Minggu, 22 Juli 2018

Green Canyon Pangandaran, Body Rafting di Sungai Citumang dan Pantai Batu Hiu



Assalamu;alaikum ww.

Hari Pertama.
Akhirnya terlaksana juga rencana untuk jalan-jalan ke Pangandaran, setelah 3 kali tertunda. Hari ini. Selasa tanggal 17 Juli 2018 jam 07.15 mobil Elf yang membawa kami, berangkat meninggalkan rumahku Duren Tiga Buntu, tempat berkumpul sebagian besar Peserta. Mobil Elf dari Batavia Rental berisi 15 seat, tetapi karena tidak ada bagasi, hanya bisa diisi maksimum 12 orang. Yang 3 seat untuk tempat barang. Drivernya seorang anak muda, Namanya Aldra, sudah beberapa kali ke Pangandaran. Jumlah peserta sebanyak 12 orang yaitu adik-adikku : Dik Dib (Sudibyo Digdoyo) dengan isterinya dik Nancy, kemudian Dik Gun, dik Nuk, dik Pri dan isterinya dik Astrid,  serta teman-teman suami di Kantor Yayasan yaitu Pak Supriatna, Pak Bambang Sugeng, Ibu Edith dan ibu Tanya.  Tidak semua peserta berangkat dari Jakarta, ada 2 orang yang menunggu di Pintu Tol Bekasi Timur, dan 1 orang menunggu di Pintu Tol Padalarang. 

Seperti biasa, kemacetan sudah terjadi begitu keluar rumah, yaitu  di Jl Raya Pasar Minggu. Demikian pula di jalan Tol Bekasi hingga  Cikarang Utama. Dinikmati saja. Menjadi penduduk DKI sudah puluhan tahun, sangat menyadari bahwa setiap hari Jakarta disesaki pendatang ataupun ditinggalkan oleh mereka yang karena satu dan lain hal harus minggir.

Mobil hanya bisa berjalan dengan kecepatan rendah, karena padatnya jalan tol maupun jalan biasa. Kami beristirahat, untuk sholat dan makan siang di Rumah Makan Gentong, di sebelah kiri jalan raya menuju kota Tasikmalaya. Rumah makannya lumayan teduh, ada kolam ikannya, banyak tanaman dan juga banyak gentong-gentong dengan berbagai ukuran  besar maupun kecil terserak di sekitar restoran.  Tempat sholat cukup bersih, demikian pula toiletnya. Kami pesan sup iga, ikan bakar, dan yang lainnya, tak ketinggalan karedog. Aku sendiri pesan nasi timbel empal dengan sayur asem yang segar. Hidangan dinikmati rame-rame. Untuk makan siang ini seluruhnya ber 13 dengan Driver, kami membayar Rp. 867.500. Oh ya, kami telah sepakat untuk jalan-jalan ini, sharing per orang Rp. 1.200.000 yang dikumpulkan dan menunjuk adikku Astrid Sitompul sebagai Bendahara Pemegang Kas.



Dengan badan capai kelamaan duduk di mobil, tiba juga akhirnya kita di hotel pada jam 19.30. Hotel yang telah kami pesan sebelumnya ini namanya hotel Sun In Pangandaran, terletak di pantai Timur. Selesai mandi dan sholat, jam 20.30 kita berkumpul untuk makan malam bersama di Restoran Sea Food Karya Bahari. Kami minta pak Supriatna dan dik Astrid yang jago masak sea food, untuk memilih  ikan dan udang yang segar yang dipajang di depan restoran untuk dimasak dengan menu yang cocok. Tak lama, segera terhidang masakan ikan kerapu bakar, udang goreng, cumi goreng tepung, sayur cah kangkung. Wah, begitu nikmatnya …..

Diselingi dengan obrolan santai dan lucu dari Pak Supriatna, kami menikmati makan malam hingga perut rasanya terlalu banyak muatan. Karena pesannya terlalu banyak, cumi goreng tepung nya masih tersisa. Dik Astrid membayar bill sejumlah Rp. 1.030.000.- atau Rp. 80.000 per orang. Menurutku tidak mahal. Kalau di Jakarta, makan seperti itu tidak mungkin kurang dari Rp. 100.000 per orang.

Hari Kedua.
Pagi-pagi ada beberapa orang peserta yang telah menjelajahi pantai untuk berburu sun rise nya Pangandaran. Tapi pagi ini cuaca mendung dan awan tebal, sehingga tidak berhasil medapatkannya. Kami berkumpul makan pagi di restoran hotel di lantai 5. Tujuan wisata yang akan kami datangi hari ini adalah Green Canyon. Dari kemaren Driver kami mas Aldra telah mencari info untuk kita kesana. Dari 12 orang Peserta,  8 orang yang berminat untuk kesana. Adikku dik Nancy yang baru saja keluar dari Rumah Sakit belum boleh capai. Demikian pula suamiku serta ibu Tanya dari Yayasan juga tidak ikut.  Mereka berempat ingin santai menikmati pemandangan laut dari hotel dan berjalan-jalan disekitar hotel.

Green Canyon, atau nama setempat adalah Cukang Taneuh adalah salah satu objek wisata yang terletak di Sungai Cijulang, Desa Kertayasa Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran. Objek wisata ini berjarak lebih kurang 31 km dari Pangandaran.

Pagi masih sepi ketika kami menuju lokasi pemberangkatan ke Green Canyoon. Untuk mencapai tempat ini, dari hotel kami di Pantai Timur Pangandaran, mengambil arah ke barat menuju Kecamatan Cijulang. Pangandaran semula adalah Kecamatan dalam wilayah Kabupaten Ciamis. Berdasarkan UU 21/2012, dimekarkan menjadi Kabupaten dengan 10 kecamatan. Pusat pemerintahannya berada di Kecamatan Parigi. Di tahun 2015, tiga tahun setelah pemekaran,  Pangandaran terpilih menjadi Daerah Otonom Baru terbaik dari 18 Kabupaten/Kota ya8ng dimekarkan berdasarkan Undang-undang tersebut. Nama Pangandaran selain terkenal akan keindahan pantai dan lokasi wisatanya, juga terkenal sebagai kotanya bu Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan yang sukses dalam mengemban tugasnya.  Jargon "tenggelamkan" adalah kata kunci untuk melawan ilegal fishing. Bukti keberhasilannya  telah nyata, bahwa laut kita hasil ikannya melonjak tajam.

Tiba di pos pemberangkatan perahu, masih sepi. Kami berdelapan, sedangkan 1 perahu maksimum untuk 6 orang. Jadi kami menggunakan 2 perahu, Sewa setiap perahu ongkosnya Rp. 200.000. Perahu kami ini adalah perahu pertama yang berangkat.

Menyusuri Sungai Cijulang yang airnya berwarna biru tosca, kami dipandu sinar matahari pagi yang cerah. Di kiri kanan sungai tampak pepohonan menghijau. Kadang terlihat biawak sedang berjemur di akar-akar pohon. Memasuki relung-relung sungai, semakin sedikit sinar matahari. Tampak pakis, lumut mmenuhi pinggir sungai. Setelah perahu berjalan beberapa lama, didasar sungai mulai tampak batu-batu  karang. Batu-batu karang disini kelihatannya runcing dan tajam, jenis batu karang yang biasa ada di pantai selatan pulau Jawa. Pemandangan kiri kanan sungai mulai berubah, seperti suasana hutan. Sulur-sulur pohon bergelayutan menghiasi dinding bebatuan, Kadang sinar matahari beberapa lama menghilang, tapi kemudian tampak lagi menembus rapatnya dedaunan. Kami menikmati kesunyian di daerah ini, yang biasanya di hari-hari week end penuh wisatawan. Semoga dengan banyaknya pengunjung tidak merusak ekosistem dan habitat asli wilayah ini. Perahu berjalan lambat-lambat, memberi kesempatan kepada kami menikmati indahnya alam. 



Begitu dua perahu kami sampai ke gundukan batu karang hitam yang berada ditengah sungai, kami turun dari perahu, merangkak pelan-pelan menaiki gundukan karang itu. Disinilah kami mengambil foto-foto yang bagus untuk oleh-oleh teman-teman nanti, Sebenarnya perjalanan ke Green Canyon masih Panjang. Jika dilanjutkan, kami harus masuk ke dalam air dengan meniti tali tambang yang telah dipasang disana. Dengan medan yang lebih menantang, akan diperoleh  pemandangan yang pasti lebih elok. Sayang, untuk usia kami akan sangat berrisiko menuju kesana. Dari pada nanti merepotkan teman-teman, bahkan jika terjadi sesuatu akan merepotkan anak-cucu, aku memilih hanya sampai disini saja.


Setelah beberapa waktu berfoto dan menikmati keelokan alam karunia Sang Pencipta, kemudian kembali menyusuri sungai arah balik. Terasa tidak maksimal eksplore kami di Green Canyon ini. Dulu ketika masih muda, belum mampu secara finansial untuk pergi berwisata jalan-jalan ke tempat-tempat indah negeri ini. Sekarang, ketika usia telah senja, baik waktu maupun dana ada, kemampuan fisik sudah tidak mendukung. Jika saja aku mengunjungi Pangandaran dulu semasa  usia muda, pasti aku teruskan perjalanan ini hingga selesai.

Aku baru pertama kali ini ke Pangandaran, Setahuku obyek wisata yang top adalah Green Canyon, Pantai Batu Hiu, Pantai Batu Karas, dan Cagar Alam Hutan Lindung Pangandaran. Ternyata masih ada 2 obyek wisata yang sedang hits, sangat bagus untuk dikunjungi yaitu Citumang dan Santirah.  Keluar dari lokasi Green Canyon, selanjutnya rombongan kami menuju ke Citumang. Ada apa disana? Disana terdapat wisata khusus yaitu Citumang Body Rafting, yang berlokasi di Sungai Citumang.

Perlu dijelaskan terlebih dahulu, apa "body rafting" itu ? Body Rafting adalah jenis olah raga atau permainan di air, yang menggunakan tehnik mengambang/mengapung untuk  menyeimbangkan tubuh pada saat  menyusuri sungai, baik mengikuti arus maupun melawan arus. Ini termasuk olah raga ekstrim, yang memerlukan peralatan khusus dan pemandu yang berpengalaman. Jelajah di sungai memang perlu ke hati-hatian, karena bisa saja arusnya deras, dasar sungainya dalam, banyak batu yang tajam atau licin, dan hambatan lainnya.

Berapa biaya Body rafting di Sungai Citumang? Telah disepakati bahwa biaya per orang Rp 125.000 dan untuk Pemandu 200.000. Pemandu kami namanya pak Yayat, mengajak berjalan menuju Sungai yang jaraknya sekitar 3 km sebagai bagian dari pemanasan tubuh sebelum  berolah raga. Ketika  tiba di lokasi, pak Yayat mengajak beristirahat sejenak di sebuh kolam. Rupanya ini kolam tempat terapi ikan. Begitu kaki kami masuk ke air, ikan-ikan kecil berebut menggigit pinggiran telapak kaki bagian bawah atau tungkak. Terasa geli gigitan ikan-ikan itu. Setelah beberapa lama, mungkin kulit-kulit mati yang ada di telapak kaki sudah dimakan habis, ikan-ikan itu meninggalkan kaki kami. 



Sebelum memulai body rafting, kami diminta berdoa bersama-sama, memohon keselamatan dan kelancaran selama berolah raga dan berada di Sungai Citumang.  Kemudian pak Yayat memberi arahan, agar menunggu instruksinya. Jangan  mendahului sebelum diinstruksikan. Berhati-hati  karena banyak tempat-tempat yang berbatu licin atau tajam. Semua perhiasan, dompet, handphone, sandal dan barang lainnya dititipkan ke pak Yayat. 
 
Setelah semuanya mengenakan pelampung, kami satu persatu turun ke sungai. Di musim panas seperti sekarang ini, airnya tidak deras tapi sangat jernih dan sangat dingin. Di hadapan kami, ada sebuah gua yang penuh air. Di bawah gua ini terdapat mata air besar yang airnya mengalir menjadi Sungai Citumang. Karena berasal dari mata air, sungai Citumang tidak pernah banjir seperti Sungai Cijulang di Green Canyon. Jika Sungai Cijulang banjir, Green Canyon ditutup, wisatawan beralih kesini.

o

Dengan mengikuti arahan Pemandu dan berpegang pada tali tambang, kami berkumpul di depan gua. Posisi  diatur, badan mengambang di air, muka menghadap keatas, tangan berpegangan pada kaki teman yang juga  mengambang diatasnya. Demikian seterusnya, menjadi rangkaian berderet  memanjang. Deretan panjang 9 orang itu akhirnya sampai di pemberhentian, dimana permukaan dasar sungai turun, sehingga  menjadi seperti air terjun mini.  Turunan selanjutnya  cukup tinggi, sekitar 5 meter. Disitu juga terdapat tali tambang yang dibuat sebagai ayunan, berayun langsung nyebur byur....…..Wah, pasti segar sekali. .Aku tidak berani meloncat kebawah, lebih baik naik ke darat kemudian jalan kaki di pinggir sungai hingga ke etape selanjutnya.

Berada di air dingin membuat gigi gemeletuk dan jari-jari keriput. Aku menyadari, usia tidak dapat dibohongi. Dari pada nanti masuk angin, cukuplah sampai disini saja, meski teman-teman lain masih semangat untuk melanjutkan. Tambah semangat lagi ketika dibelakang kami rombongan gadis-gadis bule berbikini mulai memasuki sungai. Mereka mungkin jago berenang, hingga tidak memerlukan pelampung. Kami sempat berfoto bersama mereka.



Hanya aku sendirian yang kembali ke lokasi awal paling dulu. Karena kunci mobil dibawa mas Aldra, jadinya aku tidak dapat mengambil baju ganti. Untuk menghilangkan dingin karena pakaian basah, aku berjemur sambil ngopi di warung. Akhirnya para peserta  yang mengikuti rafting ini hingga selesai, telah sampai di tempat Parkir. Kami semua mandi di tempat yang disediakan. Untuk  mandi dikenakan sewa kamar mandi Rp, 2.000. Sebelumnya, Guide telah menawarkan untuk makan siang dengan menambah biaya per orang Rp. 5.000. Kami setuju, dan siang itu telah disiapkan makan an berupa nasi ayam bakar, tempe, tahu, sambal lalap. Lumayanlah….. apalagi karena energi telah terkuras, makannya nambah banyak. Jadi paket Body Rafting berikut makan, per orang Rp. 130.000.

Kembali dari Sungai Citumang menuju hotel, kami mampir ke Pantai Batu Hiu. Pantainya lumayan bersih. Karena saat berada disini matahari sedang terik, kami tidak dapat berlama-lama menikmati angin sepoi-sepoi dan debur ombak yang berlari ditepian pasir. Cukup berfoto sebentar, kemudian meninggalkan pantai kembali ke hotel untuk beristirahat. 


Sore hari, kami merencanakan untuk melihat sunset di Pantai Barat Pangandaran. Pantai itu tidak jauh dari hotel, hanya jalan kaki beberapa menit saja. Pantai Pangandaran adalah pantai terbaik di Pulau Jawa, menurut Asia Rooms Travel Guide. Yuk kita lihat  Google map. Pantai timur Pangandaran terletak di teluk Penanjung Timur, dan pantai baratnya di Teluk Pangandaran. Berada di ujungnya, terdapat Hutan Cagar Alam Pangandaran, dimana terdapat satwa Banteng dan Rusa. Jika kita pagi-pagi masuk ke hutan, akan menemui hewan-hewan itu keluar dari hutan menuju padang rumput. Sedikit lagi ke timur, kita akan sampai ke Pulau Nusakambangan.



Di pinggir pantai, tampak perahu-perahu yang biasanya digunakan untuk mengelilingi Hutan Cagar Alam bersandar di tepi pantai. Beberapa ekor rusa yang berbadan besar, melebihi kambing, berkeliaran di pinggir pantai. Saat senja telah tiba. Tapi sayang langit berawan sehingga sunset tidak tampak. Kami kembali ke hotel untuk sholat magrib dan kemudian makan malam bersama. Kali ini kami makan bersama di Restoran Rasa Sayang, yang menghidangkan sea food dan masakan lainnya. Aku memilih sop ikan yang panas dan segar. Masakan lainnya yang enak disini adalah Udang goreng telur asin. Untuk makan malam ber tiga belas ini, dikenakan bill Rp. 814.000.

Hari ketiga.
Ini adalah hari terakhir kami di Pangandaran. Pagi sekali, beberapa teman telah keluar kamar untuk melihat sunrise di Pantai Timur di belakang hotel. Mereka berhasil melihat dan mengabadikannya. Acara hari ini seperti yang telah disepakati semalam, yaitu setelah sarapan harus segera  bersiap untuk cek out. Sebelum cek out, terlebih dahulu bersama-sama melihat dari dekat Cagar Alam Hutan Lindung. Cukup melihat di Pintu Gerbangnya saja, mengingat untuk kembali ke Jakarta memerlukan waktu yang panjang, tidak mungkin mengelilingi Cagar Alam seluruhnya. Apa saja yang dilihat jika kita masuk kedalam hutan itu? Satwa penghuninya istimewa, antara lain  Banteng yang hanya ada disini dan di Taman Nasional Meru Betiri.


Mestinya masih ada satu obyek wisata lagi yang harus kita kunjungi yaitu Body Rafting di Sungai Santirah, yang terletak di desa Selasari, Kecamatan Parigi. Obyek wisata Santirah masih baru, dibuka oleh para pemuda dan masyarakat  desa itu pada tahun 2014. Di Santirah, kita bisa menggunakan ban seperti di Gua Pindul. Sayang ya, harusnya kita sehari lagi menginap di Pangandaran. Supaya tidak penasaran, inilah foto Santirah yang aku ambil dari Google. Cantik sekali pemandangannya.  Tak usah kecewa, suatu ketika nanti kita ke Pangandaran lagi.


Kembali ke Jakarta, berharap perjalanan bisa lebih cepat dari ketika berangkat. Kami  mampir istirahat sholat dan makan siang di Restoran Saung Desa, yang berada di luar kota Tasikmalaya. Hidangan yang tersedia adalah nasi dengan ayam goreng, ayam bakar, atau ayam penyet. Untuk makan siang ini billnya sejumlah Rp. 668.000. Sore harinya, istirahat ngopi di Rest Area km 62 Cikampek,  menghabiskan Rp. 60.000.


Begitu kendaraan kami sampai di  Cikarang, kemacetan parah menghadang. Inilah jalur neraka,  sepenggal jalan tol jalur Cikarang hingga Jatibening. Selama  tidak ada jalan lain, maka jalur neraka itu tetap harus dilewati. 2 orang adikku, dik Gun dan dik Nuk turun di Pintu Tol Bekasi Timur. Kemudian pak Bambang Sugeng turun di pintu tol  Pondok Gede. Sebelumnya, teman kami pak Supriatna turun di Pom Bensin sebelum kendaraan masuk jalan tol Cileunyi.  

Akhirnya kami tiba di rumah jam sembilan malam. Ternyata perjalanan kembali ke Jakarta  lebih dari 12 jam. Selamat beristirahat ya adik-adikku dan teman-temanku,  sampai jumpa di tour tahun depan dengan tujuan Banyuwangi..... Insyaalloh .....


Wassalamu’alaikum ww.
Jakarta, 22 Juli 2018.

1 komentar:

  1. Perjalanan yang seru dan menyenangkan sekali ya...

    BalasHapus