Selasa, 11 Oktober 2022

BAB I. MASA KECIL DAN MASA REMAJAKU

 

Siapakah aku? Dari mana asal-usulku? Secara singkat, aku akan memulai dari Eyang Buyutku, yaitu Mbah Hawicarito. Beliau berputera 5 orang, yaitu:
 
1. Mbah Pronosasongko (putri), berputera 3 orang:

  - Pakde Kadartono (Pakde Dar),

  - Ibu Kadarti (Ibuku),

  - Bulik Suhartini (Bu Tin).

 

2. Mbah Atmosuwarno (kakung), berputera lebih dari 6 orang:

 - Bu Sutrisni,

 - Pak Supono,

 - Pak Pramono,

 - Bu Sri Kayati,

 - Bu Endang,

 - Bu Tatik,

 - dan lainnya aku tidak kenal.

 

3. Mbah Darmosuwarno (kakung), berputera 8 orang:

 - Pak Sudarsono,

 - Pak Sudarwanto,

 - Bu Sudarwanti,

 - Bu Sri Kusoro,

 - Pak Djoko Darmono (Suamiku),

 - Pak Djoko Suseno,

 - Bu Susilowati,

 - Pak Sudibyo Digdoyo.

 

4. Mbah Suwarni Padmohaksoro (putri) tidak berputera.

 

5. Mbah Siti Sumari Sutisno (putri) juga tidak berputera.

Aku lima bersaudara adalah cucu dari Mbah Pronosasongko (putri). Ibuku yang bernama Ibu Kadarti adalah putera kedua beliau. Ibu Kadarti menikah dengan Bapakku, Bapak Sunardjo dan melahirkan 5 orang putra putri yaitu:

- Siti Samsinar, atau mbak Sam,

- Aku sendiri, Siti Nurweni, dengan panggilan sayang Mbak Nur, kadang 

  Dik Nur,

- Siti Gunarti, atau Dik Gun,

- Gunawan Budi Priyono, atau Dik Pri,

- Gunawan Susatyo, atau Dik Sus.

Aku menikah dengan suamiku Mas Djoko Darmono (yang biasa aku panggil Mas Djoko saja, atau Mas Suami, Papa nya anak-anak) adalah putra kelima dari Mbah Darmosuwarno. Ibuku dan suamiku merupakan saudara sepupu. Sebelum menikah, dulu aku menyebut suamiku Pak Djoko Darmono. Agak lucu ya…

Aku dilahirkan sebagai Putri Solo, karena lahir di Kota Solo pada 30 Januari 1953. Tetapi di Akta Kelahiran tertulis tanggal lahir 31 Januari 1953. Zaman dulu data belum sepenting sekarang, masih dianggap remeh. Untung hanya berselang sehari. Ibuku lahir dan dibesarkan di Kota Solo, sedangkan Bapakku lahir di Karangpandan, sebuah kota kecamatan di wilayah Kabupaten Karanganyar.

Nah, itulah keluarga besarku dari Mbah Hawicarito, seorang Dalang Keraton Surakarta Hadiningrat dan juga Dalang RRI Surakarta.

Dapat aku ceritakan sedikit mengenai Mbah Hawicarito. Aku ngaturi beliau Mbah Hawi. Jika beliau berangkat dinas mendalang ke RRI Surakarta, ngagem busana Jawa Beskap warna hitam dengan kain batik berwiru lebar, kalau nggak salah itu namanya Dodot.

Jika beliau sedang dirumah, aku kecil sering main masuk ke kamarnya. Di kamar itu ada meja tulis besar, seperti meja direktur, barangkali di meja itu  beliau mempersiapkan materi mendalang. Sebelah kanannya ada meja kecil tempat kaleng kerupuk yang berisi kerupuk putih. 

Beliau suka kerupuk yang sudah melempem (nggak keras lagi) dan akupun suka diparingi kerupuk melempem seperti itu. Mbah Hawi yang aku ingat,  wajah dan perawakannya seperti Pak Pram ketika sudah sepuh. Aku sudah nggak ketemu dengan Mbah Hawi Putri, yang sering dipanggil Mbah Ibu. Beliau wafat sebelum aku lahir.

Orang tua Ibu yang masih ada saat aku masih kecil adalah Mbah Pronosasongko (putri).  Mbah Prono berperawakan tinggi kurus, rambutnya keriting. Beliau tinggal sendirian mengontrak di sebuah rumah kecil di perkampungan belakang Sekolahku SR Sorogenen, Jagalan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta.

Aku sering main ke sana karena tempat tinggal beliau dekat dengan rumahku. Mbah Prono sehari-hari bekerja membatik kain. Membatik adalah pekerjaan yang umum dilakukan oleh orang-orang tua saat itu. Ketika beliau jatuh sakit, barulah tinggal bersama kami di rumah Sorogenen sampai wafat. Kata Ibu, beliau sakit kanker rahim.

Orang tua Bapak, yang masih ada saat itu adalah Mbah Wiryodikromo (putri). Aku biasa menyebut beliau Mbah Mbeteng karena tinggalnya di dalam Beteng (Benteng), yaitu Benteng Baluwarti di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Mbah Mbeteng dulu ketika masih muda bekerja sebagai Abdi Dalem di Keraton, yang melayani keluarga Raja, Pangeran dan para Selir, serta momong putra-putri mereka.

Mbah Mbeteng berperawakan kecil, sehari-hari berkain kebaya. Aku selalu ingat, saat-saat Mbah Mbeteng menengok kami ke Rumah Sorogenen selalu membawa oleh-oleh jajanan yang dibeli dari Pasar Gede Solo, digendong dengan selendangnya.

Ketika aku dan adik-adik sedang bermain, dari jauh sudah kelihatan Mbah Mbeteng datang. Wah... dengan serta merta kami lari-lari kegirangan menjemputnya.

Ketan juruh (ketan dengan kelapa, bubuk kedele dan kinca gula jawa), cenil, tiwul, dan grontol (jagung pipil yang direbus sampai empuk dengan kelapa parut) atau makanan lainnya, membuat kami gembira menikmatinya.

Menurut  cerita  Ibu, mbak  Sam  dan  aku  lahir di  rumah Eyang  Buyutku  Mbah Hawicarito di  Kampung  Jagalan, Kelurahan  Kampung  Sewu, di mana Bapak dan Ibu saat itu tinggal di sana.

Lokasi tempat kelahiranku itu sampai sekarang masih tetap ada, sekarang bernama Jalan Kali Kepunton, Kelurahan Jagalan, Kecamatan Jebres, Surakarta dan masih dihuni oleh keluarga ahli waris Mbah Hawicarito, di antaranya adalah kakak suamiku, Mbak Darwanti. Aku menyebutnya Rumah Jagalan.

Setelah Bapak mempunyai rumah sendiri, kami tinggal di rumah Bapak di Kampung Bangunharjo, Kelurahan Gandekan, Kecamatan Jebres. Karena rumah kami itu dekat sekali dengan Jalan Sorogenen, aku lebih sering menyebut Rumah Sorogenen.

Ketika aku masih kecil, ibu bekerja di Kantor Telkom. Sedangkan Bapak adalah seorang Prajurit TNI AD dari Kesatuan PHB.

Kantor mereka berduapun berseberangan, yaitu di Jl. Kapten Mulyadi Solo. Mungkin mereka dulu kenal atau bertemu karena kantor yang berdekatan itu ya… He he.. siapa tahu…

Dari dulu hingga sekarang ini, aku sangat dekat dengan Mbak Sam. Selain selisih umur yang hanya 11 bulan, aku dan Mbak Sam selalu satu sekolah dan satu tingkat, walau di kelas yang berbeda.

Mengapa satu tingkat? Dulu ketika Mbak Sam sudah masuk SR (sekarang SD) sedang aku masih di TK, aku mogok sekolah TK. Maunya ikut sekolah Mbak Sam. Setiap hari aku ikut ke sekolahnya, walau hanya menunggu di luar kelas.

Mungkin Bu Guru kasihan melihatku. Maka di Kuartal II aku boleh ikut sekolah, dan ternyata bisa mengikuti pelajaran. Demikian juga hingga masuk SMP Negeri 6 dan SMA Negeri 3 tetap bersama di satu sekolah.

Aku pun berdua Mbak Sam, bersekolah di TK Aisiyah di Kampung Sewu. Yah, kira-kira berjarak tempuh 20 menit dari rumah ke sekolah.

Berangkat ke sekolah, kami diantar pamanku, adiknya Bapak, namanya Pak Diman. Kami berjalan kaki dan biasanya mampir dulu membeli jajanan Jenang Jagung (semacam dodol) yang berwarna putih atau kuning untuk bekal ke sekolah.

Pulang sekolah berdua Mbak Sam saja, tidak ada yang menjemput karena Pak Diman langsung berangkat bekerja. Kami tidak melewati jalan besar, tapi melewati Tanggul (penahan banjir dari sungai Bengawan Solo), lalu turun melalui undak-undakan di samping tanggul.

Pak Diman adalah satu-satunya adik Bapak. Beliau kurang kecerdasannya tetapi bukan idiot. Bapak mencarikan pekerjaan sebagai petugas kebersihan di Taman Sriwedari. Tugasnya menyapu halaman Taman Sriwedari yang luas itu bersama petugas yang lain.

Menurut adat di Jawa, anak perempuan disunat dengan dirayakan sebagaimana anak laki-laki. Kami bertiga anak perempuan dari Bapak Ibuku merayakan sunat bersamaan dengan pesta pernikahan dari saudara sepupu Ibu, yaitu Pak Sudarsono.  

Karena orang tuanya tinggal jauh di Kalimantan, beliau menikah di rumah kami, dengan pesta yang cukup meriah. Kami bertiga mengenakan baju kembar warna biru keabu-abuan dan ikut berfoto bersama kedua mempelai pengantin. Perasaanku sebagai anak kecil begitu gembira. Sayang sekali ya, foto-fotonya sudah tidak ada lagi.

Ketika SR kelas 3, aku pindah sekolah dari SR Sorogenen di dekat rumah ke SR Santo Yusuf, sebuah sekolah Katolik di bawah Yayasan Marsudirini. Letak sekolah baruku berada di daerah Kebalen, di belakang Sekolah Santa Maria.

Pertimbangan Ibu mengapa memindahkan aku ke sekolah ini, adalah karena di sekolah ini lebih disiplin. 

Yang aku ingat ketika di sekolah ini, setiap pagi aku bersama seorang teman selalu menjemput Suster Kepala Sekolah dan membawakan tasnya. Suster siapa ya, kok aku lupa nama beliau …

Kami berdua menunggu di pintu butulan, yaitu pintu yang menghubungkan antara Sekolah Santa Maria dan Sekolahku. Beliau tinggal di Susteran, yaitu tempat tinggal para biarawati yang berada di Kompleks Sekolah Santa Maria.

Di sekolah Katolik seperti sekolahku itu, setiap bulan Desember selalu ada acara Pentas menyambut Hari Natal. Mbak Sam ditunjuk menjadi Bunda Maria. Ibu membuatkan kebaya dari bahan khusus, sutera yang bagus. Aku masih ingat, Mbak Sam yang cantik langsing berkebaya hijau menjadi primadona di acara itu. Hayo tebak, aku menjadi apa? Menjadi salah satu Malaikat... Malaikat apa, aku sudah lupa ....

Rumah Bapak Ibu di Sorogenen itu berada di sebuah gang, namanya Gang Bangunharjo. Dari jalan besar Jalan Sorogenen kira-kira masuk ke arah selatan 50 meter. Gang itu hanya dapat dilewati sepeda, becak dan motor. Untuk mobil hanya bisa masuk, tapi tidak bisa bersimpangan. Jadi kalau tamu naik mobil, diparkir di pinggir Jalan Sorogenen.

Di tahun ‘60 an, mulai ada kendaraan Bemo. Ada tetangga di dalam gang yang punya Bemo, aku dan adik-adik senang sekali bisa naik ramai-ramai, walau kadang hanya nempel di pintu belakangnya, dari depan rumah sampai jalan besar. Itulah kegembiraan anak kecil. Barangkali kalau sekarang, ya naik Odong-odong lah...

Seingatku ketika masih di kelas 3, pergi ke sekolah tidak memakai sepatu, padahal sekolahku cukup jauh. Saat pulang sekolah, di saat terik matahari panas membakar, aku terpaksa berjingkat-jingkat karena telapak kaki kepanasan dan lari-lari kecil di trotoar Jembatan Kali Pepe di depan Pasar Gede.

Trotoar maupun jalan aspalnya sangat panas. Lari demikian itu bahasa Jawanya “mlayu kicat-kicat”……. Setelah menyeberang jalan, lalu kami keluar masuk toko-toko di sepanjang sisi selatan Pasar Gede. Bukan untuk membeli sesuatu atau cuci mata, tapi untuk ngadem menghindari panasnya jalan.

Godaan terbesar melewati Pasar Gede adalah melihat Jenang yang dijual di dalam pasar, yang tampak dari pintu luar pasar. Jenang itu berwarna coklat gula jawa dengan irisan kelapa di dalamnya. Dijual dalam bentuk irisan kotak persegi tipis-tipis, tampak putih kelapanya.

Saat itu aku hanya mampu membeli sisa-sisa di bagian pinggir yang tidak berbentuk, setelah dipotong kotak-kotak. Duh, kasihan ya…

Sekarang aku tidak pernah melihat Jenang itu lagi di Pasar Gede. Mungkin penjualnya sudah meninggal dan tidak ada penerusnya.

Sekitar kelas 5 atau kelas 6, barulah aku berboncengan dengan Mbak Sam naik sepeda ke sekolah. Entahlah, aku tidak ingat lagi apakah saat itu sudah bersepatu apa belum ya?

Adikku nomor 3, Dik Gun hanya selisih umur setahun dengan aku. Dari remaja sudah punya banyak teman dan ketika di SMEA punya Geng Cewek yang hingga saat sekarang tetap berteman akrab bagaikan saudara. Mereka selalu berpenampilan modis, bahkan suatu ketika aku terkaget-kaget ketika dia mengenakan wig, rambut palsu….…

Adikku nomor 4, Dik Pri adalah anak laki-laki pertama Bapak-Ibuku, setelah berturut-turut 3 orang kakaknya perempuan. Jadilah dia anak yang paling disayang Bapak.

Ada yang lucu kalau ingat masa kecilnya. Ketika masih belum setahun, saat mau tidur selalu mengunyah-ngunyah kain popok. Tentu saja diambilkan popok yang bersih. Popok itu bukan hanya dikunyah, tapi masuk ke mulutnya hingga penuh. Setelah dia tidur, barulah popok ditarik pelan-pelan keluar dari mulutnya…

Dia juga tidak mau memakai celana seperti anak laki-laki, maunya pakai rok. Barangkali di rumah melihat kakak-kakaknya yang cewek pakai rok, tidak mau berbeda.

Adikku nomor 5, Dik Sus adalah si bungsu kesayangan Ibu. Selisih umur dengan aku 5 tahun.

Suatu hari aku bermain dengan dia, aku menjadi kudanya dan dia naik di atas punggungku. Entah bagaimana kuda tidak hanya berjalan tapi berlari kencang hingga menabrak meja makan besar, sampai meja itu bergeser sembilan puluh derajat. Kening kananku sobek berdarah. Hingga sekarang masih berbekas. Jika aku ber make-up menebalkan alis dengan pensil alis, di tempat bekas luka itu akan terputus.

Di tahun-tahun aku kecil, memang zaman susah. Negeri kita masih berusia muda dan menghadapi banyak pemberontakan. Bukan hanya keluarga kami, semua orang merasakan kesulitan hidup.

Bapak sebagai Prajurit TNI AD mendapat jatah beras jagung atau kadang beras bulgur, yang kalau di luar negeri itu adalah makanan ternak.

Setiap habis gajian, Bapak membeli sekarung ketela (bahasa Jawanya: telo) buat camilan kami berlima anak-anaknya yang masih semego, masih dalam masa pertumbuhan dan lagi doyan-doyannya makan.

Ketela itu tidak digoreng, tapi direbus atau dibakar. Hari-hari kami keluar masuk rumah, adanya ya ketela itu. Seingatku, hanya jika sakit, baru dibelikan sebotol susu sapi dan Roti Semir Luwes yang jualannya didorong seperti becak.

Demikian pula hanya di hari Lebaran, Bapak akan memotong ayam jago yang sudah beberapa lama kami pelihara. Pernahkah terbayangkan, sebutir telur ayam dibagi untuk 4 orang anak, membaginya dengan menggunakan benang? Itu benar terjadi di masa kecilku.

Di rumah kami, juga ada kakak sepupu Bapak, yaitu Bude Satinem. Dulu, sebagaimana Mbah Mbeteng, Bude juga seorang Abdi Dalem di dalam Keraton.

Ketika sudah tidak lagi bekerja di Keraton, Bude menemani kami sehari-hari dan memasak makanan untuk kami.

Beberapa jenis makanan yang dulu sering Bude masak, tapi sekarang tidak pernah aku temukan lagi adalah: Jangan gude (sayur gude, semacam kacang kedelai berkulit hitam), Gembrot sembukan (semacam pepes dari daun Sembukan, rasanya enak gurih, tapi setelah makan ini akan sering kentut), Tempe benguk (tempe yang dibuat dari kacang yang bentuknya bulat pipih).

Bude Satinem pulang ke kampungnya di Karang Pandan ketika kami beranjak semakin besar. Beliau yang semula seorang janda menikah lagi dengan seorang pemuda lajang. Tapi pernikahan mereka tidak lama bubar.

Setiap liburan sekolah, bersama adik-adik sering menginap ke rumah Bude Satinem, di Dusun Ngelo, Desa Salam, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Perjalanan ke sana dengan naik bus jurusan Solo-Tawangmangu tidak sampai sejam. Sebelum sampai Tawangmangu, turun di Srandon, kemudian berjalan kaki sekitar 40 menit, sudah sampai ke rumah Bude.    

Pada suatu ketika aku ke Karang Pandan sendirian karena yang lain sudah berangkat lebih dulu. Saat itu musim hujan. Sejak dari Solo sudah hujan, sehingga aku melihat jalanan kurang jelas.

Aku sudah turun dari bus, padahal belum sampai Srandon. Wah, takut juga nih. Uang dari Ibu hanya pas buat naik bus, tidak mungkin balik ke Solo naik bus lagi.

Aku harus jalan kaki sampai rumah Bude, padahal hari sudah hampir senja dan nggak tahu arah menuju ke sana. Di mana-mana sepi, aku melewati kebun tebu yang panjang dan tidak ada seorang pun yang lewat yang bisa ditanya. Aku berjalan hanya mengira-ngira saja. Sebenarnya takut, tapi aku harus berani. Alhamdulillah, akhirnya, sampai juga ke rumah Bude.

Di dekat rumah Bude, ada sungai yang besar tempat kami sering bermain. Menuju lokasi itu, harus melewati jalan menanjak dan pematang-pematang sawah. Sungainya tidak begitu deras, banyak batu-batu besar di pinggir dan di tengahnya. Enak mandi di sini karena sepi.

Seandainya zaman itu sudah ada Instagram, pasti sudah aku up load pemandangan sungai yang indah dengan deretan sawah-sawah dan batu-batu besar yang cantik.

Di belakang rumah Bude juga ada sungai kecil tempat warga mandi dan mencuci. Jika ke sungai kecil itu, biasanya pulangnya sekalian membawa air di wadah yang namanya klenting, cara membawa airnya dengan meletakkan di pinggang.

Dusun Ngelo berada di lereng Gunung Lawu. Setiap saat kita bisa menatap Gunung Purung yang hijau, sebuah gunung kecil yang berada di depan Gunung Lawu.

Pagi-pagi jika kita bangun, gigi gemeletuk menahan dingin. Saking dinginnya, minyak goreng mengental di waktu pagi. Kalau sudah kedinginan begini, biasanya kita membakar serasah dan kayu untuk berdiang sambil memasukkan singkong atau ketela ke dalam bara apinya.

Kadang aku ikut Bude berjalan ke sawah yang lokasinya cukup jauh dari rumah. Nama tempat sawahnya itu Sedauwang. Dari sawah itu kita bisa melihat nun jauh di sana tampak bus-bus lewat di Jalan Raya Solo-Tawangmangu.

Sawah Sedauwang sangat subur. Bude menanam Padi dengan diselingi Palawija, biasanya ketela. Ketelanya besar-besar dan ngendog. Maksudnya, jika direbus maka di bagian tengahnya ada bulatan seperti telur yang tampak lebih putih dan mempur. Inilah jenis ketela yang sering disebut Telo Karangpandan yang terkenal itu.

Itu tadi cerita di kala kita lagi sehat. Bagaimana ketika sakit? Wah, jika salah seorang terkena sakit flu, maka menular ke yang lain. Kami berjejer di tempat tidur seperti ikan pepes.

Pada zaman itu, tidak semua sakit dibawa ke dokter, karena jumlah dokter tidak sebanyak sekarang. Sakit batuk pilek dan sakit ringan lainnya dibawa ke Pak Mantri Arif, seorang juru rawat yang bertugas di klinik semacam Puskesmas dekat rumah. Untuk sakit gigi dan sakit yang cukup mengkhawatirkan, maka Bapak membawa kami ke DKT (Dinas Kesehatan Tentara), yaitu Rumah Sakit untuk Tentara di Gendengan, Jalan Slamet Riyadi, Solo.

Sebagai anak kecil, tentu kami ingin jajan. Bagaimana cara mendapatkan tambahan uang jajan? Kesempatan itu datang di musim layang-layang.  Kami akan bekerja sama dengan adik-adik, terutama Dik Pri yang jago bikin layang-layang. Pak Haryono, adik sepupu Ibu dari Mbah Prono Kakung yang ngajari Dik Pri membuat layang-layang. 

Diawali dari meraut bambu, menimbang kerangkanya agar tidak miring ketika dinaikkan, menempelkan kerangka tadi di kertas tipis dan kemudian menggambar motif bola-bola atau motif lainnya dengan cat air.

Untuk membuat benang gelasan, kami membeli benang dan memasak bubuk kaca dengan tepung kanji, kemudian mengeringkannya. Setelah banyak layang-layang dan benang gelasan siap, dijual ke tetangga dan teman-teman Dik Pri.

Ketika telah tamat SR Santo Yusuf, aku dan Mbak Sam masuk SMP Negeri 6 yang berlokasi di daerah Widuran, Kota Solo.

Aku yang selama di SR hanya mengenal agama Katolik, di SMP inilah memutuskan untuk belajar Agama Islam. Ada alasan yang tidak bisa aku ceritakan, mengapa demikian. Barangkali itulah Hidayah.

Apa yang aku pelajari di sekolah sedikit demi sedikit aku praktekkan terutama shalat dan puasa Ramadhan. Memang hanya aku sendirian di Rumah Sorogenen yang melaksanakan shalat 5 waktu dan puasa. Tak apa, malahan bisa khusyuk.

Pernah terjadi, suatu malam aku belum shalat Isya sudah tertidur. Ketika terbangun masih sambil ngantuk, aku shalat. Di rumah, aku biasa shalat di tempat tidur, karena saat itu belum punya sajadah. Aku lupa di rakaat berapa aku terjatuh. Gedebug… semua yang melihatku tertawa. Untunglah jatuhnya di Kasur…

Di SMP kelas 1, setiap hari aku dan Mbak Sam membawa satu besek berisi sekitar 25 buah makanan untuk dijual ke teman-teman. Jualannya berupa tahu goreng dan bakwan yang di atasnya ada seekor udangnya.

Pada jam istirahat pertama setelah Mbak Sam jualan di kelasnya, gantian aku menjual di kelasku. Jika ada yang nggak laku, bisa dikembalikan. Gorengan itu dibuat oleh Bu Sis, juragan gorengan tetangga kami.  Untungnya kami catat di buku notes kecil, dan setelah terkumpul dibagi dua.

Ketika G30S PKI meletus aku sudah duduk di kelas 2 SMP. Saat itu usiaku sekitar 12 tahun. Aku tidak mengerti politik. Yang aku tahu adalah banyak orang hilang atau terbunuh dan banyak gedung-gedung dibakar.

Sekolah diliburkan hingga beberapa bulan. Bapak sibuk sekali, selaku anggota TNI yang saat itu harus menjaga keamanan, hingga sering menginap di kantor.

Tak lama kemudian terjadi banjir besar Sungai Bengawan Solo, karena tanggul jebol. Tanggul itu yang biasa aku berdua Mbak Sam lewati saat masih di TK. Rumahku yang seumur-umur belum pernah kena banjir, saat itu tergenang sekitar 1,25 meter.

Kami pun mengungsi ke Kampung Purwopuran, yang letaknya lebih tinggi. Karena banjir itulah, album foto semua hancur. Aku tidak punya lagi foto-foto kenangan masa kecil. Hingga beberapa bulan kemudian, bekas banjir di tembok tidak hilang walau sudah dibersihkan.

Aku cukup dekat dengan beberapa orang adik sepupu Ibu, yaitu Pak Pram, Bu Sri Kayati dan Bu Darwanti. Aku pernah melihat foto, aku kecil bersama mereka. Aku digandeng Pak Pram, sedang Bu Sri Kayati dan Bu Darwanti berada di belakang kami. Sekilas tampak bahwa mereka saat itu masih remaja. 

Ketika Bu Darwanti sudah bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Panti Kosala, aku beberapa kali main ke asramanya. Kadang diberi hadiah jepit rambut atau pita, sesuatu yang sangat menyenangkan bagi gadis kecil seumuranku. Kemudian saat Bu Sri Kayati menikah, aku yang membawakan nampan berisi cincin untuk dikenakan pengantin. Wah, pengantin Bu Sri Kayati cantik sekali.

Kakak Bu Darwanti yang bernama Pak Darwanto adalah seorang guru. Beliau menikah dengan Bu Yati, yang juga guru. 

Ketika akan menghadapi ujian SR, ibu mengirim aku berdua Mbak Sam les tambahan ke Bu Yati di Rumah Jagalan. Sepulang dari les sekitar hampir magrib, kami beli HIK (Hidangan Istimewa Kampung) yang mangkal di Jalan Kampung Sewu. Aku suka beli ampyang (gula kacang) dimakan sambil jalan pulang.

Ketika aku mulai masuk SMA, kondisi ekonomi keluarga sudah mulai membaik. Bapak sudah pensiun walau usianya masih relative muda. Saat pensiun, pangkatnya Letnan Satu (Lettu). Saat itu Bapak bekerja sama dengan temannya membuka usaha sebagai Pengecer minyak goreng dan minyak tanah. Tokonya berlokasi di Pasar Palur yang ramai, tepat di pertigaan besar Solo - Karang Anyar - Sragen.

Ibu juga sudah tidak bekerja di Telkom, dan saat itu menjalankan usaha mengerjakan Batik untuk disetor ke Pabrik Batik Trisni miliknya Bu Trisni, saudara sepupu Ibu.  Ibu mengambil mori (kain putih merk Primissima yang sudah diproses khusus untuk batik tulis) dan Malam (lilin untuk membatik) dari Bu Trisni. Kemudian mengerjakan batikan motif sesuai pesanan Bu Trisni dengan menerima pembayaran.

Di Rumah Sorogenen terdapat sekitar 20 orang pembatik yang setiap hari datang bekerja. Di samping itu terdapat sekitar 10 orang pembatik yang hanya mengambil pekerjaan untuk dikerjakan di rumah.

Aku dididik dalam Adat Jawa yang baik, tata krama dan sopan santun kepada siapapun. Dengan para pembatik kami berkomunikasi dengan bahasa Jawa halus. Aku masih ingat nama-nama beliau, antara lain Bu Sastro, Bu Tjip, Bu Wiryo. Saat itulah kami, tiga remaja putri di rumah mulai banyak pekerjaan sambilan yang menghasilkan uang.

Alur pekerjaan yang dikerjakan Ibu dan para pembatiknya, dimulai dari bahan kain mori:

-      Nggaris (menggaris kain mori untuk batik motif parang;

-      Nyorek (menggambar sesuai motif yang sudah dibuat polanya);

-      Mbatik Ngengreng (membatik kain mori bagian depan yang 

       sudah digambar dengan pensil atau membatik kain mori bagian 

       depan dengan motif Parang atau Ceplok berdasarkan garis-garis 

       pensil yang sudah ada);

-      Mbatik Nerusi (membatik bagian belakang mengikuti bagian depan 

       yang sudah di ngengreng);

-      Mbatik Nembok (membatik menutupi kain yang nantinya akan 

       berwarna putih, baik bagian depan maupun belakang).

-      Merapikan dan membersihkan bagian-bagian yang keliru atau kena

       tetesan malam.

 

Nggaris dan nyorek adalah bagian yang bisa dikerjakan oleh kami bertiga. Untuk dua jenis pekerjaan ini, Ibu membayar kami Rp 25.- per kain mori.

Demikian pula untuk membawa batikan sekitar 5-8 lembar ke Pabrik Batik Bu Trisni, jika proses batik telah selesai. Aku ingat, jika batikan yang berat itu dibawa dengan naik becak, ongkos becaknya Rp  75.- 

Maka dengan berboncengan berdua dengan Mbak Sam, uang Rp 75,- itu buat kami. Sebagai gambaran, kain mori yang sudah dibatik ngengreng, nerusi dan nembok itu beratnya sekitar 2 kg.  Dari Rumah Sorogenen ke Bu Trisni berjarak sekitar 15 km. Jadi lumayanlah capeknya kalau membonceng sambil membawa beban seberat itu.

Masa remajaku juga ditandai dengan sangat populernya buku Nogososro Sabuk Inten karya Singgih Hadi atau S.H. Mintardja. Kami tidak membeli bukunya, hanya menyewa di kios penyewaan buku di Jalan Warung Miri. Jika sudah mendengar berita atau iklan di Radio telah terbit seri baru, maka kami bersegera menyewanya.

Membaca buku serial Nogososro Sabuk Inten ini bagai tersihir, nggak akan berhenti sebelum tamat. Mahesa Jenar, Kebo Kenongo, Lembu Ireng dan Lowo Ijo adalah tokoh-tokoh top di buku ini. Pada saat yang sama juga sedang popular cerita silat Kho Ping Ho dan cerita silat Jawa serial Bende Mataram.

Bagaimana kesanku tentang masa-masa SMA?

Di lirik lagu/nyanyian atau di cerpen-cerpen, sering dikatakan bahwa masa SMA adalah masa paling indah.

Menurutku tidak demikian. Di sekolah, aku pendiam, pemalu, canggung, tidak pede dan juga tidak punya banyak teman. Aku merasa bukan siapa-siapa, walaupun selalu bagus di bidang akademik. Perasaan seperti itu baru hilang setelah aku masuk Perguruan Tinggi.

Aku dan Mbak Sam sekolah di SMA 3, yaitu di Jl. Warungmiri Solo, yang tidak jauh dari rumahku. Aku di kelas I-2, kemudian naik ke kelas II B-2 selanjutnya di III B-2.

Seingatku, teman dekatku hanya beberapa orang cewek. Ada tiga orang yang bernama belakang Ningsih. Dwiningsih teman sebangku, kemudian Harya-diningsih temanku sejak di SMP Negeri 6, dan Hendraningsih. Satu lagi Mbak Sri Hutami, yang orang tuanya punya Toko Kijing.

Teman sekelas cowok yang masih aku ingat adalah yang aku tidak suka, karena nakal dan sering nyeletuk-nyeletuk ketika guru mengajar.

Dulu ada mata pelajaran yang aku suka banget, goniometri yaitu ilmu ukur tentang sudut yang diajar oleh Pak Sutrisno, dan stereometri yang berkenaan dengan sifat bentuk dalam ruang diajar oleh Pak Giyanto. Sekarang nama pelajaran itu apa ya? Aku pikir boleh jadi tidak dipelajari lagi dan sudah digantikan dengan ilmu matematika secara umum.



 
 

1 komentar: