Sabtu, 11 Juni 2016

Tour ke Vietnam (2)



HOCHIMINH CITY ATAU SAIGON

Rombongan mendarat di Bandara Hochiminh City yang cukup bagus di tengah sengatan udara panas Vietnam. Kami dijemput oleh seorang pria berambut cepak, yang nantinya akan bertugas menemani tour leader kami Kenny, sebagai guide kami selama di kota ini, namanya Mr. Bon. Sambil menunggu teman yang belum selesai pemeriksaan paspor, saya mencoba menanyakan kepada Mr. Bon, seputar urusan hand phone saya, agar lebih irit dalam berkomunikasi dengan keluarga dan pekerjaan di tanah air. Disarankan untuk membeli nomor perdana, dan supaya irit, cukup sms saja, jangan digunakan untuk menelpon.  Rupanya dia mempersiapkan voucher-voucher bagi anggota rombongan yang ingin membeli nomor perdana selama di negeri ini. Setelah selesai pemeriksaan  paspor, rombongan segera bergabung dan kemudian naik bus yang telah disediakan.

Sinciau, Wellcome to Vietnam,  …... Demikian kata Mr. Bon, seraya memperkenalkan diri. Nama marga nya Ngeak... dg pengucapan yang agak panjang sambil ditarik. Dia minta dipanggil Bon saja, atau boleh James Bon 008 …. Umurnya  29 th, sudah berkeluarga. Bon orangnya humoris, komunikatif  dan fasih berbahasa Indonesia.  Ada saja  ceritanya yang membuat kami tersenyum. Sepintas dia menceritakan kondisi Vietnam yg sekarang. Negeri ini  berpenduduk seluruhnya 85 juta orang. Kota yang kami kunjungi ini bernama Hochiminh City, tetapi orang Vietnam, khususnya Selatan masih suka menyebut dengan nama Saigon. Kota ini menjadi kota terbesar di Vietnam, lebih besar dari kota Hanoi. 

Dengan bercanda Bon mengatakan, bahwa Saigon adalah Honda City, maksudnya kota dengan kendaraan motor Honda terbanyak. Jumlah penduduk kota Saigon sendiri sekitar 8 juta jiwa. Jumlah motor Hondanya 7 juta. Jadi setiap keluarga setidaknya memiliki 1 atau 2 motor Honda. Bon belum memiliki mobil, tetapi punya 2 motor. Ketika jam pulang kerja tiba, memang benar jalanan Saigon disesaki dengan sepeda motor. Demikianlah, tidak beda dengan Jakarta.

Vietnam adalah satu dari diantara 3 negara di dunia yaitu Jerman, Korea dan Vietnam, yang mengalami perang saudara dan terpecah menjadi 2 bagian. Seperti Jerman, negara ini telah bersatu. Tinggal Korea yg masih belum menyelesaikan sengketanya. Kalau Jerman dimenangkan oleh pihak kapitalis, Vietnam dimenangkan pihak komunis. 

Setelah perang selesai di tahun 1975, Vietnam mulai membangun negaranya, dan tidak lagi tertutup. Oleh karenanya pembangunan  lebih cepat menampakkan hasilnya, seperti terlihat dari gedung-gedung pencakar langit yang mulai berdiri di kota ini. Apalagi sebagai negara yang sebelumnya tertutup, menjadi daya tarik tersendiri bagi negara-negara tetangga untuk mengunjungi dan berinvestasi. Indonesia  termasuk negara yang menanamkan investasinya. Konglomerat Ciputra dengan Ciputraland nya sudah lama membangun bisnisnya disini.  Berdasarkan data dari Kementerian Pariwisata Vietnam, Indonesia mengirimkan wisatawan terbanyak ketiga setelah Rusia dan Jepang.  Wah,  Indonesia hebat ya……. mungkin karena perekonomiannya membaik. Kota-kota lain yang banyak dikunjungi wisatawan selain Saigon dan Hanoi adalah Da Nang dan Na Thrang di Vietnam bagian tengah.

Kami dibawa city tour di pusat kota Saigon, untuk melihat 2 tempat yang merupakan peninggalan masa penjajahan Perancis. Di zaman itu, orang Perancis meng copy beberapa tempat di Perancis  untuk dibangun di Saigon, diantaranya  Gereja Katedral Notredame dan Kantor Pos. Di sebelah kanan Gereja, di seberang jalan terletak Gedung Kantor Pos. Apa istimewanya Kantor Pos itu? Rupanya di dalamnya digunakan sebagai pasar barang-barang souvenir khas Vietnam. Begitu melihat barang-barang itu, wouw…. bagus-bagus sekali. Walaupun mungkin lebih mahal dari tempat lainnya, tetapi sebagai turis, kita tidak akan salah tawar karena barang-barang itu sudah ada label harganya, dan memang lebih berkualitas dari pada barang yang sejenis yang dijual di pasar. 



Rombongan mengambil foto group di lokasi tengah kota itu, kemudian diberi waktu 20 menit untuk melihat-lihat sekitar atau mengambil foto-foto. Sebenarnya kurang puas hanya 20 menit, akan tetapi sesuai jadwal, waktu kami untuk melihat Water Puppet Show sudah tiba.
 
Kembali ke bus, Bon menjelaskan kondisi negerinya. Negeri ini mulai maju setelah berakhirnya perang, yang dimenangkan Vietnam Utara. Sekarang secara resmi merupakan negara sosialis, namanya Republik Sosialis Vietnam. Dari negara-negara di Indochina, Vietnamlah yang paling maju  setelah Thailand. Yang ketiga Kamboja, dan Laos yg terakhir, yang masih dalam keadaan  miskin. Mata uang Vietnam namanya Dong, Vnd (Vietnam Dong), nilainya setengah rupiah. Harga kaos yang di Jakarta 50.000 Rupiah, maka di Saigon 25.000 Dong. Akan tetapi, di toko atau di pasar-pasar orang menuliskan harga tidak mencantumkan ribunya. Cukup angka depannya saja. Mereka juga senang bila menerima pembayaran dalam US Dolar.

Secara umum penampilan fisik orang Vietnam lebih baik daripada orang Kamboja. Wajah mereka lebih manis, kulit lebih putih, badan tegap.  Karena biasa bekerja disawah, baik laki-laki maupun perempuan penampilan tubuhnya langsing berisi. Dengan pakaian tradisional mereka berupa celana panjang dengan blus lengan panjang selutut, makin tampak  keelokan tubuh mereka. Hampir mirip orang China, saudaranya yang berdiam di bagian utara negeri ini. Apalagi kalau ­­­­mendengar gaya berbicaranya. Bangsa Vietnam berbahasa dan menggunakan huruf  Kanji, tapi di Saigon ini saya tidak melihat huruf itu. Setiap papan nama ditulis dengan huruf  latin tetapi dengan tanda baca tertentu, seperti koma diatas, ditengah atau dibawah huruf. Atau titik  diatas, ditengah atau dibawah huruf. Ada pula koma yg bertumpuk, menghadap ke kanan atau kekiri. Tanda tersebut menunjukkan cara membacanya, dan juga membedakan arti. Mungkin seperti membaca huruf Arab, ada yang harus dibaca biasa, pendek atau panjang. Wah, sepertinya nggak sanggup kalau harus belajar membaca saja sesulit itu. Apa lagi  menghafal artinya.

Bus terus melaju menuju tempat pertunjukan Water Puppet Show, dimana kami akan melihat kesenian tradisional berupa teater boneka yang telah ada di Vietnam sejak abad 11. Bon membelikan tiket dan kami segera masuk kedalam. Suasana di dalam gedung seperti bioskop, dimana layar lebarnya bergambar rumah dan halamannya adalah kolam air yang  berwarna kuning-coklat seperti tercampur tanah. Di sebelah kanan panggung, terdapat 2 orang laki-laki dan seorang perempuan, mereka itu pemain musik, dalang yang bercerita, dan penyanyi. Demikian pula di sebelah kiri panggung. Mereka berpakaian tradisional berwarna merah, kuning dan hijau. Tidak lama kami duduk, segera lampu dipadamkan dan musikpun mengalun. Menurut pendengaran saya seperti musik tradisional  China. 

Pertunjukan ini memang lain dari pada yang lain. Kalau wayang kulit, dalangnya hanya seorang, bercerita sambil menggerakkan wayang,  ternyata Water Puppet Show dalangnya ada 7 orang. Mereka itulah yang menggerakkan boneka-boneka dari balik layar, sehingga boneka-boneka itu bermain sangat bagus seperti sesungguhnya. Beberapa episode cerita pada pertunjukan malam itu antara lain tentang  anak-anak yang bermain di sungai, bercanda ria sambil berenang, memancing ikan atau menangkap kodok. Ada lagi cerita tentang lomba mendayung, tarian naga, tarian phoenix, dan lain-lain. Pada salah satu episode Unicorn Bermain Bola, ternyata triknya adalah Unicorn maupun bolanya sebenarnya ada banyak. Begitu Unicorn menangkap bola lalu dibawa masuk tenggelam dalam air, dalam waktu yang sama Unicorn itu sudah muncul membawa bola naik memanjat pohon. Unicorn dan bola yang terakhir itu dimainkan oleh dalang yang lain. Pada akhir pertunjukan, para dalang yang berjumlah 7 orang itu muncul dari dalam air menyampaikan salam hormat kepada penonton. Mereka  ternyata masih muda-muda. Tepuk tangan penonton menutup pertunjukan kesenian tradisional ini. 




Keluar dari pertunjukan, kami menuju restoran untuk makan malam. Restoran itu berupa Ruko, dan kami naik ke lantai 2, dimana segera dihidangkan nasi dengan lauknya berupa sea food lengkap, ikan, cumi-cumi, kepiting dan udang. Agak istimewa, ada sambal terasi berikut lalapan timun, selada dan kerupuk seperti di Indonesia. Rupanya pemilik restoran ini adalah seorang warga Singapura bahkan menyediakan Mushalla di rumah makannya. Kalau di Singapura, sambal terasi disebut sambal belacan. Tak heran, saya lihat banyak teman-teman seperjalanan yang  menambah nasi dan sambalnya, serasa makan di rumah sendiri.

Dengan berakhirnya makan malam, kami menuju hotel. Hotel tempat kami menginap di Saigon ini namanya Blue Diamond, terletak di pusat kota. Hotelnya kecil, seluas 3 buah ruko yang dibangun keatas sampai 8 lantai. kalau di Jakarta mungkin bintang 3 atau malah kelas melati. Hotel bintang 3 di Jakarta, seperti Hotel Ibis, Neo Melawai, Jakarta Airport Hotel, jauh lebih besar dari hotel ini. Di Saigon banyak hotel-hotel semacam ini, yang ternyata memiliki banyak langganan seperti Dwidaya Tour dan Tour-tour lain. Kata seorang teman, harga kamarnya 50 US Dolar semalam termasuk breakfast. Sebelum beristirahat, terlebih dahulu saya shalat dan beres-beres koper, karena akan berada di hotel ini selama 2 hari.

Hari ke lima, 29 Juni 2013.

Hari ini, pada jam sarapan pagi saya ke Coffee Shop dan ternyata teman-teman telah lebih dahulu breakfast. Hidangan pagi sebagaimana biasa makanan khasnya adalah mie kuah dengan tauge, daging ayam dan bumbu daun ketumbar.  Tersedia juga nasi, roti serta salad dan buah. 

Acara kami sesuai jadwal adalah kunjungan ke Museum dan dilanjutkan ke Istana. Sebagaimana diceriterakan oleh Bon, perang yang berlangsung sejak tahun 1957 hingga tahun 1975 telah menewaskan 280 ribu orang dari pihak Vietnam Selatan yang dibantu Amerika dan 1 juta orang dari pihak Vietnam Utara yang dibantu Uni Soviet dan China. Tujuan Amerika dalam perang Vietnam ini bukan untuk menguasai suatu kekayaan, misalnya minyak bumi atau apa saja yang dapat dinikmati atau dibawa ke negerinya. Tujuannya adalah mencegah efek domino, agar faham komunis Vietnam  yang didukung oleh Soviet dan China, tidak merembet ke negara-negara tetangga.

Kami dibawa ke Museum yang nama resminya adalah War Remnants Museum atau Museum Sisa-sisa Perang, untuk melihat dokumentasi sejarah, akibat perang Vietnam. Museum ini dibuka sejak September tahun 1975 dan setiap tahun dikunjungi tidak kurang dari 500.000 orang tamu.  Kami langsung ke lantai 2, dimana terdapat foto-foto yang menggambarkan  bagaimana tentara  Amerika telah berlaku sangat kejam, membunuh penduduk sipil Vietnam, bahkan dengan bahan kimia yang disebut Agent Orange. Korban cacat akibat dari zat kimia ini sungguh mengerikan.

Disini juga ditampilkan foto-foto yang diambil oleh 134 jurnalis dari 11 negara yang terbunuh dalam perang Vietnam, koleksi dokumentasi dari 2 orang photographer Jepang bernama Bunyo Ishikawa dan Nakamuro Goro, juga foto-foto yang berhasil mendapatkan Penghargaan Pulitzer dan World Press.

Di bagian lain, di ekspose pengakuan seorang Senator Amerika John Kerry yang pada saat bertugas di Vietnam telah membunuh satu keluarga tak berdosa, mengubur mayat-mayatnya dalam satu sumur. Saya tidak tahan melihat foto-foto yang mempertontonkan kekejian itu, akhirnya tidak melanjutkan berkeliling ke seluruh ruangan. Dengan demikian, pesan yang disampaikan oleh museum ini kepada publik untuk mengatakan – no to war, yes to peace – telah sampai kepada saya.

Sementara itu, beberapa teman berfoto di depan tank-tank dan pesawat tempur peninggalan tentara Amerika di halaman sebelum meninggalkan museum. Selanjutnya rombongan menuju Reunification Palace, istana tempat tinggal Presiden Vietnam Selatan yang terakhir, sebelum perang usai. Di bawah tanah istana ini terdapat lorong menuju Kedutaan Amerika. Sekarang menjadi tempat tujuan wisata.  



Setelah makan siang, acara selanjutnya adalah mengunjungi Chu Chi Tunnel (diucapkan : Ku Ci), terowongan peninggalam jaman perang antara Vietnam dengan Amerika Serikat, yang berlokasi 60 km diluar kota Saigon. Jarak tersebut  kalau di Jakarta  dapat ditempuh dalam 1 jam, tetapi disini bisa 1,5 jam karena bukan jalan tol. Kami akan banyak berjalan dihutan, kemaren Bon menyarankan agar mengenakan sepatu trepes atau sepatu oleh raga.

Bus kami melalui jalan-jalan perkampungan dengan pemandangan yang hampir sama dengan yang ada di tanah air. Hamparan bekas sawah yang telah dipanen, sudah tidak ada padinya, tanah kosong yang masih hijau dan juga tanah kebun dengan pepohonan yang hijau segar. Pohon buahnya pun sama, ada nangka, alpukat, jambu dan sebagainya. Di bagian lain, kadang tampak sawah menghijau diairi air dari sungai kecil. Kebanyakan penduduk di sekitar Saigon terlihat  cukup berada, tampak dari penampilan rumah-rumahnya yang cukup bagus, tidak kelihatan ada rumah yang reyot. Lingkungan rumah dan kebun juga cukup bersih. Di bagian lain sepanjang jalan yang kami lalui, banyak juga rumah-rumah digunakan sebagai tempat usaha, percetakan, toko sepeda, kelontong, tempat reparasi TV dan sebagainya.

Memasuki lokasi tujuan, dari depan kelihatannya sebagai rumah biasa. Sebelum perjalanan di hutan dimulai, rombongan dikumpulkan untuk diberi penjelasan tentang apa yang akan dilihat disini nanti. Cu Chi Tunnel adalah terowongan tempat tinggal sekaligus tempat berlindung para gerilyawan Vietcong. Mereka adalah orang Vietnam Selatan  yang mengikuti komando dari Ho Chi Minh di Vietnam Utara, melawan Amerika Serikat. Pada siang hari, mereka adalah petani biasa, pada malam harinya mereka mempunyai tugas tertentu sebagai gerilyawan. 

Terowongan itu hanya cukup untuk dilalui oleh 1 orang saja. Dari permukaan tanah, tidak  tampak apapun, lubang ditutup dengan kayu berukuran 40 x 40 cm. Kadang diatasnya diletakkan daun-daun kering atau dahan-dahan kayu sebagai kamuflase. Tempat tinggal mereka itu ada yang sampai 3 tingkat, tingkat pertama untuk tempat tinggal, tingkat kedua dan ketiga untuk tempat menyimpan senjata dan bersembunyi ketika di permukaan tanah diatasnya di bom. Tinggal di tingkat pertama masih memungkinkan, masih ada oksigen dari lubang-lubang buatan. Tetapi lubang-lubang untuk bernafas itu juga harus dibuat sedemikian rupa supaya tidak diketahui tentara Amerika.

Terowongan  Cu Chi Tunnel bila dihubung-hubungkan memiliki panjang seluruhnya 250 km. Tentara Amerika kewalahan dengan adanya terowongan ini. Gerilyawan Vietcong bagaikan hantu yang bisa muncul dan menghilang dimana saja dan kapan saja.  Belum lagi jebakan ranjau yang telah dipersiapkan oleh para gerilyawan di wilayah ini, membuat banyak tentara Amerika yang  terluka. Melihat peta, lokasi hutan ini ternyata berada sangat dekat dengan markas tentara Amerika. 

Bagaimanapun juga, motivasi perang tentara Amerika tidak sekuat gerilyawan Vietcong, sehingga walaupun memiliki persenjataan mutakhir yang lengkap akhirnya dapat dikalahkan dan ditarik mundur pada tahun 1975. Kajian menarik yang saya peroleh dari internet menyebutkan, bahwa kemenangan Vietcong adalah juga berkat Indonesia, karena mereka mempelajari dengan serius buku-buku tentang perang gerilya yang ditulis oleh Jenderal AH Nasution, salah seorang jenderal intelektual kita yang mendalami perang.

Pemerintah Vietnam menjadikan Cu Chi Tunnel sebagai obyek wisata sejarah, dan apa yang dilihat oleh wisatawan sekarang ini adalah masih sebagaimana aslinya. Hanya beberapa meter terowongan saja yg dibuat agak sedikit longgar, sehingga wisatawan bule yg berbadan besar bisa masuk ke dalamnya. Saya sempat berfoto di sebuah mulut terowongan yang telah dilebarkan dan dihaluskan, didalam ruangan dimana Bon menjelaskan sebelum kami menuju hutan.

Pada saat rombongan kami berada disana, ada 2 orang turis bule mencoba masuk ke lubang salah satu terowongan dan kemudian muncul di lubang tempat lain yang panjangnya kira-kira 20 meter.  Teman-teman seperjalanan banyak juga yang mencobanya, mereka bersama-sama masuk lubang secara beriringan. Kata mereka didalam terowongan gelap dan pengap. Jangan coba-coba mengeluarkan bom gas beracun…….. bisa-bisa yang berada  dibelakangnya pingsan semua …..

Di lokasi ini saya melihat bekas rumah tinggal dibawah tanah, lengkap dengan meja kursinya, akan tetapi sekarang atapnya yang semula permukaan tanah, telah dibuka dan diberi atap daun lontar. Bila menengok kebawah, tampak jelas isi rumah itu. Demikian pula disini diperlihatkan bagaimana dulu gerilyawan Vietcong membuat perlengkapan perang. Ada bermacam-macam bentuk ranjau seperti besi runcing berputar yang dipasang dibawah lubang jebakan. yang bila terinjak pasti melukai tubuh. Mereka juga membuat bermacam-macam senjata, antara lain ada yang seperti bambu runcing kita.

Di lokasi lain, diperlihatkan cara membuat sandal dari ban bekas. Lucunya sandal mereka itu bentuk alasnya terbalik, bagian depan kecil, bagian tumit malah lebar. Maksudnya adalah, bila sandal itu dikenakan, jejak kaki yang terlihat ditanah terbalik. Orangnya pergi kearah barat, seolah-olah  kearah timur.  Pantas saja tentara Amerika menganggap mereka hantu.

Setelah berjalan-jalan di hutan ini selama beberapa waktu, kami beristirahat di sebuah tenda dan dijamu teh hangat dan singkong rebus yang dicocolkan ke campuran gula dan bubuk kacang.  Lumayan ….

Terakhir, kami dibawa ke lokasi menembak beneran, yang sasarannya berupa lereng/punggung gunung terbuka sehingga sasaran tidak akan mengenai makhluk manusia atau binatang ternak. Dari jauh bunyi letusan senjata api itu membahana. Rupanya banyak anggota rombongan  yang mencobanya dengan membeli peluru, harga tiap 10 peluru adalah 800.000 Dong atau 400.000 rupiah. Sambil menunggu mereka yang sedang menembak, saya dan teman-teman membeli minuman dingin pelepas dahaga.

Sepanjang perjalanan kembali ke Saigon, Bon memutarkan film di bus tentang Perang Vietnam. Sayang, tempat duduk saya di belakang sehingga tidak dapat mengikuti ceritanya dengan jelas.

Ketika hari telah senja, rombongan kembali ke hotel. Bon menanyakan, apakah  ada anggota rombongan yang  ingin diantar ke Ben Thanh Market. Bagi yang berminat, sesampai hotel diberi waktu 10 menit untuk segera turun ke lobby, Bon akan mengantarnya. Sebenarnya jarak dari hotel Blue Diamond ke Ben Thanh Market  hanya sekitar 300 m sehingga pulangnya bisa berjalan sendiri atau dengan teman masing-masing. Saya bertemu banyak turis dari negara-negara lain, diantaranya yang pasti dari penampilan dan bahasanya adalah turis Malaysia. Belum lama berada di pasar, hujan turun dengan derasnya. Sambil menunggu reda, kami bersama-sama anggota rombongan duduk-duduk di kursi-kursi kecil sambil minum kopi di pasar.

Hari ke enam, 30 Juni 2013.

Sambil menunggu teman-teman berkumpul setelah breakfast,  di lobby hotel saya bertemu dengan Crew Trans TV. Kemudian kami ngobrol,  dan saya diperkenalkan dengan mbak Mila yang saat itu sedang bertugas mendampingi Crew Trans TV shooting meliput beberapa tempat untuk acara-acara Trans. Mbak Mila adalah seorang wanita Vietnam yang fasih berbahasa Indonesia,   karena selama  6 tahun  belajar di perguruan tinggi di Yogyakarta atas bea siswa dari pemerintah Arab Saudi. Sebagai gadis yang berasal dari minoritas muslim suku Champa yang tinggal di pesisir selatan Vietnam, dia sangat bersyukur telah berkesempatan belajar di Indonesia. Dan sekarang berkat kefasihannya, tenaganya diperlukan sebagai pemandu ataupun penerjemah. Saya sempat mencatat nomor teleponnya, siapa tahu suatu ketika memerlukannya.

Hari ini kami akan mengunjungi Wilayah Muara Sungai Mekong, yaitu daerah Mytho termasuk propinsi Tien Giang yang berjarak 70 km dari Saigon. Wilayah ini merupakan tanah pertanian  yang sangat subur. Sungai Mekong memang menjadi berkah bagi penduduk Vietnam. Sungai itu berhulu di Gunung Himalaya, melalui 6 negara dan dari negara-negara sebelumnya  membawa humus yang menjadikan  bumi Vietnam subur. Bon telah mengingatkan sebelumnya, karena kami akan lebih banyak berada diluar atau dibawah terik matahari,  supaya mengenakan topi atau memakai sun bloc. Bus melaju menuju arah luar kota. Sepanjang jalan raya yang berada di sisi sungai, pemandangan sungainya cukup bersih. Rupanya sungai itu dibersihkan sebelum memasuki kota. Para petugas pembersih menggunakan sampan dayung mengambil sampah sungai yang hanya berupa dedaunan, bukan sampah plastik dan berbagai sampah lainnya seperti yang kita temui di sungai Ciliwung, Jakarta. 

Berada di Saigon seperti di tanah air sendiri. Banyak pedagang berjualan apa saja di pinggir jalan. Rokok, kopi, mie kuah dan lain-lain. Lapaknyapun  seadanya, asal bisa untuk berdagang.  Saya pernah melihat seorang ibu muda berjualan kacang rebus diatas tampah. Pada umumnya mereka  tampak bersemangat menjalani kehidupan dengan berusaha bekerja apa saja. Banyak pemilik rumah di pinggir jalan menggunakan trotoar didepannya untuk berjualan makanan dengan meletakkan meja pendek dan kursi-kursi kecil. Para karyawan pada saat  istirahat siang bisa pulang ke rumah untuk makan siang atau jajan di pinggir-pinggir jalan dengan duduk di kursi-kursi kecil itu. Saya belum melihat ada pengemis baik di jalanan maupun di pasar.

Menuju Mytho, kami melewati Pagoda dengan 3 patung Budha berwarna putih yang sangat besar, salah satu diataranya Budha sedang tidur. Namanya Vinh Trang Pagoda. Rombongan tour mampir di tempat ini memberi kesempatan bagi yang beragama Budha untuk berdoa. Saya berfoto-foto sejenak, kemudian meneruskan perjalanan lagi.

Tiba di pelabuhan Mytho, Bon membelikan tiket untuk naik kapal. Pemandangan pelabuhan cukup bersih, dan banyak kios menjual barang-barang souvenir, khususnya kaos oleh-oleh. Mereka  menjajakan dagangannya, bahkan dalam bahasa Indonesia. Kaosnya madam… murah, murah … Boleh, seandainya membayar dengan uang rupiah, karena di beberapa kios harganya ditempel dengan angka, 50 (maksudnya 50 ribu) dong dan 25 (maksudnya 25 ribu) rupiah.  

Di kapal, kami mendapat minuman kelapa muda segar. Sebelum mesin dihidupkan Pak sopir kapal mempersiapkan banyak kelapa muda, memangkas batok bagian atasnya dan membagikan kepada seluruh penumpang yaitu 26 orang, karena penumpangnya ya hanya angggota rombongan Dwidaya. Bon menjelaskan bahwa 60 km menuju kearah laut sudah masuk wilayah Kamboja. Baru beberapa menit perjalanan, kapal kami sudah sampai. Rupanya tujuan kami hanya di seberang pelabuhan. Terdapat 4 pulau di Delta sungai Mekong ini. Pulau Unicorn, Pulau Naga, Pulau Kura-kura dan satu lagi saya lupa mencatatnya. Sekarang kami berada di Pulau Unicorn. 

Begitu mendarat langsung memasuki sebuah pabrik/industri kecil  yang membuat permen kelapa. Ditempat ini diolah  kelapa yang dihasilkan dari wilayah sekitar menjadi dodol dan permen dengan berbagai rasa, rasa kacang, pandan, durian dan lain-lain. Khusus permen rasa durian, harganya 60 ribu dong per pak, beli 5 gratis 1. Sedang permen rasa lain harganya  30 ribu dong. 

Kami berjalan-jalan masuk hingga ke tengah pulau, melalui kios-kios yang menjual barang-barang souvenir, tas-tas dan baju-baju tradisional Vietnam. Rombongan berhenti disebuah  tempat makan sederhana tetapi teduh, dengan banyak meja dan kursi. Telah tersedia di meja-meja buah-buahan segar seperti  mangga, nangka, semangka, sawo dan sebagainya, gratis. Kalau ingin duren,  harus membeli. Tak lama duduk sambil makan buah, terdengar musik dari jauh dan akhirnya mendatangi meja-meja kami.  Enam orang gadis-gadis Vietnam dengan pakaian tradisionalnya yang khas menyanyikan lagu-lagu, diantaranya lagu pop Indonesia Madu dan Racun. Wah, surprised. Kami menghadiahkan tepuk tangan untuk memberikan apresiasi atas lagu-lagunya. Sebelum rombongan musik meninggalkan kami, diedarkan keranjang kecil yang dihias bunga-bunga cantik, sebagai wadah bagi yang ingin memberikan sekedar tip.



Dari tempat ini, kemudian kami berjalan di pematang yang agak lebar, dimana di kanan kiri nya kolam air sungai. Melalui kebun-kebun yang berisi pohon-pohon buah antara lain rambutan dan nangka, menuju ke ujung pulau. Disini telah menunggu kami, sampan-sampan kecil yang hanya muat 4 orang untuk menyusuri kanal-kanal diantara pulau-pulau. Indah sekali pemandangannya. Kanal-kanal disini cukup panjang, tetapi menjadi terasa sempit karena banyak sampan dengan penumpang turis berseliweran berlawanan arah dengan sampan kami. 

Di pinggir kanal  banyak tanaman palem yang daunnya mirip daun kelapa, tapi tidak ada buahnya, hanya tampak bunganya yang besar dan mulai kering. Pemandangan bersampan di kanal-kanal sungai Mekong ini sangat khas. Berbeda dengan di Venesia, di sana sampannya lebih besar yang disebut Gondola, pemandangannya laut dan gedung-gedung tua. Keduanya hanya bisa memuat 4 orang penumpang, bila lebih, akan menjadi oleng. 

Setelah bersampan, sekali lagi kami dibawa Bon mampir ke suatu tempat dimana kami dijamu minuman kesehatan ala Vietnam. Di meja telah disediakan gelas-gelas kecil, yang kemudian oleh waiter, diisi Pollen Bee satu sendok kecil, madu satu sendok kecil dan perasan irisan jeruk. Waiter menambah air teh panas hingga gelas kecil itu penuh. Enak rasanya, dan hebat khasiatnya. Saya akhirnya ikut membeli Pollen Bee saja, karena madu di Jakarta pun ada.  

Rombongan kembali menuju pelabuhan dengan kapal yang sama, dan kemudian menuju ke tempat makan siang.  Restoran tempat kami makan bernama Mekong Rest Stop. Restorannya besar sekali, dimana bus-bus wisata memenuhi tempat parkirnya. Yang pertama saya cari adalah toilet. Ternyata berderet-deret toilet tersedia. Toilet di Vietnam tidak menyediakan shower kecil/shower cebok. Jadi saya selalu membawa tisu basah atau bila tidak ada, tisu kering diguyur air. Kebiasaan khas orang Indonesia, apalagi muslim, yang mewajibkan untuk membersihkan diri dengan baik yang artinya adalah dengan air.   

Lokasi ruangan untuk rombongan kami telah disediakan. Hidangan yang khas disini adalah lumpia basah yang dibuat pengunjung sendiri dari bahan-bahan yang telah disediakan di meja. Waiter memberi contoh,  pertama mengambil kulit lumpia, kemudian diberi bihun, sayuran dan sedikit daging ikan gurame goreng, lalu digulung. Jadilah lumpia basah. Hidangan lainnya yang agak berbeda adalah kue yang bentuknya seperti serabi dengan toping irisan bakso, dimakan dengan kecap asin. Ada pula sayuran berupa ca kailan dan sup. Saya berhati-hati memilih makanan, khawatir keliru yang tidak halal, jadi lebih sering makan sayur dan ikan atau ayam goreng kering yang tidak berbumbu kuah. 

Di restoran ini juga dijual barang-barang suvenir dengan kwalitas bagus. Kesempatan mencari oleh-oleh untuk Aisha, Lila dan Lura, tiga gadis cantik cucu-cucu saya yang sering membuat saya kangen. Setelah melihat kesetiap sudut toko, akhirnya saya mendapatkan baju tradisional lucu-lucu buat mereka. Mudah-mudahan bisa dikenakan saat hari Lebaran. 

Selesai makan siang, saat kembali ke bus, Bon mengingatkan bahwa kami akan segera menuju hotel, bersiap-siap mandi dan segera berkumpul di lobby untuk mengikuti Dinner Cruise di kapal sambil menyusuri sungai Saigon. Acara besok pagi-pagi sekali, berangkat menuju Hanoi. 

Malam hari pada jam yang telah ditentukan, kami memasuki bus menuju tepian Sungai Saigon, anak sungai Mekong. Sebelumnya Bon menjelaskan bahwa kami akan menikmati makan malam di kapal sambil dihibur musik. Rombongan Dwidaya telah dipilihkan duduk di lantai 3, dimana hiburannya berupa  musik yang tenang sesuai dengan usia para pesertanya. Di lantai 2, hiburan musik keras dan pertunjukan Fire Dance. Di lantai 1, lain lagi. Bon nanti akan memberitahukan,  jika di lantai 2 pertunjukan Fire Dance sudah dimulai, kami boleh turun melihatnya.

Di depan saya tampak kapal besar dengan lampu-lampu di pinggirnya. Kapal ini resminya bernama Tau Sai Gon atau Saigon Cruise Ship. Menuju kapal, gadis-gadis berseragam putih berjajar di pinggir jalan menyambut kedatangan para tamu. Kami langsung naik ke lantai 3. Tampak meja berjajar memanjang di tengah kapal, dikelilingi deretan kursi-kursi. Dan dipinggir kapal, bagian kiri dan kanan  masih ada banyak meja dengan 4 kursi disekelilingnya. Rombongan  mengambil tempat duduk di deretan tengah sejumlah anggotanya, 26 kursi.  Segera hidangan dibawa oleh waiter berbaju seragam putih ke meja besar dimana kami duduk berderet, berturut-turut  nasi putih, ayam goreng, ikan, tofu, sayur kailan, sayur cap jay, dan ada kompor dengan keramik diatasnya berisi kerang rebus. Setelah kerang habis, diganti dengan sup tomyam. 

Di ujung kapal terdapat panggung dengan 2 tempat duduk berupa kursi tinggi. Kemudian 2 orang pemusik mulai menghibur kami dengan lagu-lagu instrumentalia berirama slow,  lagu-lagu tahun 70-80 an yang sudah familiar di telinga kami.  Berturut-turut mengalun Love is blue kemudian lagu-lagu lama, termasuk lagu-lagu tahun 60 an dari Simon and Garfunkel.  Pemusik pria memakai kemeja putih  memetik gitar, sedangkan yang wanita bergaun panjang, sopan,  meniup seruling.  Bersamaan dengan dimainkannya musik, kapal bergerak berjalan perlahan-lahan.  

Menikmati makan malam dalam suasana begini jadi ingat suami, anak-anak dan cucu-cucu di  Jakarta. Alangkah bahagianya jika sat-saat seperti ini dinikmati bersama-sama mereka. Dulu, ketika saya masih muda dan anak-anak belum menikah, pernah menikmati pergi bersama semacam ini, Dinner Cruse di Sungai Nil, dengan hiburan Belly Dancing atau tari perut. Pernah juga dinner serupa di Shanghai, hanya makan malam saja tanpa hiburan musik. Tetapi untuk saat sekarang memang tidak mudah pergi bersama, karena mereka masing-masing mempunyai kesibukan yang berbeda, dan juga harus menyesuaikan dengan kegiatan pasangan maupun waktu liburan sekolah anak-anaknya.  Tour ini pun, yang semula rencana pergi bersama suami, pada akhirnya suami tidak bisa berangkat. Mungkin suatu ketika jika direncanakan lebih matang, bisa pergi bersama lagi.  Kapan ya? Masihkah lutut kaki ini bersedia menunggu?


Setelah usai makan, saya masih menikmati musik yang dimainkan di panggung. Bon mengatakan bahwa di lantai 2 Fire Dance sudah dimulai. Terdengar dari atas musik yang mengiringi tarian itu berdentam-dentam. Sambil tertawa Bon mengingatkan supaya ibu-ibu  menjaga bapak/suaminya, hati-hati, jangan sampai tergoda. 

Beberapa teman mulai meninggalkan kursinya, turun ke lantai 2. Sayapun mengikutinya, Ternyata benar, pertunjukan tarian  dibawakan oleh seorang gadis muda dengan pakaian minim sedang mempermainkan obor. Menurut saya, show ini masih tergolong biasa, karena di suatu tour lain  saya pernah melihat yang lebih menyeramkan dan lebih vulgar. Sebagai muslim saya  memiliki standar sikap/perbuatan yang seharusnya. Tentu saja tidak mungkin mengharapkan standar saya berlaku bagi mereka yang agama dan budayanya berbeda. Sayapun hanya sebentar berada disana, kemudian berjalan-jalan mengelilingi kapal menikmati kesejukan udara malam diatas sungai Saigon. 

Tak lama kemudian rupanya acara sudah berganti. Terdengar hiburan musik pop, diantaranya lagu pop Indonesia Madu dan Racun, yang sangat terkenal di masa lalu dibawakan oleh Ari Wibowo itu. Kemudian lagu Jamilah, lagunya Jamal Mirdad......  Wah, ternyata lagu-lagu Indonesia dengan irama  gembira sudah dikenal di Vietnam. Barangkali sudah saatnya Indonesia mengekspor budayanya sebagaimana Korea. Acara makan malam dan hiburan selesai pada jam 21.30. Bon mengingatkan lagi bahwa esok pagi kami akan berangkat ke Bandara untuk penerbangan pagi, hendaknya segera beristirahat agar tidak terlambat berkumpul.

Sampai di hotel, lebih dahulu shalat dan kemudian beres-beres packing koper. Mempersiapkan baju bersih untuk 3 hari lagi, terpisah dari baju-baju yang sudah kotor. Tak lupa  untuk menempatkan Paspor dan Hand Phone di tempat yang mudah diingat atau dijangkau dan menyiapkan sekedar tip. Tidak terasa tour ini tinggal mengunjungi satu tempat lagi, kemudian kembali ke tanah air. Alarm saya pasang di jam 03.30, yaitu dua jam sebelum waktu keberangkatan meninggalkan hotel besok.

Hari ke tujuh, 1 Juli 2013.

Saigon yg biasanya panas,  masih terasa dingin ketika  bus meninggalkan hotel. Taman-taman kota yang biasanya ramai masih sepi, dan kendaraan  hanya satu-dua yang lewat dijalanan. Jauh berbeda dengan Jakarta di waktu subuh. Di bus, kepada kami dibagikan makanan berupa roti tawar dan pisang karena tidak mungkin breakfast di hotel. Bus menuju Bandara Hochiminh City yang telah ramai. Penerbangan kami menggunakan Vietnam Air.
Selamat tinggal Saigon ……

HANOI - HALONG

Pesawat mendarat pada jam 8.30, tepat 2 jam seperti diperkirakan. Pada penerbangan dari Singapura ke Kamboja kami menggunakan Silk Air, anak perusahaan Singapore Airlines. Kemudian dari  Siem Riep ke Saigon dan Saigon ke Hanoi kami menggunakan penerbangan domestik Vietnam. Yang baru kami naiki tadi adalah Maskapai Penerbangan Vietnam yang bernama VietJet, dengan pesawat Airbus 320- 200, tanpa hidangan makanan maupun minuman. Kalau saya ingin minum kopi, tersedia white coffee, harganya 20 ribu Vnd atau 10 ribu rupiah.  Rasanya cukup murah untuk satu sachet kopi di angkasa. Saya memesan 1cangkir  white coffee.

Guide yang menjemput kami kali ini bernama Khan, fasih berbahasa  Inggris, tetapi tidak dapat berbahasa Indonesia. Saat pesawat mendarat,  kota Hanoi baru diguyur hujan deras. Terlihat dari pelataran parkir yang sangat basah. Sebenarnya saat ini adalah saat terpanas untuk wilayah  Vietnam, tapi sebagaimana di Jakarta,  hujan masih turun setiap harinya. Pemandangan  di sepanjang jalan yang kami lalui lebih sepi dari pada Saigon. Memang Hanoi tidak sepadat Saigon. Kota ini adalah kota pemerintahan, bukan kota dagang. Di kanan kiri jalan, sawah menguning siap untuk dipanen. Tidak seperti di Saigon yang bisa bertanam padi 3 kali dalam setahun, di Hanoi hanya 2 kali karena  ada musim dinginnya.

Khan menceritakan bahwa Hanoi sebagai ibu kota pemerintahan, dan di kota ini tidak banyak tempat yang bisa dikunjungi. Wisata disini hanya fokus pada wisata sejarah. Hari ini kami akan mengunjungi Hochiminh Mausoleum dan beberapa Pagoda, kemudian akan menuju Halong Bay, tempat wisata cantik yang menjadi ikonnya Vietnam.  


Bus membawa kami ke restoran untuk makan siang, walaupun jam baru menunjukkan pukul 10.30. Ini karena tadi pagi banyak anggota rombongan yang tidak makan roti dan pisangnya,  terburu-buru ke airport. Restoran tempat makan kami  berupa rumah bertingkat di pinggir jalan, dimana untuk masuk ke dalamnya kami harus menuruni tangga karena tinggi jalan dengan restoran selisih lebih kurang 1,5 meter. Makan siang  (atau pagi) ini cukup lengkap tetapi saya hanya mengambil sayuran dan ikan saja. Kelihatannya semua full kolesterol.

Mausoleum Hochiminh, adalah tempat jasad Presiden dan Pemimpin Besar bangsa Vietnam Ho Chi Minh disemayamkan. Kami tidak dapat masuk ke dalam melihatnya, karena  kebetulan rombongan datang pada hari Senen, hari dimana mausoleum ditutup. Kami hanya berfoto bersama grup dan foto sendiri-sendiri.  Lokasinya  berada dijantung kota,  dikelilingi lapangan yang sangat luas seperti  Monumen Nasional di Jakarta. Berjaga-jaga didepan pintu mausoleum,  2 orang tentara muda yang berdiri tegak dengan disiplin tinggi, bergantian setiap 2 jam sekali. Konon disiplin ketat yang harus dilakukan  itu,  bahkan bila ada lalat menempel di wajahnyapun, tangan tidak boleh bergerak menghalaunya. 

Teringat peristiwa mengunjungi Mausoleum Chang Kai Sek di Taipe beberapa tahun silam. Ketika itu anak saya yang masih kecil  menyangka, tentara penjaga yang tidak bergerak sama sekali itu adalah patung. Anakku mendekatinya hingga jarak yang sangat dekat. Tiba-tiba kami kaget, ketika tentara itu menghentakkan senjatanya dengan sangat keras ke lantai. Rupanya dia marah atau memberitahu bahwa, “aku ini manusia lho”

Sambil berjalan-jalan di sekitar lapangan, saya perhatikan pohon-pohon buah lengkeng di halaman rumah-rumah mulai bergelayutan menyenangkan. Demikian pula bunga-bunga berwarna merah menyala menghiasi rumah-rumah di sekitar lapangan. Tour leader kami Kenny mengatakan bahwa semua gedung disini  berwarna kuning, karena kuning adalah warna simbol komunis. Memang benar, semua gedung pemerintah bercat kuning. Tetapi seingat saya, di Indonesia, PKI dahulu menggunakan simbul warna merah. Sedangkan warna kuning atau kuningisasi dilakukan oleh Golkar. 


Tempat yang kami kunjungi selanjutnya adalah One Pilar Pagoda. Pagoda kecil ditengah kota yang sudah berumur ratusan tahun. Di halaman pagoda, banyak penjual makanan  dan buah menggelar dagangannya. Tertarik buah mangga yang setelah dikupas kelihatan ­­­­­­­­­­­­­­­­­berwarna merah, saya mencoba membeli. Harganya 10 ribu dong atau 5 ribu rupiah. Rasanya enak seperti mangga bangkok yang sering di jual di super market kita.

Kunjungan selanjutnya adalah ke Temple of Literature. Inilah universitas pertama  yang didirikan di abad ke sebelas, mengajarkan ajaran Konfusius, ajaran tentang bagaimana  bersikap dalam kehidupan. Tulisan berisi nama-nama para lulusan dari universitas ini diabadikan pada lempengan batu besar yang digendong oleh patung kura-kura, yang jumlahnya cukup banyak berjajar di sekitar halaman temple. Kalau tidak keliru, maknanya adalah bahwa para lulusan itu diharapkan menyebarkan ilmunya sepanjang hayat ke seluruh negeri. Kura-kura melambangkan umur panjang. Tempat ini selalu dikunjungi anak-anak sekolah atau mahasiswa yang akan menempuh ujian. Saya kurang begitu paham menangkap apa yang dikatakan oleh Khan, dengan bahasa Inggrisnya yang sangat cepat itu.  Selain faktor bahasa, Khan juga sangat serius, tidak pernah bercanda. Ini menjadi hambatan, sehingga tidak semua anggota rombongan  dapat berinteraksi dengannya.

Perjalanan dilanjutkan ke Ngecson Temple Lake dengan pagoda ditengahnya. Danau alam yang tampak teduh dengan pepohonan disekitarnya itu berada ditengah kota Hanoi. Bus hanya melawati saja, kami tidak turun melihat dari dekat.

Setelah beberapa saat berkeliling di sekitar Hanoi, rombongan langsung menuju Halong. Perjalanan ke Halong diperkirakan memerlukan waktu selama  4 jam dengan sekali beristirahat untuk kesempatan ke toilet. Sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh, akan tetapi karena jalan yang kurang bagus dan ada sebagian jalan yang sedang diperlebar, bus berjalan sangat lambat, dengan kecepatan sekitar  40 km per jam. Karena udara panas, dan jalan bergelombang, debupun beterbangan. Sepanjang jalan saya melihat pemandangan sawah dan rumah-rumah penduduk. 

Yang menjadi tanda tanya adalah, mengapa rumah-rumah penduduk itu semua sama, berbentuk ruko yang lebarnya hanya sekitar 4 m dan bertingkat dua atau tiga, padahal tanah-tanah disekitarnya masih luas? Apakah tidak ada yang punya ide untuk membuat rumah dengan design yang lain? Apakah ini ada hubungannya dengan paham komunis, sama rata, sama rasa dalam arti memperoleh bagian dengan luas yang sama. Sayang pertanyaan-pertanyaan  itu belum sempat saya ajukan kepada Khan.

Pada saat istirahat pertama,  kami dibawa ke sebuah toko besar dengan berbagai macam barang seni  berkualitas tinggi. Ada berbagai lukisan sulaman yang dibuat oleh para pekerja yang sedang menyulam, patung-patung marmer besar seperti patung Budha dan binatang-binatang kuda, naga dan sebagainya. Baju-baju tradisional dari bahan sutera dan makanan kering khas Vietnam seperti kacang biji lotus, kletikan dan lainnya. Semuanya barang seni berharga mahal sedang harga makanan dapat dikatakan wajar. 

Mendekati kota Halong, jalan mulai menanjak dan sudah mulus. Dari jauh sudah tampak pemandangan laut. Dan ketika benar-benar memasuki kota Halong, Subhanallah…….. saya benar-benar kagum melihat pemandangan begitu cantik. Formasi  bukit-bukit batu karst atau batu kapur itu tampak serasi, berjajar dengan indahnya. Lukisan Maha Karya Sang Pencipta hadir dihadapan saya.

Akhirnya kami sampai di  Halong Pearl Hotel. Setelah pembagian kunci dan menyimak pesan dari Kenny bahwa nanti malam siap jam 7 untuk bersama-sama pergi dinner, maka saya segera membawa koper ke kamar. Begitu jendela dibuka, wouw… lukisan alam itu bisa saya nikmati dari kamar hotel. Rupanya hotel ini menghadap ke laut.

Kenny dan Khan membawa kami makan malam di restoran yang menghidangkan sea food. Ada hidangan yang baru pertama kali saya temui, siput besar dibakar bersama cangkangnya sehingga cangkang berwarna agak kehitaman.  Masakan ini dimakan dengan kecap asin. Saya mencicipi sedikit, dagingnya lembek rasanya tawar. Kemudian kerang dengan ukuran sedang dibuka, diberi irisan daun-daun (seperti kucai)  dan ditaburi bawang goreng. Hidangan lainnya sudah biasa, ikan tongkol besar dibumbu steam, udang goreng tepung dan sayuran sawi. Semua anggota tour makan dengan lahap, ditutup buah semangka. 

Setelah makan malam, semua anggota rombongan diajak ke tempat penjualan barang-barang yang terbuat dari  serat bambu. Serat bambu atau Bamboo Fiber ternyata sangat lembut dan mempunyai keistimewaan tertentu yang tidak dimiliki oleh kapas. Di lantai atas dalam salah satu ruangan, rombongan diajak melihat peragaan, bagaimana bila kapas dimasukkan ke dalam air akan mengambang, sedangkan serat bambu langsung tenggelam. Jadi serat bambu sangat mudah menyerap air, dan bahan ini sangat baik untuk digunakan sebagai handuk, baju kaos, lap mobil, lap dapur, dan  sebagainya.  Serat bambu juga tidak sulit untuk membersihkan kotoran yang menempel. Hanya dengan kucuran air, kotoran langsung hilang. Bila dikenakan di badan, rasanya lebih dingin. Bahan ini juga dapat digunakan untuk menghilangkan bau, sehingga dijadikan produk penghilang bau kulkas. Barang-barang  yang dihasilkan dari serat bambu ini dijual di toko, lantai bawah. Ada satu syal warna hitam dari serat bambu yang saya beli sebagai kenang-kenangan. Mengingat bambu begitu banyak ditanam di tanah air, mengapa tidak ada yang berinvestasi membuat pabriknya di Indonesia ya?

Selanjutnya kami dibawa berjalan-jalan menghabiskan waktu di sebuah pasar malam sederhana. Barang-barangnya sama dengan yang pernah saya temui di Saigon. Tidak banyak lagi yang berminat belanja, mengingat kami sudah hampir pulang, koper sudah penuh dan uang sudah menipis. Kembali ke hotel dengan pesan bahwa esok pagi menikmati perjalanan ke Halong dan langsung menuju Hanoi. Artinya, esok kami harus cek out dengan membawa koper ke bus. 


Hari ke delapan, 2 Juli 2013.

Pelabuhan tempat kapal-kapal  bersandar sudah ramai. Hari ini banyak sekali rombongan turis yang sudah berada di pelabuhan.  Khan membagikan tiket dan peserta segera bersama-sama naik kapal. Kapal ditata seperti rumah makan dengan meja makan segi empat dan tempat duduk berhadapan masing-masing  untuk 3 orang. Di sebelah terdapat jendela kaca dengan korden tipis untuk memandang keluar. Diatas meja makan di bagian atapnya diletakkan  kipas angin. Udara yang panas segera berkurang, berganti dengan hembusan angin laut. 

Kapal mulai berlayar ke tengah.  Kapal mendekati bukit-bukit  batu kapur, dari jarak dekat tampak hijau kecoklatan ditengah warna biru air lautnya. Begitu indahnya …..,  peserta tour berhamburan keluar untuk mengambil foto-foto pemandangan maupun foto diri dengan back ground laut dan bukit-bukit  itu. Tidak salah kalau lokasi indah ini masuk ke layar lebar melalui film James Bond, yang ketika itu masih dibintangi oleh Roger Moore. Ketika kapal sampai ditengah, berhenti sejenak untuk memberi kesempatan bagi yang berminat,  bersampan melihat lebih dekat, menyusuri sela-sela bukit sekaligus mengambil foto. Meskipun saya membawa kamera dan ipad, saya juga memanfaatkan fotografer amatir untuk mengambil foto-foto kami berdua. Sekali foto 10 ribu dong. 

Setelah puas berfoto dan seluruh peserta masuk ke kapal lagi, hidangan makan siang disajikan. Nasi putih dengan sea food yang cukup nikmat. Kapalpun kembali ke pelabuhan Halong. Pemandangan sangat indah. Teluk Halong yg tenang dan adem ini menjadikan pengalaman yang tak terlupakan. Keindahan seperti ini mirip dengan keindahan Guilin, sebuah lokasi wisata di China Selatan. Disana, ketika itu menikmati keindahan bukit-bukitnya dengan naik kapal di sebuah sungai yang jernih dengan hidangan makan siang dengan ikan air tawar goreng. 


Meninggalkan Halong, rombongan dibawa mampir ke sebuah toko permata. Sebagaimana  Kamboja, Vietnam juga merupakan negara penghasil batu permata, terutama ruby. Di tempat tersebut diperagakan cara mengetes keaslian sebuah batu permata. Pertama dengan alat yang dapat mengukur kekerasannya. Bila alat tersebut digoreskan, maka lampu-lampu akan menunjukkan tingkat kekerasannya. Kedua, diperiksa dengan lampu senter, akan tampak sinar berpendar-pendar yang menunjukkan cutting (irisan) nya. Lalu ketiga dengan air. Setetes air dijatuhkan pada  batu permata ruby,  ketika batu dibalik  airnya tidak menetes kebawah. Beberapa teman seperjalanan berminat membelinya.  Harga yang ditawarkan sangat tinggi,  tetapi ternyata harga jadinya hanya 30% – 40% dari harga penawaran.

Perjalanan pulang dari Halong ke Hanoi diiringi hujan deras menjadikan peserta tour lelap beristirahat. Perjalanan kembali ke Hanoi teduh, kebalikan dari kemaren waktu keberangkatan, panas dan berdebu. Perjalanan selama 2 jam pertama bus berhenti di sebuah toko dimana kita bisa minum kopi sambil berbelanja souvenir. 

Sambil menuju hotel tempat kami akan menginap, sekalian city tour, Khan menceriterakan tentang tempat-tempat yang kami lalui. Terdapat lukisan keramik dengan berbagai motif menempel di dinding pembatas jalan utama kota Hanoi, yang dibuat oleh seniman-seniman Vietnam maupun seniman dari negara lain. 

Bus menuju suatu tempat makan. Malam terakhir kami di Vietnam, rombongan dimanjakan dengan makan istimewa,  di restoran yang kata Kenny paling besar dan paling enak di Hanoi. Namanya Restoran Sen. Benar juga, restoran ini besar sekali. Ribuan pengunjung bisa masuk, karena setiap ruangan besar berjajar ratusan kursi.  Makanannya prasmanan, disediakan di banyak lokasi.  Menghidangkan  berbagai masakan, antara lain masakan Jepang, Eropa, Asia, Sea Food, diselingi dengan berbagai macam buah, kudapan, dan kue-kue. 

Restoran ini “All You Can Eat”.  Jadi makan seberapapun bayarnya sama. Saya tidak tahu, berapa harga tiket masuknya. Pengunjungnya adalah grup-grup  wisata dari negara-negara sekitar yang datang ke Hanoi, termasuk kami. Di restoran itu kami bertemu dengan grup Dwidaya yang lain,  yang berangkat belakangan tetapi tidak ke Kamboja.  Bertemu juga dengan rombongan dari grup Bayu Buana.  Karena sudah mulai malam, sebenarnya saya tidak tertarik makan lagi. Saya mengambil buah-buahan, terutama yang jarang ditemui di Jakarta, seperti buah  plum kecil dan leci. Anggota rombongan lainnya kelihatan sangat menikmati. Mereka, khususnya yang masih berusia muda kelihatan bolak-balik mengambil makanan, antara lain daging dan sea food.  

Setelah selesai, tersedia hiburan musik band yang sedang bermain di halaman restoran. Banyak turis Indonesia dari grup lain sempat berkenalan. Sebuah keluarga terdiri Bapak, ibu, anak dan cucu dari Tangerang yang berjumlah 8 orang berangkat mengikuti grup lain. Rupanya Vietnam memiliki daya tarik tersendiri yang membuat banyak dikunjungi wisatawan termasuk dari Indonesia. 

Kami menuju hotel untuk menginap di hari terakhir. Setelah mendapatkan kunci, saya berdua Dik Nuk segera menuju ke kamar untuk beristirahat. Besok pagi berangkat dari hotel jam 8, sampai airport jam 9,  penerbangan SQ  jam 11. Di hotel yang terakhir ini kami merasakan ketidak nyamanan, karena kamarnya sangat sempit. Tapi sudahlah, kan hanya semalam ini, esok sudah meninggalkan Hanoi. 

Hari ke sembilan, 3 Juli 2013.

Makan pagi bersama teman-teman yang terakhir menjadi acara ngobrol yang santai. Kami cukup waktu untuk ngobrol dan mencatat alamat masing-masing di daftar yang dibuatkan Kenny. Pada jam 9 pagi, rombongan berangkat meninggalkan hotel menuju airport. Sampai di airport kami masih menunggu beberapa lama. Ketika pesawat mengudara, dalam hati saya mengucapkan, selamat tinggal Vietnam. Semoga suatu saat dapat berkunjung  lagi ……..

Pesawat mendarat di Singapura untuk transit selama satu jam dan pada akhirnya mendarat di Bandara Soekarno-Hatta jam 19.45. Setelah melalui pemeriksaan imigrasi dan pengambilan bagasi, begitu aku keluar airport,  suamiku telah menunggu. Kami masih menunggu dik Nuk yang akan naik bus airport  menuju Bekasi, dan akan  dijemput oleh putranya. Jalanan sedikit macet. Alhamdulillah sampai rumah jam 22.00.


Jakarta, 15 Juli 2013
















Tidak ada komentar:

Posting Komentar