Selasa, 22 Oktober 2019

Perjalanan ke Danau Toba dan Pulau Samosir (1)


Assalamualaikum ww.

Sumatera Utara, khususnya Danau Toba dengan Pulau Samosir, adalah salah satu destinasi wisata yang dijadikan “10 Destinasi Bali Baru” oleh Kementerian Pariwisata. Tak salah jika kami ingin jalan-jalan kesana. Rencana ini telah lama kami pikirkan dan pertimbangkan. Untuk menyemangati, WA grup kami ganti namanya menjadi “Visit Medan”, dengan harapan suatu ketika akan terlaksana.

Dengan persiapan hanya beberapa hari, akhirnya kami sepakat untuk go to Medan. Direncanakan bersama hanya via WA tanggal 25 September, kemudian pesan tiket Citilink tanggal 28 September untuk keberangkatan tanggal 3 Oktober 2019. Pesertanya adalah grup teman-teman Mas suami, yang sudah sering jalan bareng. Mereka adalah Bp Novian Thaib dan ibu Ida Novian, Bp Thamrin Sihite dan ibu Ida Thamrin, Bp Ari Warianto dan ibu Nenden Ari serta kami berdua. Perjalanan kali ini adalah yang ke empat, setelah Sukabumi, Banyuwangi, dan Yogya - Solo. Karena Bp dan ibu Thamrin berasal dari daerah Sumatera Utara, jadilah beliau berdua menjadi Host selama kita berada disana.

Oh iya. Itinerary kami adalah : Medan – Berastagi – Samosir – Pematang Siantar – Medan. Kami akan menginap di kota-kota tersebut, sehingga setiap hari berpindah tempat. Pasti seru ceritanya. Stay tune here  ya……...

Hari Pertama.
Pesawat mendarat di Bandara Kuala Namu dengan mulus pada jam 10.40 dan kami sudah dijemput oleh Mobil Toyota Hi Ace yang punya nama  “Mr. Klayapan” dengan Driver merangkap Guide Pak Rambe. Nama mobilnya unik ya, dalam bahasa Jawa artinya “seneng pergi kemana-mana”……

Kami langsung menuju Restoran Budaya untuk makan siang dan shalat. Restorannya bagus, teduh, banyak pepohonan, dengan menu masakan Nusantara. Tempat makan kami berupa Bangunan Joglo yang sangat luas. Rasanya ini bisa untuk acara pesta pernikahan. Menu yang dipilih ibu-ibu adalah Ikan, Ayam, Udang, dan Sayur daun singkong. Minumannya khas Medan, Markisah dan sereh serta Markisah dan  Terong Belanda (Martabe). Sayang harga makanannya cukup mahal, pastinya disesuaikan  dengan tempat dan lokasinya yang  bagus. Sebenarnya jika pembayaran dilakukan dengan Kartu Kredit suatu Bank tertentu, akan mendapat diskon 50%. Tetapi kami baru tahu hal tersebut ketika akan meninggalkan restoran. Tak apa, buat catatan untuk yang akan datang.




Belum ke Medan jika belum ke Masjid Raya dan Istana Maimun, maka mobil meluncur ke sana. Masjid Raya Medan juga disebut Masjid Al Mashun dibangun dari  tahun 1906 hingga 1909 atau berumur 110 tahun. Meskipun sudah berumur tua tapi tetap kelihatan terawat bagus. Kami foto bersama terlebih dahulu. Karena ada diantara teman-teman kami yang belum shalat, dipersilahkan shalat, sedang yang lain melihat ke sekeliling masjid.

Tak jauh dari Masjid Raya Medan, di Jalan Sultan Ma’mun Al Rasyid, terletak Istana Maimun yang kami tuju. Istana Kesultanan Deli ini dibangun pada tahun 1888 sampai tahun 1891 pada masa Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah.  Beberapa tahun yang lalu (waktu aku masih muda) pernah masuk ke dalam istana ini, berfoto dengan mengenakan busana Melayu bagaikan Permaisuri Raja. Sekarang sepertinya sudah tidak sesuai lagi. Permaisurinya sudah pensiun …........
Kali ini cukup berfoto bersama teman-teman di lokasi  yang sudah disediakan, dengan back ground Istana Maimun yang masih tampak megah.


Dari Istana kami meluncur menuju Tjong A Fie  Mansion. Mungkin banyak diantara kita yang belum tahu, tempat apa ini? Tempat ini merupakan rumah tinggal Keluarga Tjong A Fie, dahulu adalah seorang pengusaha China dermawan yang sukses dan menjadi orang terkaya di Medan. Dilahirkan di negeri China pada tahun 1860. Pada umur 20 th datang ke Medan. Karena kesuksesan dan kedermawanannya, ia menjadi panutan orang-orang China di Medan dan oleh pemerintah Belanda diangkat sebagai Mayor dalam arti gelar kehormatan. Tjong A Fie tutup usia di tahun 1921. 

Selain meninggalkan sebuah rumah berikut isinya di Jalan Ahmad Yani no 105 Kesawan, juga meninggalkan Wasiat untuk dilaksanakan oleh Ahli Warisnya, yang intinya adalah supaya hartanya digunakan untuk berbuat kebaikan bagi sesama tanpa membedakan suku dan agama, sebagaimana yang telah dilakukannya semasa hidupnya. Meninggalkan Tjong A Fie Mansion, meninggalkan sebuah renungan.  Alangkah mulia nya orang ini. Apa yang dilakukannya patutlah menjadi contoh kebaikan bagi kita semua.  



Kemana lagi kita nih? Saatnya ngopi sore. Di dekat Tjong A Fie Mansion, masih di daerah Kesawan, kami menikmati kopi Medan di sebuah Café. Rupanya Host sudah merencanakan acara yang membuat semua peserta happy…… Durian Medan, wouw……..


Mobil merapat ke Jalan Iskandar Muda yaitu Restoran atau tempat makan yang namanya Durian Si Bolang. Bolang artinya kakek. Kata orang, Durian Si Bolang ini adalah saingan dari Durian Ucok yang telah melegenda. Benarkah? Restorannya cukup bagus dan luas, sepertinya seluas 4 ruko yang digandeng. Tempat duduk kayu dengan bangku-bangku ditata rapi.  Selain tempat duduk kayu, juga ada tempat duduk dengan jok empuk warna merah. Di antara tempat-tempat duduk itu terdapat pot besar dengan tanaman pohon durian (tanaman hidup asli) yang pada dahannya menempel beberapa buah durian palsu sebagai hiasan. Bagi yang tidak ingin tangannya kotor ketika makan durian, di meja-meja telah tersedia sarung tangan plastik dan dibawah meja sudah disediakan tempat sampah bersih sebagai tempat membuang kulit dan biji durian. Kemudian di sudut sana tampak peralatan musik, mungkin digunakan untuk hiburan nyanyi-nyanyi di hari week end.



Kami memesan durian yang manis dan yang pahit. Sebelum buah durian yang disodorkan oleh Pramusaji dibuka, kita rasakan dulu, enakkah atau cocokkah. Yang dibuka hanya yang OK saja. Kamipun menikmati durian dengan asyik……….Foto dulu dong  ……
Seperti kami, banyak pengunjung terlebih dahulu berfoto ria sebelum masuk ke restoran dan ketika sedang menikmati durian. Hampir magrib ketika acara santap durian selesai. Pak Novian sama sekali tidak makan durian, jadi kami hanya bertujuh menikmati buah kesayangan ini, dengan harga seluruhnya Rp. 416.000. Artinya Rp. 60.000. per orang. Sangat memuaskan, sesuai dengan kenikmatannya…….

Tempat menginap kami malam ini adalah di Hotel Ibis Style Medan Pattimura. Kami cek in dan sejenak beristirahat karena nanti malam kami akan santap malam dengan hiburan musik. Host telah memesan makan malam dî Restoran Pondok Indah di Jl. Samanhudi. Medan.

Ketika kami tiba disana, agak heran, kok sepi dan kosong? Apakah hanya kami tamu yang datang? Nggak pa pa, malahan bisa santai. Tak lama hidangan sudah terhidang di meja kami, berupa Ikan Gurame asam manis yang legit, Steam ikan bawal putih, Ayam kampung goreng, Ikan asin dengan pete, Ca Kangkung dan Tauge teri. Alangkah nikmatnya, santap malam sambil mendengarkan lagu-lagu merdu yang dibawakan oleh seorang penyanyi  wanita, kalau tidak salah namanya mbak Nana.

Saat yang lain sedang menikmati makan, pak Novian mengawali ke panggung dengan alunan lagu Gereja Tua dari grup Panbers. Wah …… bener-bener suara Pak Novian persis Beny Panjaitan. Tak terasa 3 lagu telah dinyanyikannya. Kemudian disusul Pak Thamrin dengan lagu-lagu Tapanuli yang dinamis, berturut-turut 3 lagu. Asyiiik …….. Suasana makin hangat. Giliran berikutnya Mas Suami menyanyikan lagu Bubuy Bulañ dan 2 lagu lainnya dari Bimbo. Boleh juga nih …….

Selanjutnya Penyanyi ketiga, Pak Ari dengan suara baritonnya menyanyikan 2 lagu kesayangannya. Siiip…. Ibu-ibupun tak ketinggalan berpartisipasi. Ibu Ida Novian dengan suaranya yang tinggi, menyanyikan lagunya Ermy Kulit yang nge jaz itu, dilanjutkan dengan lagu hits tahun 80an, Kenangan Desember. Sedangkan Ibu Ari dengan gayanya yang luwes, memanaskan suasana dengan lagu dangdut Terajana. Langsung kita bersama-sama berjoget ria ….… Aku dan bu Thamrin jadi supporter yang baik he he he….

Santap malam ditutup dengan lagu Kemesraan dan baru berakhir pada jam 10 dengan memuaskan. Makanannya enak dan musiknya menggembirakan. Pemain Organnya sudah professional, meski usianya muda tapi bisa mengiringi lagu-lagu Oldies.


Hari kedua.
Setelah breakfast bersama di Hotel Ibis, rombongan berangkat jam 8 menuju Berastagi dengan melewati tempat-tempat wisata, dimana kami akan berhenti sejenak untuk menikmatinya.  Pak Thamrin duduk di depan dan bagaikan seorang Guide menjelaskan dan menceriterakan berbagai hal yang belum kami ketahui. Antara lain mengenai etnis Batak yang terdiri dari bermacam suku/sub suku dengan ciri-ciri khasnya. Mereka cerdas, pintar ngomong dan pemberani. 

Banyak diantara mereka yang menonjol dan sukses di bidangnya. Para Pengacara papan atas di tanah air seperti Hotman Paris Hutapea, Ruhut Sitompul dan kawan-kawan kebanyakan berasal dari sini. Demikian pula nama besar di lingkungan ABRI seperti Almarhum Jenderal Abdul Haris Nasution.

Di bidang musik, mereka adalah seniman berbakat. Salah satu idolaku adalah Rinto Harahap, Pencipta lagu-lagu indah di jamanku. Lagu-lagu daerah dari sini seperti Butet, Sing Sing So, Alusiau, Situmorang dan lainnya, menjadi abadi sepanjang masa.

Pengembangan perekonomian di wilayah ini pun tidak terlepas dari tangan dingin Pak TB Silalahi dan Pak Luhut Panjaitan, yang telah memajukan masyarakat dengan mendirikan institusi pendidikan dan membangun berbagai usaha yang menyerap tenaga kerja dan memutar roda ekonomi. Belum sempat aku tanyakan ke Pak Thamrin, bagaimana dengan Pak Chairul Tanjung, pengusaha  top yang adalah salah satu orang terkaya di Indonesia? Apakah juga punya rekam jejak di sini?

Berbicara mengenai kesuksesan, tentu saja ada juga yang kurang atau belum sukses. Tetapi mereka ini tidak kembali ke kampung halaman, tetap dirantau bekerja sebagai Sopir, Kernet, Tambal Ban dan lain-lain.

Di sepanjang perjalanan, sering aku temui tulisan BPK. Itu tidak ada hubungannya dengan Badan Pemeriksa Keuangan, melainkan singkatan dari Babi Panggang Karo. Mayoritas masyarakat  Karo adalah non muslim. Itulah mengapa banyak Tempat Makan atau Warung yang menambahkan kata muslim, guna mempermudah para wisatawan memilih tempat makan. Untuk masalah makanan memang kami harus selektif.  

Melewati jalanan naik turun dan berliku-liku, yang merupakan  deretan  Pegunungan Bukit Barisan, aku mulai merasa pusing dan mabuk. Untunglah segera sampai di tempat peristirahatan untuk ngopi pagi. Nah, kesempatan untuk bisa membeli antimo.

Warung Wajik Peceren H. Ngadimin. Itulah yang tertulis di papan nama. Tempat ini cukup terkenal karena menjual kue-kue yang enak. Yang khas adalah Wajik. Selain Wajik ada Lemper, Kue Bugis, Ombus-ombus, Gemblong dan lain-lain. Kalau biasanya wajik dihidangkan berupa irisan padat yang bisa dipegang tangan tetapi wajik disini lebih tipis dan lembek, dihidangkan di piring kecil dimakan dengan cara disendok karena lengket. 

Makanan lainnya Nasi Pecel, Lontong dan Soto. Teman-teman ngopi atau minum teh sambil menikmati kue-kue manis yang mak nyus. Sekali lagi aku memperhatikan Papan Nama, ada kata “Peceren”, apakah ini nama Desa? Kata ini dalam Bahasa Jawa artinya “Parit yang kotor, airnya tidak mengalir, dengan bau tidak enak” …….. Lupakan dulu kata Peceren………..


Perjalanan masih cukup jauh. Sambil ngobrol di mobil Pak Thamrin cerita tentang Politik Identitas dalam Pilkada dan Pilgub di Sumatera Utara. Tentunya masih ada hubungannya dengan Pilgub DKI yang lalu. Aku tidak begitu suka politik, walaupun tetap up date informasi yang berkembang dari waktu ke waktu. Menurutku, semestinya seorang Calon Pemimpin Daerah dipilih berdasarkan kualitas pribadinya, dengan mempertimbangkan track record dan visi-misinya. Bukan berdasarkan identitas (suku, agama, ras). 

Namun apapun dan bagaimanapun ceritanya, seseorang yang bisa menduduki jabatan demikian tinggi adalah Takdir Allah, merujuk pada penggalan ayat Al Qur an : “Dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula)”. Aku optimis dan meyakini, di tahun-tahun mendatang, Generasi Milenial yang penuh ide, rasional, dan suka bekerja keras, akan membawa Indonesia ke jaman keemasannya. In syaa allah…..   

Mobil berbelok masuk menuju Taman Simalem Resort. Tempat  ini dikenal sebagai Hotel untuk menginap dan berlibur keluarga. Pemandangannya sangat indah dan asri. Udaranya sejuk. Mengikuti jalan menurun berliku-liku dan sepi, di kiri kanannya penuh pepohonan dan tanaman hijau serta bunga-bunga. Dan ketika jalanan mulai naik, begitu tiba diatas, wouw…….… pemandangan begitu indah. 

Inilah sepotong surga di Tanah Karo. Tampak Danau Toba yang berwarna hijau kebiruan dari atas, seperti cermin. Kesempatan yang tak kan kami sia-siakan untuk berfotoria. Foto bersama, berdua, dan sendiri di semua spot yang bagus, hingga kehabisan gaya.





Kami turun melihat-lihat ke Agromart & Café, tempat ngopi dan toko yang menjual Kopi Organik Simalem dan produk organik lainnya. Kopinya beraroma jeruk, karena aroma kopi dipengaruhi tanaman yang tumbuh disekitarnya.



Meninggalkan Taman Simalem Resort, jalanan masih berliku dan naik turun, kami disambut hujan yang turun rintik-rintik. Bersyukur wilayah Sumatera sudah memperoleh limpahan air hujan, sehingga mengurangi atau mematikan api akibat kebakaran hutan. Jakarta hingga hari ini baru sekali turun hujan. Waktu sudah menunjukkan jam dua, kami sampai di tempat makan untuk makan siang. Tempat makan ini halal, masakan ikan. Namanya Rumah Makan Wong Suroboyo. Makanannya dimasak secara mendadak, sesuai pesanan. 

Aku tidak memperhatikan Ibu Thamrin memesan masakan apa. Yang jelas, masakan tidak terlalu lama sudah tersedia di meja dan semuanya fresh, enak, mantap. Ada Ikan Mas, Udang, sayuran dan lain-lain. Masakan yang tidak terlupakan olehku karena baru sekali ini merasakan dan sangat enak, mak nyuss, adalah Ikan Nila Bakar dengan sambal Andaliman. 

Untuk mengetahui apa itu Andaliman, aku langsung gogling. Rupanya inilah bumbu rempah yang membuat lezat masakan khas suku Batak yang sering disebut Merica Batak. Andaliman merupakan buah dari tanaman jenis jeruk yang ukurannya kecil-kecil berwarna hitam. Bukan itu saja, masakan Arsik Ikan Mas di rumah makan ini juga sangat enak. Memang kuliner suku Batak punya kekhasan tersendiri. Dari Bendahara ibu Novian, aku mengetahui bill nya Rp. 630.000.- Murah dan enak …..

Tujuan wisata kami selanjutnya adalah ke Air terjun Sipiso Piso yang terletak di Bukit Tongging. Kami sampai disini sudah agak sore. Air terjun dengan ketinggian 800 m diatas permukaan laut itu hanya bisa kami lihat dari jauh. Tinggi air terjun sekitar 120 m,  Lokasinya tepat di bibir kaldera Toba sebelah utara. Jika ingin mendekati, harus turun kebawah, disana disediakan anak tangga kecil-kecil dan tentu perlu waktu lama. Turunnya sih mudah, tapi nanti naiknya bukan lagi setengah mati, tapi hampir mati ......



Meski saat ini setiap orang punya Hp dengan kamera,  masih ada juga Tukang Foto Amatir yang menawarkan jasa foto. Mereka membawa contoh foto yang telah mereka ambil. Rupanya mereka punya trik-trik tertentu untuk membuat foto yang eksklusif. Kamipun tertarik dengan foto yang ditawarkan. Tukang foto berkuncir yang satu ini aku suka, apalagi dengan yel-yelnya : NKRI harga mati… Aku Anak Papua….  
Harga Foto per lembarnya Rp. 20.000. Yah, bagi-bagi rejeki, biar mereka juga bisa bersenang hati. Laris  manis……

Hari menjelang senja ketika mobil kami memasuki Berastagi. Kami menginap di Sinabung Hills, sebuah hotel bintang 4. Tiba di hotel sudah menjelang malam, hujan rintik-rintik dan lampu-lampu sudah menyala. Kami cek in dan langsung masuk kamar. Udara sangat dingin. Apalagi musim hujan di daerah ini sudah dimulai. 

Sebenarnya untuk makan malam sudah malas keluar, tapi Pak Thamrin meragukan kehalalan makanan di hotel. Mas Suami mencoba untuk menanyakan ke Petugas restoran. Katanya makanan yang disediakan disini halal. Jadi diputuskan untuk pesan makan dari kamar masing-masing. Kamar cukup luas, nyaman, dan aku memastikan dulu ke kamar mandi, ada air panasnya. Setelah selesai mandi, melihat-lihat menu, akhirnya kami pesan Nasi dan Sop Buntut. Ternyata porsinya memang besar. Satu berdua cukup kenyang. Rasanyapun mantap. Selesai mandi, sholat dan makan malam, dengan udara yang begitu dingin, mata pun tak dapat ditahan untuk langsung istirahat. Selamat tidur… ....


Hari Ketiga.
Subuh disini lebih siang dibandingkan di Jakarta. Setelah usai sembahyang, sayapun memasak air di teko untuk menikmati kopi pagi. Saya biasa membawa kopi sendiri dalam setiap perjalanan. Kopi yang saya sukai yang tidak pahit alias kopi susu atau kopi dengan creamer. 

Begitu membuka jendela, masyaallah ........ cantik sekali ……
Aku melihat kebawah, tampak kolam renang yang biru dan taman dengan hamparan bunga beraneka warna yang memanjakan mata. Nun jauh disana 2 puncak gunung bersaput awan tipis mempercantik pemandangan. Aku lihat dari atas Pak Thamrin sudah berjalan-jalan sendirian menyusuri jalan sepanjang taman.

Kami segera mandi dan turun untuk breakfast di coffeshop. Teman-teman juga sudah berada disana menikmati sarapan pagi. Hari ini dress code kami atasan merah celana hitam agar foto-fotonya lebih tajam. Pak Tukang Kebun yang baik hati memberi info dimana spot-spot yang bagus dan sekaligus memotret kami berdua ibu Thamrin. Setelah breakfast bapak-bapak dan ibu-ibu berfoto bersama-sama di taman bunga. Keindahan taman-taman di Sinabung Hills seolah terpatri dalam ingatanku. Ingin suatu ketika mengajak anak-cucu berlibur kesini.





Cek out dari Sinabung Hills tujuan pertama kita adalah Pasar Buah Berastagi. Hari masih pagi sehingga Pasar belum ramai. Bapak-bapak hanya menunggu di mobil, dan  ibu-ibu turun berbelanja. Di pintu masuk pasar, penjual umbi tanaman bunga menawarkan dagangannya. Umbi bunga  Dahlia, Sedap Malam, Gladiol dan tanaman bunga lain seperti yang tergambar di foto, tinggal pilih saja. Karena harganya menurutku murah langsung saja beli 2 macam umbi bunga. Eh, kok nggak kapok-kapok juga, karena sering tanaman yang aku beli didaerah dingin ternyata nggak akan berbunga di Jakarta yang panas. Yah, dicoba dulu, siapa tahu nanti berbunga.

Ibu-ibu yang lain ke penjual buah. Aku ikutan memilih buah markisah pesenan putriku. Wah, banyak sekali yang ingin dibeli. Harganya murah-murah. Jeruk Medan kualitas pertama yang besar-besar harga per kg 20.000.  Mengingat maksimum bagasi Citilink 20 kg dan tentengan 7 kg, aku mengukur diri. Yang penting pesanan buah markisah sudah terbeli. Keluar menyeberang jalan, banyak kios bibit tanaman hias dan bibit pohon buah. Rupanya ada yang jual anggrek juga. Mampir beli sedikit saja, hanya buat sekedar kenang-kenangan. Beli Anggrek Vanda dan Cattleya Species Berastagi yang masih kecil supaya bisa dimasukkan di koper tanpa harus mengurus karantina. Kembali masuk ke dalam pasar, aku melihat kaos dengan tulisan Berastagi bergambar motif khas Batak, jadi teringat ketiga gadis kecilku…… bungkus........

Cukup lama juga ibu-ibu berada di Pasar Buah Berastagi. Jika tidak diingatkan, pasti masih ingin melihat-lihat yang lain lagi, padahal masih panjang perjalanan kita. Rombongan meninggalkan Berastagi menuju ke Sidikalang. Kota Sidikalang adalah ibu kota dari Kabupaten Dairi. Disini mayoritas masyarakatnya non muslim. Jadi untuk yang muslim harus selektif memilih tempat makan.

Untuk makan siang, Bapak Ibu Thamrin memilih Rumah Makan Tanjung di Jl. Sisingamangaraja, yang sudah menjadi langganannya. Pemilik rumah makan ini masih kerabat ibu Thamrin. Masakan khas di Restoran ini adalah Ikan Sale yaitu ikan lele asap dengan kuah merah. Selain ikan sale, ada Arsik Ikan Mas dan hidangan lainnya. Sambil menunggu bapak-bapak beristirahat dan ngopi, ibu-ibu naik bentor (becak motor) mau beli durian. Meskipun bukan musimnya, di wilayah Sumatera Utara ini selalu ada durian dan selalu dapat yang enak. Tak perlu khawatir, disini ada Boru Pasaribu yang ahli durian..….

Setelah makan siang, kami menuju Masjid Raya Sidikalang untuk sembahyang  jamak  qoshor Dhuhur dan Ashar. Masjid sedang renovasi membangun Menara. Di kota ini juga sangat terkenal kopinya, Kopi Sidikalang. Salah satu Toko yang mengolah sendiri dan menjual kopi berada disekitar masjid Namanya Toko Tanpak. Kami membeli kopi untuk oleh-oleh.


Perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Samosir yang kira-kira masih 92 km atau dua setengah jam lagi. Jalannya kurang bagus dan sepi. Di sebelah kiri kanan jalan, yang ada hanya lahan yang dibiarkan kosong tidak ditanami apa-apa. Merupakan kebiasaan masyarakat disini anak-anak mudanya merantau, tinggal hanya orang-orang tua saja yang tidak mempu lagi mengolah lahan. Jika diolahpun, akan sering merugi karena harga hasil produknya tidak menentu.

Masih ada satu destinasi wisata yang kami kunjungi sebelum sampai ke Pulau Samosir yaitu Penatapan atau Menara Pandang Tele Samosir, yang merupakan spot terbagus menikmati pemandangan Danau Toba yang eksotis dari ketinggian. Dari Menara pandang ini tampak nun jauh dibawah sana, Danau Toba yang airnya biru kehijauan dengan diselingi gundukan bukit-bukit nan cantik.  Dipinggir danau tampak vila-vila atau mungkin rumah-rumah penduduk. Kami naik ke atas, melihat pemandangan danau dari atas bukit sambil minum kopi sore. Gerimis dan udara sejuk dingin menambah cantik  suasana dan pemandangan di sekitar danau..



Danau Toba menurut para ahli, sejatinya adalah kaldera sebuah gunung purba. Setelah letusan yang hebat berabad silam, lama kelamaan tertutup dan terisi air. Luas seluruhnya adalah 1.130 km2, merupakan danau terluas kedua di dunia setelah Danau Victoria di Afrika. Begitu luasnya, 7 wilayah kabupaten berada disekelilingnya, yaitu Kabupaten Simalungun, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Dairi, Karo dan Samosir.  Kedalamannya sekitar 500 m. Pulau Samosir adalah pulau vulkanik. Merupakan pulau diatas pulau, yang luasnya 630 Km2, berada 1.000 m diatas permukaan laut.


Mungkin teman-teman sama seperti aku yang sudah lama tidak ke Danau Toba dan Pulau Samosir. Saat ini Pulau Samosir sudah merupakan sebuah Kabupaten tersendiri yaitu Kabupaten Samosir dengan ibukota Parurungan.. Tidak seperti yang dulu pernah aku lakukan, menuju ke Pulau Samosir melewati Parapat dan menyeberangi danau hingga mendarat di Tomok. Sekarang tanpa menyeberang, kami sudah berada di Pulau Samosir. 

Perjalanan kami dari Sidikalang menuju Pulau Samosir melewati Parurungan. Di Parurungan inilah daratan Pulau Sumatera hanya dipisahkan oleh satu jembatan yang tidak panjang, hingga seolah-olah menyatu dengan Pulau Samosir. Mobil langsung masuk Pulau Samosir. Aku perhatikan ketika mobil melaui jembatan, apakah benar-benar menyatu? Memang dibawah jembatan hanya terdapat sedikit air. 

Inilah wilayah yang akan ditingkatkan potensi wisatanya oleh pak Jokowi, yaitu dengan membangun infrastruktur jalan maupun Bandara Silangit yang beberapa waktu lalu dibuka. Dengan bandara itu, wisatawan dari luar negeri langsung dapat menikmati indahnya Indonesia. Pemerintah menganggarkan 4 T untuk menjadikan wilayah ini go internasional.


Sepanjang perjalanan di daratan Pulau Samosir, jalan aspal mulus dengan pemandangan rumah-rumah penduduk diselingi dengan pemandangan danau. Jalan utama yang kami lalui ini  berada di sepanjang tepian danau, menghubungkan Pangururan di ujung barat pulau, sampai Tomok di ujung timur pulau. Jika kita lihat peta, berarti mobil kami menyusuri sisi pulau sebelah utara. Perjalanannya sekitar satu setengah jam. Sebelum sampai ke Tomok, mobil berbelok ke kiri, masuk sedikit sampailah kita di Samosir Cottages Resort tempat kami akan menginap malam ini.



Resort berlantai 3 dengan bentuk ngantong (di depan sempit, di dalam luas) ini dibangun mengikuti kontur tanahnya yang menurun. Kamar kami berdua berada di lantai 1. Dari halaman depan naik dulu ke lobi, kemudian menyeberangi semacam jembatan, lalu menuruni anak tangga hingga 3 lantai. Wah lumayan terasa di lututku yang sudah agak bermasalah ini. Coba nanti dilihat, bisakah langsung dari halaman depan melalui tempat parkir terus ke kamar tanpa harus melewati lobi untuk menghindari naik turun tangga. 

Kamar-kamarnya masih baru dan bagus, tetapi rupanya belum siap untuk digunakan tamu. Belum ada pesawat telepon dan belum ada remote TV. Aku coba air panasnya tidak jalan. Bagaimana menghubungi Room Service kalau tidak ada telpon, apakah harus berjalan naik turun ke Resepsionis?  Koper kami pun belum sampai kamar. Sabar……

Tampaknya pihak hotel kewalahan dengan banyaknya tamu yang cek in di week end ini. Setelah beberapa waktu, baru ada Petugas yang datang membawa koper kami. Ternyata ada kesalahan tehnis memasang keran, untuk air panas  yang seharusnya bertanda merah, ini bertanda biru.

Pak Thamrin memilih makan malam di luar hotel untuk mencari tempat makan yang halal. Kami makan di Rumah Makan Muslim di dekat-dekat Hotel yang menyediakan masakan Soto Ayam dan Ayam Geprek
Alhamdulillah. ...... 

bersambung : Perjalanan ke Danau Toba dan Pulau Samosir (2)










Tidak ada komentar:

Posting Komentar