Jumat, 16 Juni 2017

Travelling ke Borneo : Uji Nyali di Canopy Bridge Bukit Bangkirai

Assalamu’alaikum ww.

Setelah sebelumnya ke Mangrove Center, di hari ketiga travelling kami sekarang ini akan mengunjungi Kawasan Wisata Alam Bukit Bangkirai, yang terletak di Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara. Kawasan ini masuk dalam Taman Hutan Raya Bukit Soeharto. Bagaimana jalan menuju kesana? Kami menggunakan kendaraan bus dari Balikpapan ke arah Kutai Kartanegara, dan ketika sampai  km 38 kemudian berbelok kearah kiri hingga kira-kira sejauh 27 km. Jalan menuju kesana tidak bagus karena juga digunakan oleh truk-truk pengangkut batubara. Perlu waktu 1,5 sampai 2 jam untuk sampai di area wisata ini. 


Kawasan wisata alam Bukit Bangkirai yang luasnya mencapai 510 hektar ini dibangun pada tahun 1998, dikelola oleh Inhutani Balikpapan, dan dimaksudkan untuk berbagai tujuan, antara lain untuk Konservasi Alam, Wisata Alam, Penelitian Hutan Hujan Tropis, Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan. Salah satu daya tarik utama dari Kawasan Wisata ini adalah adanya “Canopy Bridge” yang merupakaan satu-satunya di Indonesia. Kita tidak perlu khawatir dengan kekuatannya karena dikerjakan oleh kontraktor Amerika yang tergabung dalam CCA (Canopy Constraction Asosiated). Konstruksi jembatan tersebut dari kayu, dan baja tahan karat atau Galvanized dari Amerika. Umur jembatan ini diperkirakan mampu bertahan selama 15-20 tahun sesuai dengan umur dan ketahanan bahannya.




Dari tempat parkir, dimana terdapat Restoran dan Lamin untuk tempat pertemuan, kami berjalan dengan santai mengikuti Track Pertama sepanjang 200 m. Kemudian dilanjutkan Track Kedua sepanjang 300 m. Lumayan berkeringat. Di dalam hutan aku temui berbagai jenis pohon asli Kalimantan, banyak diantaranya pohon-pohon langka yang sudah sangat tinggi dan besar, mungkin garis tengahnya 2 atau 3 pelukan manusia. Selain Pohon Bangkirai, ada pohon Meranti, Pohon Kayu Batu, dan yang paling terkenal dan bernilai tinggi tentulah Ulin. Banyak jenis lainnya, tetapi memang didominasi oleh pohon Bangkirai. Itulah mengapa disebut Bukit Bangkirai. Yang jelas, tidak ada jenis pohon Jati. Pohon-pohon besar itu biasanya diadopsi oleh mereka yang menaruh perhatian kepada pohon dan hutan. Di perjalanan aku melihat pohon besar  yang tumbang, tetapi tetap dibiarkan berada ditempatnya padahal menghalangi jalan. Itulah pohon yang telah diadopsi oleh seseorang. Walaupun telah tumbang tidak akan di apa-apakan. Padahal barangkali kayunya bisa menjadi bahan bangunan untuk sebuah rumah, pastilah berharga mahal. Seingatku ketika membeli kayu Ulin untuk Sekolah Alam Bekasi, per kubik harganya Rp. 17 juta rupiah. Mungkin tidak sesuai dengan biaya untuk menurunkannya hingga kebawah, atau alasan lain yang aku belum tahu. Dengan mengadopsi pohon, berarti membayar sejumlah uang setiap bulan untuk memeliharanya hingga pohon itu mati karena tua atau tumbang. Ingin juga mengadopsi salah satu pohon disini agar tidak ditebang tanpa ijinku, tetapi yang riskan adalah bagaimana nanti kalau aku sudah tidak ada, pastilah akan membebani anak-anakku.







Karena kami ini ibu-ibu dari perkotaan, baru sekali ini melihat seperti apa "rotan" di hutan. Rupanya Tanaman itu menjalar hingga sangat panjang dan berduri halus. Ada jenis yang batangnya cukup besar, ada yang kecil. Kulit luarnya untuk lampit, dan batangnya yang besar untuk pinggiran kursi, meja dan sebagainya. Berada di Track Kedua, ada peringatan untuk tidak mendekati salah satu pohon yang berlubang. Ada ular yang  berdiam disitu. Alhamdulillah, kami tidak sampai melihat sang ular.

Ketika seluruh rombongan tiba di area Canopy Bridge, sebelum naik ke Menara berupa tangga kayu ulin yang tingginya 30 m, terlebih dahulu berfoto bersama ditangga. Aku sebenarnya ingin sekali naik, tetapi kemudian ingat pesan Dokter Kiki, untuk menyayangi lututku jika tidak ingin diganti dengan lutut palsu. Tadi sudah berjalan menaiki Track Pertama dan Kedua, yang lumayan menanjak. Kalau ditambah dengan naik tangga kayu hingga nanti turun kembali, jangan-jangan terjadi sesuatu, sehingga aku harus merepotkan teman-teman. Akhirnya aku putuskan hanya naik sampai anak  tangga ketiga, berfoto dan kemudian turun menunggu teman-teman yang terus menuju Canopy Bridge. Demikian pula ketika teman-teman turun, ikut berfoto di Menara satunya dimana terdapat tangga turun yang bertiliskan "Exit", biar seolah-olah  sudah merasakan Uji Nyali di Canopy Bridge, he he he .
....



Menurut cerita teman-teman, pemandangan di atas sangat bagus. Mereka merasakan adanya sensasi yang tak terkatakan berada di ketinggian dalam hutan, dimana dapat melihat seluruh hutan dari atas pohon. Ngeri hingga lutut bergetar, begitu melihat kebawah. Dan tentu saja senang saling berfoto-ria dengan gaya masing-masing diatas Canopy Bridge. Ketinggian Canopy itu 30 m, dan panjang jembatannya 64 m menghubungkan 5 pohon yang sangat tinggi. Alhamdulillah tidak terjadi suatu halangan apapun dan mereka turun dengan gembira. Dengan semangat ‘45, dari jumlah peserta 20 orang itu,  yang ikut naik sampai lokasi Canopy Bridge 17 orang, dan yang berhasil naik hingga turun lagi, ada 14 orang. Mereka itu adalah Eyang-eyang yang penuh semangat. Luar biasa, benar-benar hebat........... Aku, yang biasa berkecimpung di lingkungan Sekolah Alam, merasakan kepuasan, bahwa ibu-ibu yang sudah lansiapun bisa survive dalam petualangan yang biasa dilakukan oleh anak-anak Sekolah Alam.

Ketika turun dari Canopy Bridge, salah seorang anggota rombongan disuguhi kejutan yang membahagiakan. Telah tersedia kue ulang tahun untuk ibu Conny yang disiapkan secara rahasia oleh teman-teman. Happy birthday Ibu Conny, happy selalu ya.... Wah, pasti jadi kenangan yang tak terlupakan. Potong kue dan tiup lilin ulang tahun di tengah hutan............

Diperjalanan turun dari Canopy Bridge, kami berpapasan dengan beberapa  anak muda yang akan naik. Menurut Guide kami dari Trans Borneo Travel, jika hari Sabtu dan Minggu, banyak pengunjung berwisata di Bukit Bangkirai ini. Mereka adalah para Pecinta Alam dan Pemerhati Lingkungan. Sampai di bawah kami tetap bersama-sama hingga tiba di area Lamin.  Teman-teman segera antri untuk berfoto dengan mengenakan Busana Adat Dayak dengan biaya Rp. 20 ribu. Kapan lagi ada kesempatan seperti ini? Pengalaman yang tak terlupakan. Sebagian yang lain, ibu-ibu menggunakan kesempatan untuk sholat.


Kalau kami ibu-ibu excited dengan apa yang telah kami lihat, berbeda dengan suamiku. Beliau memilih menunggu di restoran, ngopi bersama Pak Sopir. Suamiku dibesarkan di Kalimantan Selatan tepatnya di Peleihari dan Martapura, yang sejak kecil telah akrab dengan hutan dan pepohonan. Di masa kecilnya, Kalimantan Selatan masih benar-benar sepi. Jarak antara satu rumah dengan lainnya lebih dari 100 m. Mencari buah-buahan, memancing ikan di sungai dan bermain di hutan adalah kesibukannya sehari-hari setelah pulang Sekolah. Dan kemudian beliau dinas di suatu Instansi yang membidangi Tambang. Salah satu tugasnya adalah mengunjungi daerah-daerah pertambangan di seluruh Indonesia, yang tentu berlokasi di hutan-hutan. Itu dulu, sebelum pensiun. Sekarang giliran beliau menemani aku melihat sudut-sudut lain tanah air Indonesia yang belum pernah aku lihat. Alhamdulillah, aku merasa cukup puas meski baru sebagian kecil menikmati indahnya Indonesia.


Wassalamu’alaikum ww.
Jakarta, 5 September 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar