Senin, 02 Desember 2019

Wisata ke Cirebon bersama teman-teman lama BKKBN Pusat



Assalamualaikum ww.

Di hari Sabtu pagi tanggal 23 Nopember 2019, aku berdua mas Suami mengikuti wisata bersama yang diselenggarakan teman-teman Pensiunan Biro Kepegawaian BKKBN Pusat. Beberapa hari sebelumnya Mbak Win, pimpinanku dulu mengajakku untuk ikut serta bergabung. Aku sih seneng-seneng saja mengikuti kegiatan silaturahmi seperti ini, apalagi saat sekarang sudah senggang, tidak ada kegiatan penting.

Di rentang tahun 1973 – 1984 aku bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di BKKBN  Pusat, saat itu kantornya masih di Jl. MT Haryono Cawang. Bahkan termasuk Pegawai yang masuk di awal penerimaan PNS BKKBN. Aku ingat saat itu NIP ku 3800000026. Sempat juga menduduki jabatan eselon IV disana, tetapi kemudian aku kuliah lagi dan memilih untuk berkarier sebagai Notaris - PPAT.

Dari peserta yang mengikuti wisata ini, hanya beberapa orang yang pernah bersama, selebihnya adalah Pegawai baru yang masuk setelah aku meninggalkan BKKBN. Ada Bapak Slamet Tjiptorahardjo, mantan Kepala Biro Kepegawaian, Mbak Winarti  Kepala Bagian ku, kemudian dik Indri Yuliati, dik Etty, dik Nuk, mas Darto, mbak Yayuk dan mbak Zuliana Hamzah. Setelah mereka pensiun dan aku juga menyelesaikan tugas sebagai Notaris - PPAT, persahabatan kembali terjalin. Sebenarnya masih banyak teman-teman BKKBN lainnya yang sering kontak, tetapi rupanya mereka sedang punya acara sendiri.
Kadang sesuatu yang tidak direncanakan terjadi begitu saja. Itu menurut kita manusia, tetapi yang sebenarnya adalah Allah Swt telah merencanakannya. 

Hari Pertama.
Tujuan kita adalah berwisata ke Cirebon. Berangkat dari halaman Kantor BKKBN Pusat di daerah Halim Perdanakusuma jam 8.00 dan mendarat di Tempat Parkir Bus dekat Batik Trusmi jam 11.00. Jadi perjalanan lancar dan santai selama 3 jam. Santai sambil ngantuk dan sambil nyanyi-nyanyi karaoke.


Kami turun  dan teman-teman langsung  menuju  toko Batik Trusmi yang besar dan luas  seperti supermarket itu. Aku berdua mas Suami adalah orang Solo, sudah jenuh dengan batik. Kami ngopi di Kitchen Batik yang berada di depannya Batik Trusmi. Rupanya banyak teman-teman yang membeli beberapa lembar kain batik untuk digunakan di masa depan, maksudnya untuk kain pembungkus jenazah nanti. Tak lama kemudian sudah terdengar Azan Dhuhur, dan kami sembahyang di Mushola Batik Trusmi.

Waktu makan siang tiba, kami kembali ke bus. Rombongan memilih untuk menikmati makan siang di Empal Gentong Haji Apud yang terkenal itu. Nggak ke Cirebon kalau belum ke Haji Apud. Karena hari ini Sabtu, hari week end, wisatawan begitu banyak memenuhi tempat-tempat makan di kota Cirebon. Walaupun penuh, kami malahan mendapat tempat di ruang ber Ac. Baru aku tahu, ternyata ada 2 macam Empal yaitu Empal Gentong yang berkuah santan, dan Empal Asem yang berkuah bening dengan irisan tomat merah seperti sop. Keduanya dengan bahan dasar daging sapi. Aku mencoba Empal asem dan mas Suami Empal Gentong dengan minuman kelapa muda (degan). Berdua suami, membayar sekitar 70 ribu rupiah.

Setelah mengisi perut, rombongan menuju Gua Sunyaragi. Sebenarnya aku ingin mendengar cerita mengenai obyek wisata ini dari Guide yang memang ditugaskan untuk menjelaskannya. Rupanya teman-teman sangat antusias dan sudah langsung berjalan kearah gua. Untuk sampai ke gua, kami harus turun naik karena kontur tanahnya demikian.. Agak khawatir dengan lututku yang bermasalah.




Di pintu masuk tadi tidak disediakan brosur, demikian pula sampai di halaman gua tidak ada Papan Petunjuk mengenai sejarah atau asal usul gua ini, sebagaimana sering aku temui di situs-situs sejarah. Barangkali karena sudah ada Guide yang ditugaskan untuk itu. Sunya artinya sunyi. Ragi maksudnya raga. Tempat ini diperuntukkan bersemedi atau bertapa. Dari Google dapat diketahui bahwa Gua Sunyaragi dibangun oleh Pangeran Kararangen, cicit dari Sunan Gunung Jati. Bangunan eksotis ini menggunakan material dari Batu Karang Laut Selatan dengan gaya Arsitekstur Hindu, Islam, Cina dan Eropa. Karena lokasinya di tengah kota, pastilah banyak pengunjung yang datang setiap harinya. Berbarengan dengan rombongan kami, ada beberapa bus siswa-siswa SMP Cibitung. Sebagai Kota Wisata, Cirebon yang walaupun jaraknya cukup jauh tetapi dengan adanya tol menjadi mudah dijangkau dari Jakarta, akan selalu ramai dengan wisatawan domestik.

Obyek wisata lain yang kami kunjungi adalah Rumah Kerang. Sebenarnya lokasinya masih di dalam kota Cirebon. Tapi karena bus kami bus besar yang tidak bisa melewati jalan yang  kecil, maka harus berputar. Tempat ini memproduksi dan menjual barang-barang yang terbuat dari kerang dan kulit mutiara. Untuk bisa menghasilkan barang-barang cantik seperti ini, memerlukan kreativitas yang tinggi. Hiasan berupa Furniture Meja Kursi, Kap lampu, Kaca Hias, dan pernik-pernik barang-barang kecil untuk pajangan tampak sangat cantik dan menarik. .Kap lampu berbentuk bola terbuat kulit kerang yang dipenuhi bunga mawar dari kerang,  menutupi seluruh permukaan bola. Didalamnya sudah ada bola lampunya. Harganya 1,2 juta rupiah. Ada lagi  pembatas ruangan dari kulit kerang warna merah yang ditata sedemikian rupa Didalamnya juga sudah terdapat lampu. Ketika dinyalakan, kap lampu dan divider itu tampak sangat artistik.




Selain barang-barang besar untuk hiasan dalam rumah yang rata-rata harganya diatas 1 juta rupiah, perhiasan kalung dan anting yang cantik yang harganya tidak mahal juga ada. Seorang teman telah membeli Kalung Mutiara ditengahnya terdapat hiasan kulit kerang yang lucu seharga 230 ribu rupiah. Berbagai furniture dan lampu hias cantik-cantik itu sepertinya tidak cocok untuk dipajang di rumahku yang bergaya minimalis. Jadi lupakan untuk membelinya……......

Rombongan kembali ke bus dan langsung menuju hotel Langen Sari untuk cek in serta istirahat. Hotelnya sederhana tetapi lokasinya sangat strategis. Setelah bongkar tas koper, mandi dan istirahat sejenak, telah terdengar azan magrib untuk wilayah Cirebon. Kamipun berhikmat kepadaNya, bersyukur bahwa hari ini telah menikmati keceriaan dan kegembiraan bersama.

Sesuai kesepakatan rombongan, untuk makan malam kami mencari tempat makan disekitar hotel. Diseberang hotel terdapat tempat makan Sea Food dan ayam/bebek. Berdua kami kesana pesan nasi goreng dan ikan bakar. Ternyata di malam minggu, pengunjung tempat makan disini banyak sekali sehingga pelayannya kewalahan. Teman-teman yang berdatangan kemudian harus menunggu lama untuk bisa menikmati makan malamnya. Masih ada acara lagi rupanya. Di lantai 2 hotel, Panitya sudah memesan musik organ untuk hiburan kita. Jadilah kita berkumpul nyanyi-nyanyi dan berjoget ria hingga jam 11 malam.

Hari kedua.
Hotel kami berada di jalan utama kota Cirebon, dimana setiap hari minggu digunakan untuk Car Free Day. Pagi-pagi sudah ramai masyarakat warga setempat memanfaatkannya untuk olah raga jalan pagi. Penjual buah dan makananpun mendapatkan rejekinya disini. Kebetulan sekarang saatnya musim Mangga Gedong Gincu yang merupakan buah andalan kota Cirebon. Aku beli banyak buat oleh-oleh, per keg 20.000. Ada yang menarik selain mangga, yaitu camilan berupa Baby Crab dengan bumbu berbagai rasa yang sudah dipack rapi.  Rasa keju, rasa ayam bakar, rasa pedas dan lain-lain. Kayaknya enak nih buat oleh-oleh gadis-gadis kecilku…..bungkus .....

Kami sarapan di hotel, dan sesuai rencana jam 9.00 meninggalkan hotel menuju Kota Kuningan. Kuningan berjarak sekitar 30 km dari Cirebon. Ada satu tempat bersejarah di Kuningan, yaitu di Linggar Jati. Kami menuju lokasi ini dimana terdapat gedung tempat berlangsungnya perundingan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Belanda. Pemerintah Indonesia diwakili oleh Perdana Menteri Sutan Syahrir, dan Belanda diwakili oleh Tim yang disebut Komisi Jendral dipimpin oleh Wim Schermerhorn dengan anggota H.J. Van Mook dan Lord Killearn, sedangkan Ingrris bertindak sebagai Mediator. Hasil perundiangan ini antara lain Pengakuan Belanda secara de facto atas wilayah Republik Indonesia yaitu Jawa, Sumatera dan Madura. Namun dalam perkembangannya kemudian, Belanda melanggar perjanjian sehingga meletus Agresi Militer I pada 21 Juli 1947.  Ruangan berikut meja kursi yang digunakan dalam perundingan masih tertata sebagaimana  dahulu adanya. Kami berfoto ria di lokasi bersejarah ini.




Semakin siang semakin banyak tamu yang datang, menjadikan ruangan penuh pengunjung. Aku teringat seorang Klien yang ketika tanda tangan di kantorku dulu, berpesan kepadaku untuk mampir atau memberi kabar jika suatu ketika sampai ke Linggarjati. Rumahnya hanya berjarak 4 rumah dengan Bangunan bersejarah itu. Akupun menelponnya. Namanya ibu Sri, isteri dari Pak Amar. Kami ketemu di depan Gedung dan kemudian aku diajak mampir kerumahnya. Karena waktunya sangat terbatas, sekedar silaturahmi hanya sebentar. Pulangnya malahan mendapat tentengan oleh-oleh. 

Dari Linggarjati, rombongan bus menuju obyek wisata Cibulan, yang masih di wilayah Kabupaten Kuningan. Cibulan merupakan kolam renang, dimana kita bisa berenang atau berendam bersama Ikan-ikan yang dikeramatkan, namanya ikan Dewa. Ikan-ikan besar itu tidak boleh dipancing. Begitu banyaknya pengunjung, sehingga kolam renang sudah bagaikan cendol ……..


Kami hanya melihat-lihat berkeliling lokasi saja. Selain kolam renang, juga tersedia terapi ikan. Kaki kita direndam di kolam kecil dimana banyak ikan kecil-kecil berwarna hitam akan menggigit atau membersihkan kotoran pada kaki hingga bersih. Kalau sudah bersih, ikan itu akan menjauh, Untuk terapi ikan ini, diminta membayar 5 ribu rupiah.

Ketika azan berkumandang, bersama teman-teman kami sholat di Mushola. Jam 13.00 bus mulai meninggalkan Cibulan. Banyak teman-teman mborong oleh-oleh disini. Harganya murah-murah, khususnya hasil bumi setempat seperti mangga gedong gincu, sukun dan petai. Mangga Gedong Gincu yang di Cirebon harganya 20 ribu rupiah, disini setengahnya.

Bus sekali lagi berhenti di toko oleh-oleh Teh Diah, untuk memberi kesempatan bagi yang belum membeli oleh-oleh karena kami akan langsung kambali ke Jakarta setelah makan siang. Makan siang kami di Rumah Makan Syabilla Jl. Raya Kondangsari Beber Km 14 Cirebon dengan hidangan Sop Ayam, Aneka Lauk dan Sayur, dengan cara mengambil sendiri.

Terima kasih kepada Bpk Slamet Tjiptorahardjo, yang telah mengajak kita wisata bersama. Saat ini beliau telah 79 tahun, semoga senantiasa sehat dan gembira. Terima kasih juga kepada Panitya dan tentunya tak lupa kepada pak Sopir Bus dan asistennya.

Selamat berpisah....... in shaa allah jumpa lagi di kesempatan wisata berikutnya.


Jakarta, 30 Nopember 2019.
Wassalamualaikum ww.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar