 19 di seluruh tanah air. Semoga Pandemi benar-benar berakhir dan pariwisata kembali bergairah.

Hari Pertama: Karangasem

Pagi yang cerah, matahari sudah naik ketika kami keluar hotel menuju Karangasem, sebuah kota yang berjarak 86 km arah timur dari Denpasar yang ditempuh kira-kira dalam 2,5 jam santai. Mobil dikomandani oleh Pak Komang, teman dari temannya mas Suami. Sehari-hari Pak Komang bukan seorang Driver kendaraan wisata, hanya selama 4 hari kedepan ini saja menemani kami keluar kota.  Memasuki kota Karangasem, sekitar jam 10 an. Suasana kota bersih, tampak biasa-biasa saja sebagaimana kota-kota kecil di Pulau Jawa. Kami mulai mencari-cari tempat sarapan dan ngopi disepanjang jalan karena tadi pagi di hotel belum sempat sarapan. Di daerah Candidasa, Pak Komang meminggirkan mobilnya disebuah tempat makan, namanya ACK yang menjual ayam goreng semacam KFC.  Tempat makan yang kelihatannya cukup bersih. Sebelum kami sarapan, pak Komang membelikan secangkir kopi untuk Mas Suami di Indomaret dekatnya.

Beberapa tahun terakhir, setelah mas Suami pensiun, kopi merupakan menu wajib sehari 2 kali. Jika terlewat, tubuhnya akan bereaksi seperti ketagihan, lemah lesu tak bersemangat. Dan setelah minum kopi, jadi segar. Aakkkhhhh .....mantap...

Tujuan pertamaku adalah Taman Air Tirta Gangga, masih sekitar 20 menit dari tempat kami sarapan ini. Karena jalanan sepi tak banyak kendaraan di dalam kota, mobil lancar menuju Tirta Gangga. Di pintu masuk, kami membeli tiket seharga Rp 25 ribu per orang. Disekitarnya tampak banyak warung kecil berjualan pakan ikan dalam plastik seharga Rp. 5 ribu, aku membeli 2 kantong buat persediaan.


Wouw........ tampak didepan mataku Taman Air yang cantik dengan ikan-ikan Koi besar berwarna kuning berenang-renang dengan indahnya. Di kolam itu kita bisa berjalan tanpa menyentuh air, melewati pijakan-pijakan yang tertata manis diselingi dengan patung-patung  yang berdiri di dekat pijakan. Aku tak sabar lagi mau melihat ikan-ikan itu lebih dekat. Segera aku sebarkan pakan dan berkecipaklah Koi-koi yang besar-besar berwarna kuning mulus mendekatiku hingga persis dipinggir pijakan. Momen yang bagus untuk tidak dilewatkan begitu saja. Bukan hanya aku yang histeris dengan suasana ini, disebelah sana ada rombongan ibu-ibu sedang berganti pakaian mengenakan seragam baju terusan warna putih melambai-lambai, siap untuk bergaya berfoto ria. Asyiik...... pasti sudah berniat bulat ke Taman Tirta Gangga untuk berfoto dengan berbagai gaya.

Aku memperhatikan taman ini lebih saksama. Taman dengan luas 1,2 hektar ini terbagi menjadi  2 buah kolam yang airnya jernih dan sejuk, dengan beberapa pancuran berupa Patung berukir yang mengeluarkan air dari mulutnya. Air dalam kolam berasal dari mata air, dan merupakan air suci yang digunakan untuk sembahyang umat Hindu di Bali.


Disekeliling kolam terdapat rumput hijau dengan tanaman-tanaman tertata manis. Beberapa pohon kamboja dibelakang sana juga tampak cantik berbunga kuning dengan gelantungan tanaman Tanduk Rusa jenis Platycerium. Di kolam sebelah kiri, tidak terdapat pijakan seperti yang ada dikolam sebelah kanan. Ikan-ikannya juga belum besar. Dipinggirnya ini tertambat  2 buah perahu berwarna merah putih, yang bisa disewa mengelilingi kolam. Kemudian diujung utara terdapat jembatan dengan undakan tangga, semuanya dibuat dari batu  dengan ukir-ukiran cantik. Jembatan batu ini juga merupakan spot foto bagus bagi pengunjung.

Taman Tirta Gangga merupakan peninggalan Kerajaan Karangasem, sebuah Kerajaan di Bali bagian timur yang berdiri di abad ke 17. Kerajaan Karangasem dimasa jayanya meliputi wilayah Pulau Lombok. Pengunjung lain mulai berdatangan dan sama dengan yang aku rasakan,  gembira dan ceria melihat ikan-ikan berseliweran dikolam.

Kami meninggalkan Taman Tirta Gangga menuju Pura Penataran Agung Lempuyang. Pura ini terletak di ketinggian Gunung Lempuyang, 1.175 meter diatas permukaan laut. Tiba di lapangan parkir, sudah menunggu beberapa Shuttle Bus yang akan mengantar para pengunjung naik ke Pura. Saat itu Shuttle Bus hanya berisi kami berdua dan sepasang turis mancanegara. Harga tiket untuk naik bus ini adalah Rp. 50 ribu. Pemandangan sekitar jalan diwarnai kehijauan kebun-kebun penduduk disekitarnya.

Bus terus bergerak di jalanan yang berkelok-kelok dan menanjak, rasanya sekitar 45 derajat. Tibalah di suatu lokasi, penumpang turun. Kami diminta mengenakan Sarung Bali yang telah disediakan dengan membayar Rp. 10.000. Juga ditawarkan bagi yang berminat, menyewa Kain dan Baju Kebaya Bali berwarna putih untuk Ibu, dan untuk Bapak Kain dan Baju Hem warna putih.

Dari sini untuk mencapai tujuan ternyata masih harus berjalan kaki di jalanan yang menanjak. Untunglah banyak Ojek Motor yang menawarkan diri mengantar sampai ke Pura. Aku memilih untuk membonceng salah satu Ojek yang pengemudinya wanita dengan membayar Rp. 10 ribu pulang pergi. Tak berapa lama, sampailah di suatu tempat luas seperti lapangan.

Menoleh ke sebelah kanan, tampak Bangunan dari batu yang didominasi undakan tangga menuju puncak, dimana Pura Penataran Agung Lempuyang berada. Ada 3 undakan tangga yang pada akhirnya sampai pada 3 pintu. Dari bawah tampak pintu yang tengah lebih besar dari 2 di pinggir. Apabila kita akan memasuki Pura, maka harus naik tangga yang cukup panjang dan tinggi itu. Rasanya aku tidak mampu naik sampai keatas. Aku masih sayang dengan lututku. Dokter melarang untuk aktifitas naik tangga dan bersepatu hak.


Menoleh ke sebelah kiri, tampak sebuah Gapura Bali yang digunakan sebagai spot foto. Oh.... ini …. lokasi foto yang pernah aku lihat di Instagram. Sebuah foto yang sangat bagus, apa lagi jika langit bersih tidak berawan, akan tampak Gunung Agung yang gagah berada persis dihadapan kita. Pantaslah sebutan Gates of Heaven untuk Gapura ini.



Kami berdua menunggu giliran berfoto di Gapura itu. Sebelum kami, ada wisatawan yang datang sekeluarga, semuanya berbaju putih.  Mungkin mereka menyewa baju di pintu depan tadi. Satu per satu bergantian dan akhirnya sekeluarga berfoto bersama. Mas fotographer menggunakan Hp Pengunjung yang akan difoto, duduk agak jauh dari Gapura sambil memberikan aba-aba. Setelah mereka selesai, giliran kami berdua diambil foto di Gapura itu.  Aku melihat kebawah, ternyata ada undakan tangga turun menuju pelataran di bawah sana. Seperti di tempat peribadatan umat Hindu lainnya, pelataran dibawah itu adalah Zona luar. Sedangkan tempat kami berada ini adalah Zona tengah. Pura Penataran Agung Lempuyang berada di tingkat paling atas atau zona suci. Struktur demikian disebut Trimandala.




Menurut informasi, Pura Penataran Agung Lempuyang merupakan bagian dari Kompleks Pura di Gunung Lempuyang, dimana dipuncak Gunung Lempuyang terdapat sebuah Pura tertua yang sangat dihormati. Itulah Pura Lempuyang Luhur, salah  satu dari 6 Tempat Sembahyang  paling  suci di Bali. Setiap orang Bali setidaknya  dalam hidupnya bersembahyang disana.

Setelah puas berkeliling dan mengambil foto-foto, akhirnya aku kembali kebawah dengan membonceng Ojek yang aku naiki sebelumnya. Sambil duduk diboncengan motor, aku sempat sedikit mewawancarai Mbak Ojek. Dimasa Pandemi ini, sehari dia bisa menarik 3 atau 4 kali, artinya mendapat penghasilan Rp.30 ribu atau Rp.40 ribu.

Lanjut naik Shuttle Bus hingga tiba di pelataran parkir mobil, aku melihat Pak Komang sedang ngopi di sebuah Warung yang cukup bagus, namanya Warung Ibu Ketut. Mas Suami segera menyusul dan memesan secangkir Kopi Bali. Sambil ngopi kami juga pesan Nasi Goreng, cukup 1 porsi buat berdua. Kami sempat ngobrol sebentar dengan ibu Ketut yang berbicara dengan dialek Bali yang medok. Katanya :

"Saya juga ingin seperti Bapak Ibu, pergi jalan-jalan berdua."

"Iya bu, ibu enak, nggak usah jauh-jauh, sudah tinggal di Bali”

"Kalau saya pergi jalan-jalan, siapa yang ngurus Warung?

“Warung ini satu-satunya penghidupan saya"

Begitulah. Mbak Ojek dan Ibu Ketut mengingatkan aku, untuk selalu bersyukur atas segala karuniaNya ........ 

Matahari sudah mulai bergerak kearah barat. Tujuan ketiga di Karangasem hari ini adalah mengunjungi Taman Ujung Soekasada. Taman ini juga merupakan Taman Air peninggalan Kerajaan Karangasem, yang memiliki arsitektur indah  dan memiliki karakter tersendiri.

Menuju lokasi ini, kami melewati jalan-jalan kecil yang akhirnya sampai di tepi pantai.  Di gerbang masuk membeli tiket seharga Rp.15 ribu. Menuju Taman Air, kami  melewati jalan masuk yang dinaungi bunga bougenville warna merah pink.  Beberapa saat kemudian, tampaklah kolam air luas, ditengahnya terdapat bangunan yang dahulu digunakan sebagai Tempat Peristirahatan Raja. Dari pinggir kolam, untuk menuju Bangunan ditengah, dihubungkan oleh 2 jembatan batu berukir yang panjang.



Bangunan cantik ini dibuat oleh Arsitek Belanda, China dan Bali di tahun 1901 atau 120 tahun yang lalu. Walau sudah berusia tua, namun tetap terawat baik. Dibangun pada masa pemerintahan Raja Karangasem  I Gusti Gde Jelantik, dilanjutkan putranya yaitu I Gusti Bagus Jelantik yang bergelar Anak Agung Agung Anglurah Ktut Karangasem, yang dikenal sangat mencintai budayanya. Di Bangunan tengah atau Tempat Peristirahatan Raja tersebut terdapat foto beliau berdua.


Keluar dari Bangunan dan jembatan, kami jalan-jalan ke belakang. Di bagian samping agak ke belakang kolam, terdapat undakan tangga naik yang cukup tinggi yang merupakan jalan menuju sebuah Bangunan lain yang juga sangat cantik. Sebuah Bangunan dengan pilar tanpa atap, yang jika kita berada disana akan melihat keindahan panorama Taman Air dibawahnya, panorama Laut di Pantai Ujung  dan pemandangan Gunung Bisbis. Lokasi ini sering digunakan untuk Prewed, baik pasangan Bali maupun Bule. Mengingat untuk kesana harus menaiki lebih kurang 100 anak tangga, aku tidak berani. Foto bangunan dimaksud aku ambilkan dari Google.





Hari kedua : Ubud.

Di Tahun 2021 ini, Ubud dinisbahkan sebagai Kota Wisata Terbaik nomor 4 di dunia oleh sebuah Situs Wisata Travel and  Leisure, yang ditetapkan berdasarkan jajak pendapat terhadap Pembaca Situs yang pernah melakukan perjalanan ke berbagai kota di dunia. Nah, kita patut bangga dong.

Jarak tempuh dari Kuta, dimana aku menginap menuju Ubud adalah 35 km, yang ditempuh dalam waktu sejam. Ubud merupakan kota internasional, penduduknya berasal dari berbagai negara didunia. Kota ini memiliki sejarah panjang dibidang seni dan budaya karena disinilah tinggal dan berkarya para Maestro Seni Lukis. Di Ubud juga bertebaran Musium Lukisan yang untuk mengunjunginya tak akan cukup waktu sehari

Kali ini aku menuju Tegalalang, yang memiliki pemandangan sawah terasering, bertingkat-tingkat, cantik dipandang dari atas. Sebelum Pandemi aku telah mengunjungi tempat ini, namun karena begitu banyaknya pengunjung pada saat itu, mobil tidak bisa parkir. Memang tidak ada tempat parkir khusus, mobil-mobil hanya berderet disisi jalan. Hari ini berbeda. Pandemi telah merubah Tegalalang menjadi sepi, padahal hari ini adalah hari week end.  Aku, mas Suami dan pak Komang bisa dengan leluasa duduk manis ngopi di sebuah Cafe sambil menikmati indahnya deretan persawahan yang  bertingkat dengan ditemani camilan Spring roll dan Pisang Keju. Bahkan ngobrol santai dengan Bli Pramusaji di Cafe ini tentang kondisi selama Pandemi. Menurut ceritanya, sebelum Pandemi, omset Cafe di hari Sabtu atau Minggu mencapai Rp. 15 juta per hari. 

"Pasti sewa tempatnya mahal ya" kataku.

"Lumayan bu. Rp. 750 juta utk 5 tahun. Itu hanya tempat saja. Bude saya merenovasi sendiri dan menambah satu tingkat keatas"

“Dari 5 tahun sewa, yang 2 tahun tidak menghasilkan, bahkan merumahkan banyak karyawan”

“Semoga mulai  hari ini Pandemi secara berangsur-angsur menghilang dan Bali  ramai kembali  seperti biasa” kataku sebelum meninggalkan Café.



Tujuan selanjutnya adalah Campuhan Ridge Walk, sebuah lokasi untuk jalan-jalan sehat yang berada di sepanjang puncak perbukitan Campuhan, dimana sekelilingnya hijau indah. Tempat ini sangat cocok untuk melihat Sunrise atau Sunset. Lokasi Campuhan terkenal setelah digunakan untuk shooting filmnya Julia Roberts “Eat, Pray, Love” Dimanakah tempat itu?

Mobil berputar-putar mencari lokasi sebagaimana ditunjukkan oleh "waze", aplikasi penunjuk jalan yang aku buka dari hp. Pak Komang bukan Driver Wisata, jadi masih belum paham daerah Ubud. Sampai 3 kali kami melalui jalan yang sama nggak ketemu juga. Akhirnya baru ketemu setelah mendapat informasi lokasi jalan masuknya. Mobil harus parkir disebuah sekolah, dari situ menuruni jalan terjal yang tidak kelihatan belokannya. Melihat situasi jalan yang harus ditempuh dan hujan yang semula rintik-rintik mulai bertambah deras, aku batalkan mengunjungi Campuhan Ridge Walk. Barangkali lain waktu bisa diagendakan lagi.

Mobil menuju ke arah Musium Antonio Blanco. Aku juga sudah kesini pada kunjungan ke Ubud sebelumnya, tapi waktu itu terlambat karena sudah kesorean, musium sudah mau tutup. Sebenarnya Musium ini bagus sekali. Mungkin selama Pandemi tidak ada pemasukan sehingga tampak kurang terawat. Harga tiket masuknya Rp. 35 ribu. Pada saat membeli tiket, hujan bertambah deras, dan kami diberi pinjam payung. 

Memasuki bangunan utama, aku hanya berdua mas Suami. Lampu didalam remang-remang, suasananya menjadi serem. Setelah berfoto segera aku keluar, berteduh di teras. Diluar masih hujan. Sambil berteduh aku melihat pemandangan dihalaman, tampak taman yang tertata indah. Ditengah taman ada pancuran dengan halaman rumput yang diberi aksen batu-batu pijakan. Inspirasi  buat yang punya halaman rumput.


Hujan menyulitkan aku mengambil foto. Tapi jangan kuatir. Ini foto kami sebelum Pandemi ketika ke musium ini sudah hampir tutup. 




Meninggalkan Musium, kami akan makan siang di Restoran Bebek Tepi Sawah. Siang itu  banyak sekali tamunya. Parkiran depan sudah nggak muat mobil, hingga diarahkan ke tempat parkir di belakang lewat sebuah gang yang berjarak beberapa meter setelah pintu utama. Restorannya sangat luas. Ditengahnya terdapat sawah kira-kira 1.500 m yang menjadi ikonnya, dimana padi sudah mulai menguning.  Saung-saung tempat makan didesain berada disekeliling sawah. Menarik perhatianku, di pohon-pohon  yang tumbuh dekat setiap saung menggelantung bunga Anggrek Bulan atau Anggrek Dendrobium, mempercantik dan membuat nyaman suasana hati pengunjung.



Hujan rintik-rintik membuat betah berlama-lama duduk disini. Mas suami ngopi dulu. Kemudian memesan Spagheti Carbonara. Beliau nggak makan bebek karena punya pengalaman trauma masa kecil. Ketika masih kecil tinggal di Pleihari Kalimantan Selatan, memelihara banyak bebek. Suatu ketika saat memotong bebek, meskipun sudah hampir putus lehernya, bebek itu terbang tinggi dan akhirnya jatuh mati. Sejak itu mas Suami tidak sanggup makan bebek. Pak Komang memesan soto, dan aku pastinya pesan Bebek Krispi, karena di Jakarta pernah makan menu ini enak sekali.