Senin, 19 September 2016

Mengunjungi Malaysia : (3) Melaka Kota Tua Bersejarah



Assalamu’alaikum ww.
Acara hari ketiga jalan-jalan kami ke Malaysia, adalah melihat kota Melaka. Dilihat di peta, kota Melaka berada di pesisir selatan Malaysia, yang berhadapan langsung dengan Pulau Rupat, di Kabupaten Bengkalis, Propinsi Kepulauan Riau. Hari ini hari Minggu, lalu lintas kota Kuala Lumpur tidak padat. Kami keluar dari hotel setelah sarapan pagi, karena lama perjalanan diperkirakan 2,5 jam.  Mobil langsung masuk High Way menuju Melaka. Jalur yang mulus  ini juga merupakan jalur menuju Johor dan Singapura, tetapi tampaknya lengang saja. Di Malaysia, kendaraan roda dua diperbolehkan masuk jalan tol, bahkan gratis. Ketika kami memasuki  daerah Selangor, di sebelah kanan jalan tampak gedung-gedung tinggi, banyak institusi pendidikan berlokasi disini, diantaranya Universitas Kebangsaan Malaysia. Di sebelah kiri jalan merupakan lokasi dimana pabrik-pabrik beroperasi, tetapi tidak tampak karena tertutup pepohonan.

Kalau di dalam kota Kuala Lumpur aku tidak melihat adanya Billboard Iklan, baru di sepanjang jalan tol luar kota ini aku temukan iklan-iklan dengan jarak yang agak panjang antara satu dengan yang lain. Penataan seperti ini lebih bagus, menjadikan kota bersih dari iklan yang sering semrawut tidak teratur. Pemandangan pinggir jalan tol selanjutnya didominasi kebun kelapa sawit. Kadang diselingi  dengan Rest Area. Sebagaimana diketahui, Malaysia dan Indonesia dikenal pemasok minyak kelapa sawit terbesar di dunia, kedua negara ini secara total menghasilkan sekitar 85-90% dari total produksi minyak sawit dunia..

Setelah melewati Selangor, kemudian Negeri Sembilan, sampailah kami di Negeri Melaka, salah satu dari 9 kesultanan di Malaysia. Kota Melaka sedang membangun dan merapikan jalan. Keluar dari jalan tol, agak macet karena masih ada galian-galian yang berserakan. Memperhatikan nama-nama jalan dan nama-nama kampung, ternyata banyak nama kampung yang mirip-mirip dengan yang ada di Indonesia. Aku temui ada nama Kampung Batu Berendam dan Kampung Mata Kucing Melaka. Memang dari bahasa dan budayanya penghuni kota Melaka tak jauh berbeda dengan suku Melayu yang ada di Pulau Sumatera.   



Tiba di kota Melaka, sudah  waktunya makan siang. Melaka terkenal dengan kuliner hidangan masakan yang namanya Asam Pedas. Asam Pedas bisa berisi Daging atau Ikan. Kami diajak makan di suatu tempat makan yang terkenal, walaupun kecil tapi selalu penuh pengunjung. Memerlukan waktu beberapa menit menunggu untuk mendapatkan meja. Nama restorannya adalah "Asam Pedas Selera Kampung". Apakah ada hubungannya dengan Asam Padeh dari masakan Minang? Ada atau tidak ada hubungannya, rasanya tetap nikmat......  apalagi dtambah es kelapa muda.....



Matahari sedang tepat diatas kepala,  panasnya membuat mataku berkunang-kunang. Untuk mengelilingi situs-situs bersejarah, kami memilih naik becak berhias dari pada berjalan kaki. Kota Melaka adalah kota tua, kota bersejarah. Di setiap jengkal bumi yang aku pijak, ratusan tahun yang lalu sudah memiliki arti bagi kehidupan manusia penghuninya. Kota ini berada dibawah Kesultanan Melayu hingga tahun 1508. Kemudian dikuasai bangsa Portugis di tahun  1511, dengan nama Fortaleza de Malaca. Belanda mendarat di Melaka di tahun 1641, dan menjadikan Melaka jaya di tahun 1668. Inggris membumihanguskan Melaka di tahun 1807. Data dan gambar-gambar tentang sejarah kota Melaka terpampang di sebuah tempat yang mudah dibaca publik yang ada dipusat kota. Bangunan-bangunan peninggalan bangsa Portugis sudah rusak parah.

Kami berdua berfoto di sebuah Benteng Portugis, namanya Porta de Santiago. Peninggalan Belanda masih banyak yang berdiri tegak dan tampak terawat dengan baik, seperti Kincir Angin dan bangunan-bangunan gedung. Gedung-gedung yang bercat warna merah itu adalah bangunan semasa jaman Belanda di abad ke 16, tetapi terus menerus  direnovasi  sehingga bentuknya masih seperti  apa yang ada waktu dulu. Demikian pula sebuah Gereja yang dibangun tahun 1753 juga masih tampak bagus. Seperti juga di negeri kita, banyak gedung-gedung peninggalan Belanda yang masih tetap dapat dimanfaatkan dan menjadi ikon suatu kota, seperti bangunan Lawang Sewu di kota Semarang. Ketika Inggris berkuasa di abad ke 18 dibangun sekolah-sekolah, sekarang masih digunakan menjadi Sekolah-sekolah Kebangsaan Malaysia. Karena kami berada di Melaka hari minggu, sekolah-sekolah itu sepi. Di hari biasa, jalan di depan sekolah-sekolah ini selalu macet.



Di Melaka banyak terdapat musium. Musium-musium itu dibuka setiap hari, tetapi yang selalu penuh dikunjungi turis untuk berfoto adalah "Muzium Samudera" yang diresmikan oleh Perdana Menteri Datuk Mahathir Muhammad. Tertulis di Prasasti, peresmian Musium terjadi pada tanggal 3 Muharam 1415 Hijriah. Tahun berapa itu ya? ....  

Becak kami juga sampai ke pinggir sungai Melaka, yang pastinya dijaman dulu sangat ramai karena merupakan urat nadi transportasi. Sungainya sangat bersih, airnya bening. Jika ingin mengeksplorasi, seperti apa kota Melaka dijaman dahulu, bisa ikut Melaka River Cruise di sepanjang sungai ini. Salah satu bangunan baru yang juga merupakan ikon Melaka adalah Menara Taming Sari, sebuah menara pandang setinggi 110 M yang dapat berputar 360 derajat sehingga kita dapat melihat-lihat seluruh kota Melaka. Menara ini baru selesai dibangun dan diresmikan pada tahun 2008.




Keturunan orang-orang China yang menikah dengan orang Melayu dan menerima budaya Melayu Melaka, disebut Baba Nyonya. Di Indonesia dikenal sebagai Peranakan. Baba Nyonya mempunyai budaya sendiri yang unik, seperti  pernik-pernik hiasan dan ukiran furniture serta isi rumahnya, model pakaiannya, adat perkawinannya, masakan dan sebagainya. Peninggalan mereka merupakan warisan budaya yang tetap dipelihara di Melaka dan disimpan dalam sebuah Musium. Namanya Baba Nyonya Heritage Museum.


Selain lokasi bersejarah, aku juga mencicipi jajanan di Jonker Street, sebuah tempat wisata yang padat turis. Berbagai oleh-oleh khas Melaka dan makanan tradisional dijajakan di rumah-rumah di pinggir jalan yang dibuka untuk berjualan seperti kue ketan, dodol durian, es lilin, rujak atau buah dingin. Kue keranjang yang biasa ada di Tahun Baru China, juga djual disini. Aku membeli rujak buah, tetapi ternyata bumbunya bukan sambal gula merah seperti di negeri kita, tapi kecap asin. Rasanya jadi aneh....

Sambil berjalan-jalan aku perhatikan, bukan hanya toko-toko kecil yang menjual makanan tradisional laris manis, Hard Rock Cafe pun buka disini dan pengunjungnya juga penuh. Melaka memang tempat wisata yang layak untuk dijelajahi dan tak akan selesai dalam kunjungan yang hanya sehari, setidaknya menginap semalam. Banyak hotel mewah maupun penginapan murah tersedia disini.

Ketika matahari mulai turun kebarat, kami kembali dari Melaka menuju Kuala Lumpur. Untuk melaksanakan sholat dan sejenak melepaskan lelah, kami beristirahat Rest Area Seramban, di Negeri Sembilan. Suami bersama pak Mani menikmati kopi hitam dan aku minum mix jus orange, apel dan belimbing. Untuk itu semua, habisnya 9 RM.  

Jakarta, 18 September 2016.
Wassalamu’alaikum ww.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar