Kamis, 01 September 2016

Travelling ke Borneo : Pampang, Desa Budaya Suku Dayak Kenyah.



Assalamu’alaikum ww.
Apakah yang teman-teman pikirkan jika mendengar kata Dayak? Jangan dulu berpikir terlalu jauh, apalagi hal-hal yang menyeramkan. Yang aku temui di Desa Pampang, lebih kurang 20 km dari kota Samarinda, adalah Pentas Seni berupa Tarian dan Musik yang diselenggarakan di sebuah Rumah Adat  yang disebut Lamin. Lamin berupa rumah panjang, terbuat dari kayu ulin dengan atap sirap dan dihiasi ukiran dan lukisan khas suku Dayak yang indah. Lamin disini difungsikan sebagai panggung. Sebagai latar panggung, dindingnya dilukis  dengan lukisan berupa daun-daun paku berwarna kuning-hitam. Di dalam Lamin telah tertata kursi-kursi menghadap ke tengah. Rupanya sudah banyak penonton yang datang, diantaranya wisatawan dari luar negeri, dan rombongan kami segera mengisi baris kedua deretan tengah, supaya lebih jelas untuk mengambil foto.

Tarian mereka diiring alat musik dari kayu bersenar yang dilubangi bagian belakangnya, disebut sampeq. Musiknya sederhana, terdengar seperti musik dari Cina mengalun tenang, teduh, dengan gerak penari yang perlahan berirama. Para penarinya cantik dan gagah. Penari wanita mengenakan busana manik-manik dengan desain yang indah, mengenakan kalung dengan hiasan mote-mote dan taring macan serta membawa bulu burung di tangannya. Mereka juga mengenakan gelang kaki yang hentakannya seirama dengan gerakan tariannya. Penari pria mengenakan busana penutup dada dari kulit macan (imitasi lho....) dengan bulu burung Enggang di kepalanya, membawa senjata mandau dan tameng/perisai dengan ukiran dan warna yang indah. Penari-penari kecilnya juga manis-manis dan lucu-lucu, tak beda dengan ketiga  gadis-gadis kecilku Aisha, Lila, Allura di Jakarta.

Kami disuguhi 10 tarian, yang rata-rata hanya beberapa menit saja. Dimulai dari Tari untuk membersihkan halaman, Tari selamat datang, Tari persahabatan, Tari perjuangan, Tari perdamaian,  Tari Perang, Tari Tali, Tari Topeng dan lain-lain. Pada umumnya tarian mereka sangat lembut, kecuali pada Tari Perang, para penari pria mengeluarkan pekikan dengan penuh semangat. Kemudian diakhiri dengan Tarian yang melibatkan para penonton yang ingin mencoba ikut menari. Jangan salah, menari tarian yang terakhir ini harus fokus. Penari pengunjung harus meloncat diantara kayu-kayu yang digerakkan oleh para penari. Jika tidak fokus, kaki bisa kejepit kayu. Seorang cewek muda Turis Bule dari Belanda ikut mencoba menari, untung dia sigap dan sukses tanpa terjatuh atau terjepit hingga selesai.

Suku Dayak yang berada di Desa Pampang ini adalah termasuk Suku Dayak Kenyah. Pada umumnya mereka berperilaku dan bersikap halus. Demikian pula tarian dan musik yang mereka bawakan, sangat lembut. Barangkali jika di Solo - Jogya, ini jenis tarian ksatria, bukan tarian raksasa atau buto cakil. Seorang teman, Ibu Atiek Wirasmo membuat video salah satu tarian yang gerakannya lemah gemulai bagaikan gerakan burung Enggang. Yuk kita nikmati bersama penampilan mereka...


Selain para Penari yang cantik-cantik dan gagah-gagah tadi, ada dua  orang  bapak yang bertelinga panjang dengan anting-anting yang berat, mengenakan pakaian adat asli suku Dayak dengan Bulu Burung Enggang di kepalanya menyambut kami di pintu Lamin. Penampilan seperti kedua orang tersebut sekarang sudah sangat jarang, kalaupun ada hanya di Pedalaman. Inilah bagian dari Nusantara kita.Mereka adalah suku asli yang mendiami bumi Borneo yang sangat luas ini. Ketika pertunjukan usai, kami segera menghambur keluar, untuk antri berfoto dengan keduanya. Aku sebenarnya merasa iba kepada bapak yang berada di sebelah kiri pintu Lamin, karena sudah demikian sepuh, usianya 93 tahun. Dia duduk sambil mengatupkan mata, seolah sudah sangat capai. Sedang bapak yang  berdiri disebelah kanan pintu lamin masih belum terlalu tua. Mereka masing-masing ditemani oleh penari muda yang menerima dan menyimpan uang dari para pengunjung.



Menurut sejarah, suku Dayak di abad kedua Masehi datang dari daratan Asia, menyebar dan menjadi penghuni asli pulau Kalimantan. Kata “Dayak” berarti hulu. Orang Dayak berasal dan tinggal di hulu sungai di pedalaman. Baik di Malaysia maupun di Indonesia, namanya sama, Dayak. Ada beberapa rumpun besar suku Dayak menurut para Ahli, yaitu rumpun Iban, rumpun Apokayan, rumpun Murut, rumpun Ot Danum Ngaju dan rumpun Punan. Mereka memiliki beberapa ciri khas, yang tampak berbeda dengan suku-suku  lain. 

Ciri khas yang pertama   yaitu  telinganya yang bisa sangat panjang. Bagaimana hingga bisa sepanjang itu? Ketika masih kecil, mereka  mengenakan anting kecil, semakin bertambah usia, antingnya semakin berat.  Apa alasan mereka hingga harus bertelinga panjang? Telinga panjang, erat hubungannya dengan status sosial kebangsawanan. Antara laki-laki dan perempuan memiliki aturan panjang telinga yang berbeda. Kaum laki-laki tidak boleh memanjangkan telinganya sampai melebihi bahunya, sedangkan untuk perempuan boleh memanjangkannya hingga sebatas dada.

Tradisi ini sudah mulai punah. Mereka yang masih muda enggan melakukannya, tinggal para tetua  yang masih bertelinga panjang. Ciri khas yang kedua adalah bertato, baik laki-laki maupun perempuan.  Tato mereka memiliki makna. Bisa dimaksudkan untuk menghias dan bisa juga untuk memberi  identitas, misalnya menunjukkan bahwa dia seorang bangsawan. Bagi wanita, tato adalah semacam emansipasi, mempersamakan derajad dengan pria. Wanita tidak hanya menjadi ekor, bisa juga  menjadi kepala. Ciri khas ketiga, adalah senjata yang mereka kenakan di pinggang bernama Mandau. Ciri khas keempat, kemahirannya menggunakan Sumpit sebagai senjata yang mematikan, karena sumpit itu direndam dalam larutan racun. Dan ciri khas kelima, Suku Dayak memiliki ilmu magic atau sihir. 

Suku Dayak pada awalnya memiliki kepercayaan yang disebut Kaharingan. Namun di perjalanan jaman, dengan masuknya misionaris, mereka menganut agama Kristen dan Katolik, bahkan sudah ada yang masuk Islam. Yang berada di Pampang ini termasuk suku Dayak Kenyah, yang awalnya berdiam di Dataran Tinggi Apo Kayan, suatu daerah di paling utara Kalimantan Timur, dekat Serawak. Dari sana mereka menyebar, mencari penghidupan baru dan  mendekatkan diri dengan pendidikan. Kata Pampang berasal dari Simpang atau Persimpangan. Sejarah kedatangan  mereka ke desa Pampang ini dimulai sejak tahun 1970, tetapi baru di tahun 1995, desa Pampang diresmikan sebagai Desa Wisata Budaya. Orang-orang Dayak yang tinggal didesa ini  bekerja di berbagai bidang pekerjaan, tetapi memang mereka masih mempertahankan tradisi dan budaya nenek moyangnya.  

Jika menikmati tarian dan musik Dayak yang lembut ini, serta melihat kemahiran mereka dalam hal seni seperti membuat ukiran, lukisan dan hiasan manik-manik yang cantik, timbul pertanyaan. Benarkah cerita-cerita tentang kesaktian dan kegarangan para Panglima Suku Dayak yang dikenal sebagai Panglima Burung dan Panglima Kumbang  yang kebal dan memiliki kesaktian luar biasa itu?  Cerita-cerita itu tentu bukan hanya kabar bohong, karena telah  dibuktikan dengan kenyataan yang diketahui umum  pada Peristiwa Sampit Februari tahun 2001.

Pada dasarnya orang-orang suku Dayak adalah penyabar dan baik hati. Jika sudah sangat keterlaluan, barulah mereka menggunakan kesaktiannya. Dan salah satu kesaktiannya itu, mereka bisa membedakan mana musuhnya dan mana yang bukan, sehingga tidak akan salah sasaran. Di perjalanan jaman, karena pengaruh lingkungan, pendidikan dan kemajuan teknologi, banyak hal sudah berubah. Kecuali di daerah pedalaman, kehidupan mereka sudah seperti kita di daerah lain di Indonesia. Senjata mereka Mandau dan Sumpit itu sekarang (tiruannya) dijual bebas di toko-toko cinderamata sebagai barang suvenir.

Apa yang baru saja aku lihat tentang keindahan kesenian mereka, demikian pula apa yang pernah aku dengar tentang kesaktian dan kegarangan mereka, itulah kekayaan budaya tanah air Indonesia. Tanpa mereka  tidak lengkaplah NKRI. Aku bersyukur, Allah SWT telah memberi kesempatan untuk melihat,  mengalami dan menikmati sesuatu yang selama ini aku ketahui hanya sebagai informasi. Jika suatu ketika berkesempatan lagi, ingin rasanya mengenal suku Dayak yang lain, yang juga mempunyai kekhasan dan keunikan tersendiri. Biasanya ada di Pesta Adat Tahunan yang diselenggarakan di Rumah Betang mereka di Pontianak, Kalimantan Barat. Inshaallah..---.....


Wassalamu’alaikum ww.
Jakarta, 30 Agustus 2016.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar