Minggu, 16 Juli 2017

Menikmati Senggigi Lombok. Liburan bersama Lila dan Allura.


Assalamu’alaikum ww.

Hari Pertama, Selasa 4 Juli 2017.

Mendarat di Bandara Lombok International Airport di Praya, ibu kota Kabupaten,Lombok Tengah, tampak masih suasana libur lebaran. Ramai sekali. Teringat terakhir ke Lombok bersama suami, adik-adik dan staf Kantor Notaris di bulan Mei tahun 2012, lima tahun yang lalu, Ketika itu Bandara masih baru, masih kosong.  Sekarang sudah banyak toko dan restorannya.

Putriku  Hesty, bundanya Lila dan Allura, telah memesan mobil rental tanpa sopir,  untuk kami gunakan jalan-jalan selama berada di Lombok. Ia berdua suaminya Boby, memang suka travelling, jadi sudah biasa pergi kemana-mana hanya mengandalkan Google Maps. Berbeda dengan aku, yang biasanya menggunakan Travel Agent setempat untuk memudahkan perjalanan ke tujuan wisata. Tujuan utamanya adalah memanfaatkan waktu yang sedikit, supaya bisa melihat banyak  tempat. Ini karena aku sering  pergi membawa rombongan

Di loby Airport, Petugas dari Rental Mobil telah menunggu dan setelah serah terima kunci dan cek kondisi mobil seperlunya, kami langsung jalan dengan menggunakan mobil itu. Kami menuju hotel, untuk cek in. Jarak antara Bandara Lombok International Airport yang  berada di Lombok Tengah ke hotel yang sudah kami pesan di Senggigi lumayan jauh. Sampai hotel, ternyata belum bisa cek in, perlu menunggu beberapa waktu lagi karena waktu untuk cek-in jam 14.00.

Rupanya Hotel KILA Senggigi Beach ini adalah hotel dimana dulu kami pernah menginap. Seingatku, dulu namanya Senggigi Beach Hotel, tanpa nama KILA. Inilah hotel besar pertama yang dibangun di Lombok. Dengan luas lebih dari 12 hektar, hotel ini dipenuhi pepohonan yang tertata cantik. Pohon kelapa berdiri tegak, miring, atau condong, dengan tanaman bunga-bunga disana sini  dan dikelilingi laut yang ombaknya tenang menuju pantai, sungguh menjadikan lokasi ini seperti sepotong surga di bumi. Subhanallah ….....



Kami menitipkan koper dan kemudian  makan siang dulu di sebuah Resto di Mataram. Kembali ke hotel, sudah bisa cek-in dan kemudian mengikuti Lila dan Allura menuju pantai.  Sekalipun panas matahari cukup  menyengat, mereka tetap keukeuh mau nyebur ke laut. Kami menuju Pantai yang berada di depan Restoran yang tidak di pagar, tetapi dijaga Satpam dan Petugas Restoran yang wira-wiri melayani tamu. Pantainya cukup luas. Disinilah para tamu Bule menggelar handuk, berjemur di terik matahari. Tentunya dengan pakaian mereka yang  minimalis  seadanya ………



Lila dan Lura bermain sepuasnya bersama ayah bundanya, hingga matahari hampir tenggelam. Kami bersama-sama pengunjung/para tamu hotel duduk di hangatnya pasir menunggu detik-detik Sunset di Pantai Senggigi. Alangkah indahnya, mengamati terjadinya perubahan alam sambil menikmati riak-riak  ombak di pantai. Warna langit yang semula tampak semburat pink jingga  perlahan mulai meredup, bersamaan dengan turunnya gelap.. Aku masih duduk menikmati keheningan yang sesekali terdengar debur ombak menepi ke pantai.  Bayangan anak-anak yang bermain dipinggir pantai menjadi hitam. Namun itu tak lama. Sebentar kemudian lampu-lampu restoran sudah menyala terang, ditambah nyala lilin di meja-meja  restoran yang menari meliuk-liuk ditiup angin menjadikan suasana malam mulai terasa. Dari jauh musikpun mulai mendendangkan lagu-lagu manis. Aku sudah berjalan jauh menuju kamar memenuhi panggilan azan magrib yang telah berlalu. Senjapun berganti malam………





Kehidupan malam di Pulau Lombok ini sudah seperti di Pulau Bali. Sepanjang Jalan Raya Pantai Senggigi, berderet Hotel, Rumah Makan dan Café,  menyemarakkan suasana malam. Pulau  Lombok dengan pantai-pantainya yang indah memang merupakan destinasi wisata kedua setelah Bali yang telah lama dikembangkan, sehingga sudah mendunia. Tak heran jika segala sesuatunya telah tertata bagus termasuk sarana dan prasarana wisatanya. Bertebaran Restoran Sea Food di Senggigi ini, salah satunya adalah Blue Ocean yang kami datangi untuk menikmati makan malam. Walaupun dari pinggir jalan tidak tampak restorannya, karena harus masuk melalui gang kecil, tetapi ternyata lokasinya cukup bagus. Hidangan yang dipesan dimasak   saat pemesanan, sehingga terasa segar. Tak apa  harus menunggu cukup lama, karena ternyata apa yang dihidangkan sangat memuaskan.  Lila suka sekali dengan masakan kepitingnya.

Hari kedua. Rabu 5 Juli 2017.

Penuh dengan rasa syukur aku dapat menghirup udara pagi yang segar dan bersih. Puji syukur pula atas kesempatan yang  Allah SWT karuniakan kepadaku, dengan tubuh yang masih sehat dan  dalam suasana gembira di usia yang tidak muda lagi. Alhamdulillah…….

Kebiasaan bangun pagi di rumah tetap terbawa kemanapun aku berada. Kesempatan menikmati keindahan alam di pagi hari tak kan kulewatkan. Menapaki joging track perlahan sambil menikmati kicauan burung dan suara air laut yang berdebur menghempas beton pembatas pantai. Dari tadi yang kutemui kebanyakan turis bule sedang berlari pagi. Mereka yang berasal dari belahan dunia yang jauh, tentu memanfaatkan sebaik-baiknya liburan yang sudah mereka rencanakan. Sedangkan wisatawan dalam negeri, biasanya masih memeluk guling, menikmati kebersamaan dengan keluarga tercinta.



Sambil memungut buah-buah Asam Jawa yang berjatuhan dari pohonnya yang tinggi, aku bertanya dalam hati, tidak adakah yang mengumpulkan buah-buah ini? Di Solo kota kelahiranku, buah asam ini dibuat sirup yang rasanya sangat khas, nikmat sekali. Mereka yang pernah merasakannya, pastilah akan ketagihan dengan minuman es gula asem.  Dari Bapak Petugas Kebersihan aku mendapat info, rupanya di Pulau Lombok ini, belum banyak yang mengetahui, sehingga mungkin saja buah-buah Asam disini terbuang sia-sia.

Setelah menikmati sarapan di hotel, kami menuju Musium Negeri  Nusa Tenggara Barat, sebuah museum yang menggambarkan sejarah dan budaya di wilayah propinsi ini. Ke museum adalah salah satu cara untuk memberikan wawasan kepada Lila dan adiknya, tentang tempat yang kami kunjungi kini.Terletak di tengah kota Mataram, di Jalan Panji Tilar Negara No.6, Taman Sari, lokasi yang mudah dicari. Jarak tempuh dari Senggigi ke Musium lumayan jauh. Museum tampak sepi, mungkin karena sekolah masih libur. Kami masuk hanya membayar 10 ribu rupiah saja.

Memasuki museum, di bagian atas jalan masuk terdapat lukisan berderet  yang menggambarkan tarian tarian dari suku-suku  yang mendiami Propinsi Nusa Tenggara Barat. Propinsi Nusa Tenggara Barat terdiri dari 2 pulau besar yaitu Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, dimana penghuniya adalah masyarakat Suku Sasak dan Suku Bayan di Pulau Lombok  serta Suku Bima, Suku Sumbawa dan Suku Dompu di Pulau Sumbawa. Sebagian penghuni  Pulau Lombok ini juga adalah orang-orang dari Suku Bali, yang datang sejak lama, dari Kerajaan Karang Asem, di Pulau Bali bagian Timur.  Mereka juga mewarnai budaya di Pulau Lombok dengan adat istiadat Bali, baik berupa bangunan Pura, Taman-taman, Tarian serta kulinernya. Sedangkan di Pulau Sumbawa, suku Bima banyak dipengaruhi budaya suku Bugis dari Sulawesi.Selatan.

Begitu masuk di ruangan utama, diperlihatkan kondisi geografi dari wilayah Propinsi Nusa Tenggara Barat. Di Pulau Lombok terdapat  Gunung Rinjani yang merupakan Gunung tertinggi kedua di Indonesia yang menjadi incaran para pendaki gunung untuk menaklukkannya, Di puncaknya, Danau Segara Anakan adalah kawah Gunung Rinjani, disana ada anak dari Gunung Rinjani yang disebut Gunung Baru Jari. Selain merupakan impian para Pendaki Gunung, kawasan Puncak Gunung Rinjani juga merupakan tempat yang disucikan bagi masyarakat Lombok.

Pulau Sumbawa juga memiliki sebuah gunung yang sangat legendaris, yaitu Gunung Tambora, dimana letusannya pernah mengguncang dunia. Demikian pula di sebuah pulau di timur Sumbawa, terdapat Pulau berupa Gunung berapi yaitu Pulau Sangiang dengan Gunung Sangiang. Ketiga Gunung tersebut merupakan kekayaan alam Propinsi Nusa Tenggara Barat yang sangat berharga.

Di museum inilah, untuk pertama kalinya aku melihat naskah kuno yang dituliskan di daun lontar. Tulisannya adalah aksara dalam bahasa Sasak, berwarna coklat, sedangkan daun lontarnya  berwarna kuning kecoklatan.  Seperti inilah daun lontar atau daun pohon siwalan, yang dijadikan media untuk menuliskan suatu naskah di masa lalu. Untuk bisa digunakan sebagai media tulis, daun lontar itu harus melalui proses tertentu. Potongan-potongan daun lontar dengan ukuran yang sama kemudian disusun, lalu dihubungkan dengan  benang, sehingga tulisan yang terdapat pada lembar daun itu dapat terbaca berurutan. Dan ternyata, huruf-huruf atau aksara tradisional dari Bahasa Jawa, Bali dan Sasak, sangat mirip, bahkan hampir sama. Aku melihatnya seperti huruf-huruf Ha Na Ca Ra Ka.





Selain koleksi berupa benda-benda budaya masa lampau, Koleksi istimewa lainnya adalah Kitab Suci Al Qur an tulisan tangan yang telah berumur ratusan tahun. Ini menandakan bahwa Islam telah masuk ke Pulau Lombok berabad-abad lampau.



Di Museum ini juga dipamerkan Pakaian Adat Pengantin dari Suku-suku yang ada di Nusa Tenggara Barat ini. Demikian pula dipamerkan motif tenun dari masing-masing suku. Suku Sasak memiliki budaya menenun yang telah berkembang sejak dahulu hingga sekarang. Jika dahulu tenun digunakan sebagai pakaian sehari-hari, kini tenun itu menjadi souvenir atau buah tangan wisatawan yang mengunjungi Pulau Lombok.



Lila dan adiknya ikut mendengarkan penjelasan Petugas Museum, dan jika ada hal-hal yang menarik perhatiannya, tak segan untuk menanyakannya ke Petugas. Ketika melihat Patung Kuda Putih yang lucu, maka segera saja ditanyakan. Patung Kuda Putih itu disebut Jaran Kamput, kuda yang dinaiki anak kecil yang akan disunat dan diarak mengelilingi kampung. Ini biasa dilakukan di masyarakat Suku Sasak. Begitu pula ketika menemui ruangan yang dikunci, dimana pengunjung dilarang masuk, ditanyakannya mengapa tidak boleh masuk?. Dalam ruangan itu terdapat benda-benda bersejarah yang sangat bernilai. Selain bernilai mahal karena terbuat dari emas, juga bernilai tinggi karena tak tergantikan. 

Ditengah-tengah ruangan yang terakhir kami kunjungi, terdapat Buaya Muara yang sangat besar yang menarik perhatian Lila. Akhirnya Lila puas setelah mendengarkan cerita Petugas tentang buaya tersebut. Buaya dengan ukuran panjang 4,1 meter, lebar 1,2 meter dan tinggi 0,6 meter yang diletakkan di kotak kaca terbuka itu berasal dari sebuah sungai di Kabupaten Dompu, di Pulau Sumbawa.




Jam 11.40 kami meninggalkan Museum menuju arah selatan ke Pantai Kuta, yang berjarak kira-kira 70 km dari kota Mataram. Menurutku Pantai Kuta di Pulau Lombok lebih indah dari Pantai Kuta di Bali. Pantai ini memiliki garis pantai yang panjangnya 7,2 km dan berpasir putih lembut. Pantainya memiliki sedikit karang. Disana terdapat sebuah bukit batu yang dapat didaki hingga ke puncaknya, bernama Bukit Mandalika. Air lautnya sangat biru, dan dari pinggir pantai tampak sebagian pasir dan di agak ketengah tampak berkarang.

Ketika kami tiba disana, sebagian pantai sedang ditutup seng, rupanya sedang dilaksanakan pembangunan sarana dan prasarana yang merupakan kelengkapan untuk suatu destinasi wisata. Tampak pekerja bangunan sedang merapikan lahan dan menanam pepohonan sebagai penghias taman.yang sedang dibangun. Tentulah akan sangat bagus jika pembangunannya telah selesai kelak.


Mobil kami menyusuri pantai ini hingga ke ujungnya, dimana terletak sebuah Hotel berbintang 4 yaitu Hotel Novotel. Memutar kembali kearah Bukit Mandalika, Lila dan adiknya langsung merengek untuk nyebur ke airnya yang biru. Panas terik tak menyurutkan kemauan mereka untuk main di laut. Tanpa payung dan tak ada pohon peneduh, jadilah kami berpanas-panas ria menunggu di pinggir pantai. Karena masih suasana libur anak sekolah, pengunjung Pantai Kuta lumayan banyak. Kami sempat mencicipi segarnya air kelapa muda yang dijajakan oleh beberapa anak muda di Pantai,   4 butir kelapa dihargai 50 ribu rupiah. Sangat murah menurut ukuran Jakarta..

.

Dengan banyaknya pengunjung yang menikmati liburan di Panti Kuta, merupakan kesempatan baik bagi para Pedagang Asongan untuk mencari rejeki. Banyak diantara para Pedagang Asongan itu, anak-anak usia sekolah,  Mereka menawarkan barang-barang kerajinan Lombok seperti Cincin dan Gelang Mutiara dengan berbagai model dan Sarung Tenun Lombok.

Satu keistimewaan bagi Pantai Kuta di Lombok ini, bahwa setahun sekali selalu dikunjungi oleh rombongan Cacing laut yang dalam bahasa setempat disebut Nyale. Nyale ini  muncul sekitar hari ke 19-20 bulan kesepuluh dan kesebelas awal tahun Penanggalan Sasak, Jumlahnya sangat banyak, memenuhi pantai selatan Pulau Lombok, sehingga nelayan atau siapapun sangat mudah untuk mengambilnya. Untuk kegiatan ini diselenggarakan Festival Bau Nyale (menangkap Nyale) yang sudah menjadi agenda tetap pariwisata Lombok. Nyale saat itu dijadikan berbagai masakan. Rizki yang Allah limpahkan bagi masyarakat Kuta Lombok.

Masyarakat setempat mempercayai mitos tentang Nyale, yang sebenarnya adalah penjelmaan Puteri Mandalika. Tersebutlah dalam legenda, Puteri Mandalika yang sangat cantik, diperebutkan oleh banyak Pangeran  yang ingin mempersunting Sang Puteri. Oleh karena tidak ingin menyakiti hati mereka yang memperebutkan dirinya dan kawatir akan terjadi bencana jika ia memilih salah satu diantaranya, maka Sang Puteri memilih mengakhiri hidupnya dengan terjun ke laut dan menjelma menjadi Nyale, untuk dapat dinikmati seluruh rakyatnya. Pantai Kuta pun sekarang disebut Pantai Kuta Mandalika.

.
Hari ketiga, Kamis 6 Juli 2017.
Hari ketiga di Lombok, kami memenuhi permintaan Lila dan adiknya untuk berenang di laut  dan  main air di kolam renang saja. Lila suka sekali main air laut sambal mencari kepiting-kepiting kecil, yang pada akhirnya dikembalikan lagi ke laut. Sedang adiknya tidak suka main di pantai, maunya main di kolam renang karena tidak ingin kakinya berlepotan pasir  Jadilah kami menunggui mereka berdua hingga puas bermain air.




Keluar dari hotel kami mencari tempat ngopi, kebetulan disekitar hotel banyak kafe-kafe dengan kue-kue yang cukup enak. Namanya Café Gula Gila. Namanya aneh ya…….  Dan untuk makan malam, kami mencoba menikmati kuliner asli Lombok yang terkenal yaitu, Ayam Taliwang. Rupanya Taliwang adalah nama sebuah tempat di kota Mataram. Di satu jalan tersebut, ada 3 Restoran Ayam Taliwang.

Hari keempat, Jum at 7 Juli 2017.
Hari ini adalah hari terakhir kami berada di Lombok. Setelah sarapan pagi, kami beberes untuk cek out meninggalkan Hotel Kila Senggigi Beach menuju Bandara Lombok International Airport. Terlebih dahulu kami mampir ke Toko Oleh-oleh untuk mencari sekedar buah tangan bagi keluarga dan teman-teman di Jakarta. Setelah menyerahkan kembali mobil ke Petugas Rental, segera kami cek in. Sayang sekali, Pesawat kami GA 433  mengalami dua kali penundaan.
Selamat tinggal Lombok yang indah, sampai jumpa di lain kesempatan…….


Wassalamu’alaikum ww.
Jakarta, 16 Juli 2017.





2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus