Selasa, 14 Desember 2021

Bali setelah Pandemi (1)

 


     Assalamualaikum ww

Secara tak direncanakan, ternyata aku akan mengunjungi Bali lagi. Mas Suami dan anakku Dandy sedang berada di Bali untuk suatu urusan yang akan selesai dalam waktu 3 hari. Dandy akan balik ke Jakarta, ganti aku kesana menemani mas Suami sekaligus refreshing setelah berkutat “dirumah saja” selama 2 tahun Pandemi. Inilah untuk pertama kalinya aku terbang dengan pesawat setelah lama tidak menginjakkan kaki di Bandara.

Hari ini Kamis tanggal 25 Nopember 2021 aku sudah di Bandara Soekarno Hatta Terminal 3. Begitu panjangnya jarak dari counter cek-in hingga Gate 21, aku berjalan sambil ngos-ngosan. Tiba di Bandara Ngurah Rai disambut dengan hujan deras.Yah, ini sudah bulan ber-ber, seluruh wilayah Indonesia sudah berada di musim hujan. Mas Suami menjemput bersama temannya dan kami menuju hotel yang sudah ditempati semula di Kuta.

Bali sedang menggeliat. Didepan hotel terlihat 2 bus besar dari kota Malang menurunkan Bapak-ibu dan anak-anak sekampung yang ceria telah berada di Bali. Wisatawan domestik sudah mulai berdatangan seiring dengan menurunnya jumlah penderita Covid 19 di seluruh tanah air. Semoga Pandemi benar-benar berakhir dan pariwisata kembali bergairah.

Hari Pertama: Karangasem

Pagi yang cerah, matahari sudah naik ketika kami keluar hotel menuju Karangasem, sebuah kota yang berjarak 86 km arah timur dari Denpasar yang ditempuh kira-kira dalam 2,5 jam santai. Mobil dikomandani oleh Pak Komang, teman dari temannya mas Suami. Sehari-hari Pak Komang bukan seorang Driver kendaraan wisata, hanya selama 4 hari kedepan ini saja menemani kami keluar kota.  Memasuki kota Karangasem, sekitar jam 10 an. Suasana kota bersih, tampak biasa-biasa saja sebagaimana kota-kota kecil di Pulau Jawa. Kami mulai mencari-cari tempat sarapan dan ngopi disepanjang jalan karena tadi pagi di hotel belum sempat sarapan. Di daerah Candidasa, Pak Komang meminggirkan mobilnya disebuah tempat makan, namanya ACK yang menjual ayam goreng semacam KFC.  Tempat makan yang kelihatannya cukup bersih. Sebelum kami sarapan, pak Komang membelikan secangkir kopi untuk Mas Suami di Indomaret dekatnya.

Beberapa tahun terakhir, setelah mas Suami pensiun, kopi merupakan menu wajib sehari 2 kali. Jika terlewat, tubuhnya akan bereaksi seperti ketagihan, lemah lesu tak bersemangat. Dan setelah minum kopi, jadi segar. Aakkkhhhh .....mantap...

Tujuan pertamaku adalah Taman Air Tirta Gangga, masih sekitar 20 menit dari tempat kami sarapan ini. Karena jalanan sepi tak banyak kendaraan di dalam kota, mobil lancar menuju Tirta Gangga. Di pintu masuk, kami membeli tiket seharga Rp 25 ribu per orang. Disekitarnya tampak banyak warung kecil berjualan pakan ikan dalam plastik seharga Rp. 5 ribu, aku membeli 2 kantong buat persediaan.


Wouw........ tampak didepan mataku Taman Air yang cantik dengan ikan-ikan Koi besar berwarna kuning berenang-renang dengan indahnya. Di kolam itu kita bisa berjalan tanpa menyentuh air, melewati pijakan-pijakan yang tertata manis diselingi dengan patung-patung  yang berdiri di dekat pijakan. Aku tak sabar lagi mau melihat ikan-ikan itu lebih dekat. Segera aku sebarkan pakan dan berkecipaklah Koi-koi yang besar-besar berwarna kuning mulus mendekatiku hingga persis dipinggir pijakan. Momen yang bagus untuk tidak dilewatkan begitu saja. Bukan hanya aku yang histeris dengan suasana ini, disebelah sana ada rombongan ibu-ibu sedang berganti pakaian mengenakan seragam baju terusan warna putih melambai-lambai, siap untuk bergaya berfoto ria. Asyiik...... pasti sudah berniat bulat ke Taman Tirta Gangga untuk berfoto dengan berbagai gaya.

Aku memperhatikan taman ini lebih saksama. Taman dengan luas 1,2 hektar ini terbagi menjadi  2 buah kolam yang airnya jernih dan sejuk, dengan beberapa pancuran berupa Patung berukir yang mengeluarkan air dari mulutnya. Air dalam kolam berasal dari mata air, dan merupakan air suci yang digunakan untuk sembahyang umat Hindu di Bali.


Disekeliling kolam terdapat rumput hijau dengan tanaman-tanaman tertata manis. Beberapa pohon kamboja dibelakang sana juga tampak cantik berbunga kuning dengan gelantungan tanaman Tanduk Rusa jenis Platycerium. Di kolam sebelah kiri, tidak terdapat pijakan seperti yang ada dikolam sebelah kanan. Ikan-ikannya juga belum besar. Dipinggirnya ini tertambat  2 buah perahu berwarna merah putih, yang bisa disewa mengelilingi kolam. Kemudian diujung utara terdapat jembatan dengan undakan tangga, semuanya dibuat dari batu  dengan ukir-ukiran cantik. Jembatan batu ini juga merupakan spot foto bagus bagi pengunjung.

Taman Tirta Gangga merupakan peninggalan Kerajaan Karangasem, sebuah Kerajaan di Bali bagian timur yang berdiri di abad ke 17. Kerajaan Karangasem dimasa jayanya meliputi wilayah Pulau Lombok. Pengunjung lain mulai berdatangan dan sama dengan yang aku rasakan,  gembira dan ceria melihat ikan-ikan berseliweran dikolam.

Kami meninggalkan Taman Tirta Gangga menuju Pura Penataran Agung Lempuyang. Pura ini terletak di ketinggian Gunung Lempuyang, 1.175 meter diatas permukaan laut. Tiba di lapangan parkir, sudah menunggu beberapa Shuttle Bus yang akan mengantar para pengunjung naik ke Pura. Saat itu Shuttle Bus hanya berisi kami berdua dan sepasang turis mancanegara. Harga tiket untuk naik bus ini adalah Rp. 50 ribu. Pemandangan sekitar jalan diwarnai kehijauan kebun-kebun penduduk disekitarnya.

Bus terus bergerak di jalanan yang berkelok-kelok dan menanjak, rasanya sekitar 45 derajat. Tibalah di suatu lokasi, penumpang turun. Kami diminta mengenakan Sarung Bali yang telah disediakan dengan membayar Rp. 10.000. Juga ditawarkan bagi yang berminat, menyewa Kain dan Baju Kebaya Bali berwarna putih untuk Ibu, dan untuk Bapak Kain dan Baju Hem warna putih.

Dari sini untuk mencapai tujuan ternyata masih harus berjalan kaki di jalanan yang menanjak. Untunglah banyak Ojek Motor yang menawarkan diri mengantar sampai ke Pura. Aku memilih untuk membonceng salah satu Ojek yang pengemudinya wanita dengan membayar Rp. 10 ribu pulang pergi. Tak berapa lama, sampailah di suatu tempat luas seperti lapangan.

Menoleh ke sebelah kanan, tampak Bangunan dari batu yang didominasi undakan tangga menuju puncak, dimana Pura Penataran Agung Lempuyang berada. Ada 3 undakan tangga yang pada akhirnya sampai pada 3 pintu. Dari bawah tampak pintu yang tengah lebih besar dari 2 di pinggir. Apabila kita akan memasuki Pura, maka harus naik tangga yang cukup panjang dan tinggi itu. Rasanya aku tidak mampu naik sampai keatas. Aku masih sayang dengan lututku. Dokter melarang untuk aktifitas naik tangga dan bersepatu hak.


Menoleh ke sebelah kiri, tampak sebuah Gapura Bali yang digunakan sebagai spot foto. Oh.... ini …. lokasi foto yang pernah aku lihat di Instagram. Sebuah foto yang sangat bagus, apa lagi jika langit bersih tidak berawan, akan tampak Gunung Agung yang gagah berada persis dihadapan kita. Pantaslah sebutan Gates of Heaven untuk Gapura ini.



Kami berdua menunggu giliran berfoto di Gapura itu. Sebelum kami, ada wisatawan yang datang sekeluarga, semuanya berbaju putih.  Mungkin mereka menyewa baju di pintu depan tadi. Satu per satu bergantian dan akhirnya sekeluarga berfoto bersama. Mas fotographer menggunakan Hp Pengunjung yang akan difoto, duduk agak jauh dari Gapura sambil memberikan aba-aba. Setelah mereka selesai, giliran kami berdua diambil foto di Gapura itu.  Aku melihat kebawah, ternyata ada undakan tangga turun menuju pelataran di bawah sana. Seperti di tempat peribadatan umat Hindu lainnya, pelataran dibawah itu adalah Zona luar. Sedangkan tempat kami berada ini adalah Zona tengah. Pura Penataran Agung Lempuyang berada di tingkat paling atas atau zona suci. Struktur demikian disebut Trimandala.




Menurut informasi, Pura Penataran Agung Lempuyang merupakan bagian dari Kompleks Pura di Gunung Lempuyang, dimana dipuncak Gunung Lempuyang terdapat sebuah Pura tertua yang sangat dihormati. Itulah Pura Lempuyang Luhur, salah  satu dari 6 Tempat Sembahyang  paling  suci di Bali. Setiap orang Bali setidaknya  dalam hidupnya bersembahyang disana.

Setelah puas berkeliling dan mengambil foto-foto, akhirnya aku kembali kebawah dengan membonceng Ojek yang aku naiki sebelumnya. Sambil duduk diboncengan motor, aku sempat sedikit mewawancarai Mbak Ojek. Dimasa Pandemi ini, sehari dia bisa menarik 3 atau 4 kali, artinya mendapat penghasilan Rp.30 ribu atau Rp.40 ribu.

Lanjut naik Shuttle Bus hingga tiba di pelataran parkir mobil, aku melihat Pak Komang sedang ngopi di sebuah Warung yang cukup bagus, namanya Warung Ibu Ketut. Mas Suami segera menyusul dan memesan secangkir Kopi Bali. Sambil ngopi kami juga pesan Nasi Goreng, cukup 1 porsi buat berdua. Kami sempat ngobrol sebentar dengan ibu Ketut yang berbicara dengan dialek Bali yang medok. Katanya :

"Saya juga ingin seperti Bapak Ibu, pergi jalan-jalan berdua."

"Iya bu, ibu enak, nggak usah jauh-jauh, sudah tinggal di Bali”

"Kalau saya pergi jalan-jalan, siapa yang ngurus Warung?

“Warung ini satu-satunya penghidupan saya"

Begitulah. Mbak Ojek dan Ibu Ketut mengingatkan aku, untuk selalu bersyukur atas segala karuniaNya ........ 

Matahari sudah mulai bergerak kearah barat. Tujuan ketiga di Karangasem hari ini adalah mengunjungi Taman Ujung Soekasada. Taman ini juga merupakan Taman Air peninggalan Kerajaan Karangasem, yang memiliki arsitektur indah  dan memiliki karakter tersendiri.

Menuju lokasi ini, kami melewati jalan-jalan kecil yang akhirnya sampai di tepi pantai.  Di gerbang masuk membeli tiket seharga Rp.15 ribu. Menuju Taman Air, kami  melewati jalan masuk yang dinaungi bunga bougenville warna merah pink.  Beberapa saat kemudian, tampaklah kolam air luas, ditengahnya terdapat bangunan yang dahulu digunakan sebagai Tempat Peristirahatan Raja. Dari pinggir kolam, untuk menuju Bangunan ditengah, dihubungkan oleh 2 jembatan batu berukir yang panjang.



Bangunan cantik ini dibuat oleh Arsitek Belanda, China dan Bali di tahun 1901 atau 120 tahun yang lalu. Walau sudah berusia tua, namun tetap terawat baik. Dibangun pada masa pemerintahan Raja Karangasem  I Gusti Gde Jelantik, dilanjutkan putranya yaitu I Gusti Bagus Jelantik yang bergelar Anak Agung Agung Anglurah Ktut Karangasem, yang dikenal sangat mencintai budayanya. Di Bangunan tengah atau Tempat Peristirahatan Raja tersebut terdapat foto beliau berdua.


Keluar dari Bangunan dan jembatan, kami jalan-jalan ke belakang. Di bagian samping agak ke belakang kolam, terdapat undakan tangga naik yang cukup tinggi yang merupakan jalan menuju sebuah Bangunan lain yang juga sangat cantik. Sebuah Bangunan dengan pilar tanpa atap, yang jika kita berada disana akan melihat keindahan panorama Taman Air dibawahnya, panorama Laut di Pantai Ujung  dan pemandangan Gunung Bisbis. Lokasi ini sering digunakan untuk Prewed, baik pasangan Bali maupun Bule. Mengingat untuk kesana harus menaiki lebih kurang 100 anak tangga, aku tidak berani. Foto bangunan dimaksud aku ambilkan dari Google.





Hari kedua : Ubud.

Di Tahun 2021 ini, Ubud dinisbahkan sebagai Kota Wisata Terbaik nomor 4 di dunia oleh sebuah Situs Wisata Travel and  Leisure, yang ditetapkan berdasarkan jajak pendapat terhadap Pembaca Situs yang pernah melakukan perjalanan ke berbagai kota di dunia. Nah, kita patut bangga dong.

Jarak tempuh dari Kuta, dimana aku menginap menuju Ubud adalah 35 km, yang ditempuh dalam waktu sejam. Ubud merupakan kota internasional, penduduknya berasal dari berbagai negara didunia. Kota ini memiliki sejarah panjang dibidang seni dan budaya karena disinilah tinggal dan berkarya para Maestro Seni Lukis. Di Ubud juga bertebaran Musium Lukisan yang untuk mengunjunginya tak akan cukup waktu sehari

Kali ini aku menuju Tegalalang, yang memiliki pemandangan sawah terasering, bertingkat-tingkat, cantik dipandang dari atas. Sebelum Pandemi aku telah mengunjungi tempat ini, namun karena begitu banyaknya pengunjung pada saat itu, mobil tidak bisa parkir. Memang tidak ada tempat parkir khusus, mobil-mobil hanya berderet disisi jalan. Hari ini berbeda. Pandemi telah merubah Tegalalang menjadi sepi, padahal hari ini adalah hari week end.  Aku, mas Suami dan pak Komang bisa dengan leluasa duduk manis ngopi di sebuah Cafe sambil menikmati indahnya deretan persawahan yang  bertingkat dengan ditemani camilan Spring roll dan Pisang Keju. Bahkan ngobrol santai dengan Bli Pramusaji di Cafe ini tentang kondisi selama Pandemi. Menurut ceritanya, sebelum Pandemi, omset Cafe di hari Sabtu atau Minggu mencapai Rp. 15 juta per hari. 

"Pasti sewa tempatnya mahal ya" kataku.

"Lumayan bu. Rp. 750 juta utk 5 tahun. Itu hanya tempat saja. Bude saya merenovasi sendiri dan menambah satu tingkat keatas"

“Dari 5 tahun sewa, yang 2 tahun tidak menghasilkan, bahkan merumahkan banyak karyawan”

“Semoga mulai  hari ini Pandemi secara berangsur-angsur menghilang dan Bali  ramai kembali  seperti biasa” kataku sebelum meninggalkan Café.



Tujuan selanjutnya adalah Campuhan Ridge Walk, sebuah lokasi untuk jalan-jalan sehat yang berada di sepanjang puncak perbukitan Campuhan, dimana sekelilingnya hijau indah. Tempat ini sangat cocok untuk melihat Sunrise atau Sunset. Lokasi Campuhan terkenal setelah digunakan untuk shooting filmnya Julia Roberts “Eat, Pray, Love” Dimanakah tempat itu?

Mobil berputar-putar mencari lokasi sebagaimana ditunjukkan oleh "waze", aplikasi penunjuk jalan yang aku buka dari hp. Pak Komang bukan Driver Wisata, jadi masih belum paham daerah Ubud. Sampai 3 kali kami melalui jalan yang sama nggak ketemu juga. Akhirnya baru ketemu setelah mendapat informasi lokasi jalan masuknya. Mobil harus parkir disebuah sekolah, dari situ menuruni jalan terjal yang tidak kelihatan belokannya. Melihat situasi jalan yang harus ditempuh dan hujan yang semula rintik-rintik mulai bertambah deras, aku batalkan mengunjungi Campuhan Ridge Walk. Barangkali lain waktu bisa diagendakan lagi.

Mobil menuju ke arah Musium Antonio Blanco. Aku juga sudah kesini pada kunjungan ke Ubud sebelumnya, tapi waktu itu terlambat karena sudah kesorean, musium sudah mau tutup. Sebenarnya Musium ini bagus sekali. Mungkin selama Pandemi tidak ada pemasukan sehingga tampak kurang terawat. Harga tiket masuknya Rp. 35 ribu. Pada saat membeli tiket, hujan bertambah deras, dan kami diberi pinjam payung. 

Memasuki bangunan utama, aku hanya berdua mas Suami. Lampu didalam remang-remang, suasananya menjadi serem. Setelah berfoto segera aku keluar, berteduh di teras. Diluar masih hujan. Sambil berteduh aku melihat pemandangan dihalaman, tampak taman yang tertata indah. Ditengah taman ada pancuran dengan halaman rumput yang diberi aksen batu-batu pijakan. Inspirasi  buat yang punya halaman rumput.


Hujan menyulitkan aku mengambil foto. Tapi jangan kuatir. Ini foto kami sebelum Pandemi ketika ke musium ini sudah hampir tutup. 




Meninggalkan Musium, kami akan makan siang di Restoran Bebek Tepi Sawah. Siang itu  banyak sekali tamunya. Parkiran depan sudah nggak muat mobil, hingga diarahkan ke tempat parkir di belakang lewat sebuah gang yang berjarak beberapa meter setelah pintu utama. Restorannya sangat luas. Ditengahnya terdapat sawah kira-kira 1.500 m yang menjadi ikonnya, dimana padi sudah mulai menguning.  Saung-saung tempat makan didesain berada disekeliling sawah. Menarik perhatianku, di pohon-pohon  yang tumbuh dekat setiap saung menggelantung bunga Anggrek Bulan atau Anggrek Dendrobium, mempercantik dan membuat nyaman suasana hati pengunjung.



Hujan rintik-rintik membuat betah berlama-lama duduk disini. Mas suami ngopi dulu. Kemudian memesan Spagheti Carbonara. Beliau nggak makan bebek karena punya pengalaman trauma masa kecil. Ketika masih kecil tinggal di Pleihari Kalimantan Selatan, memelihara banyak bebek. Suatu ketika saat memotong bebek, meskipun sudah hampir putus lehernya, bebek itu terbang tinggi dan akhirnya jatuh mati. Sejak itu mas Suami tidak sanggup makan bebek. Pak Komang memesan soto, dan aku pastinya pesan Bebek Krispi, karena di Jakarta pernah makan menu ini enak sekali.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar