Kamis, 27 Oktober 2022

BAB VIII. MENIKMATI MASA PENSIUN



Jika orang membicarakan mengenai masa tua, kadang aku jadi ikut gamang. Apa yang akan terjadi padaku nanti. Bayangan bahwa tua itu identik dengan sakit dan kursi roda atau tubuh yang bongkok, begitu sering berseliweran di benakku. Padahal, sebenarnya tua adalah anugerah. 


Itulah yang kemudian selalu aku masukkan dalam pikiranku. Untuk menyambut anugerah itu, perlu kita mempersiapkan diri. Persiapan mental dan fisik. Untuk persiapan mental, menurutku penting bahwa aku harus berbahagia. Bahagia itu berawal dari rasa syukur. Dengan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, merasakan bahwa apa yang telah dikaruniakan kepada aku dan keluargaku sudah begitu banyak. Alhamdulillah…

Agar ke depan sudah tidak lagi memikirkan sesuatu yang berat, maka selagi pikiran masih jernih, apa yang ingin disampaikan kepada anak-anak dan keluarga harus segera dilakukan. Sebagaimana nasehat Lukman kepada anaknya, dan pertanyaan Nabi Ayyub kepada keluarganya yang dicontohkan dalam kitab suci Al Quran, pesanku sudah aku sampaikan di saat ulang tahunku yang ke-64. Aku buat dalam bentuk surat kepada masing-masing anak-anakku.

Pesan itu juga aku tulis di Blogku:

https://www.wenidarmono.com/2017/02/pesan-buat-anak-anakku.html dan

https://www.wenidarmono.com/2017/12/kenangan-perjalanan-umroh-dan-tour-ke.html

Setelah pesan sudah aku sampaikan, aku merasa lega, tinggal berserah diri, kapan saja Allah SWT memanggilku, itulah saat yang paling tepat menurut kehendakNya.

Persiapan fisik juga aku lakukan. Berdasarkan ilmu kesehatan, lansia tetap wajib menjaga kebugaran tubuh untuk bisa lebih menikmati hidup yang berkualitas.

Sejak sebelum pandemi Covid-19, di tahun 2020 aku diajak Ibu Ace Dilon tetangga depan rumah, mengikuti olah raga senam bersama Grup Senam Lansia di rumah Ibu Naryo, Jalan Guru Alip, Duren Tiga. Grup ini hanya beranggota delapan orang, tetapi guyub rukun dan saling menyayangi, saling menghormati serta sangat kompak.

Disini aku merasa punya chemistry yang sama sehingga aku merasa nyaman bersaudara dengan para anggotanya. Kegiatan senam kadang diselingi dengan jalan-jalan refreshing keluar, atau berkunjung ke suatu lokasi yang menyenangkan.





Di usiaku saat sekarang ini, secara umum aku merasa sehat. Ada beberapa hal yang perlu dijaga, karena ada pengapuran atau osteoartritis di kedua lututku. Ini sudah terasa sejak tahun 2015 dan segera berobat ke klinik orthopedi Dr. Kiki Novito di RS Medistra.

Menurut dokter, osteoartritis adalah penyakit umum yang diderita para lansia. Barangkali, karena dulu selagi muda aku salah dalam berkegiatan yang mengakibatkan kondisi lutut terforsir.

Misalnya saja, saat itu sehari-hari ke kantor selalu mengenakan hak tinggi, biasanya 7 cm. Selain itu, boleh jadi karena kurang waktu untuk berolahraga, sehari-hari di rumah naik turun tangga sambil lari-lari kecil. Sering pula aku nyopir bawa mobil sendiri, dan itu bukan mobil matic.

Dokter Kiki juga menyarankan untuk cek kepadatan tulang. Hasilnya, ternyata sudah ada gejala osteoporosis. Bahkan di tulang belakang ada dua atau tiga ruas yang memendek. Pantas aku tidak tahan duduk terlalu lama, pinggang terasa pegal. Rasa pegal itu akan menjadi lebih nyaman dengan menaruh bantal buat sandaran. Tinggi  badanku juga berkurang, dulu 155 cm sekarang tinggal 150 cm. 

Untuk osteoporosis aku minta kepada Dr. Kiki perawatan seperti yang dilakukan Mbak Sam di Solo, yaitu infus Aclasta setahun sekali, ketimbang aku setiap hari harus mengkonsumsi tablet yang gede-gede itu. Dokter memperbolehkan, dengan syarat cek ke laboratorium lebih dulu, apakah ginjalku cukup kuat.

Aku rasa meskipun biaya infus Aclasta cukup mahal, sekitar Rp 6 juta, tapi hanya sekali setahun. Sedangkan harga obat osteoporosis juga tidak murah, karena  harus rutin setiap hari.  Setelah 3 tahun berturut-turut infus Aclasta, Dr. Kiki menghentikannya. Menurut beliau dengan Aclasta tulang sudah keras, tidak khawatir patah.

Apa saja yang aku kerjakan sehari-hari untuk mengisi waktu masa pensiun?

Meskipun namanya pensiun, aku merasa hari-hariku selalu beraktivitas walaupun tidak sibuk. Aktivitas yang berbeda dengan saat masih bekerja, yaitu berkegiatan tanpa target. Selain ikut grup senam lansia, aku juga ikut pengajian, yang di saat pandemi Covid-19 dibuat on-line, maksudnya seminggu sekali mendapat tugas membaca 1 juz Al Quran berikut artinya. Karena 30 anggota, maka setiap Jumat akan khatam 30 juz.

Kegiatan lainnya adalah jalan-jalan bersama adik-adikku grup Golden Family (GF), yang terdiri dari: Kami berdua, Dik Gun, Dik Pri dan isterinya Dik Astrid, serta Dik Dib (dan isterinya almarhumah Dik Nancy). Kami pernah ke Pemandian Air Panas Guci, ke Lampung, ke Bandung (Lembang, Ciwidey dan Punclut), ke Solo dan wisata di sekitarnya. Kadang kami hanya ngobrol santai di Rumah Buntu, atau di rumah salah satu anggota GF.





Ada tiga orang teman Mas Suami yang isteri-isterinya adalah juga temanku. Ibu Ida Novian, Ibu Ida Thamrin dan Ibu Nenden Arie. Bersama mereka kami merencanakan wisata ke berbagai tujuan. Jadilah  kami Empat Sekawan lansia jalan-jalan santai.






Sebagai eyang yang waktunya sudah senggang, kehadiran cucu-cucu merupakan waktu yang dinantikan. Di akhir pekan kadang kami berdua mengajak jalan ketiga cucu kami yang sudah remaja.

Mereka hari-hari sudah sibuk sekolah atau berkegiatan lain sehingga tidak banyak waktu yang tersisa selain hari libur. Kadang hari Sabtu dan Minggu pun punya kegiatan lain dari sekolah. Inilah kesempatan jalan-jalan ke Gramedia di mal dan jajan sesuai kesukaan mereka.

Cucu dari Mas Dandy, Aisha Chayara Putri Antares, saat ini sudah kelas 2 di SMA Al Azhar, Pejaten. Aisha kecil boboknya tidak digendong. Cukup diletakkan di troly kemudian didorong pelan-pelan kesana kemari mengelilingi kamar atau di sekitar rumah saja langsung bobok.


 



Waktu masih kecil kadang dititip di rumah, kalau dijemput nggak mau pulang. Waktu sudah lebih besar, beda lagi. Kalau nginep di rumah Yangkung-Yangti, malam-malam nangis minta dijemput.

Cucu dari Adik Hesty yang pertama Lila, nama lengkapnya Khalila Zahra Khairunnisa. Ini yang paling sering, dan cukup lama berinteraksi dengan Yangkung-Yangti. Ketika kecil sering banget diajak Yangti kemana Yangti pergi. Ke Supermarket, ke Bank, bahkan pernah ikut latihan Line Dance dengan Ibu-ibu Dharma Wanita. 




 

Lila tidak suka ulang tahun karena akan bertambah umurnya. Maunya tetap berumur 2 tahun terus....... biar tetap jadi anak kecil......

Suatu ketika ikut Yangti belanja ke supermarket. Di  supermarket ada Ibu yang gemes melihat Lila.

Katanya: "Aduh cantiknya"...

"Jelek aja," jawab Lila sambil judes. Wajahnya seperti nggak suka.

Setelah berkeliling, eh, ketemu lagi dengan Ibu tadi.

"Halo Jelek,"

Aku ketawa melihat Lila salah tingkah...

Sekarang Lila sudah kelas 3 di SMP Yasporbi.





Adiknya Lila, si bontot Dedek Allura Faranisa, sekarang kelas 5 di SD Taman Kreativitas Anak Indonesia, di Jagakarsa. Saat usia 3 tahun, ada kebiasaannya yang lucu. Kalau Dedek Allura bersama Ayah Bundanya berkunjung ke rumah Yangkung-Yangti, yang masuk ke rumah duluan Kakak Lila. Nah, ini yang jadi masalah. Maunya harus Dedek Allura yang duluan masuk rumah.

"Ulang... ulang..." begitu katanya sambil nangis. Jadilah Kakak Lila keluar rumah lagi, Dedek yang masuk pertama...

Itulah cerita mengenai cucu-cucu ketika mereka masih kecil. Kenangan manis tak terlupakan. Sekarang mereka sudah remaja, sibuk dengan kegiatan masing-masing.




Dulu semasa Mas Suami masih aktif, kita para isteri berada di organisasi Dharma Wanita. Entah mengapa Mas Suami menyebutnya Dharma Wedok... Untuk bisa tetap menyambung tali silaturahmi, sekarang kami buat grup arisan. Mereka lah teman-temanku yang tetap bertahan hingga kami lansia.

Itupun satu demi satu berkurang jumlahnya, beberapa sudah mendahuluiku.





Sebenarnya hobiku adalah berkebun dan travelling. Berkebun mudah dilakukan, bisa di rumah dan di mana saja. Sedangkan travelling perlu kesempatan dan biaya.

Yuk aku ceritakan dua hal ini.

 


1.   Hobi berkebun (dan lain-lain)

 

AKU suka Anggrek. Aktivitas ini mendominasi hari-hariku. Heran juga, bisa begitu betah berlama-lama mengurus tanaman ini. Aku juga suka mencoba cara baru sebagaimana dicontohkan di Komunitas Anggrek di Facebook.

Merawat anggrek ternyata bukan sesuatu yang mudah. Bagaimana jatuh bangun mencintai anggrek, sudah aku tulis di Blogku: https://www.wenidarmono.com/2020/07/berbagi-pengalaman-merawat-anggrek.html




Yang namanya hobi, pastilah perlu pengorbanan, baik waktu maupun dana. Aku anggap ini hiburanku di masa pensiun.

Aku juga suka menanam tanaman yang lain. Dulu ketika pertama kali punya kebon, aku menanam apa saja. Seringkali biji dari buah enak yang dibeli dari supermarket aku kumpulkan dan tanam di polibag. Berharap suatu ketika Kebun ku benar-benar penuh dengan berbagai tanaman buah, termasuk jenis langka yang jarang ada. Memang pada akhirnya berbagai pohon buah ada di Kebon, termasuk mangga sengir, jenis mangga yang hanya ada di  sekitar Solo.

Ketika tiba-tiba Kebon harus dirapikan untuk digunakan sebagai Sekolah Alam Bekasi, banyak tanaman buah yang masih kecil harus disingkirkan. Tanaman mangga sengir aku pindahkan di sekitar rumah Yu Pi. Tanaman pinang, duwet dan nangka aku bawa ke Rumah Buntu, ditanam di dekat jembatan Jalan Duren Tiga Buntu. Sekarang pepohonan itu sudah menjadi peneduh jalan.

Di Rumah Buntu, aku menanam Tabulampot, yaitu tanaman buah yang proses budidayanya dalam pot atau menggunakan media yang terbatas. Potnya berupa  ember plastik berdiameter 60-70 cm. Beberapa Tabulampot yang sudah sering aku nikmati hasilnya adalah jambu air, kedondong dan jeruk nipis.

Di halaman rumah depan dan belakang juga ada pohon mangga, rambutan dan klengkeng. Ketiga pohon itu sudah berkali-kali berbuah. Yang belum berhasil berbuah dan membuatku penasaran adalah pohon sukun dan alpukat. Semoga yang ini pun kelak bisa berbuah.

Sebenarnya perhatianku tidak hanya pada flora-fauna saja, tetapi lebih luas lagi, perhatian dan cinta kepada alam. Ketertarikanku kepada alam sangat kuat, hingga aku sempat mendirikan Sekolah Alam Bekasi.

Anehnya, sampai dengan mendengarkan tausiyah kajian Islam pun, aku lebih tertarik pada topik yang tidak biasa. Aku sangat suka mendengarkan kajiannya Pak Agus Mustofa yang mengupas Kitab Suci Al Quran dari sudut pandang/kaca mata science.

Topik yang tak pernah aku dengar dari para dai lain. Dari dulu aku sudah menjadi pembaca setia buku-bukunya, hingga mengoleksinya. Apalagi kini beliau berdakwah melalui Youtube, setiap hari aku bisa mendengarkan tausiyahnya. Inilah yang membuatku semakin mencintai Islam.

Saat berada di lingkungan Sekolah Alam, aku baru mengetahui mengenai teori Multiple Intelligences. Sebuah teori kecerdasan yang dikemukakan oleh Howard Gardner, seorang psikolog dari Harvard University.

Gardner membagi 9 tipe kecerdasan manusia, antara lain kecerdasan verbal lingustik (cerdas kata), kecerdasan logis-matematis (cerdas angka), kecerdasan visual-spasial (cerdas gambar-warna), kecerdasan musikal (cerdas musik-lagu), kecerdasan kinestetik (cerdas gerak), kecerdasan interpersonal (cerdas sosial), kecerdasan intrapersonal (cerdas diri), kecerdasan naturalis (cerdas alam), kecerdasan eksistensial (cerdas hakikat).

Bagaimana cara mengetahuinya? Setiap kecerdasan dalam Multiple Intelligences memiliki indikator tertentu, diidentifikasi melalui observasi terhadap perilaku, tindakan, kecenderungan bertindak, kepekaan terhadap sesuatu, kemampuan yang menonjol, reaksi spontan, sikap, dan kesenangan.

Nah, orang seperti aku ini adalah seorang naturalis. Seandainya kecenderunganku itu aku ketahui sejak dulu, aku ingin belajar di Fakultas Pertanian untuk lebih mendalami berbagai makhluk ciptaan Allah yang indah dan sangat bermanfaat bagi manusia.

Dengan belajar dan bekerja di bidang yang sesuai dengan passionku, mungkin saja, siapa tahu bisa sukses seperti Alfred Russel Wallace,  naturalis yang terkenal itu, yang telah meneliti persebaran flora-fauna di dunia… Hehehe…

Saat masa Pandemi tahun 2020-2022, lansia disarankan untuk tidak keluar rumah. Aku menambah kegiatan dengan mencoba beternak lele. Padahal, aku tidak doyan masakan dari ikan lele. Terbayang-bayang kepala dan kumisnya.

Aku belajar dari Komunitas Budikdamber (Budidaya Ikan Dalam Ember) yang ada di Facebook. Mencoba dari bibit lele kecil sepanjang 5-6 cm hingga bisa dipanen. Mulai dari 1 ember, kemudian tambah lagi hingga 5 ember. Masing-masing ember berisi lele berbeda umur. Bibit lele bisa dibeli dari Tokopedia. Tapi ternyata berbeda dengan jika membeli bibit yang kita pilih sendiri di Pasar Jatinegara, lebih segar dan sehat.





Makanan lele berupa pelet yang dibeli di toko pakan atau di Tokopedia dengan memilih merk yang bagus dan sesuai ukuran lele. Aku membeli dua macam, yaitu untuk lele ketika masih kecil dan setelah besar. Agar lele sehat, perlu aerasi atau proses penambahan udara atau oksigen dalam air. Dibuatkan satu mesin aerasi untuk 4 atau 5 selang ke ember lele.

Selain pakan, juga disiapkan EM-4 untuk ikan, disediakan obat lele yang disebut Red Blue Dox, dan juga garam grosok. Garam grosok adalah garam kasar yang bisa dibeli di pasar. Garam grosok diberikan pada pagi hari ketika lele kehujanan di malam sebelumnya. Kegiatan memberi makan, mengganti air dan mencuci embernya, adalah aktivitas yang memerlukan banyak gerak.

Kegiatan ini membuatku sehat. Sayang pada akhirnya beternak lele aku hentikan ketika musim panas tiba, karena khawatir menghabiskan air tanah. Jangan sampai persediaan air untuk keperluan mandi dan mencuci jadi terganggu.

Namun buat pembaca yang mau mencobanya, berikut sedikit panduan yang aku buat:


Cara mengurus lele

 

1. Mengganti air.

a. Setiap 3 hari sekali ember lele diganti airnya

b. Menggunakan air tandon yang sudah 1 malam diinapkan dengan diberi 1 tutup EM-4, dan 2 tetes Red Blue Dox. 

c. Saat mau mengganti air, lele perlu dipuasakan 1 kali waktu makan. Misalkan, saat hari ini pagi mau diganti air, maka pagi itu tidak boleh diberi makan. Makannya nanti saat makan siang. Jika tidak dipuasakan, setelah diganti air, makanan akan dimuntahkan. Ini karena lele merasa stres pada saat dipindahkan ke tempat lain.

d. Sebelum mengganti air, lele dipindahkan di ember yang lebih kecil terlebih dahulu. Air yang di ember besar digunakan untuk menyiram tanaman.

e. Setelah air baru dipersiapkan di ember, lele dikembalikan. Agar air tetap bersih, serok yang digunakan untuk memindahkan lele harus sering dicuci.

 

2. Memberi makan.

Setiap akan memberi makan lele, lebih dulu diberi sedikit EM-4 yaitu setengah tutup untuk 4 ember. Memberi makan harus ditunggui, sedikit demi sedikit. Kalau habis, baru diberi pelet lagi. Tidak boleh ada yang tersisa. Jika ada sisa di salah satu ember, cepat kita ambil untuk diberikan ke ember yang lain.

 

3. Memperhatikan gerakan lele.

Akan tampak ada lele yang kadang mengambang dan menempel-nempelkan badannya ke ember. Ini harus segera dipisah. Mungkin sakit atau kena jamur. Dipisah di ember kecil dan diberi beberapa tetes Red Blue Dox sesuai takaran. Jika tidak dipisah bisa menular ke yang lain.

 

Lele bersifat kanibal, yang lemah akan menjadi makanan yang kuat. Kadang saat mengganti air kita temukan sisa-sisa kepala lele yang mati dimakan oleh temannya. Dalam setiap ember, keberhasilannya hingga panen sekitar 80-90 persen itu sudah wajar.

***

 

Setelah tidak aktif di Sekolah Alam Bekasi pun aku tetap menerapkan gaya hidup mencintai alam. Apa yang aku kerjakan di rumah, sekecil apapun selalu sejalan dengan itu.

Tidak membuang sampah organik keluar rumah. Sampah dapur dan daun kering aku kumpulkan, kadang diolah di drum-drum, kadang dibiarkan begitu saja di lubang pembuangan di bagian belakang rumah.

Sampah yang menimbulkan bau antara lain sisa udang, daging dan tulang, aku masukkan di tempat sampah buatan sendiri dari pralon ukuran besar yang ditanam dan diberi tutup. Sampah ini akan menjadi santapan binatang-binatang yang tinggal di dalam bumi.

Hanya sampah plastik kertas dan kayu yang dibuang, biasanya diambil 2 kali seminggu oleh Mas Agus, tukang sampah langganan kami.

Ada lagi kegiatanku yang lain yang berkaitan dengan memanfaatkan sampah. Diawali dengan info dari Dik Gun, adikku yang lebih dulu mempraktekkannya, aku ikut mencoba membuat Eco Enzyme. 

Apa itu Eco Enzyme? Seorang ilmuwan dari Thailand Dr. Rosukon Poompanvong, Pendiri Asosiasi Pertanian Organik Thailand telah melakukan penelitian selama lebih dari 20 tahun, yaitu mengolah enzyme yang berasal dari sampah organik yang biasa kita buang ke tong sampah menjadi cairan multi guna Eco Enzyme.

Eco Enzyme mempunyai banyak sekali manfaat. Sebagai bahan pembersih alami pengganti sabun, peptisida alami, pupuk alami, pembersih udara alami, dan dengan cara itu akan menurunkan Efek Rumah Kaca.





Pada praktek selanjutnya ternyata juga bisa digunakan sebagai obat luar untuk luka di kulit. Bahkan untuk merendam kaki pasien stroke, berangsur-angsur membaik. Aku sendiri pernah mencoba, ketika tanganku terkena gunting tanaman dan berdarah, aku oleskan di lukanya. Tak lama luka yang semula berdarah segera menutup mengering.

Menurutku intinya adalah, Allah SWT menciptakan kulit buah untuk melindungi daging buah. Di sanalah berada enzyme-enzyme yang akan melawan musuh-musuh buah, dan ternyata enzyme-enzyme itu juga sangat bermanfaat bagi manusia.

Untuk lebih memahaminya, aku mengikuti Komunitas EEN (Eco Enzyme Nusantara) yang ada di Facebook. Aku praktekkan dengan membuatnya dari sisa kulit-kulit buah atau sayuran yang setiap hari kami konsumsi. Hasilnya aku bagikan kepada lingkungan terdekatku, yaitu teman-teman senamku dan saudara-saudaraku yang berminat.

Jika masih tersisa aku foto kemudian upload di FB, aku tawarkan kepada teman-teman FB yang sedang belajar membuat EE. Alhamdulillah EE yang aku buat selalu habis.

Semangatku untuk beraktivitas masih tinggi. Ketika suatu hari aku membaca sebuah iklan di Facebook tentang suatu training untuk belajar trading saham dengan biaya yang sangat murah, aku tertarik untuk mencobanya. Namanya Trading Santai yang dikelola oleh Komunitas HBC (Happy Billionaires Club). Training itu hanya mendengarkan pelajaran dari video yang mereka kirimkan melalui Whatsapp selama 4 hari berturut-turut, kemudian diikuti dengan pertemuan lewat zoom selama 3 kali.

Terus terang aku minder untuk memperlihatkan wajahku pada saat Zoom. Sepertinya semua pesertanya masih muda, aku yang lansia barangkali satu-satunya peserta di training ini. Terakhir diberikan kesempatan untuk menjadi member selama setahun dengan biaya tertentu, dengan fasilitas mendapat info saham-saham apa saja yang bisa dibeli, dan kapan harus dijual.

Aku melihat training ini bukan training abal-abal. Ini beneran serius. Mereka belajar dengan mengambil ilmu dari suatu akademi yang khusus mempe-lajari tentang trading saham di Filipina, namanya Caylum Trading Institute.

Aku yang sedikit banyak telah mengenal seluk beluk saham ketika menjadi Notaris, tidak terlalu sulit mempelajarinya. Tetapi tetap harus serius, agar nantinya pada saat praktek tidak sampai menanggung kerugian. Sebagai member, selalu dikirim informasi yang uptodate kondisi perekonomian makro dan mikro di Indonesia.  

Karena untuk menjadi member perlu biaya yang lumayan, aku nggak mau rugi. Ilmu itu aku bagikan ke beberapa orang keponakan dan teman yang berminat. Dengan menjadi member, selain menambah ilmu juga menambah pengetahuan umum di bidang bisnis dan ekonomi yang ujung-ujungnya mengaktifkan otak supaya tidak cepet pikun. Hasilnyapun lumayan, bisa buat makan-makan dengan si Tiga Dara di restoran…..


2. Hobi Traveling

Keinginan  pergi  ke suatu  tempat  untuk melihat-lihat sesuatu yang belum pernah dilihat adalah hal  yang  aku senangi.  Jika ada kesempatan dan  ada  dana, aku berusaha  untuk melakukannya. Sayangnya, ketika dulu selagi muda dan punya penghasilan, tidak punya banyak kesempatan dan waktu karena sibuk dengan pekerjaan.

Sedangkan di saat sudah pensiun, banyak waktu luang, tetapi dananya tidak tersedia dan kondisi kesehatan juga sudah berbeda. Namun demikian, travelling tidak harus ke suatu tempat yang jauh atau berbiaya mahal. Yang dekat-dekat saja juga sudah cukup menyenangkan.

Aku sering penasaran pada lokasi-lokasi yang telah ditetapkan oleh Unesco sebagai Situs Warisan Dunia. Seperti apakah tempat-tempat yang pernah menjadi pusat perhatian  manusia di masa lalu itu? Sebuah ibukota negara di abad lampau seperti Angkor Watt di Kamboja? Sebuah istana kaisar seperti Tian An Men di Forbiden City. Atau suatu tempat ibadah dimana dahulu manusia melakukan pemujaan kepada Tuhannya seperti Borobudur di negeri kita? Yah, benar sekali.Tempat-tempat seperti itulah yang selalu menarik perhatianku.

Menjadi wish-listku juga, untuk mengunjungi tempat-tempat yang punya  keistimewaan di bumi Allah ini. Keistimewaan, karena keindahannya atau keunikannya seperti Halong Bay di Vietnam atau Raja Ampat di Papua. 

Aku juga selalu punya kekaguman dengan begitu banyak orang-orang dari luar negeri yang mengunjungi negeri kita untuk melihat keistimewaannya, sedangkan kita sendiri yang punya negeri, belum pernah berkunjung ke sana. Tana Toraja di Sulawesi Selatan, Gili Terawangan di Lombok, Kawah Ijen di Banyuwangi, Pulau Komodo dan pulau-pulau cantik di sekitarnya,  serta tempat-tempat lainnya. Ingin semuanya aku datangi, namun baru sebagian saja yang sudah terlaksana karena berbagai kendala.

Jika travelling di dalam negeri, aku sering mengajak staf kantor Notaris. Rasanya pergi bersama lebih menyenangkan. Seingatku, pertama kali adalah ke Bali. Selanjutnya ke Sumatera Barat, Padang dan Bukit Tinggi, ke Sumatera Utara mengelilingi Danau Toba, Medan, Prapat dan Brastagi. Ke Lombok, ke Makassar dan Tana Toraja, ke Balikpapan dan Kutai Kartanegara dan terakhir ke Yogya dan sekitarnya. Pengalaman travellingku baik ke luar negeri maupun dalam negeri sudah sering aku tulis di Blogku.





Alhamdulillah aku juga sudah pernah mengunjungi beberapa negara ini. Singapura, Malaysia, Thailand, China, Taiwan, Korea, Kamboja, Vietnam, Jepang, Australia, Turki, Mesir dan Saudi. Walau hanya sebentar pernah juga ikut tour ke  Eropa, yang meliputi Italia, Vatikan, Perancis, Belanda, Jerman, Belgia, Swiss dan Inggris.

Ada di antaranya, kunjungan bersama keluarga, yaitu ketika anak-anak masih kecil atau ketika mereka remaja. Ada yang ke sana karena ikut tour bersama ibu-ibu Pengurus Dharma Wanita, saat aku masih aktif di organisasi itu. Atau ikut tour yang diselenggarakan perusahaan Travel.






Dari perjalanan yang pernah aku lakukan, ada beberapa pengalaman yang menarik dan belum pernah aku tuliskan di Blog. Seperti kunjungan pertamaku ke Eropa, jalan-jalan bersama rombongan Ibu Purnomo dan teman-teman lainnya. Waktu itu kami menginap di rumah dinas pejabat  OPEC di Wina, Austria, yang saat itu dijabat Pak Maizar Rahman.  Ibu Maizar adalah teman dekat kami semua. Dari sana kami ke Venesia atau Venice.





Sebelum sampai Venice, kami terlebih dahulu mampir ke Menara Pisa. Sebuah menara katedral yang dibangun tahun 1173 ini, merupakan situs warisan dunia. Menuju maupun keluar dari lokasi, begitu banyak pedagang kaki lima berjualan di sepanjang jalan. Apa saja yang dijual? Tas, bantal-bantal, suvenir, t-shirt, dan makanan minuman. Ternyata bukan hanya di Indonesia, di Italia pun pedagang kaki lima eksis dan laris.

Pada suatu jamuan makan malam, rombongan diajak makan pizza. Pizza-nya tipis, hanya sedikit lebih tebal dari keripik hingga tidak menjadikan kenyang. Selama ini jika makan pizza terasa begitu mengenyangkan, karena roti yang menjadi alasnya tebal. Inilah pizza terenak yang pernah aku rasakan.

Kami menginap di sebuah hotel yang bentuknya seperti vila. Saat pembagian kamar, aku sekamar dengan Ibu Ranty Wimpi. Dengan membawa kunci kamar, kami berdua naik lift menuju ke lantai tempat kamar kami berada.

Ketika pintu lift terbuka, lantai yang kami tuju yang semula gelap menjadi terang. Hotel menggunakan sistim otomatis untuk menghemat listrik. Kami berdua takut, karena suasana sepi sekali. Sampai untuk mandi pun takut, pintu kamar mandinya tidak kami tutup. Untunglah nginap di hotel ini hanya semalam.

Venice, adalah sebuah kota atau tepatnya pulau-pulau kecil yang berada di sebuah kanal atau perairan yang nyambung dengan laut lepas. Lokasinya di ujung selatan Italia. Di pulau-pulau itu terdapat banyak bangunan tua yang beberapa masih berfungsi dipergunakan sebagai hotel atau pertokoan, beberapa lainnya kosong tak terawat.

Dari satu lokasi ke lokasi lainnya terhubung dengan jembatan-jembatan cantik berbentuk melengkung. Kami naik Gondola, semacam perahu yang hanya memuat 4 kursi untuk 4 orang, berkeliling Venice lewat di bawah jembatan-jembatan itu. Gondola dikayuh atau dijalankan oleh pemuda-pemuda Itali yang berpakaian seragam kaos bergaris. Dengan wajah khas Itali yang cakep, layak sekiranya jadi artis sinetron Indonesia…




Sebuah Gereja Katedral Katolik Roma atau Basilika San Marco berada di suatu lapangan semacam alun-alun di tengah kota. Di situ juga berbagai restoran dan cafe berada. Salah satu restoran menampilkan pertunjukan musik di atas panggung dengan pemain lengkap. Sambil duduk-duduk ngopi kami menikmati musiknya.

Suvenir khas Venice yang sangat terkenal adalah topeng atau mask, yang menampilkan berbagai wajah, cantik maupun seram, banyak dijual di kaki lima. Beberapa pin berupa topeng kecil untuk peniti jilbab aku beli. Sekarang entah sudah pada ke mana ya...

Aku belum pernah sekalipun kecopetan, ya baru di Venice ini aku kecopetan. Memang sebelumnya telah diingatkan, untuk berhati-hati karena di sini banyak copet. Aku merasa bahwa uang sudah aku masukkan amplop dan aku selipkan di saku bagian dalam tas. Ketika aku mau membayar barang, lho ke mana uangnya? Amplopnya masih ada tapi sudah kosong... Lumayanlah, 500 dolar AS, saat itu sekitar Rp6,5 juta.

Kunjunganku ke Eropa yang kedua adalah dengan Mas Suami dan Dik Astrid, pergi bersama Travel Golden Rama ke Eropa Barat. Negara-negara yang dituju adalah Italia  (Vatikan, Roma dan Venice), Perancis (Paris), Swiss (Mount Titlis), Lichtenstein, Nederland (Amsterdam dan Rotterdam), Belgia (Brussel), Jerman (Koln), dan terakhir ke Inggris (London). Rombongan seluruhnya 1 bus wisata dengan tour leader dari Golden Rama namanya Johan. Sopir busnya bernama Mauro, seorang asli Itali. 






Mas Suami yang baru saja pensiun memenuhi janjinya. Ketika dia masih dinas, karena kesibukannya tidak sempat mengajakku jalan-jalan. Pernah aku mengusulkan, jika sedang dinas ke daerah aku akan menyusul sehari sesudahnya untuk bisa jalan-jalan sendiri tanpa mengganggu tugasnya.

Sedangkan untuk pulangnya juga tidak bersamaan, yang penting bisa ikut menginap di hotelnya. Mas Suami tidak setuju. Dia tidak ingin merepotkan ibu-ibu Dharma Wanita yang pasti akan mengadakan acara sambutan dan lain sebagainya.

Ada suatu pengalaman yang membuatku sempat terkaget-kaget. Kami memasuki kota Amsterdam setelah perjalanan mengunjungi Rotterdam dengan melihat Kincir Angin dan mengunjungi sebuah perusahaan yang membuat suvenir sepatu kayu (klompen) berhiaskan bunga warna biru itu.

Kami masuk hotel sekitar jam 3 sore. Tour leader Johan bilang, jika ada yang berminat, nanti malam akan diajak ke Red Light, sebutan untuk lokasi "Lampu Merah" dimana terdapat berbagai pertunjukan vulgar terkait hubungan seks. Kami pun kepingin tahu, dan hampir semua peserta mau ikut. 

Setelah mandi dan istirahat di kamar, sekitar jam 7 kita berangkat. Bus parkir di suatu tempat yang ditentukan dan kami berjalan santai bersama-sama. Ketika itu kami melewati tempat yang sekilas seperti etalase toko panjang berderet. Yang dipajang di etalase ternyata wanita beneran (bukan boneka manekin) dengan pakaian minim duduk di sebuah kursi di dalamnya. Ada yang sedang merokok, ada yang sedang membaca buku. Wanita-wanita tersebut menurutku tidak semua cantik, putih, berambut blonde, tetapi ada juga yang gendut, kekar seperti laki-laki, berkulit hitam.

Aku sempat menanyakan ke Johan.

"Bagaimana  caranya jika ada tamu yang berminat kepadanya?"

"Ya, tinggal ketok pintu di sebelah kaca etalase itu, kemudian tawar menawar. Jika cocok, dipersilakan masuk. Di belakang etalase itu terdapat kamar untuk mereka berdua."

“Oh... sesimpel itu ya...”

Selanjutnya kami sampai di suatu gedung pertunjukan yang tidak begitu besar. Beberapa orang tampak antre membeli tiket.

Aku tanya lagi ke Johan.

"Pertunjukan apa itu?"

"Itu pertunjukan two in one, 2 cowok 1 cewek."

Wah, aku mulai nggak enak berada di dekat antrean itu. Karena tidak berminat nonton, aku mencari tempat agak jauh sedikit yang agak gelap. Apa kata orang, jika melihatku di sini. Ada ibu-ibu Indonesia berjilbab sedang nonton pertunjukan sex! Olala...

Ternyata hanya sedikit di antara peserta yang membeli tiket untuk nonton, salah satunya adalah seorang ibu yang aku kenal dari Pontianak. Kami menunggui hingga mereka yang menonton keluar.

Ketika sudah selesai, aku iseng bertanya pada ibu Pontianak ini. Apa yang ditonton tadi? 

Katanya: ”Pergulatan 2 melawan satu.” 

Dan, ia menunjuk ke seorang laki-laki berkulit hitam yang sedang merokok sendirian di pojok gedung.

“Dia salah satunya.”

 "Wouw...”

Aku juga pernah ikut jalan-jalan ke China bersama Ibu Purnomo, dan beberapa teman lainnya. Ketika di Shanghai kami menggunakan bus wisata  dengan tour guide seorang asli China yang pandai berbahasa Indonesia. Tour guide ini sering digunakan jasanya oleh wisatawan Indonesia dan diberi nama Indonesia, Chandra. Kami pun jadi dekat, menganggapnya seperti bukan orang asing.





Ketika itu kami semua sedang makan malam di sebuah restoran China halal. Setelah selesai makan dan sebelum kembali ke bus, biasanya ibu-ibu ke toilet dulu.

Bu Ida Kardaya bilang: "Bu Djoko, titip tas saya ya. Aku mau ke toilet."

"Iya Bu."

Saat sudah berada di bus, Bu Ida Kardaya menanyakan tasnya.

Ya, Allah… aku lupa dititipi tas. 

Aku langsung berlari kembali masuk restoran. Alhamdulillah, Allah menolongku... tas masih ada di kursi yang tadi aku duduki...

Aku tak henti bersyukur, kejadian seperti ini jangan sampai terulang lagi. Bagaimana jika sampai hilang, pasti isinya barang-barang penting dan pasti uangnya banyak...

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar