Minggu, 03 Februari 2019

Wisata Alam dan Kuliner Yogya Solo (II)


Assalamu’alaikum ww.

Hari ketiga, rombongan kami menuju Solo. Semula aku buatkan tentative acara dengan mampir di Candi Ratu Boko dan Umbul Ponggok, tetapi rupanya teman-teman lebih suka langsung ke Solo. Mereka ingin melihat Makam Pak Harto dan Bu Tien. Untuk itu, harus menanyakan dulu ke Dalem Kalitan (Rumah Kalitan), barangkali memerlukan ijin.

Dalem Kalitan adalah nama atau sebutan untuk rumah Pak Harto dan Bu Tien yang terletak di Kampung Kalitan, Solo. Lokasi ini sangat dekat atau di belakang Hotel Paragon, tempat kita nanti menginap. Kebetulan my hubby kenal dengan Kerabat Keluarga Cendana. Kami diterima dengan baik, diperbolehkan masuk kedalam  Dalem Kalitan untuk mengambil foto-foto.

Memasuki halaman yang luas dan asri, kemudian menuju Pendopo dari Bangunan Utama, maka yang pertama kali aku lihat adalah pilar-pilar penyangga bangunan Joglo. Di sebelah timur pojok terdapat gamelan yang ditutupi kain, mungkin agar tidak berdebu. Di ruang tengah atau dalam bahasa Jawa disebut Pringgitan, furniture-nya terbuat dari ukiran kayu jati yang cantik.  Meja-meja kaca berkaki rendah berada ditengah ruangan. Foto pak Harto dan Bu Tin berada di tengah dan pinggir kiri maupun kanan ruangan. Kami befoto di pojok kanan ruangan, tempat Foto Pak Harto dan bu Tien berada.


Dibelakang ruang tengah ini adalah kamar-kamar tidur, atau bahasa Jawanya Sentong. Selain itu ada foto-foto pak Harto yang dibawahnya tertulis  wejangan atau kata mutiara dalam bahasa Jawa. Menang tanpa ngasorake, artinya menang tanpa mengalahkan. Nglurug tanpa bala artinya menyerang tanpa pasukan. Wong iku kudu ngudi kabecikan jalaran kabecikan iku sanguning urip, artinya orang itu harus mencari kebaikan, sebab kebaikan itu bekal hidup. Bagi orang Jawa, kata-kata tersebut megandung arti yang dalam ketika menghadapi kehidupan di dunia yang tidak selalu mulus.

Ukiran yang ada di ruangan ini tampak halus dan rumit. Tentulah pengerjaannya sangat apik. Meskipun demikian, untuk bisa tetap tampak cantik perlu perawatan yang intens yang artinya perlu biaya. Pak Thamrin benar, ketika berkomentar bahwa sebaik-baik meninggalkan warisan, adalah berupa Masjid. Disamping merupakan amal jariyah yang berpahala terus menerus tanpa putus, juga  akan selalu ada yang merawat.

Ketika terdengar azan Dzuhur, kami bersama-sama sholat di Masjid Nurul Iman di Dalem Kalitan. Masjidnya tidak besar, tapi bersih, dan lumayan banyak masyarakat sekitar yang sholat disana. Gerimis turun semakin deras, dan kami meninggalkan Dalem Kalitan. Sebelum menuju Makam Pak Harto dan Bu Tien di Astana Giribangun Matesih, kami akan makan siang lebih dahulu.


Oh ya, lupa menceritakan tentang hoby teman-teman my hubby ini. Mereka semuanya Jago Nyanyi. Sampai-sampai untuk lebih memaksimalkan perjalanan wisata agar lebih enjoy, ibu Novian dan ibu Thamrin membeli Magic Microphone model baru yang bisa download lagu-lagu karaoke dari You tube. Di sepanjang perjalanan, 6 orang penyanyi selalu siap menghibur. Hanya aku berdua ibu Thamrin yang nggak bisa menyanyi. Mau belajar, sudah terlambat, sudah ketuaan he he he….…..

Kami menuju Restoran Pecel Solo untuk makan siang. Sebelum di renovasi, aku sering mampir kesini. Sekarang Restoran ini memiliki tampilan yang lebih bagus. Lantainya menggunakan tegel batik warna kuning coklat bermotif kawung. Meja makan kayu, demikian pula pintu kayu yang menempel di dinding ukurannya cukup besar. Di dalam restoran tampak hiasan berupa kalung sapi dari besi kuning yang berderet dibawah plafon. Rasanya tampilan yang unik ini sangat mungkin berhubungan erat dengan hobby Sang Pemilik, mungkin beliau adalah kolektor barang kuno.






Begitu memasuki restoran, kami disambut musik organ yang dibawakan oleh Pemusik yang berpengalaman. Lagu-lagu manis mengiringi makan siang kami. Apa saja hidangan khas di restoran ini? Selain Pecel, berbagai masakan khas Solo yaitu : Nasi liwet, Sambal Tumpang, Urap, Rawon, Lontong Cap Go Meh, Garang Asem. Minumannya pun lengkap, Wedang Jahe, Beras Kencur, Gula Asem dan sebagainya. Sambil menikmati makan siang, satu per satu dari anggota rombongan kami menampilkan suara emasnya. Pak Novian, Pak Thamrin, Pak Ari, my hubby, ibu Ari dan ibu Novian. Aku dan ibu Thamrin nggak bisa menyanyi.

Keasyikan menyanyi, hampir lupa tujuan semula kami ke Makam Pak Harto dan Bu Tien. Ketika hujan reda, kamipun berangkat kesana, langsung meluncur menuju Astana Giri Bangun, nama resmi Makam Pak Harto dan Bu Tien itu. yang terletak di Desa Girilayu, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karang Anyar. Perjalanan lancar, karena lalu lintas di kota Solo tidak macet. Apalagi kalau ke luar kota, jalan mulus dan sepi sehingga  perjalanan lancaaaar jayaaaa....

Sesuai petunjuk dari Petugas di Dalem Kalitan, kami menaiki bukit menuju Lapangan Parkir A, yang merupakan lokasi parkir mobil yang paling dekat dengan makam. Dari tempat parkir, kami berjalan santai menuju Astana Giri Bangun. Udara sejuk, karena lokasi ini berada di lereng Gunung Lawu, 660 meter diatas permukaan laut. Sambil berjalan aku memperhatikan keadaan sekitar Makam. Tampak dikiri jalan kehijauan pepohonan, diantaranya pohon durian yang sedang berbuah lebat bergelantungan. Wouw …..

Tiba di Makam, kami mendapat penjelasan dari Petugas siapa saja yang dimakamkan disini. Di lantai utama paling atas, disebut Cungkup Argo Sari terdapat 5 makam yaitu dari kanan ke kiri, pak Harto, Ibu Tien, kemudian ayah ibu dari ibu Tien yaitu Bp Ibu Soemo Haryomo  dan satu lagi di ujung kiri kakak dari Ibu Tien. Sebagai manusia, sesama muslim, aku mendoakan beliau berdua, semoga mendapat tempat yang layak disisiNya. Kami berfoto di dekat makam Pak Harto dan Ibu Tien. Turun sedikit dari lantai utama, disebut Cungkup Argo Kembang, kami berada dilantai tempat makam para kerabat Ibu Tien. Disini juga nantinya putra-putri beliau seperti mbak Tutut dan saudara-saudaranya kelak dimakamkan. Lebih kebawah lagi disebut Cungkup Argo Tuwuh. Yang berhak untuk dimakamkan di Cungkup Argo Kembang dan Argo Tuwuh adalah para Pengurus Yayasan Mangadeg, yaitu Yayasan yang membangun Astana Giri Bangun, serta Trah Mangkunegaran yang mengajukan permohonan.

Berbarengan dengan kedatangan kami, ada juga satu keluarga dari Magetan, Jawa Timur. Sama dengan kami, mereka ingin melihat dari dekat Makam Presiden Indonesia Kedua, Pak Harto. Mungkin saja ada yang mempertanyakan kunjungan ziarah ini, mengingat kami sama sekali bukan kerabat dan bukan pula pendukung beliau. Bahkan tidak mendukung kebijakan pemerintahannya.  Kami juga bukan pendukung partai yang dipimpin mantan menantu beliau, Calon Presiden nomor 2 Prabowo. Demikian pula bukan pendukung partai yang didirikan putra beliau Tomi, Partai Berkarya. Murni hanya ingin tahu seperti apa makam orang pertama Indonesia di Jaman Orde Baru.


Setelah membayar foto-foto yang sudah dicetak, Rp. 20.000 per foto, kami meninggalkan Astana Giri Bangun, turun ke Pasar Matesih ingin menikmati durian Matesih yang terkenal itu. Di dekat Kantor Polsek kami menemukannya, dan langsung menikmati durian yang harganya Rp. 65.000 per buah. Enak, tapi belum seenak durian Medan....

Acara makan malam kami kali ini adalah menikmati Wedangan ala Solo di Wedangan Omah Lawas. Perlu dijelaskan, wedang dalam bahasa Jawa artinya minuman. Istilah "wedangan" menurutku adalah duduk ngobrol bersama menikmati minuman dan tentu saja dengan makanannya. Minuman apa saja? Yang terkenal di Solo adalah Wedang Ronde, Wedang Angsle, Wedang Kacang (kacang putih atau kacang hijau), Wedang Jahe, Wedang Kopi, Wedang Teh dan terakhir yang sekarang trend dan disukai adalah Wedang Uwuh.

Dulu, ketika aku masih kecil, di tempat wedangan itu pasti ada Ceret Hitam yang nangkring diatas api. Tapi di jaman modern ini, ceret itu sudah tidak tampak lagi. Namun demikian, ada sebuah Cafe untuk anak-muda yang sangat laris, namanya Tiga Ceret. Café ini sebenarnya Wedangan juga. Jenis makanan, minuman dan cara melayaninya sama dengan Wedangan Omah Lawas.


Dibawah hujan gerimis, kami menuju Omah Lawas, di Jalan Prof. Dr. Supomo no 55, Mangkubumen. Omah Lawas artinya Rumah Lama. Tempatnya luas, menempati bangunan rumah model lama jaman Belanda. Tamu bisa memilih duduk lesehan (duduk di tikar di lantai), atau duduk di kursi. Makanan dan minumannya bermacam-macam. Setelah mengambil makanan di piring, di bayar di Kasir. jika ingin dihidangkan dalam keadaan hangat,  makanan itu dibakar di perapian terlebih dahulu. Apa saja jenis makanannya? Bisa di lihat di foto dibawah ini. Harganya murah meriah untuk ukuran wisatawan dari Jakarta.



Hari keempat. Hari ini kami akan mengunjungi Candi Sukuh dan Candi Cetho, yang merupakan Candi Hindu. Sebelum berangkat, kami menikmati sarapan di Rumah Makan Soto Kirana. Selain Soto, banyak macam hidangan tersedia. Yang khas dan enak adalah masakan Asem-asem Kikil, Sambal Tumpang. Lauknya juga enak, tempe goreng dan paru goreng. Untuk wisatawan dari luar Solo, tentu tidak mengenal makanan seperti Jenang Candil (Jenang dalam bahasa Jawa, Bubur dalam bahasa Indonesia),  Jenang Mutiara dan lain-lain. Ternyata setelah dicoba,  teman-teman suka, karena memang enak.

Arah ke Candi Sukuh sama dengan arah jalan yang kemaren kami lalui. Dari kota Karang Anyar, jika ke Matesih belok ke kanan, sedang ke Candi Sukuh belok ke kiri. Jalan mulai menanjak melalui hijaunya persawahan dan kebun teh. Lokasi Candi terletak di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karang Anyar. Jarak dari kota Solo ke Candi kira-kira 36 km.  Menuju ke lokasi ini, mobil meluncur melalui jalan desa yang telah diaspal mulus. Suasana alam yang sejuk dan hijau membuat hati tenang dan damai. Daerah yang kami lalui ini ini biasa disebut Kemuning. Sejak jaman Belanda Kemuning merupakan daerah penghasil teh.

Tiba di Candi Sukuh, gerimis kecil-kecil mulai turun. Suhu udara dingin karena letaknya yang tinggi, 1.100 diatas permukaan laut, menjadi semakin dingin karena hujan. Dengan membeli tiket di loket, kami diberi sepotong kain kotak-kotak hitam putih untuk dikenakan ketika memasuki area candi. Saya lupa kain itu namanya apa ya? Yang jelas kain ini dalam dunia wayang dikenakan oleh Bima dan Hanoman



Kami didampingi Pemandu Resmi, namanya mas Gunawan. Menurut penjelasannya, Candi Sukuh ini dibangun pada masa Majapahit dibawah pemerintahan Ratu Suhita. Jika dilihat berdasarkan Candra Sangkala dalam Bahasa Jawa yang berbunyi Gapura Buta Aban Wong atau Buto Mangan Manungso, artinya dibangun pada tahun Saka 1359 atau tahun Masehi 1437. Tetapi, jika dilihat dari arsitekturnya, ini adalah bangunan Budha Hindu, sehingga seharusnya berumur lebih tua dari tahun tersebut. Ada kemungkinan tahun 1437 itu bukan tahun dibangunnya, melainkan tahun dipugarnya.




Terdapat 3 tingkatan atau teras. Kita berada di teras terbawah dimana terletak Gapura, kemudian menaiki undakan batu ke teras yang lebih atas, kemudian menaiki undakan lagi ke teras paling atas yang dijaga 2 buah Patung Drupala. Di teras kedua ini, hanya sedikit sisa-sisa batu candi  yang tertinggal. Di teras atas, terdapat beberapa panel relief yang memiliki alur cerita. Sayang aku nggak sampai naik ke teras atas.

Candi Sukuh memiliki ciri yang khas. Pertama, Candi ini  menggambarkan awal mula kehidupan manusia di dunia, dengan bentuk nyata Lingga Yoni, alat kelamin pria dan wanita. Yang kedua, arsitekturnya mirip dengan Bangunan purba peninggalan kebudayaan Maya dan Inca di Amerika Selatan.

Sebenarnya aku masih ingin mendengarkan penjelasan Pemandu mas Gunawan lebih detail, tetapi karena titik-titik hujan semakin deras dan tidak berpayung, aku segera berlari menuju warung kopi diluar candi untuk menghangatkan badan yang kedinginan. Tadi disela-sela mendengarkan penjelasannya, kami sudah mengambil foto rame-rame dengan berbagai gaya, berpasangan maupun dengan ibu-ibu. Ternyata foto-fotonya cukup cantik..... Alhamdulillah …..


Melanjutkan perjalanan ke Candi Cetho, hujan sudah mulai deras. Arah ke Candi Cetho jalannya lebih menanjak, kemiringannya hampir 70% sehingga perlu berhati-hati. Sampai di tempat parkir mobil, terjadi hujan disertai angin  sehingga tidak memungkinkan kami untuk turun dari mobil. Akhirnya kami putuskan untuk makan siang terlebih dahulu, dan jika cuaca sudah ramah, kami akan kembali naik. Mas Roby mencatat nomor Hp Petugas Loket untuk mengeceknya nanti.

Kamipun turun untuk makan siang di Restoran Ndoro Donker, sebuah restoran yang menghidangkan minuman teh dengan berbagai jenis teh, baik lokal maupun dari luar negeri. Ndoro Donker atau Tuan Donker adalah nama seorang Ahli Teh Warga Negara Belanda yang mendedikasikan hidupnya di Perkebunan Teh Kemuning hingga akhir hayatnya. Masyarakat Kemuning menghormatinya dan untuk mengenangnya, dijadikan nama sebuah restoran.

Begitu memasuki restoran dihadapan kami terhampar pemandangan kebun teh yang luas. Di atas tempat duduk outdoor, buah markisah yang masih hijau bergelantungan. Musik organ tersedia menghibur para tamu membawakan lagu-lagu oldies. Menu makan siang kami adalah Soto Ayam dan Sup Iga. Sambil menikmati makan siang, satu per satu teman-teman dan my hubby melantunkan suara emasnya.



Ketika mas Roby menghubungi Petugas Loket Candi Cetho menanyakan kondisi Candi Cetho,  jawabannya adalah tidak memungkinkan kami kesana karena hujan angin belum reda. Ini adalah kedua kalinya aku berusaha mengunjungi Candi Cetho tetapi gagal. Barangkali memang belum saatnya saja. Setelah selesai makan siang dan mengambil foto-foto, kami kembali ke kota Solo. Sebagai orang yang dilahirkan di Solo, keindahan alam berupa hijaunya perbukitan dan persawahan, sudah merupakan pemandangan sehari-hari, namun tetap saja mataku terpana akan cantiknya alam lereng gunung Lawu ini. Subhanallah........

Dalam kondisi capai, sebenarya kami tidak ingin lagi keluar hotel untuk makan malam. Oleh karenanya, kami mampir di Restoran Sri Rejeki, sebuah tempat makan di dekat Lawang Gapit Kulon (Pintu Gerbang Barat) Beteng. Hidangan hangat yang selalu aku cari disini adalah Wedang Kacang Putih. Disini jenis makanan lengkap. Ada Nasi kucing, yaitu nasi dengan sepotong kecil ikan bandeng pindang (sudah asin) dan sambal tomat, ada nasi dengan lauk oseng-oseng pete, semuanya dalam bungkusan kecil-kecil. Katanya cukup enak…. Ada juga bihun goreng, sate sosis  dan bermacam-macam lainnya seperti tempe, tahu, udang, daging empal, daging ayam, ati ampela. Setelahnya, masih bisa menambah dengan somay tahu dengan kuah kacang. Lumayanlah, makanan dengan penyajian seperti ini rasanya khas Solo, belum pernah kutemui di Jakarta.

Oh iya, baru ingat bahwa esok pagi Bapak dan Ibu Ari akan kembali ke Jakarta dengan pesawat paling pagi, sedangkan yang lain naik pesawat Citilink sore. Beliau punya acara yang tidak dapat ditinggalkan. Kesempatan untuk mencari oleh-oleh hanyalah sekarang. Kami mampir ke Toko Roti Orion dan ke Toko Batik Ria.

Mas Roby dengan mobil Toyota Hi Ace nya yang menemani kami selama 4 hari,  juga hanya sampai hari ini. Kami mengucapkan terima kasih dan berharap suatu saat kembali ke Jogya dan Solo dapat ketemu lagi. Semoga perjalanannya kembali ke Yogya lancar dan selamat sampai tujuan.

Hari kelima - terakhir. Sesuai rencana, pagi tadi Bapak dan ibu Ari akan cek out pagi-pagi sekali untuk ke Jakarta pesawat paling pagi. Dan kami berenam akan cek out dari Hotel Paragon pagi jam 9, menitipkan koper hingga nanti siang menjelang keberangkatan baru koper diambil. Kami sarapan dan ngopi dulu di Starbuck Mall Paragon disebelah hotel dan kemudian dengan menggunakan taksi on line, ke Batik Dwi Hadi, Jl Pringgodani no 11. Informasi dan rekomendasi mengenai Toko Batik ini adalah dari putri bu Novian. Bisa juga dilihat di Instagram, dimana batik-batiknya sesuai selera kita. Bener juga, batik-batiknya memang bagus-bagus, desainnya eksklusif. Harganyapun juga bagus…… he he he….


Pak Novian telah menjatuhkan pilihannya pada hem batik motif ukel kombinasi salur-salur yang memang keren. Pak Thamrin juga tidak beranjak dari hem batik pilihannya. Ibu-ibu  apalagi, nggak selesai-selesai, pilih sana pilih sini, bahkan akhirnya menjahitkan sekalian disini. My hubby, yang sudah biasa menjahitkan ke Penjahit langganan, memutuskan cocok dengan bahan hem warna orange muda kombinasi hijau, setelah memilih-milih lainnya. Aku sendiri yang nggak beli. Sebenarnya naksir gamis dengan dasar hitam, di tengah ada Penari Balinya. Harganya cukup mahal. Pikir-pikir dulu lah, kapan mau pakainya? Sekarang sudah jarang pergi ke Undangan, nanti akhirnya hanya digantung di lemari saja…..

Setelah akhirnya puas memilih dan cuci mata, kami meninggalkan Toko Batik Dwi Hadi menuju Musium Batik Danar Hadi. Sayang musium baru buka pada jam 13.00, masih cukup lama untuk menunggu. Jadilah ibu-ibu melihat-lihat Toko Batik yang ada di sebelahnya. dan bapak-bapak menunggu di Cafe sambil ngopi. Kebetulan sekali, disini aku melihat rok-rok batik cantik warna merah biru, sepertinya pas untuk gadis-gadis kecilku di Jakarta. Bungkusss....

Kami makan siang di Resto Pecel Solo yang kemaren telah kami kunjungi, semata-mata untuk melewatkan waktu dengan menyanyi, karena pesawat kami baru akan terbang nanti sore. Disini juga bisa sholat Jamak Qoshor Dzuhur dan Ashar. Puas menyanyi, hasrat Ibu-ibu untuk berbelanja belum pudar jadilah kami ke Pasar Gede untuk membeli buah Salak. Setelah selesai, langsung ke Hotel untuk mengambil koper yang tadi pagi dititipkan.  Mobil terasa  penuh dan sumpek dengan penumpang dan barang. Aku ingin tertawa jika ingat bahwa mobil yang kami tumpangi penuh sesak. Tempat duduk di tengah dengan terpaksa  diisi 4 orang. Ibu Thamrin yang duduk di belakang bersama koper-koper, harus rela memegangi barang-barang agar tidak ambruk ke depan. Bener-bener nih, ibu-ibu terlalu bersemangat membeli oleh-oleh …

Syukur Alhamdulillah, hingga hari terakhir kami semua tetap sehat ceria. Semoga perjalanan ini akan menjadi kenangan yang mengesankan bagi kami semua, dan menjadikan kita tetap sehat menikmati hari tua bersama-sama.
Wassalamu’alaikum ww.

Jakarta 3 Februari 2019.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar