Sabtu, 11 April 2020

Mengantar Ade Hesty study ke Perth. Catatan perjalanan 20 tahun yang lalu.


Assalamualaikum ww.


Sejak tanggal 14 Maret 2020, negeri kita didera Virus Covid19. Untuk memutus rantai penyebarannya, aku mengikuti anjuran dan aturan Pemerintah untuk ”Stay at Home”. Walaupun memang sudah tidak punya kegiatan karena sudah pensiun, tapi sama sekali tidak keluar rumah, ya baru kali ini. Agar tidak bosan, seperti biasa aku mencari-cari kegiatan yang menyenangkan hati.

Pertama, aku ingat bahwa banyak foto-foto yang albumnya sudah jelek, teronggok di gudang Jatiranggon. Segera aku usahakan untuk bisa dikirim ke rumah untuk aku rapikan. Kegiatan ini hanya perlu beberapa hari, karena menunggu pengiriman Album baru yang aku beli dari Tokopedia. Selesai sudah urusan foto. Lumayan sudah bisa dilihat lagi foto-foto kenangan masa silam.

Kedua, ketika sedang bongkar-bongkar flash disk, menemukan Catatan Perjalanan ketika mengantar putriku Adik Hesty studi ke Perth Australia 20 tahun yang lalu. Sayang sekali catatannya terpotong, sudah tidak lengkap. Sekalipun terpotong, masih bisa disimpan di Blog, setidaknya bisa menjadi  kenangan. Siapa tahu suatu ketika aku berdua bisa napak tilas perjalanan ini bersama Adik dan keluarganya. Pasti Lila dan Lura senang mendengar cerita, bagamana dulu bundanya berjuang menuntut ilmu jauh di negeri seberang.
Karena dulu tidak menyempatkan berfoto, foto-foto yang ada disini diambil dari Google.......

Wassalamualaikum ww.




Mengantar Ade Hesty study ke Perth.

Kamis tanggal 17 Pebruari 2000
Hari yang telah lama dipersiapkan oleh Ade dan seluruh keluarga telah tiba. Dalam rangka menghadapi study diluar negeri, sekitar 2 bulan sebelum keberangkatan ke Perth, Ade telah mempersiapkan diri dengan tinggal di Duren Tiga Buntu di kamar atas dari kantor Mama, mencoba untuk mandiri. Selain itu Ade juga mengambil kursus bahasa Inggris di Gedung Bidakara. 

Pada saat hari keberangkatan, jam 15.00 Ade disertai Papa, Mama dan Mbah Putri berangkat ke bandara Soekarno-Hatta dengan mobil dinas Papa yang dikemudikan Mas Dahlan. Dirumah ada Bulik Nuk, Mbak Wiwin, Mas Sukatno, Mbak Ela, Mas Paino, Mbak Mar dan Mbak Sum yang tidak ikut mengantar sampai Bandara. Mereka hanya sampai didepan rumah saja, karena nanti terlalu banyak yang mengantar seperti mau pergi haji. Belum nanti ada teman-teman Ade yang mengantar langsung ke airport. Juga mas Dandy akan nyusul langsung ke Bandara.

Setelah bersalam-salaman dengan penuh keharuan, kendaraan berangkat menuju ke Bandara. Di Bandara sudah lebih dahulu ada petugas dari kantor Papa yaitu Pak Surono bersama seorang lainnya yang membantu mengurus keberangkatan Ade dan Mama sekaligus mengurus check in di Bali dimana kita harus ganti pesawat.
Beberapa waktu menunggu, banyak teman-teman Ade yang datang ikut mengantar, baik dari IEP maupun dari Al Azhar Pejaten. Ade kelihatan gembira. Mereka yang dari IEP datang bersama Mbak Iva, petugas dari IEP yang selama ini repot dengan berbagai persiapan menjelang keberangkatan siswa-siswanya. Kemudian datang Mas Dandy, ikut mengantar dan memberi kenang-kenangan kepada Ade. 

Akhirnya tiba saat berangkat. Setelah minta doa restu dan dah-dah dengan semuanya, kami bertiga, Mama Ade dan Papa bersama petugas kantor Papa yang boleh masuk hingga ke gate terakhir.
Karena khawatir jumlah barang melebihi batas ketentuan, maka salah satu koper yang kecil harus dibawa  ke kabin. Agak berat juga, karena selain kopor, Mama juga membawa tas tenteng sedang Ade selain menggendong ransel juga menenteng laptop.

Pesawat mulai bergerak, penerbangan dengan GIA 417 Jakarta – Denpasar ternyata kosong. Di pesawat dibagikan makanan, seperti biasa tidak ada hal-hal yang khusus. Mama berdoa mudah-mudahan Allah SWT memberi kemudahan kepada kami berdua dalam perjalanan ini, serta dapat bertemu kembali dengan semua keluarga di Jakarta yang sangat Mama sayangi. Aamiin. Dua jam kemudian pesawat landing di Denpasar. Kita berdua turun untuk ganti pesawat yang menuju Perth yaitu GA 726, dan diperkirakan masa transit satu jam.
Jam 21.00 Waktu Indonesia Tengah. Ketika sedang berjalan di ramp (belalai gajah) dari pintu samping rupanya kami dijemput oleh Ibu Made, isteri dari teman Papa yang berdinas di PLN Bali. Sambil ngobrol bersama Ibu Made, kami dipersilakan makan malam. Sebenarnya masih kenyang karena makan malam dipesawat tadi dihabiskan, tapi karena dilihat menunya nasi masakan Bali dengan sambal matahnya, sayang juga kalau dilewatkan.

Tidak terasa waktu berangkat telah tiba segera kami semua menuju pesawat yang akan berangkat ke Perth. Setelah bersalam-salaman kita berdua naik ke pesawat. Penerbangan dengan GA 726 ini juga kosong, kebanyakan berisi wisatawan yang akan kembali ke Australia dan beberapa mahasiswa dari Indonesia yang tadi telah bersama-sama kami dari Jakarta. Setelah berdoa, Mama sebenarnya ingin tidur barang sebentar, tapi mata tidak dapat terpejam. Seluruh perasaan dan pikiran diliputi kekhawatiran menghadapi sesuatu yang baru sama sekali, nun jauh dinegeri orang, dengan segala keterbatasan. Tiada yang dapat dilakukan kecuali pasrah dan berserah diri kepada-Nya.

Kami diharuskan mengisi formulir yang nantinya akan diperlihatkan dan dicocokkan dengan petugas Bandara Perth. Kami mengisi dengan sebenarnya apa saja yang kami bawa, yang barangkali akan dibuang apabila memang ternyata tidak diperbolehkan nanti.

Landing di bumi Australia.
Jam 00.40 Pesawat Garuda landing di Bumi Australia. Seperti pada saat kita pergi haji, satu persatu antri untuk diperiksa paspornya, Mama berdua dengan Ade bersama-sama, karena memang datang berdua. Setelah pemeriksaan pasport, baru koper-koper diperiksa. Mama tidak dapat menemukan kunci kopor Delsey, kopor yang paling besar. Mama ingat, barangkali tertukar dengan kunci kopor Delsey yang satunya. Saking bingungnya, jadi stress untung Ade bisa meyakinkan petugas, sehingga kopor Desley hanya di screen saja. Disana juga ada anjing pelacak yang mendekati setiap kopor yang baru masuk dari Bandara. Segera sesudahnya kita berdua keluar dari Bandara dan menemukan Petugas dari travel Biro yang disewa Edith Cowan University (ECU) menjemput. Sesuai janji, Petugas akan menjemput didekat Money Changer Thomas Cook, dengan membawa papan nama bertuliskan nama Ade. Setelah keluar dari Bandara, saat menuju tempat parkir mobil, ada Ibu Shanti bersama kakaknya juga menjemput kita. Ibu Shanti adalah saudara dari teman Papa di Jakarta. Sayang sekali dan juga kasihan, sudah capek-capek mrnjemput malam-malam, ternyata kita sudah dijemput yang lain. Kami bersalaman minta maaf dan berjanji akan menelpon nanti. Malam telah larut, bahkan menjelang pag. Bus berisi kita bertiga menuju Jewell House, 180 Goderich Street, Perth dan Pak Sopir menurunkan kopor-kopor kita. Kita check in dengan membayar AUS$ 44 untuk double bed per malam. Setelah membayar dan mendapatkan kunci kamar lantai 10 nomot 20,  ternyata kopor-kopor harus dibawa sendiri keatas. Jadilah kami berdua menggotong-gotong kopor sampai ke kamar. 


Agak kaget juga, ternyata kamarnya tidak seperti yang dibayangkan. Rupanya ini bangunan kuno, rasanya seperti kamar-kamar saat Mama dan Papa pergi haji tahun 1991 dulu. Kamar berisi dua single bed dengan satu nakhas ditengahnya, almari, meja tulis kecil, kulkas kecil, zink tempat cuci, kaca cermin, serta ceret listrik plastik yang telah berwarna kusam. Juga disediakan TV dan kipas angin. Ada juga 2 cangkir bersih beserta beberapa sachet gula dan kopi.

Kamarnya sangat panas, jadi kita gunakan kipas angin. Kita belum tahu kalau jendela bisa dibuka (dinaikkan atau diturunkan) untuk mendapatkan udara segar. Menaikkannya jangan terlalu banyak, karena udara malam sangat dingin, meskipun dimusim panas. Beberapa saat sebelum istirahat kita mempersiapkan keperluan untuk besok, baju, kosmetik dan keperluan lainnya. Sangat disesalkan karena kopor Delsey besar kuncinya ketinggalan padahal baju Ade ada didalamnya.
Tidak lupa Ade menelpon Papa, mengabarkan telah tiba dengan selamat di Perth serta sedikit cerita mengenai penginapannya. Karena lelah, kita segera tidur dengan memasang weker untuk bangun jam 06.00 pagi.

Jum’at tanggal 18 Pebruari 2000.
Pagi hari setelah selesai mandi, shalat dan lain-lain, sebelum ke Churchlands kami makan pagi di coffee shop Jewell House. Kebetulan ketemu anak Indonesia,Lisa yang kebetulan juga makan pagi. Lisa sudah beberapa lama tinggal di Perth, belajar di College (SMA). Rupanya banyak anak-anak Indonesia sebelum masuk Universitas, saat masih kelas II SMA sudah pindah ke Australia untuk masuk ke College. Atau ada juga yang sebelum masuk ke Universitas, masuk TAFE dulu satu tahun.  Yang seperti Ade melalui Foundation juga ada, tapi Foundationnya diambil di Australia. 

Sebelum meninggalkan Jewells House, resepsionisnya minta untuk pembayaran hari Jum’at karena waktu check out adalah jam 10.00 pagi. Untuk selanjutnya setiap pagi Mama atau Ade membayar penginapan sebelum ada kepastian mendapat tempat tinggal atau rumah untuk Ade, entah di Perth atau Joondalup. Mama pikir begini lebih baik daripada nanti pindah-pindah repot bawa kopornya, apalagi lokasi Jewell House memang sangat strategis.

Adik dan Mama bersama-sama Lisa, pergi ke Churchlands naik bus.  Lisa juga belum tahu bus yang mana jurusan Churchlands, jadi masih mencari-cari, telpon temannya dulu. Seharusnya dari Jewell House naik Red CAT, ke Wellington Street, baru ganti bus nomor 92, sekali jalan yang langsung ke Churchlands. CAT adalah singkatan dari City Area Transportation, bus khusus di City, dimana siapapun penumpang tidak dikenakan bayaran. Red CAT melalui jalur barat-timur sedangkan Blue CAT jalur utara-selatan. Karena khawatir tidak tahu jalan, Ade dan Mama mengantar Lisa dulu ke Bank, sehingga agak siang baru sampai di Churchlands.

Kampus Edith Cowan University ada 4 yaitu : Chusrchlands dan Mount Lawley keduanya di kota Perth.  Kemudian di Joondalup 26 km sebelah utara Perth dan Burnbury 150 km sebelah selatan Perth. Kelihatannya Chusrchlands adalah pusat administrasinya.
Sampai di Chusrchlands, kami berdua ke International Student Office (ISO) untuk enrollment. Karena Ade termasuk yang terlambat (seharusnya sudah dimulai tanggal 11 Pebruari, diikuti dengan masa orientasi studi) maka Ade diminta datang lagi hari Senin jam 08.30 pagi. Setelah dari ISO kami ke Off Housing Campus untuk minta dicarikan rumah di Joondalup. Mereka menjanjikan untuk mengantar dengan mobil melihat-lihat rumah nanti pada hari Senin jam 09.00 pagi. Kembali dari Churchlands hari sudah agak sore. Pada suatu kesempatan, setelah sampai di Jewell House, Mama menelpon Bu Shanti, untuk sekedar ngobrol. Rupanya Bu Shanti sedang sibuk, dia menjanjikan mau menjemput untuk makan siang besok hari Sabtu jam 12.00. Yah mudah-mudahan Allah memberikan pertolongan, ada teman yang bisa dimintai tolong selama di Perth.

Sangat beruntung, ternyata di Jewell House terdapat internet coin, sehingga Ade tidak begitu kesepian. Apalagi dapat e-mail dari teman-teman IEP, terutama Irna sahabatnya yang masih menunggu keberangkatannya ke Melbourne.

Sabtu, tanggal 19 Pebruari 2000.
Mama bangun pagi, tapi tidak berani mandi kekamar mandi umum, menunggu Ade bangun. Biasanya kita bersama-sama ke kamar mandi umum, dengan membawa peralatan mandi. Di lantai 10 ini ada dua ruangan umum, khusus untuk Woman. Untuk Man menggunakan tempat mandi di lantai 9 dan 11. kamar mandinya dua bersebelahan, dengan shower dan yang satunya dengan bath tub. Mama biasa menggunakan yang paling ujung. Ade yang ditengah, keduanya shower. Sabun dan odol dipakai bergantian ditukar lewat atas dinding pembatas. Disitu juga ada kaca besar dan tiga wastafel. Semuanya kuno, tapi bersih. Kalau selesai menggunakan diminta untuk mengelap lagi. Ruangan untuk pup ada disebelahnya lagi. Ada tiga closet dan dua wastafel, berikut tempat tissuenya. Mama bingung, bagaimana cara ceboknya karena tidak ada shower untuk cebok? Kata Ade dengan tissue basah. Mudah-mudahan segera dapat rumah, jadi bisa pup dengan lancar.

Masalah kunci yang tertinggal belum dapat teratasi. Ketika Papa menelpon, menyarankan agar kopor dibuka paksa saja. Tapi Mama berfikir, bagaimana nanti kalau pindahan, malahan barang-barangnya berantakan semua. Mama lalu menelpon Mas Dandy, tapi lagi tidak ada dirumah. Mama pesan mbak Mar supaya Mas menelpon Mama dari telpon yang diatas, agar dapat mencarikan kunci yang Mama maksud yaitu kunci Delsey nomor : 348. Siangnya Mas Dandy nelpon Mama dan bisa menemukan kuncinya. Mama minta supaya dikirim lewat DHL agar lekas sampai.

Hari Sabtu bagi orang Australia adalah week end, saat dimana mereka pergi berbelanja atau pergi keluar kota. Untuk itu, hari Jum’at toko-toko dan supermarket dibuka lebih lama, tetapi pada hari Sabtu malam hanya sebentar. Pada hari Minggu semuanya tutup, hanya gereja yang banyak didatangi orang. Mama perhatikan dari penginapan lantai 10, tidak beda antara hari biasa dan week end karena jalan-jalan sepi saja. Tampak dari atas orang yang lewat bisa dihitung jari lima. Yang lewat hanya mobil atau bus. Sebaliknya, Jewell House pada week end ramai, banyak yang menginap dari luar kota. Rupanya Jewell House ini milik sebuah Yayasan yaitu Young Man Christian Association, sehingga kelihatannya bukan sembarang penginap yang masuk kesini. Kebanyakan student yang direkomendasikan oleh sekolahnya atau orang-orang yang sudah mengenal Jewell House sebelumnya. Jadi ini penginapan bersih (dalam arti bukan untuk begituan), meskipun sudah kuno, out of date. Tarifnya juga beda, lebih murah, karena Mama melihat hotel di City (bukan berbintang) per hari sekitar AUS$ 65 untuk double bed per malam. Dulu sebelum untuk umum, untuk asrama perawat, karena dikiri kanan Jewell House adalah komplek rumah sakit. Disebelah kiri persis adalah Dental Perth Hospital, kemudian agak belakang di Wellington Street ada Royal Perth Hospital. Pantesan sering terdengar sirene ambulans. Ada juga kampus sekolah kesehatan. Diujung jalan Goderich adalah Victoria Street, dimana terdapat komplek Gereja Katholik. Disana ada gereja Katedral yang sangat kuno tapi sangat bersih dan teduh, serta Sekolah Katholik lengkap dengan asramanya.

Mama dan Ade makan pagi di coffee shop. Menunya hanya ada Continental dan Toast. Kalau makan malam ada Nasi putih dengan Ayam panggang atau masakan lain, yang pasti juga tidak cocok dengan lidah Mama. Kemarin malam (Jum’at) Mama makan nasi dengan ayam, ternyata kuahnya manis sekali, sehingga sama sekali tidak termakan. Akhirnya Mama beli nasi putih tok, dibawa ke kamar di makan dengan ikan gabus dan sambal buatan Mbak Sum yang dibawa dari Jakarta. Wah sangat nikmat.

Ketika kita sedang makan, terdengar alarm meraung-raung. Semua pengunjung diminta keluar gedung. Mama dan Ade tidak jadi makan, keluar bersama orang-orang semua. Mama tanya ke Ade, apa ada yang belum kita matikan tadi, misalnya TV atau kipas angin atau ceret listrik? Walaupun misalnya ada tidak mungkin lagi ke lantai 10. Petugas Pemadam Kebakaran sudah masuk, mulai meneliti tiap lantai. Mudah-mudahan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Banyak penginap yang turun dengan hanya memakai daster, bangun tidur, dan ada yang hanya pakai singlet saja. Ternyata benar memang tidak ada apa-apa. Barangkali ada yang konslet saja, sehingga orang-orang boleh kembali kekamar masing-masing. Kita berdua kembali ke coffee shop melanjutkan makan.

Sambil menunggu dijemput Bu Shanti, Ade nulis email di internet dan gembira sekali karena emailnya banyak yang dibalas teman-temannya. Mama memperhatikan sekitar Jewell House ternyata di kanan belakang ada pompa bensin yang juga toko makanan ringan dan barang-barang kecil lainnya. Nanti kalau pas lapar bisa kesitu.

Bu Shanti menepati janji, datang jam 12.00 bersama anaknya Yasmin dan teman anaknya Monica dengan menyetir sendiri mobilnya. Anak-anak itu masih di collage sekitar 16-17 tahun. Mama diajak kerumah barunya yang belum selesai di bangun di Peninsula, dekat danau atau sungai. Rumah-rumah disitu semua masih baru, sepertinya Real Estate. Karena udaranya enak dan tempatnya bersih, rasanya seperti di Puncak saja. Rumah Bu Shanti dibangun diatas tanah seluas lebih kurang 400 meter, bangunan 300 an meter. Katanya biaya pembangunannya kalau dirupiahkan sekita 1 M. Mama melihat sendiri tukang batunya orang bule. Mereka sangat profesional, tidak banyak orang tetapi cepat selesai dan rapi. Hari itu lantai sedang diselesaikan, sehingga tidak bisa memasuki seluruh ruangan. Setelah Bu Shanti selesai urusannya dengan tukang, kita berlima pergi ke China Town, tempat restoran-restoran asia.

Kita makan bersama di Restoran SPARROW, langganan Bu Shanti. Saat itu restoran penuh, kita antri sebentar. Kebanyakan pengunjungnya orang Asia, antara lain Malaysia, Indonesia, Thai dan China (Singapura atau Hongkong). Hidangan yang dipesan antara lain Sop Buntut, Soto Ayam, Ayam Bakar sambal, lalap serta gado-gado. Melihat ayam bakar yang gede (ayam negeri) begitu, Mama kurang selera lagi. Tapi untuk menghormati yang nraktir, Mama makan sebagian. Adik makan soto ayam yang katanya lumayan. Bu Shanti ketemu beberapa teman sesama Asia, yang rupanya langganan restoran itu. Saat berada di restoran Bu Shanti ditelpon kakaknya, yang bisa mengorganisir tour, mengajak Mama untuk ikut tour hari Minggu besok. Mama tanya ke Ade, dan menurut Mama juga tidak enak pergi-pergi sedangkan urusan Ade belum selesai. Mama janji nanti mau menghubungi kalau sudah selesai urusannya. Pulang dari makan siang Mama minta didrop lagi di City untuk membeli kaos Ade barang dua lembar, karena untuk hari Senin tidak ada lagi yang bisa dipakai. Kalau celana panjang banyak, karena Mama menempatkan di tas tenteng Kharissa. 

Pada saat membeli kaos, penjaga tokonya bernama Diana, anak Indonesia yang sudah mengikuti orang tuanya pindah ke Perth. Mama minta nomor telpon, barangkali suatu ketika diperjalanan memerlukan informasi. Kembali dari City kita naik CAT lagi, turun depan Jewell House. Sampai Penginapan Ade baru cerita, katanya anak Bu Shanti sombong. Mereka berdua ngomong-ngomong ngrasani kita, barangkali dikira Ade tidak mengerti apa yang diomongkan. Anaknya itu tidak senang ibunya repot-repot mengajak jalan-jalan kita. Yah, sudahlah, menambah pengalaman di negeri orang. 

Sabtu malam Minggu terasa sekali bagaimana rasanya jauh sendiri, di negeri orang. Untuk menghilangkan rasa sepi, Ade dan Mama mau duduk-duduk di halaman Jewell House. Tidak seperti hotel, Jewell House tidak mempunyai lobby. Tempat untuk santai atau duduk-duduk yang ada hanya tiga buah kursi dengan meja dipojokan dan tempat brosur-brosur (untuk yang ingin mengikuti tour) menutupi lift yang tidak dioperasikan. Dari situ kita bisa melihat keluar melalui kaca. Diluar atau halaman samping ada dua buah meja dengan beberapa dingklik panjang dimana orang-orang yang menginap kadang juga duduk-duduk disitu. Sayang bagi Mama terlalu dingin dan anginnya kencang, takut masuk angin. Beberapa orang penginap dari Asia, Mama lihat sedang ngobrol disana. 

Sedang enak-enak baca-baca brosur ditempat pojokan yang dekat lift itu, keluar dari lift dua orang menuju ketempat parkir, suami isteri sedang berantem. Isterinya nangis teriak-teriak. Kemudian mereka ke halaman parkir, melanjutkan berantemnya dan tambah ribut. Mama jadi takut. Lebih baik masuk keruang internet nunggui Ade nulis email. Ruang internet ada dibalik Front Office jadi terlindung. Disitu juga ruang untuk telpon umum, baik koin maupun kartu. Juga ada dua lemari makanan dan minuman yang dibeli dengan coin yaitu soft drink seperti coca cola, sprite, fanta dan lain-lain dan makanan kecil seperti Cheetoos dan kripik untuk anak kecil. Ketika Mama ke depan lagi, ada polisi datang mengambil dua orang Aborigin itu, mungkin Resepsionis yang lapor ke polisi.

Minggu tanggal 20 Pebruari 2000.
Hari Minggu biasanya sepi. Bus Cat baru ada jam 12.00 demikian pula toko-toko baru buka siang hari. Kita berdua melalui hari yang rasanya sangat panjang menunggu hari Senin tiba. Sambil duduk-duduk didepan Ade pesan ke Clarissa, Reseptionist Jewell House, bahwa kita sedang menunggu kiriman barang dari Jakarta melalui DHL. Tolong untuk disimpankan. Ketika sudah mulai ada CAT yang beroperasi, kita berdua pergi ke City untuk mencari Optus yaitu merk Sim Card, kalau di Indonesia seperti Mentari atau Simpati. 

Tak disangka ternyata disini Ade ketemu temannya dari Al Azhar Pejaten, Aya bersama adiknya yang sudah beberapa lama sekolah di Collage. Aya menyarankan untuk beli nomor prepaid, pakai handsetnya sendiri saja. Aya bahkan mengajari menggunakannya dan cara menyambungkannya. Aya juga memberikan nomor telponnya. Syukurlah satu persatu mulai teratasi. Masalah telpon penting, karena dengan menggunakan telpon nomor Indonesia, teman-temannya akan kena charge mahal kalau menelponnya. 

Sampai di penginapan sudah agak sore. Optus mulai diaktifkan dan berhasil, Ade mencoba dengan menghubungi Papa di Jakarta. Nomor Optus : 0402 – 196697 mudah diingat. Tadinya ada keinginan Ade nulis email di Internet. Sayang karena sesuatu hal internetnya stuck. Tapi ternyata baik kembali karena dapat digunakan oleh penginap yang lain. Rupanya para penginap Jewell House kebanyakan juga student yang baru tiba dari negeri masing-masing, yang kesepian dan menemukan hiburan dengan internet tersebut.

Ketika Ade kembali ke Internet, Mama sempat ngobrol dengan seorang ibu Australia yang juga sedang duduk di pojok depan lift. Dia sedang menunggu seseorang, Mama kurang bisa menangkap bahasa Inggrisnya, entah suami atau saudaranya yang sedang dirawat di Perth Hospital. Ibu ini tinggalnya jauh 400 km sebelah utara Perth. Waktu Mama bilang bahwa sedang mengantar anak yang mau belajar disini, dia bilang bahwa Mama orang kaya, karena untuk pergi-pergi tentu perlu biaya. Jangankan keluar negeri dia belum pernah kemana-mana, kota yang paling jauh dikunjungi ya Perth ini. Bersyukur, Mama diberi Allah kemudahan bisa pergi-pergi sampai jauh ke negeri orang.

Senin tanggal 21 Pebruari 2000.
Pagi-pagi Mama bangunkan Ade, buat kopi, lalu bersama-sama kekamar mandi. Mama mulai tidak sembahyang, karena sudah ada tanda-tanda menstruasi. Sebenarnya disesalkan karena dengan shalat, Mama bisa dengan rutin mengadukan segala kesulitan dan kekhawatiran dalam menghadapai situasi yang belum pasti. Tetapi inilah keringanan dari Allah yang harus disyukuri. Untuk tetap berkomunikasi dengan-Nya, Mama akan terus berzikir.

Berangkat jam 07.00 naik CAT ke Wllington Street seperti waktu bersama-sama Lisa kemarin. Dari Wellington Street naik bus ke Churchlands. Karena Ade belum mempunyai Student Card, bayar busnya sama dengan umum yaitu AUS$ 3,3, jadi berdua AUS$ 6,6.
Sampai di Churchlands masih pagi, International Student Office (ISO) belum buka. Sesuai janji, akan bertemu dengan petugas dari ISO jam 08.30 dan kemudian ke Off Housing Campus, akan diantar ke Joondalup untuk melihat-lihat rumah. Sambil menunggu kantor ISO buka, kita Off Housing Campus. Ternyata malah sudah buka dan diingatkan agar datang tepat jam 09.00. Petugas yang akan mengantar melihat rumah ke Joondalup sudah siap. Kalau kita terlambat tidak enak karena mereka telah membuatkan appointment dengan pemilik rumah yang akan dilihat. Adik diperlihatkan jadwalnya. Kembali ke ISO, pada waktu Ade selesai ketemu dengan Olga yang diantar mamanya baru datang untuk enrollment hari itu. Adik begitu gembira ketemu temannya, merasa ada kawan senasib sepenanggungan. Olga belum punya telpon, tapi janji mau nelpon nanti kalau sudah ada. Adik memberi nomor telpon barunya. Dari ISO, Ade diminta datang hari Selasa untuk mendapatkan time tablenya, yang kemungkinan besar karena terlambat akan mendapatkan  jam kuliah sore.

Tepat jam 09.00 kita berdua ke Off Housing Campus, kemudian diantar oleh Miss Carrie melihat-lihat rumah di Joondalup. Dari jadwal yang diperlihatkan oleh Carrie, ada lima buah rumah yang akan dilihat. Rupanya Carrie sendiri belum hafal dengan daerah Joondalup sehingga sering melihat-lihat petanya dan minta Ade untuk membantunya. Dari Churchlands naik mobil kearah utara melalui jalan bebas hambatan. Sekitar 10 menit sampailah ke Joondalup. Mama melihat daerah baru yang masih sepi. Rumah bagus-bagus tapi kelihatannya banyak sekali yang masih kosong. Rumah pertama yang kita lihat adalah Regent Park Road bertemu dengan pemiliknya namanya Mrs. Lesly. Dijelaskan bahwa sudah ada tiga orang student tinggal disitu, masih satu kamar yang kosong yang ditawarkan untuk Ade. Satu orang dari Malaysia, satu orang dari Singapore dan satu lagi dari Brunai. Juga dijelaskan mengenai peraturan untuk tidak menerima tamu tanpa persetujuan room mate nya dan lain sebagainya. Kamarnya sangat bagus, besar, lengkap dengan kamar mandinya. Sayang sendirian dilantai bawah, mereka yang bertiga dilantai atas.

Rumah kedua,  Mama lupa nama jalannya. Pemiliknya adalah orang Indonesia dari Semarang. Ditemani oleh anak laki-lakinya yang juga tinggal bersama adik perempuannya disitu. Kamar yang dikostkan ada dibelakang empat kamar baru isi satu orang laki-laki. Kalau kita mau yang paling pojok, lebih besar dari yang lain. Kamar mandinya sharing berdua. Sebenarnya lebih enak suasananya dibandingkan yang dilihat pertama tadi, karena yang punya rumah ada disitu, dan orang Indonesia. Sayang campur dengan kost anak laki-laki.

Rumah ketiga, Mama sama sekali tidak tertarik. Pemiliknya orang Hongkong. Suasana rumah seperti suasana rumah orang China dimana-mana kertas merah berhuruf kanji menempel di dinding. Kamar-kamarnya  berderet sama sekali tidak ada ruang yang lega. Sudah ada dua orang yang kost laki-laki dan perempuan. Rumah keempat yang akan dilhat bukan di Joondalup tapi sepertinya kembali kearah Perth. Belum sampai dilihat, Mama minta dibatalkan karena toh jauh dari Joondalup. Sama-sama jauh lebih baik sekitar Perth. Kita kembali ke Chucrhlands, Ade minta dicarikan alternatif lain yaitu apartemen di Perth boleh yang sudah ada temannya atau yang belum ada temannya. Tapi rupanya Off Housing Campus tidak bersedia dengan alasan tidak ada kendaraannya. Menurut Mama bukan karena itu, barangkali jatah untuk mencarikan hanya sekali karena itu adalah bagian dari service yang disediakan oleh Edith Cowan University. 

Diperjalanan pulang, kelihatan sekali Ade bingung dan ragu-ragu. Di Joondalup kelihatannya sangat sepi, Ade belum mempunyai teman, karena teman-temannya semua di City. Sedangkan kalau mau tinggal di City juga harus dipertimbangkan, mengingat jam kuliahnya kemungkinan dapat sore. Naik kereta dari Joondalup ke Perth, sampai di Perth sudah malam. Mama mencoba menghibur sebisanya, walaupun dalam hati menangis. Ya Allah berikan petunjuk kepada Hamba-Mu. Mudahkan segala sesuatunya. Mama minta Ade menghubungi teman-temannya untuk minta pendapat mereka. Aya ditelpon dan mengatakan kalau Aya jadi Ade, akan mengambil yang di Joondalup karena sekarang Aya ke kuliah naik mobil saja lebih dari 30 menit. Hanya karena itu sudah rumahnya sendiri, tidak ada pilihan lain. Demikian pula Olga, katanya jauh dari sekolahnya.

Diantara keragu-raguan, Mama menyarankan, walaupun semuanya terserah Ade, untuk mempertimbangkan mengambil yang di Joondalup, rumah yang kita lihat pertama kali. Mama janji untuk mengijinkan Ade pindah ke City nanti setelah Ade punya teman, yaitu bulan April saat Papa ke Perth. Tentu saja rugi, karena baru tiga bulan dijalani dari kontrak yang 6 bulan (minimal kontrak). Ketika bangun tidur, Ade sudah agak berkurang stressnya. Mama mengingatkan bagaimana kalau menelpon Lesly minta waktu sehari untuk memutuskan, sekaligus melihat jadwal kuliah yang akan diberikan besok. Kalau kuliahnya dapat pagi, kita coba cari apartemen di Perth. Tapi kalau jadwalnya sore, ya mau tidak mau kita harus ambil yang di Joondalup. Adik minta waktu ke Lesly, besok akan memberi kabar dan Lesly bilang akan menunggu kabar dari Ade.

Ketika sore hari setelah Ade telpon IEP, Ade bilang mau pindah major, karena bidang Sosial Science yang akan diambil Ade tidak dapat digunakan untuk bekerja di Indonesia. Menurut Mbak Novi IEP, pindah major dibolehkan apalagi belum masuk. Bahkan setelah beberapa waktu masih bisa pindah lagi, kalau yang dijalani dirasa tidak cocok. Mama jadi ingat ketika menunggu Ade di ISO, ada student yang agak disengoli oleh petugas ISO, karena sudah tiga kali pindah major. 

Mama lalu membuka-buka Buku Panduan, kira-kira bidang apa saja yang cocok dengan minat dan kwalifikasi Ade. Dari buku panduan itu, Mama menyarankan beberapa alternatif antara lain : Psychology, Jurnalism, Media Studies, Advertising, English atau Hospility Management. Rencananya besok pagi Ade akan ke ISO Churchlands lagi untuk pindah major, sekaligus minta time table kuliahnya. Mama berharap kalau pindah major barangkali kampusnya bukan di Joondalup, sehingga bisa cari apartemen di City sesuai keinginan Ade. Oh ya, hari ini Alhamdulillah kunci kopor Delsy sudah sampai. Clarissa menyampaikannya ke Ade.

Selasa tanggal 22 Pebruari 2000.
Pagi-pagi Ade Mama bangunkan, lalu siap-siap ke ISO Churchlands. Sesuai rencana Mama juga akan bersama-sama keluar, mau lihat-lihat disekitar Jewell House barangkali menemukan route bus yang termudah menuju Churchlands tanpa naik CAT. Rasanya mungkin, karena dibelakang Jewell House adalah Perth Hospital berada di Wellington Street. Kalau terus sedikit tentu akan sampai Stasiun Kereta dan didepan Stasiun itu bus nomor 92 lewat.

Mama janji jam 10.00 akan telpon Ade melalui telpon umum dan kalau memang betul perkiraan Mama Ade tidak usah turun depan Stasiun Kereta, tapi terus saja sampai pomp bensin Caltex sebelah kiri belakang Jewell House, Mama akan menunggu disitu.
Sebelum kita berdua keluar, bayar dulu ke Reseptionist ongkos nginap untuk hari ini. Pagi ini jam 07.00 kita berdua sudah berada di Halte CAT depan Jewell House. Angin pagi terasa dingin. Saat CAT lewat, Ade naik menuju Wellington Street, dan Mama kearah kiri Jewell House, dekat pompa bensin untuk melihat apa benar bus nomor 92 lewat dibelakang Jewell House. Memang benar, tapi agak lama baru lewat, selain nomor 92 juga lewat 98, 82 dan lain-lain.

Setelahnya, Mama jalan kaki melalui Hill Street, lurus kearah selatan. Ternyata sampai ke Swan River yang menjadi trade mark kota Perth dimana terdapat angsa hitam atau black swan yang terkenal itu. Di seberang Swan River, tampak kota Fremantle. Ternyata kota Perth memang kota yang cantik, bersih, menyenangkan dan biaya hidup juga tidak terlalu mahal dibanding kota-kota lain seperti Melbourne dan Sydney.

Jalan-jalan mulai agak ramai, tetapi tetap tidak seramai kota-kota di Indonesia, Solo misalnya. Orang mulai berangkat ketempat kerja dengan baju-baju kantor, ada yang seragam, ada yang berjas. Wanitanya juga kelihatan rapi memakai baju kerja setelan jas warna gelap dengan sepatu hak sedang. Banyak diantara mereka sedang duduk-duduk sarapan di café-café pinggir jalan. Mama membayangkan kalau kita perginya berempat atau paling tidak dengan Papa, pasti juga bisa menikmati makan pagi di cafe-cafe seperti itu. Mudah-mudahan diwaktu yang akan datang, Allah memberikan kesempatan. Insya Allah.

Dari pinggir Swan River, belok kekanan lagi menuju arah Mall Hay Street. Mama mau membeli sandal yang enak untuk jalan dan kartu telpon buat nelpon Ade. Di Mall Hay Street dan Barack Street banyak toko-toko belum buka, karena masih terlalu pagi. Ada yang sudah buka, baru bersih-bersih toko. Mama jalan-jalan sepanjang gang Mall, yang ternyata didalamnya juga penuh toko-toko souvenir atau toko-toko lain yang bagus-bagus. Ketika Mama mau beli kartu telpon, penjaga tokonya orang Cina yang sudah lama di Perth, menyarankan agar membeli kartu telpon yang irit terutama untuk telpon keluar negeri. Harganya AUS$ 30, tapi isinya senilai AUS$ 37. ketika Mama coba tidak bisa. Mama kembali lagi ke tokonya dan kemudian dicontohkan penggunaannya. Jam 10.00 Mama menelpon Ade, yang katanya sudah selesai urusannya, sekarang sedang menunggu bus. Mama minta naik 92 tidak usah turun depan stasiun kereta, tapi turun di Pompa Bensin belakang Jewell House saja. Mama menunggu disana. Setelah menelpon, Mama segera naik CAT menuju Jewell House, turun terus ke Wellington Street belakang Jewell House nunggu Ade.

Beberapa lama menunggu rupanya Ade datang dari arah Jewell House, ternyata naik CAT juga karena masih ragu-ragu, takut malah lebih lama. Ade kelihatan ceria sudah mendapat kepastian bahwa bisa ganti major ke Hospitality Management dan juga sudah mendapat time table sementara. Hospitality Management termasuk Business. Kampusnya di Joondalup jadi tetap saja harus pindah ke Joondalup karena jadwal kuliahnya ada yang sampai jam 18.00 sore.

Tujuan kita sekarang adalah buka account Ade di Commenwealth Bank, Forrest Place, Murray Street yaitu Mall di City yang tadi Mama jalan-jalan kesitu. Mama menunggu di kursi tunggu. Adik tanya dulu apakah bisa buka Account kalau belum punya alamat tetap, hanya berdasarkan paspor saja. Ternyata tidak masalah hanya saja nanti ATM nya diambil di Kantor Pos dengan membawa paspor. Mama berikan ke Ade AUS$ 2.500 untuk dimasukkan ditabungannya, nanti bisa diambil di ATM mana saja.

Sambil jalan kita cari makan ke Mc Donald. Ade beli pan cake dan Mama beli harsh brown semacam getuk goreng dari kentang. Pulang dari Mc Donald kita naik CAT lagi dan diperjalanan kita putuskan untuk pindah ke Joondalup. Setelah menelpon Lesly kita segera cari taxi karena Lesley menunggu kita di Joondalup sebelum jam 15.00. Mama beres-beres Ade turun untuk menelpon taxi. Jadilah kita pindahan dengan menggotong-gotong barang-barang segitu banyak berdua saja. Sopir taxinya orang China, yang dengan baik hati membantu merapikan barang-barang bawaan kita. Tiba di Joondalup sebelum jam 15.00 ongkos taxi ke Joondalup AUS$ 35. Setelah ketemu Lesley, mulailah kita beres-beres. 

Ternyata makanan-makanan yang ada di kulkas Jewell House terlupa tidak ikut dibawa. Tak apalah ninggalin buat yang membersihkan kamar. Ade mendengarkan semua peraturan kost yang diberitahukan oleh Lesley untuk ditaati sedangkan Mama merapikan barang-barang. Tidak lupa kita menelpon Papa mengenai kepindahan ke Joondalup. 

Tidak berapa lama setelah Ade mengobrol dengan dua orang room mate yang sudah lebih dulu kost disini, Ade agak kecewa. Kata mereka, kampus Ade terlalu jauh dan tidak ada bus, jadi harus berjalan kaki. Mama jadi ikut sedih. Mama berusaha menghibur sebisanya.

Setelah selesai beres-beres, Ade ngajak Mama ke seberang. Disitu ada Café SYLVANA yang menjual makanan dan minuman. Ketika masuk ke cafe, rupanya pemiliknya orang India sudah seumuran Papa sedang berada disitu. Sambil ngobrol Ade menanyakan jalan ke Campus ECU. Lalu digambarkan dibalik kertas menu, katanya tidak jauh. Banyak mahasiswa sekitar sini yang kuliah di ECU. Nanti kalau sudah kenal kan bisa nebeng. “Jangan khawatir disini enak, daerahnya aman, tidak ada yang minum-minum. Anak saya yang laki-laki dua orang tinggal disini, diatas restoran”. Banyak lagi yang dikatakan orang India itu yang agak menghibur dan meringankan hati Ade. Kita lihat saja nanti, kalau memang jauh, barangkali Papa tidak keberatan membelikan mobil Ade. Atau bagaimana nanti, setelah bulan April Papa datang.

Ya Allah berikan kami kemudahan disaat kami membutuhkannya, ditempat yang jauh dinegeri orang. Hanya kepada-Mu kami memohon, tiada daya upaya kecuali atas perkenan-Mu. Begitulah kembali dari Café Sylvana, kita sudah agak lega. Apalagi setelah Ade ketemu room mate yang dari Brunei, yang juga baru beberapa hari tinggal disini. Kelihatannya mereka seumur dan Ade cocok. Mama sendiri sebenarnya cukup gembira melihat suasana rumah dan kamar yang nyaman. Tinggal bagaimana besok setelah Ade melihat jarak sekolahnya. Rencananya besok pagi Ade masih ke Churchlands lagi untuk mendapatkan time table yang tetap karena yang diberi hari ini masih sementara. Mama akan ikut kesana, tapi hanya nunggu saja di Cafetaria, sambil ingin tahu bagaimana cara naik kereta api dari Joondalup ke Churchlands yang nantinya juga akan sering Mama lakukan kalau ingin pergi ke City. 

Sore hari Lesley datang menjelaskan House Rules secara detail, apa hak dan kewajiban Ade dan bagaimana ketentuan-ketentuan pembayarannya. Sepintas Mama juga ikut membaca dan mempelajarinya, dan yang penting-penting adalah :

-Kewenangan membawa kunci ada pada Ade sendiri, dilarang meminjamkan kepada siapapun juga.
-Kalau kunci hilang didenda. Lesley juga punya kunci kamar Ade.Kebersihan rumah harus diperhatikan, setelah beberapa waktu Lesley akan mengontrol kamar.
-Hubungan antar room mate dijaga, tapi jangan terlalu percaya. Lesley tidak mau tahu kalau sampai ada barang-barang pribadi yang hilang.
-Cara membayar kamar dipukul rata per minggu AUS$ 90 menjadi per bulan AUS$ 390.
-Setiap hari Sabtu, Minggu terakhir Lesley akan menagih. Kalau belum siap pada waktu yang ditentukan, bisa disampaikan tapi kalau ternyata tidak tepat janjinya di denda per hari AUS$ 5. kalau membayar minimal 3 bulan dimuka diberi diskon 4%.
-Penggunaan air dan listrik diirit, karena masing-masing membayar AUS$ 5 per bulan (sudah termasuk dalam sewa bulanan) tetapi kalau ternyata pemakaiannya lebih dari itu maka kekurangannya ditanggung berempat, karena tidak ketahuan siapa yang paling banyak memakai listrik dan air.  
-Menerima tamu atau teman belajar pada hari biasa dibatasi sampai jam 11.00 malam. Week end atau hari libur boleh sampai jam 13.00. tamu-tamu itu harus mendapat persetujuan room matenya, kalau room mate tidak senang karena terganggu, bisa mengajukan keberatan kepada Lesley.


Demikian kira-kira yang bisa Mama tangkap, lebih detail atau selebihnya Ade punya arsipnya. Kemudian Ade membayar uang kost seluruhnya AUS$ 425 dengan perincian sebagai berikut : 


- Uang sewa dari tanggal 22 – 29 Pebruari           : AUS$ 90

- Uang Jaminan                                                          : AUS$ 270

- Uang untuk mattress                                               : AUS$ 25

- Kunci Pintu depan, kamar dan jendela                 : AUS$ 40

Uang jaminan kalau pada saat Ade meninggalkan kost nanti semuanya masih dalam keadaan baik akan dikembalikan. Tapi kalau ada yang rusak, uang jaminan digunakan untuk mengganti atau memperbaiki kerusakan itu. Misalnya karpet ketumpahan cairan yang tidak dapat dihilangkan, terpaksa dibongkar untuk di laundry. Uang kunci juga akan dikembalikan kalau Ade tidak menghilangkan kuncinya. Seharusnya hari itu juga sekalian membayar satu bulan dimuka. Tapi mama ingin menanyakan Papa dulu, apakah kita mau bayar sekaligus tiga bulan atau per bulan. Mama minta waktu sehari untuk menukarkan uang US$ dulu karena uang AUS dolarnya sudah Mama berikan ke Ade untuk dimasukkan ke Bank. Sedangkan ATM nya baru bisa jadi menunggu depannya.

Rabu tanggal 23 Pebruari 2000.
Inilah hari pertama kita di Joondalup. Pagi-pagi seperti biasa Mama memulai kegiatan dengan zikir karena menstruasi belum selesai. Setelah mandi, dandan dan kunci pintu, kita berdua jalan keluar. Matahari mulai hangat tapi jalan-jalan tetap sepi. Sampai di Stasiun Kereta kita ragu-ragu bagaimana caranya beli karcis. Semua serba otomatis. Mama takut salah bagaimana kalau kita naik bus saja yang agak gampang karena kita langsung tanya ke sopirnya. Tapi ini tidak menyelesaikan masalah. Akhirnya ketika ada seorang ibu yang tanya sekarang jam berapa, Ade jawab dan ganti tanya bagaimana cara beli karcis kereta. Katanya, dengan menekan tombol pertama yaitu Adult, Student atau apa lainnya dan tombol kedua Zone yang dituju sesuai angka  maka akan keluar jumlah yang harus kita bayar dengan coin. Setelah ditekan dua tombol itu tak lama kemudian keluar jumlah uang yang harus dibayar, karcis terjatuh berikut uang kembaliannya.

Sesuai informasi yang diperoleh, untuk pergi ke Churchlands dari Joondalup naik kereta api dulu, turun di stasiun Stirling. Dari situ naik bus sekali ke Churchlands. Sampai di Churchlands Mama tidak ikut ke ISO, hanya menunggu di depan Off Housing Campus dekat Cafetaria sekaligus Mama mau ambil ATM yang ada disitu untuk persediaan membayar uang kost. Mama ambil AUS$ 100 sampai lima kali. Sesudahnya tidak bisa keluar lagi rupanya maksimum hanya boleh mengambil AUS$ 500. Sesudah ambil uang, Mama ke cafetaria beli makanan untuk kita berdua.

Setelah selesai semua urusan, kita kembali naik bus ke Stasiun Stirling. Sambil nunggu bus ketemu tiga orang cewek dari Indonesia ternyata mereka mahasiswi Tri Sakti Semester IV Ekonomi yang sedang menjalani program pertukaran mahasiswa untuk selama satu bulan di Perth. Turun di Stasiun Joondalup kita menuju Mall Lakeside belanja untuk mengisi kulkas. Karena jalannya jauh, hanya bisa beli sedikit saja takut keberatan. Hari ini Mama beli telur, super mi, anggur, sabun dan lain-lain. Banyak yang dicatat belum terbeli, nanti lain kali saja. Lakeside adalah Mall Besar dimana ada empat supermarket besar disitu, ada COLES, ADVANTAGE, TARGET dan KMART serta toko-toko dan restoran lainnya. Letaknya bersebelahan dengan stasiun kereta api dan stasiun bus Joondalup. Disitu segala macam ada, termasuk bioskop juga ada. Ada tiga ATM dan beberapa telpon umum. Tempat untuk duduk-duduknya juga enak.






Pulang dari Coles dengan bawaan masing-masing, jalan disiang bolong cukup melelahkan. Beberapa kali  kita berhenti untuk sekedar melepas lelah. Sore harinya Lesley datang lagi. Mama minta untuk membayar dengan US$ atau minta tolong dia untuk menukarkannya, dan dia bersedia. Mama menyerahkan US$ 750 dan diberikan tanda terima sementara dulu. Pada kesempatan tersebut Lesley minta Ade menandatangani House Rules. Membaca House Rules, Ade menjadi tidak enak kalau Mama terlalu lama tinggal di kost. Kapan Mama mau pulang? Mama jadi terharu, sedih membayangkan meninggalkan Ade sendiri disini. Mama dan Ade menangis berdua. Kata Ade, bukan Ade menyuruh Mama pulang, tapi memang semua harus dijalani Ade sendiri. Ade sudah niat, jadi nggak apa-apa Mama pulang, kalau disini juga nggak enak dengan yang lain. Mamapun merasa bahwa terlalu lama disini membebani Ade karena ternyata Mama tidak bisa apa-apa, sangat tergantung pada Ade. Mama tidak berhak atas kunci dan semua peralatan ditempat kost. Disamping itu juga Mama tidak bisa berkomunikasi dengan lancar dalam bahasa Inggris. Apalagi Inggris Australia sangat tidak jelas. Banyak kata-kata yang Mama tidak kenal sebelumnya. Lalu kita berdua pergi ke seberang jalan, ke Silvana Café untuk sekedar duduk-duduk. Kita pesan sate ayam 2 tusuk. Bumbunya kacang dan tusuknya sangat besar. Mama tanya ke Ade, kapan enaknya menurut Ade, Mama harus pulang? Kata Ade, Kamis depan. Mama tidak tahan mendengar jawaban Ade lalu menelpon Papa dan menyampaikan apa yang dimaui Ade. Rasanya sedih sekali membayangkan saat Mama harus kembali ke Jakarta, meninggalkan Ade sendiri disini.

Kamis tanggal 24 Pebruari 2000.
Adik mulai masuk kuliah. Kuliah yang pertama karena sebenarnya kuliah sudah dimulai hari Senin yang lalu. Keluar rumah bersama Mama, Ade terus ke ECU untuk kuliah, Mama ke Lakeside mau membelikan Ade Optus, karena sudah habis. Mama yang membawa kunci, nanti Mama telpon Ade kalau sudah selesai belanja. Supaya kalau Ade selesai kuliah bisa langsung pulang. Mama belanja sesuai kemampuan untuk membawanya, mengingat jauh dan panas. Selain beli Optus Mama membeli makanan untuk mengisi kulkas. Selesai belanja, Mama telpon Ade lalu pulang. tidak lama Ade pulang juga, lalu bikin nasi goreng untuk makan. Bumbunya bumbu jadi yang Mama bawa dari Jakarta, dipakai separo dulu. Baunya sedap sekali, setelah sekian lama tidak merasakan bau-bau masakan Indonesia. Selama di Australia, Mama tidak punya selera makan. Tetapi untuk jangan sampai sakit, apa yang ada di makan. Kadang Super Mi, kadang roti atau makan apa saja yang ketemu di jalan atau di Mall. Kalau lagi kepingin sekali baru nasi putih dengan gabus dan sambal Mbak Sum. Sayang sekali ketika Mama mau makan dengan sambal, ternyata sambal Mbak Sum sudah basi. Rupanya Mama tidak memasukkan di kulkas, dikira sudah betul-betul matang, bisa tahan lama. Ya nggak apalah nanti kalau ada kesempatan bikin lagi.

Sore hari Lesley datang membawa tukaran uang US$ 750 menjadi AUS$. Jumlah yang harus dibayar Ade adalah : 

- uang sewa 1 Maret – 31 Mei 2000 diberi diskon 4 %          : AUS$ 1.123
- uang sewa untuk Mama sampai hari Kamis depan             : AUS$     32
- menjadi seluruhnya : AUS$ 1.155

Tanda terima sementara kemarin diganti dengan yang baru, tapi tanggalnya tetap 23 Pebruari 2000. Papa menelpon menyarankan jangan pulang hari Kamis depan, karena hari Jum’at, Sabtu dan Minggu Ade sendirian. Sebaiknya pulang hari Minggu depannya saja, supaya bisa menemani Ade diwaktu masih belum ada teman, dan hari Seninnya sudah langsung ada kegiatan. Mama setuju.

Jum’at tanggal 25 Pebruari 2000.
Ade tidak ada kuliah jadi kita santai dirumah. Rencananya kita mau ke City untuk konfirmasi tiket garuda Mama yang akan pulang hari Minggu tanggal 5 Maret 2000, lalu beli televisi sekalian belanja barang-barang yang sampai saat ini belum bisa dibeli. Nanti kalau dapat televisi pulangnya naik taxi. Sampai di City sudah agak siang. Pertama-tama mencari alamat Garuda dulu di St George Terace 111. Kita lihat di peta sepertinya agak mudah, dari Wellington Street naik Blue CAT, turun St George Terace. Lalu cari nomornya. Rupanya tidak nampak, dan setelah ditanyakan ke Travel Biro disitu, ternyata sudah pindah tapi alamatnya mudah dicari. Setelah ketemu, Ade mengkonfirmasikan ke Petugas disitu. Selama di Perth, Mama sama sekali nol untuk berkomunikasi. Kalau tidak bersama Ade, nggak tahu apa jadinya, aak uuk nggak jelas mau ngomong apa. Mama bangga dengan Ade yang mudah berkomunikasi dengan siapapun. Petugas Garuda pesan supaya Mama sudah ada di Airport jam 06.00.

Bagaimana ya caranya? Kalau langsung dari Joondalup tidak mungkin, karena tidak ada taxi, kalaupun pesan dari Perth juga, apa bisa diharapkan? Jangan-jangan tidak datang. Jadi harus nginap di Perth. Satu-satunya daerah yang kita tahu ya hanya di Jewell House. Apa kita nginap disana semalam, pagi-pagi naik Shutle Bus ke Airport, nunggu di depan Jewell House. Baru setelah Mama berangkat, Ade kembali ke Joondalup. Membayangkan perpisahan itu, perut Mama langsung mulas. Air mata menggantung dipelupuk. Rasanya sangat berat meninggalkan Ade sendirian disini. Ya Allah, berikan hamba-Mu ini ketabahan dan limpahkan keselamatan dan kebahagiaan kepada putriku.

Mama dan Ade terus berjalan ke arah toko-toko untuk mencari televisi. Kita masuk ke toko electronic, tapi ternyata hanya ada televisi bekas. Ada yang pake remote ada yang tidak, harganya cukup murah AUS$ 175. Adik sudah setuju, dan kalau mau dibawa ke Joondalup pakai taxi akan didiskon AUS$ 20. Lalu kita tinggal untuk belanja dulu, nanti kalau mau pulang tinggal ambil. Taxinya juga mangkal dekat dengan tokonya.

Setelah belanja di Food Land, sebuah supermarket kecil didekatnya, kita mau cari makan dulu karena sudah lapar. Lagi enak-enak jalan, ada ribut-ribut tidak jelas. Seorang ibu muda berjalan bersama anak kecilnya entah orang Australia atau orang mana, berteriak-teriak. Suaranya kencang sekali, seolah-olah Mama dengan Ade yang dimaksud. Mama jadi takut cepat-cepat cari restoran yang terdekat, masuk ke Mac Donald. Saat kita makan, ternyata orang itu juga masuk kesitu, untung sudah nggak ribut-ribut lagi.

Kembali ke toko electronic, televisinya di coba. Menurut Mama jelek, gambarnya tidak bagus, gorang-goyang. Maklum televisi lama, Mama minta Ade untuk mempertimbangkan, jangan-jangan nanti kita pasang di Joondalup tidak bisa berfungsi, apalagi kita tidak ahli. Barangkali ada yang baru, lebih baik beli yang baru asal bisa dibayar dengan visa. Ternyata tidak jual yang baru. Dengan perasaan tidak enak, Ade terpaksa membatalkan, dia bilang Mama tidak setuju. Adik kelihatan kecewa dan cemberut, tapi Mama tetap pada pendiriannya, sayang kalu jauh-jauh dibeli, ternyata tidak bisa kita nikmati. Mama bilang nanti di Lakeside ada yang menyewakan bagus-bagus, karena kemarin Mama sudah mengambil brosurnya dan untuk student ada paket murah.

Dengan tanpa membawa Televisi, sayang juga kalau naik taxi. Jadilah kita mau pulang dengan naik Cat, lalu ganti kereta. Tiba-tiba perut Mama mulas, semalam minum Dulcolax. Sudah kebelakang sih, tapi karena diisi makanan lagi, ingin ke belakang lagi. Terpaksa kita balik lagi ke Mac Donald, karena disana satu-satunya tempat yang kita tahu ada toiletnya. Setelah selesai, kita ke Wellington Street naik CAT kemudian ganti naik kereta ke Joondalup. Sampai di stasiun kereta Joondalup, jalan kaki ke Lakeside. Toko yang kemarin menyewakan televisi ada di depan. Adik langsung diminta mengisi formulir, kita mau menyewa 3 bulan sekalian. Rupanya tidak bisa langsung dikirim hari itu juga, karena barangnya bukan yang ada di toko tersebut. Dijanjikan akan dikirim hari Senin, sekalian bayar uangnya. Kalau mau dilanjutkan lagi, setiap bulan akan dikirim tagihan, bayarnya ke kantor pos.

Perincian seluruhnya adalah :

-Sewa Televisi berikut asuransi selama 3 bulan  : AUS$ 31
-Ongkos kirim dan pasang                                       : AUS$ 20

Demikianlah, kita pulang berdua dengan membawa belanjaan yang tadi dibeli di Food Land cukup berat juga. Sampai di rumah langsung nggelosor di kasur. Sore hari, Mama mengingatkan Ade untuk menghubungi Telstra, Telkomnya Australia, untuk minta dipasang telpon. Dengan menggunakan Optus Ade menelpon Telstra. Karena jawabannya menggunakan mesin, jadi pembicaraannya lama sekali. Ini rupanya yang menghabiskan Optus Ade. untuk student, kalau pesannya dua nomor sekaligus bisa lebih murah. Adik menanyakan ke teman Brunainya apa mau pasang telpon bersama-sama berdua, katanya mau tapi tanya dulu ke kakaknya yang tinggal di Perth. Jadi Ade daftar sendiri. Biaya pasang AUS$ 175, sewa pesawat telponnya AUS$ 20 per bulan. Dari pada begitu lebih baik pesawat telponnya beli sendiri. Dijanjikan akan dipasang nanti hari Jum’at depan.

Sabtu tanggal 26 Pebruari 2000.
Pagi-pagi setelah zikir dan rapi-rapi, Mama jalan-jalan keluar rumah. Tapi kok rasanya dingin sekali. Mama masuk lagi, nanti agak siang saja. Hari ini kita tidak ada acara, dirumah saja. Sorenya Mama jalan-jalan lagi keluar mengelilingi komplek, pas lagi jalan-jalan Papa nelpon, Mama tahu Papa sangat mengkhawatirkan Ade. Hari Sabtu dan Minggu teman-temannya pada pergi. Nanti Ade sendirian? Mama hanya berharap semoga Ade segera mendapat teman, sehingga kalau nanti Mama tinggalkan sudah tidak terlalu sepi.

Papa menelpon kembali dengan perasaan khawatir, minta pendapat Ade bagaimana kalau pindah saja ke City. Adik malahan kurang setuju, tunggu nanti saja karena katanya semua campus ECU akan dipindahkan di Joondalup. Teman-teman Ade tahun depan pasti juga akan tinggal disini. Dari penglihatan Mama sehari-hari, Ade sudah mulai tenang kerasan dirumah. Ibarat ayam, sudah diputerin tiang rumah tiga kali, biar nggak hilang. Barangkali doa Mama dikabulkan Allah, perkembangannya dari waktu ke waktu mulai menyenangkan.

Hari yang panjang, Mama mencoba mencari kesibukan dengan membersihkan kamar, menyikat karpet, mencuci baju membersihkan kamar mandi dan lain-lain.

Oh ya, Mama belum menggambarkan kamar yang kita tempati. Mama rasa lay outnya sangat bagus. Kamar tidurnya kira-kira 4 x 4 berkarpet warna biru, tembok dan pintu-pintunya semua putih. Didepannya ada kaca jendela dengan tirai seperti kamar Ade di Rumah Buntu. Diluar kaca dipasang kasa dengan list sebesar kacanya. Kacanya dibuka dengan cara menggeser (ada kuncinya), maka udara yang masuk terasa segar dan tidak panas. Disebelah kamar tidur, ada dua pintu. Pintu pertama ke kamar pakaian kira-kira 2.5 x 1.5 M juga berkarpet sewarna. Kamar pakaian ini di desain sedemikian rupa, diatas terdapat rak terbuka, dibawah rak ada gantungan mengelilingi ruangan. Selain menempatkan pakaian Ade diatas rak, Mama juga menaruh kopor Mama kecil disitu, juga sepatu (dialasi koran) serta barang-barang lainnya, Mama biasanya sembahyang dan baca Al Qur’an dikamar itu, karena lampunya terang.

Pintu kedua berada disebelah pintu pertama tadi, menuju kamar mandi dan WC. Begitu pintu dibuka masuk ke wastafel dengan kaca besar dan meja rias, terus shower mandi yang dikelilingi kaca plastik tembus pandang. Ruangan ini kira-kira 1.5 x 2.5 M. Kekanan ada satu pintu lagi, masuk ke WC. Dari WC keluar ada pintu lagi tembus ke ruangan untuk mencuci baju, didalamnya ada mesin cuci dan zink besar. Ruangan untuk mencuci ini sudah termasuk riuangan umum. Sebelahnya jalan menuju dapur. Ruangan milik Ade hanya kamar tidur, kamar pakaian, kamar mandi (wastafel dengan tempat rias) dan WC.
Yang kurang bagi Mama adalah shower cebok seperti yang kita punya. Lainnya pas, sesuai dan nyaman, nanti kalau Mas Dandy sempat nengok Ade, biar melihat lay outnya kalau bisa diterapkan untuk rumah yang di kebon.

Minggu tanggal 27 Pebruari 2000
Mumpung masih pagi, enaknya jalan-jalan sekarang sebelum mandi, sekalian nunggu Ade bangun. Mama ganti baju terus jalan-jalan kepingin melihat-lihat kampus Ade, seberapa jauhnya dari rumah. Mama juga kepengin tahu, barangkali nanti Ade bisa pindah ke tempat yang lebih dekat dengan kampus ataupun dengan stasiun kereta.


Dari depan rumah kita, Regent Park 62 A lurus ke kiri sedikit, ada taman bermain anak-anak, belok kekanan yaitu Nottingshill road lurus sampai ke Bunderan, sudah sampai di Grand Boulevard. Dari situ kekiri terus menelusuri Grand Boulevard jalan yang seperti biasanya menuju ECU. Kampus Ade ada di Kendrew Crescent, berhadapan dengan TAFE. Setelah melihat-lihat lokasi sebentar, Mama kembali lagi. Ketika itulah Mama melihat dua kangguru, induk dan anaknya sedang menyeberang jalan di depan ECU. Lalu masuk ke semak-semak. Baru kali ini Mama dengan mata kepala sendiri melihat kangguru, binatang yang menjadi kebanggaan Australia. Pulangnya, dari ECU menyusuri Grand Boulevard lurus sampai ke perempatan Boas Road.  Kalau kekiri menuju Lakeside Mall, Mama ke kanan kira-kira seratus meter ketemu Lakeside Road.
Lakeside Road juga jalan besar, memanjang sejajar dengan Grand Boulevard, tapi jauh lebih sepi. Dari pinggirnya kalau turun ke bawah nampak dari semak-semak hutan yang dipagar. Danau Joondalup. Pinggir Danau ada Taman Nasional, yang Mama belum tahu namanya.

Disepanjang jalan sepi sekali. Mama tidak ketemu seorangpun di jalan, kecuali beberapa mobil yang lewat. Banyak burung berkicau, yang paling sering Mama temui adalah burung gagak berbulu hitam yang bunyinya kaooook-kaoook. Selain itu ada burung kakaktua yang bulunya berwarna pink. Burung ini cantik dan jinak. Biasa terbang disekitar Lakeside Mall. Mama perhatikan juga disepanjang jalan terdapat pohon-pohon dan semak-semak, yang ternyata selalu disiram air di musim panas, karena dibawahnya ada pipa-pipa hitam. Di ujung Boas Road dipinggir jalan Lakeside Road, juga sedang dibangun rumah-rumah baru, ada yang sudah selesai dan dipasang display nomor telpon developernya. Kelihatannya belum ada penghuninya meski sebagian sudah jadi lengkap dengan tamannya. Perumahan ini persis dipinggir danau Joondalup. Kalau nanti sudah ramai (mungkin tahun depan) siapa tahu Ade kepingin agak lebih dekat ke kampus dan stasiun kereta, bisa cari disini. Tentu harus bersama-sama dengan teman, karena tidak mungkin menyewa satu rumah sendirian.
Menyusuri jalan yang sepi sampai akhirnya kekiri lagi ketemu rumah-rumah dekat taman bermain di Regent Park Road. Perjalanan pulang dari ECU sampai kerumah adalah 30 menit karena masih pagi, belum panas, jadi tidak terasa capek. Sampai dirumah ternyata kaki Mama lecet, padahal pakai sandal jepit. Ketika Mama masuk rumah (bawa kunci) Ade sudah bangun, lagi manasin nasi goreng.

Untuk sarapan Ade bikin sandwich dan Mama makan sisa nasi goreng yang kemarin. Mama sebenarnya ingin masak tapi nggak boleh sama Ade. Nanti dikira room mate nya, Ade tidak bisa apa-apa, selalu dimasakin. Mama juga nggak boleh pakai barang-barang di kost takut rusak. Barang-barang itu hanya untuk anak-anak kost.

Senin tanggal 28 Pebruari 2000
Kuliah Ade masuk siang, jam 15.00 sampai dengan jam 17.00, jadi masih banyak waktu dirumah apalagi ada janji dengan Toko yang menyewakan televisi katanya  mau antar hari ini. Ade harus tandatangan dan bayar uangnya. Pagi sudah janji dengan Lin Tzee room mate nya, mau bersama-sama menelpon ke Telstra, minta dibatalkan yang dulu terus mau daftar kembali berdua dengan Lin Tzee supaya ongkosnya murah. Sebenarnya bukan hanya ongkos lebih murah saja, tapi rasa solidaritas antar kawan. Kalau giliran Ade, hari Jum’at minggu ini sudah bisa kring. Sedang kalau bersama-sama Lin Tzee barangkali mundur lagi. Jadi acaranya siang jam 11.00 pergi keluar menelpon, dan kembali ke rumah menunggu televisi datang, baru kuliah.

Jam 11.00 berdua Lin Tzee mereka keluar, ke telpon umum di Boas Road.
Sampai dirumah Ade terus mandi, kemudian televisinya datang. Selesai dipasang ternyata harus ada antenanya, diberitahu supaya beli antena dalam. Ya nanti Mama keluar bareng Ade ke Lakeside beli antena sekalian beli Optus. Jam 13.30 kita berdua berangkat bersama-sama sampai di Boas Road, Ade lurus ke ECU, Mama kekanan ke Lakeside. Mama belanja : Antena, Optus Card, Harsh brown, Majalah, Daging Ayam, Roti, Anggur, Sabun dan Salad.

Di Lakeside Mama ketemu Lesley yang  juga sedang berbelanja, menawarkan pulang bareng naik mobilnya. Di perjalanan Lesley cerita, punya dua orang anak, yang pertama perempuan 25 tahun dan yang kedua laki-laki 21 tahun. Mereka sudah bekerja, baru tahun ini mau masuk kuliah. Mama tidak begitu mengerti, mengapa baru sekarang kuliah? Mungkin kebiasaan di Australia, setelah usia dewasa, anak-anak mempergunakan kesempatan untuk hidup mandiri dulu dengan bekerja. Ngomong-ngomong mengenai anak, Mama cerita kalau anak pertama Mama sudah mau selesai kuliahnya di Arsitektur, mudah-mudahan masa Resesi Ekomomi segera berakhir, supaya bisa cepat bekerja. Kata Lesley, Your President is the strong man. Indonesia sudah lebih baik dari pada tahun 1997. Tentu karena dia Pengusaha kost melihat banyak anak-anak Indonesia datang belajar di Australia.


Ketika kami makan malam, televisi sudah dapat dinikmati. Ade menempatkan televisinya diruang tamu supaya Lin Tzee bisa ikut nonton. Nanti kalau Mama sudah pulang, televisi akan dimasukkan ke kamar. Lin Tzee bisa ikut nonton di kamar. Malam ini sebenarnya ada Ally McBeal, serial yang Mama senang. Tapi nonton di sini kan tidak ada teks bahasa Indonesianya, artinya nggak tahu ceritanya. Mama juga sudah ngantuk, jadi langsung tidur.

Selasa tanggal 29 Pebruari 2000
Pagi-pagi Mama bangun dan geser jendela sedikit, bau wangi tanah masuk kamar. Mama membangunkan Ade kemudian bikin kopi dan memanaskan hars brown untuk sarapan bersama Ade. Adik bangun terus mandi dan siap-siap ke kuliah. Seperti biasa kita jalan keluar berdua. Adik ke kuliah dan Mama ke Lakeside. Di jalan hand phonenya lupa, jadi balik lagi, Papa menelpon pas kita sedang diperjalanan. Jam 08.30 Supermarket baru buka jadi masih sepi. Mama sudah bawa catatan apa yang mau dibeli supaya tidak ada yang kelewatan, Rencananya Mama mau beli pesawat telepon, Ade minta yang pake kabel, Juga keset kamar mandi, sprei untuk ganti, dan makanan untuk mengisi kulkas. Semua yang bisa dibayar dengan visa saja. Tidak lupa Mama telpon ke Papa, mudah-mudahan belum berangkat ke kantor. Sekedar mengobrol sedikit. Jam 10.00 Mama sudah pulang.

Ade pulang siang, karena kelas tutorial ditiadakan. Juga cerita situasi di kuliah, dimana Dosen Ekonominya rasis. Mama menghibur dan memberi semangat, bahwa itu salah satu cobaan untuk mental Ade. Siang ini Ade masak ayam goreng, dari bumbu jadi yang Mama bawa. Ayamnya sudah Mama belikan kemarin tinggal direbus. Setelah selesai masak, masakan diantar ke kamar. Nah baru sekali ini Mama benar-benar makan seperti di Jakarta. Nasi putih, ayam goreng, ikan asin, sayur. Sayurnya dari kuah ayam waktu direbus diisi dengan buncis. Rasanya nikmat.

Kelihatannya hari ini Ade sudah ceria banyak teman-temannya menelpon, Anggi, Aswin, Randy dan Olga. Olga mengajak Ade untuk jalan-jalan ke Fremantle. Ade senang dan janji nanti kalau Mama sudah pulang mau main ke tempat Olga. Mama juga merasa senang, hari demi hari berkembang kearah yang lebih baik. Ya, Allah berikan kemudahan putriku untuk menempuh masa depannya. Tiada daya dan upaya kami, kecuali hanya atas perkenan-Mu. Amin.

Rabu tanggal 1 Maret 2000
Pagi jam 06.00 telpon sudah berbunyi. Adik Mama bangunkan, rupanya teman Ade, Anggi yang menelpon. Kita segera rapi-rapi. Selesai sembahyang, Mama membuat kopi susu. Adik mandi duluan. Rencananya hari ini Ade kuliah jam 11.00 sampai jam 15.00, ada tiga mata kuliah atau tutorial. Sebelumnya, mau lihat-lihat perpustakaan umum yang di Boas Road, karena perpustakaan di ECU selalu penuh. Kita berangkat bersama-sama jam 09.30. Mama ke Lakeside Ade ke Public Library. Ketika keluar rumah, udara diluar sudah mulai dingin. Mama mulai nggak berani pakai baju biasa, pakai baju dingin yang tidak terlalu tebal. Adik masih enak saja pakai kaos lengan pendek. Ditengah jalan Papa menelpon. Mama bilang Papa nanti saja nelponnya kalau Mama sudah di Lakeside.

Hari ini Mama mau beli sprei lagi seperti yang kemarin, yang kemarin salah, harusnya double bed Mama beli single bed. Sarung bantalnya masih bisa dipakai. Adik pesan supaya dibelikan telur, gula, daging cincang, sambal, anggur dan apel. Lainnya terserah Mama. Mama sempat lihat barang-barang kecil yang murah meriah, jadi kalau nanti pindah tidak apa-apa kalau ditinggal. Seperti gayung ceret (untuk cebok), tempat sabun, gantungan yang hanya ditempel, wadah-wadah kecil untuk tempat kosmetik dan lain-lain. Diluar belanja makanan yang dibayar dengan Visa Card, hanya habis AUS$ 8. sedangkan belanja sprei dan keset habis AUS$ 42,95 dan belanja untuk mengisi kulkas habis AUS$ 24. ternyata bawaannya terlalu berat, jadi pulangnya jalan pelan-pelan.

Siang hari, Mama ketemu Lesley yang sedang ngobrol dengan salah seorang room mate Ade, mungkin mengenai pembayaran. Selesai mereka ngomong-ngomong, waktu mau pulang Lesley tanya Mama, apakah nanti setelah 6 bulan Ade mau pindah? Mama jawab tidak tahu, mungkin tidak. Lesley bilang, lagi bikin rumah dekat kampus ECU, kira-kira hanya 100 meter dari ECU, tapi baru selesai Pebruari tahun depan. Mama minta supaya nanti ditawarkan ke Ade dulu, karena sekarang terlalu jauh dari kampus.

Malam ini ketika Mama sedang ngaji, terdengar bunyi telpon. Rupanya Papa ngecek Ade. Bisa Mama bayangkan bagaimana Papa kehilangan Ade. Mama yang sekarang bersama-sama saja, masih selalu sakit perut kalau ingat hari Minggu nanti, saat Mama pulang ke Jakarta. Kalau sudah begitu, air mata seperti tidak bisa ditahan lagi. Mama hanya bisa memohon kepada-Nya, kiranya segala sesuatu akan berjalan dengan lancar, dan waktulah yang akan menyembuhkan perasaan kehilangan itu. Mudah-mudahan perasaan Mama segera akan kembali seperti biasa, tidak selabil sekarang.

Teman Ade, Maro menelpon, katanya tanggal 16 Maret akan datang ke Perth sekeluarga. Adik diminta menjemput (bagaimana mau menjemput, nggak ada mobil). Waktu SMA dia sekolah di Perth, jadi sudah biasa. Mungkin orang tuanya ingin melihat-lihat, persiapan atau survey untuk nanti saat dia kuliah disini. Mama juga ikut senang akan ada teman disini yang sudah dari dulu baik dengan Ade.

Kamis tanggal 2 Maret 2000
Pagi di Joondalup yang dingin, bunga didepan rumah sedang mekar, warnanya putih, bentuknya seperti anggrek bulan. Tapi jelas bukan anggrek, karena tidak ada lidahnya. Ketika jendela digeser, bau tanah masuk keruangan.

Mama mengambil air wudhu, terus sembahyang dan membaca Al Qur’an. Doa mama tiada lain kiranya Allah berkenan melindungi dan memberi petunjuk kepada putri Mama satu-satunya yang akan segera Mama tinggalkan disini. Mama ingat cobaan yang diberikan Allah kepada Nabi Ibrahim, ketika diperintahkan meninggalkan isteri dan bayinya yang masih merah di dekat Baitullah, ditempat yang panas tanpa air. Alangkah berat hatinya. Tidak seberapa berat kalau Mama meninggalkan anak yang sudah hampir dewasa, untuk tujuan menuntut ilmu demi masa depannya, ditempat dan suasana yang lebih nyaman dibanding dengan apa yang diperintahkan Allah kepada Nabi Ibrahim. Tidak seharusnya Mama cengeng begitu. Yang penting Ade sendiri sudah merasa tenang, cukuplah. Selebihnya, berserah diri kepada-Nya. Mama yakin Allah akan memberikan yang paling baik kepada Mama sekeluarga, seperti yang sampai saat ini telah Mama terima. Segala nikmat dan karunia yang tidak habis-habisnya telah Mama peroleh, demikian pula cobaan, bila ada, selalu dimudahkan dan diberikan jalan keluar yang sebaik-baiknya. Mama memang selalu merasa bahwa selama ini dikaruniai banyak sekali kenikmatan. Kadang baru punya sesuatu keinginan yang terbetik dalam pikiran, tiba tiba sudah ada didepan mata. Hingga malu rasanya untuk punya keinginan yang berlebihan. Dengan perasaan demikian mudah-mudahan sedikit demi sedikit akan hilang kecengengan Mama.

Adik masuk kuliah jam 11.00 sampai jam 15.00. Tapi punya janji dengan temannya Hendra minta dibantu mengerjakan sesuatu. Tadinya Mama sudah tidak akan kemana-mana tinggal dirumah saja tapi Ade ingin dibelikan bahan makanan yang siap dihidangkan atau tinggal goreng saja seperti soup dalam kaleng, jagung, kentang dan lain-lainnya. Adik juga janji akan ke Public Library untuk menyerahkan persyaratan menjadi anggota yang kemarin belum dibawa. 

Setelah mencuci pakaian, handuk dan lain-lain (karena besok mau ditinggal ke Perth) lalu mandi dan rapi-rapi, kita berdua keluar rumah jam 10.30. Adik ke kuliah Mama ke Lakeside. Beruntung Mama menemukan bumbu ayam goreng dan nasi goreng yang seperti Mama bawa dari Jakarta kemarin di Super Market Advantures. Mama beli sekalian banyak sekaligus beli ayamnya, untuk nanti Mama masakkan dan disimpan di kulkas. Hari ini belanja habis AUS$ 60 pakai visa. Membawa belanjaannya berat sekali karena banyak belanjaan yang berupa kaleng-kaleng yaitu bumbu-bumbu, soup, sambal bajak, jagung dan beras. Ayam dan daging juga cukup berat. Pulangnya sampai berkali-kali istirahat ditempat yang teduh, baru sesudah nggak capek jalan lagi. Sampai dirumah Mama langsung masak nasi, masak ayam sebagian disimpan sebagian digoreng, masak sayuran. Sayurnya sederhana saja, hanya timun dan buncis. Nggak tahu enak apa nggak. Selesai masak, Mama membersihkan dapurnya dan mencuci barang-barang yang habis dipakai.

Setelah istirahat, Mama menuliskan ayat Kursy untuk Ade. Mama sudah pesan, kalau terjadi sesuatu atau punya perasaan khawatir atau bahkan ada sesuatu yang menakutkan, agar dibaca ayat Kursi. Ayat Kursi ini juga sangat bagus dijadikan wirid, selalu dibaca setelah sembahyang wajib.

Ade kembali dari kuliah jam 16.00. Kita makan siang bersama.

                                                  


Jakarta, 11 April 2020.













Tidak ada komentar:

Posting Komentar