Selasa, 30 April 2019

GEORGE TOWN, kota tua di Penang, Malaysia


Assalamualaikum ww.
Tanggal 13 April 2019 adalah hari ulang tahun suami tercinta. Aku sudah berencana untuk jalan-jalan berdua ke suatu tempat yang belum pernah kami kunjungi. Pilihan jatuh ke Kota Penang, di Pulau Pinang, Malaysia. Nah, hari itu kami berdua berangkat dari rumah menuju Bandara Soetta. Sebelum ke Penang, tahun 2016 kami berdua sudah mengunjungi Malaysia yaitu Kula Lumpur dan sekitarnya serta Melaka. Lihat cerita aku di wenidarmono.com yaitu Mengunjungi Malaysia : (1) City Tour Kuala Lumpur, (2) Batu Cave dan Genting High Land, (3) Melaka Kota Tua Bersejarah,

Pesawat Citilink yang kami tumpangi full seat. Rupanya banyak juga orang Indonesia yang berwisata ke kota ini. Mungkin juga tidak semua berwisata, karena Penang juga terkenal sebagai tempat berobat, dimana Rumah Sakitnya banyak diminati Warga Negara Indonesia. Pesawat mendarat dengan smooth, dan kami dijemput Driver dari Travel yang sudah kami pilih dari Jakarta, namanya Pak Richard. Untuk keluar dari Bandara Penang, ternyata macet sekali. Kata Pak Sopir, karena tidak ada Polisi, Biasanya Polisi yang mengatur sehingga tidak semrawut seperti ini.  

Hotel kami berada di pusat kota George Town, di Jalan Lebuh Noordin. Saya agak heran kok kamarnya sempit begini? Sempat untuk minta pindah kamar yang lebih besar, tetapi ternyata tidak ada. Rupanya memang aku yang teledor nggak memperhatikan dengan baik. Aku memilih Hotel Cititel, tetapi diberikan Hotel Cititel Express. Yah………. sudahlah, nggak pa pa, hanya 3 malam saja…….

Dalam kunjungan singkat ke Penang ini, ada beberapa tempat wisata yang dapat aku ceritakan.

George Town, kota tua yang artistik
Untuk diketahui bahwa Negara Malaysia saat ini, terdiri atas 11 Negara Bagian dan 2 Wilayah Persekutuan. Negara-negara bagian tersebut ialah Kelantan, Terengganu, Pahang, Johor, Melaka, Negeri Sembilan, Selangor, Perak, Kedah, Pulau Pinang dan Perlis, serta Wilayah Persekutuan Putrajaya dan Kuala Lumpur. 

Pulau Pinang ini merupakan salah satu Negara Bagian Malaysia. Inilah wilayah di Malaysia yang pertama kali didarati pasukan Inggris pada tahun 1786 di bawah pimpinan Kapten Francis Light. Awalnya, Pulau Pinang merupakan wilayah Kesultanan Kedah yang kemudian dijual kepada Inggris sebagai kompensasi perlindungan Inggris untuk kesultanan itu dari ancaman Kerajaan Ayuthya (di Thailand). Atas nama Raja Inggris saat itu, George III, Kapten Francis Light membangun kota dan memberi nama George Town, yang sekarang menjadi ibu kota Negara Bagian Malaysia ini. Jika diperhatikan, mayoritas penduduk Penang adalah etnis China, diikuti kemudian etnis India dan suku Melayu sebagai penduduk asli.. Mengapa demikian? Ketika berkuasa, pemerintah Inggris mendatangkan banyak tenaga kerja dari China untuk membangun Pulau Pinang.

George Town merupakan kota tua yang telah ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 2008 sebagai Situs Warisan Dunia. Banyak sekali gedung-gedung dengan arsitektur Kolonial yang masih tegak berdiri dengan gagahnya serta masih berfungsi dengan baik,  sebagai Perkantoran atau Hotel. City Hall dan Town Hall merupakan Gedung cantik peninggalan masa lalu yang  sangat terawat  dan berfungsi sebagai Balai Kota. Demikian pula Gereja St George’s, Masjid Kapitan Keling, Kelenteng Hock Teik Chen Sin dan Kuil Sri Maha Marimman merupakan bangunan yang sudah berumur ratusan tahun. Sebuah rumah tinggal jaman dulu yang desainnya sangat unik dengan warna merah menyala, disebut Khoo Kongsi.


Selain Gedung-gedung yang aku sebutkan diatas, di George Town wisatawan dapat melihat-lihat Mural Street Art yaitu lukisan di dinding-dinding tembok rumah-rumah warga, yang dilukis oleh seorang Seniman Lithuania bernama Ernest Zacharevic. Lukisan-lukisan ini dibuat dalam rangka George Town Festival 2012. Oleh karena telah lama, lukisan yang cantik dan lucu itu warnanya mulai pudar, walaupun demikian karena telah menjadi tujuan wisata, untuk berfoto disini, kita harus antri.






Lukisan-lukisan itu menggambarkan kegiatan sehari-hari masyarakat Penang antara lain anak-anak yang sedang main layang-layang, ada yang sedang berboncengan dengan adiknya, kemudian ada seorang ibu penjual susu dan banyak lagi, yang bertebaran di Lebuh Armenian, Lebuh Ah Quee, dan sekitarnya, di tengah kota George Town. Jika teman-teman ke Penang, jangan lupa mampir kesini ya. Oleh karena Penang cuacanya panas seperti negeri kita, maka untuk menikmati Mural Street Art ini lebih nyaman jika berangkat pagi sebelum matahari naik.

Selain apa yang sudah aku kunjungi tersebut, Penang juga terkenal dengan keberadaan Clan Jetties. Apa itu? Perkampungan atau pemukiman warga yang berada diatas air laut. Lokasi pemukiman ini berada di sepanjang Jalan Pangkalan Weld. Sejarahnya, ketika para tenaga kerja dari China didatangkan oleh Pemerintah Inggris, mereka tinggal di rumah-rumah yang dibangun diatas laut ditepi pantai. Hingga saat ini rumah-rumah itu masih ada dan mereka tinggali.



Diantara yang masih ada, adalah milik keluarga atau Clan Lim, Clan Chew, Clan Clan Tan, Lee, Clan Yeoh dan Campuran dari berbagai Clan. Kami mengunjungi salah satu diantaranya, yaitu Chew Jetty yang paling banyak dikunjungi wisatawan. Untuk sampai ke kawasan ini, dari tengah kota tidak terlalu jauh, bisa berjalan kaki atau menggunakan becak wisata. Bersama wisatawan lainnya kami  menyusuri  jalan kayu semacam dermaga diatas laut. Dikiri kanan jalan, rumah-rumah mereka sekarang dijadikan toko cinderamata atau warung makan. Begitu sampai di ujung jalan kayu, terdapat sebuah rumah ibadah Kelenteng berwarna merah. Banyak pengunjung yang selfi di tempat ini.



Tempat yang menarik yang aku kunjungi selanjutnya adalah Masjid Kapitan Keling. Inilah masjid tua yang dibangun di tahun 1801 oleh Kader Mydin  Merican Kapitan Keling, seorang pemimpin komunitas muslim dari India Selatan. Bahan bangunan yang digunakan untuk pembangunan masjid ini didatangkan langsung dari India. Masjid ini menggunakan gaya arsitektur Timur Tengah. Menaranya berada di depan masjid. Meskipun telah berumur ratusan tahun, masjid ini tampak masih sangat bagus, karena telah direnovasi pada tahun 2003.




Kami mengunjungi masjid ini  di siang yang terik sebelum waktu sholat Zuhur tiba. Memasuki masjid langsung terasa adem, mungkin karena terbawa suasana atau karena didepan masjid banyak pepohonan rindang yang menaunginya, Di dalam masjid belum banyak jamaah yang datang, malahan banyak turis yang melihat-lihat ke sekeliling masjid. Untuk menghormati tempat ibadah, mereka yang semula berpakaian ala kadarnya, kemudian mengenakan sarung yang telah disediakan di samping pintu depan..

Selain masjid Kapitan Keling, saya juga mampir ke Masjid Lebuh Aceh yang berlokasi di Jalan Lebuh Acheh. Masjid ini dibangun oleh Tengku Syed Hussain Al Aidid, seorang Pedagang Aceh yang kaya raya di tahun 1808 dan hingga saat ini Masjid masih tetap terpelihara.


George Town diwaktu malam
Penang merupakan kota besar yang sibuk. Gedung-gedung tinggi memenuhi pusat kota, khususnya disekitar Jalan Magazine. Disana terdapat 2 Mall besar, Ist Avenue Mall dan Prangin Mall. Juga Hotel-hotel besar berada di lokasi ini.. Ketika malam tiba, Gedung-gedung itu gemerlap bermandikan cahaya. Diseberang Mall terdapat sebuah tempat makan Masakan Melayu yang dari luar tertulis menjual Nasi Lemak dan Nasi Kandar. Sebenarnya ingin mencicipi makanan ini, seperti apa yang disebut Nasi Kandar itu?  Sayang sekali, sudah mau tutup..Di Food Court Mall, aku mencoba makan nasi dengan Sup Tom Yam. Harganya 12 RM. Selain kedua Mall di pusat kota George Town, ada satu lagi Mall yang bagus dan megah, namanya Gurney Mall. Aku sempat mengunjungi mall ini di hari ketiga berada di Penang. Kalau tentang Mall, sepertinya Jakarta punya banyak yang lebih bagus lagi.




Penang Hill
Salah satu tujuan wisata yang juga menarik adalah sebuah bukit ditengah Pulau Pinang yang tingginya 830 meter diatas permukaan laut. Udaranya cukup sejuk sekitar 18 -25 derajad, sehingga sangat nyaman berada disana. Di puncaknya, terdapat banyak tempat yang menyenangkan buat wisatawan. Untuk mencapai ke Puncak Bukit itu, kami terlebih dahulu menuju Bukit Bendera, yang merupakan stasiun pemberangkatan kereta listrik menuju Puncak. Perjalanan ditempuh dalam waktu sekitar 5 menit tanpa berhenti dan kereta naik dalam posisi kemiringan 45 derajat. Harga tiket untuk pulang pergi 30 Ringgit per orang. Menurut informasi yang aku dapatkan, jalur kereta Bukit Bendera ini sudah ada sejak tahun 1801, dan ini merupakan generasi ke 4 yang di luncurkan sejak tahun 2011.



Antrian untuk menunggu kereta itu mengular panjang tetapi tetap tertib. Aku perhatikan, selain turis lokal  Malaysia, banyak turis yang berasal dari China dan negara-negara sekitar Malaysia. Apa saja yang bisa dilihat di Puncak Penang Hill? Yang tampak di hadapanku adalah pemandangan alam yang cantik. Pohon-pohon besar dengan bunga-bunga yang berwarna cerah. Dari kejauhan, tampak kota George Town dengan gedung-gedung tingginya. Pengunjung dapat berjalan-jalan disekitar area terbuka, yang di pinggirnya terdapat restoran dan café. Jika berminat, dari tempat ini dapat tracking kebawah menuruni lereng bukit, atau jika ingin mengikuti pendakian dari bawah, diawali dari Penang Botanic Garden selama 2,5 jam. Di area ini juga banyak disediakan spot-spot bagi para penggemar foto.


Terinspirasi dari Penang Hill, Indonesia mempunyai banyak tempat-tempat indah yang bisa dijadikan tujuan wisata. Dengan tambahan modal dan sedikit sentuhan artistik, tentu akan mendatangkan banyak wisatawan.

Rumah Sakit di George Town Penang
Selama berada di Penang, aku bertemu dengan beberapa orang yang sedang berobat atau mengantar/mendampingi keluarganya berobat di Rumah Sakit Penang. Informasi yang aku dapatkan, mengapa banyak warga negara Indonesia yang berobat kesini adalah bahwa pertama, banyak dokter ahli untuk penyakit-penyakit tertentu dan kedua biaya pengobatannya lebih miring dari pada jika berobat di Indonesia. Apakah hal tersebut benar atau tidak, tentu mereka yang bisa menilai.  Beberapa Rumah Sakit yang banyak diminati saudara-saudara kita adalah Rumah Sakit Aventies bagi yang sakit jantung dan Rumah Sakit Gleneagles bagi yang sakit kanker dan juga Rumah Sakit Island. Informasi ini cukup bermanfaat bagi aku, untuk diri sendiri yang semakin berumur maupun untuk orang lain yang memerlukan.

Nah teman-teman, itulah oleh-oleh perjalananku ke Penang.
Masih ada landmark Penang yang belum sempat aku lihat, yaitu dua buah jembatan yang menghubungkan Pulau Pinang dengan daratan Malaysia atau yang disebut Seberang Prai. Jembatan yang pertama sepanjang 13,5 km, diresmikan pada tahun 1985 dan jembatan kedua sepanjang 23.5 km diresmikan pada tahun 2014.
Semoga suatu ketika akan sampai kesana. Insyaallah……


Wassalamualaikum ww.
Jakarta, 30 April 2019.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar