Rabu, 08 Juni 2016

Umroh ke Tanah Suci tahun 2016




Assalamu’alaikum ww.



Hari telah senja ketika pesawat mendarat di kota Madinah. Aku, berdua suami dan seorang teman bergegas turun dari pesawat mengikuti antrian penumpang pesawat Boeing Seri 777 - 300 Saudia. Inilah pertama kalinya kami menggunakan penerbangan langsung dari Jakarta ke Madinah, transit sebentar di Riyadh. Kami memilih penerbangan yang langsung ke Madinah untuk mengurangi waktu 5 sampai 6 jam perjalanan Jeddah – Madinah dengan bus,  yang biasanya harus dijalani jika menggunakan penerbangan Jakarta – Jeddah dengan pesawat Garuda. Rombongan kami berjumlah 45 orang, dengan Tour Leader Ustad Abdul Mugeni Aziz dari Travel Tazkia. 


Pemeriksaan paspor di Bandara Internasional King Mohammad bin Abdul Azis di Madinah relatif lancar, dibandingkan di Bandara King Abdul Azis di Jeddah. Alhamdulillah.......  Segera saya kontak via WA ke anak-anak, mengabarkan bahwa kami telah selamat mendarat di kota suci Madinatul Al Munawarah, sebutan bagi kota Madinah yang artinya kota yang bercahaya. Setelah dibagikan kunci kamar hotel dan dilanjutkn makan malam, kami segera beristirahat, mempersiapkan diri agar besok  pagi dapat ke masjid sebelum azan subuh. Saat ini negeri Saudi Arabia sudah memasuki musim panas. Temperatur sekitar 38 - 42 derajad Celsius. Rombongan kami dijemput oleh 2 orang Muthowif (Pembimbing) yaitu Ustad Effendi Siregar dan Ustad Haryanto.
Apa yang membuatku ingin sekali menjalankan ibadah umroh di tahun 2016 ini, walaupun sebenarnya telah beberapa kali berumroh?

Hadis Rasululloh Saw yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah : Satu umroh dengan umroh lainnya menjadi kafarah (penghapus dosa yang dikerjakan) diantara keduanya.

Adakah manusia beriman yang tidak ingin dihapus dosanya? Jika mengetahui ilmunya dan ada kesempatan, pastilah semuanya menginginkannya.

Disamping itu, ada tiga hal yang membuatku ingin sekali ke Tanah Suci melaksanakana ibadah Umroh. Pertama, Allah yang Maha Pemurah telah menunjukkan jalan atas permasalahan yang selama ini belum terpecahkan,  yaitu memenuhi keinginan suami agar aku dapat lebih banyak menemani pada masa pensiunnya. Tentu tidak mudah, mengingat beban tanggung jawab atas amanah besar yang ada padaku, yaitu mengurus sebuah Sekolah yang sedang berkembang dan memerlukan perhatian penuh. Aku harus mencari “seseorang atau Lembaga” yang bisa dan mampu diserahi tanggung jawab terhadap pengelolaan Sekolah tersebut. Bersyukur, pada akhirnya di awal tahun 2016 segala sesuatunya beres, dan secara resmi aku dapat mengundurkan diri dari Sekolah. Kedua, Allah yang Maha Kaya telah memudahkan dan melancarkan usaha kami sekeluarga, yang dari beberapa tahun belakangan belum menunjukkan titik terang. Di bulan Februari 2016 yang lalu sudah dapat diselesaikan. Alhamdulillah ya Allah......... Ingin sekali aku sujud syukur di Tanah Suci ini........... Ketiga. Satu hal lagi yang membuat aku mempunyai keinginan kuat untuk dapat berdoa di Tanah Suci ini adalah bukunya Agus Mustofa seri Tasawuf Modern, judulnya Pusaran Energi Positif. Di buku tersebut dijelaskan secara ilmiah, bahwa  berdoa di sekitar Ka'bah mustajab, dan sholat di Masjidil Haram bernilai ratusan ribu kali lipat. Terdapat Pusaran Energi Positif yang sangat besar, yang disebabkan oleh banyaknya manusia yang selalu berthawaf terus menerus tanpa henti dan umat di seluruh dunia sholatnya menghadap ke satu titik yaitu Ka'bah. 

Sebelum rencana keberangkatan ke Tanah Suci kami berdua suami telah membuat kesepakatan. Mengingat saat ini kami bukan lagi muda usia, melainkan sudah lanjut usia, tentu  sudah tidak dapat lagi melaksanakan shalat berturut-turut setiap waktu di Masjid. Untuk menjaga kesehatan, kami memerlukan cukup waktu untuk istirahat. Apabila kurang istirahat atau tidak cukup tidur, malahan akan mudah terserang penyakit. Syukurlah ternyata tidak banyak  waktu sholat yang tidak dapat kami laksanakan di Masjid, dan kami sholat di hotel.  
Hari kedua.  Alarm yang kupasang berbunyi, segera kami bersiap membersihkan diri dan bergegas turun  menuju masjid. Hotel kami ada di ujung sebelah kiri dari Masjid Nabawi, dekat Pintu Gerbang nomor 15 yaitu Hotel Anwar Madinah Movenpick. Terasa sejuk dihati melihat lampu-lampu bersinar redup nan indah di halaman masjid. Tiang tempat lampu itu pada saatnya nanti akan dapat mengembang menjadi payung-payung yang indah, yang akan menaungi jamaah dari teriknya matahari.  Masuk ke masjid, kami harus memperlihatkan tas kami kepada Petugas  Askar, dan dia akan membuka sambil melihat-lihat isi tas kami. Jika ada hand phone dengan kamera, maka akan diambilnya. Namun anehnya, aku masih sering melihat para jamaah berselfi-ria di dalam Masjid. 





Sebelum azan subuh berkumandang, kami dapat melaksanakan sholat Tahiyatul Masjid, sholat Tahajud, sholat Hajat, sholat Taubat atau sholat-sholat lainnya, selagi masih ada waktu. Dan tepat ketika azan subuh selesai berkumandang, jamaah segera berdiri  melaksanakan sholat Qobliyah Subuh 2 rakaat, dilanjutkan dengan menderaskan doa-doa, karena waktu antara azan dan sholat subuh itu merupakan waktu istimewa, dimana doa yang dipanjatkan di waktu itu akan Allah kabulkan. Suara Imam yang sangat merdu dalam membacakan surat-surat Al Qur’an membawa kita larut dalam kekhusyukan nan syahdu. Suara itulah yang jika terdengar di tanah air, menjadikan aku rindu mengunjungi Tanah Suci.   

Setelah sholat subuh, tidak ada lagi shalat lain kecuali sholat jenazah. Selama di Tanah Suci, di setiap waktu shalat, selalu saja ada sholat jenazah. Rupanya jenazah yang dishalatkan disana tidak hanya satu, melainkan banyak. Alangkah beruntungnya mereka yang meninggal di Tanah Suci. Apakah aku bisa seperti mereka, disholatkan dan didoakan oleh begitu banyak jamaah di Tanah Suci?
Sepulangnya dari Masjid, kami segera sarapan di Coffeshop Hotel dan kemudian bersiap-siap,  karena hari kedua ini kami akan bersama-sama ke Raudhoh. Raudhoh adalah suatu tempat atau area di Masjid Nabawi, yaitu diantara Kamar Nabi dengan Mimbar Nabi, yang luasnya 144 meter.

Hadis Rasulullah Saw  yang diriwayatkan oleh Buchori : Antara rumahku dan mimbarku adalah taman (raudhoh) dari taman-taman surga.

Kami jamaah wanita didampingi oleh Muthowif wanita, yang akan menemani hingga selesai. Sebelum memasuki masjid, kami dibimbing berdoa bersama-sama dan kemudian masuk melalui pintu sebelah kanan atau utara menurut perasaanku. Sampai didepan Raudhah, seluruh jamaah yang akan ke Raudhoh dibagi dalam beberapa kelompok. Kelompok Indonesia dan Malaysia, atau disebut Melayu, kemudian Kelompok India dan Pakistan, dan ada lagi Kelompok Turki, Arab dan Afrika. Petugasnya pun dari bangsa sendiri sehingga mengerti apa yang dikatakan. Memang perlu kesabaran untuk antri, mengingat Raudhoh yang diperuntukkan jamaah wanita luasnya hanya beberapa meter sedangkan yang akan masuk kesana ratusan orang. Sayang sekali, banyak diantara kita yang tidak sabar dan tidak tertib. Petugas Askar Saudi sampai berteriak-teriak, marah melihat ketidak tertiban kita. Belum tiba gilirannya sudah lari mengikuti kelompok lain. Aku jadi malu sendiri melihat ketidak sabaran mereka, yang adalah juga teman-teman sesama jamaah Indonesia­­.

Kamar Nabi, sekarang menjadi makam Rasulullah SAW, Khalifah Abu Bakar Sidiq dan Khalifah Umar bin Khatab.  Dari balik dinding, kami mengucapkan salam kepada Rasulullah Saw, Abu Bakar Sidiq dan Umar Bin Khatab. Disinilah tempat mulia, disunahkan untuk shalat, bersalawat dan berdoa. Ciri-ciri Raudhoh adalah pilarnya berwarna putih dan karpetnya berwarna hijau  putih,  berbeda dengan warna karpet di tempat lainnya yang berwarna merah.

Akhirnya sampailah giliran Kelompok Melayu dipanggil maju. Berrrr.... semua lari menuju Raudhoh. Aku terjepit dan terhimpit diantara para jamaah, tetapi masih bisa bernafas. Segera sholat sunah 2 rakaat dan berdoa. Sambil berdoa, air mataku tak terbendung lagi. Semua yang kuingat kutumpahkan dalam doa. Ya Allah yang Memiliki Surga, kiranya Engkau kabulkan doa hambaMu ini, Amiin....

Hari ketiga. Setelah breakfast kami bersama-sama naik bus berziarah ke tempat-tempat yang telah dijadwalkan, yaitu : Masjid Quba, Masjid Qiblatain, Jabal Uhud dan ke Pasar Kurma.  Muthawif kami di Madinah Ustad Effendi Siregar dengan jelas menceritakan sejarah dan keistimewaan tempat-tempat yang akan kami kunjungi tersebut.

Masjid Quba adalah masjid yang pertama kali dibangun di masa awal Islam berkembang. Lokasi masjid ini sekitar 5 km dari kota Madinah. Keutamaannya adalah :

Hadis Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Majjah : Barang siapa telah bersuci (berwudhu) dari rumah, kemudian mendatangi masjid Quba lalu didalamnya sholat 2 rakaat, maka baginya sama dengan pahala umroh    
        
Kami sholat Tahiyatul Masjid dan sholat Dhuha di lantai atas yang cukup lega, karena di bawah penuh sekali. 

Masjid Qiblatain, adalah masjid dimana Rasulullah Saw menerima wahyu yang memerintahkan pergantian kiblat sholat, semula ke arah Baitul Maqdis atau Masjidil Aqso di Yerusalem  menjadi ke arah Masjidil Haram di Mekah.

Surat Al Baqarah (144) : Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Alkitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya ; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

Kami tidak masuk mengunjungi Masjid Qiblatain, hanya melewati saja, selanjutnya bus menuju Jabal Uhud atau Gunung Uhud. Jabal Uhud adalah gunung batu yang berlokasi sekitar 5 kilometer sebelah utara kota Madinah. Gunung yang warnanya kemerahan ini  tingginya 1.050 meter dan terpisah dari bukit-bukit lainnya. Pada Perang Uhud, perang antara kaum muslimin melawan kaum musyrikin Mekah, di tempat inilah telah gugur 70 orang syuhada, di antaranya Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad Saw. Jabal Uhud menjadi salah satu tempat penting untuk diziarahi karena Rasulullah Saw selalu menziarahinya hampir setiap tahun. Di dalam bus, Ustad Siregar menceritakan sejarah Perang Uhud sehingga kami memperoleh gambaran lebih jelas mengenai apa yang kami kunjungi. 

Hadis Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Muslim : Nabi Muhammad Saw memandang ke Uhud sambil bersabda : Sesungguhnya Uhud adalah gunung yang sangat mencintai kita, dan kita pun mencintainya.

Berada dibawah terik matahari yang menyengat, kami tidak tahan berlama-lama disana. Setelah bersama-sama mengucapkan salam kepada para syuhada Uhud dan mendoakannya,  dilanjutkan dengan sesi berfoto, kami kembali ke bus. 


Terakhir, rombongan diajak ke Pasar Kurma yang menjual berbagai macam kurma dan produk olahannya seperti permen coklat kurma, kue-kue dari kurma dan sebagainya. Pasar begitu ramai, pengunjung boleh mencicipi atau makan sepuasnya tanpa membayar, walaupun tidak membeli kurmanya. Aku lihat para jamaah berdesak-desakan membeli oleh-oleh untuk keluarga di tanah air. Aku tahu diri untuk tidak banyak menambah barang bawaan, mengingat kondisi saat ini sudah tidak mampu lagi untuk mengangkat beban berat.

Hari keempat. Hari ini adalah hari kami berumroh. Kemaren kami telah menerima selebaran dari Posko Tazkia yang diselipkan dibawah pintu kamar, rincian apa saja yang harus kami lakukan. Pada pagi hari, kami sholat subuh seperti biasa. Usai sholat, saya sempatkan melihat-lihat kerumunan pedagang kaki lima di halaman hotel yang menggelar berbagai barang seperti baju-baju, kerudungan, mainan anak-anak dan sebagainya. Nah, ada kesempatan untuk membeli sedikit oleh-oleh nih ..... 

Pada siang hari sebelum sholat dhuhur, disunahkan mandi Ihrom yang pelaksanaannya seperti mandi wajib. Kemudian sholat sunnah ihrom dua rakaat. Pada saat ini kami masih boleh memakai wewangian, seperti minyak wangi, odol, tisu dan sebagainya. Nanti setelah berniat, semua itu menjadi larangan. Koper sudah harus disiapkan di depan pintu pada jam 9.00 untuk dirapikan Petugas. Kemudian ketika sholat zuhur di masjid, setelah sholat dhuhur langsung sholat ashar jamak takdim,  yaitu  menggabungkan dua sholat fardhu yang dilaksanakan dalam satu waktu. Jadi setelah sholat dhuhur, tidak usah sholat bakdiyah maupun sholat jenazah. Setelah makan siang, berganti pakaian ihram, kami segera cek out dari hotel. Bus telah menunggu di belakang hotel dan segera meninggalkan kota Madinatul Al Munawaroh. Selamat tinggal ya Rasulullah, kami mohon diri, semoga suatu waktu dapat kembali mengunjungimu ......

Sebagaimana Umroh yang dilaksanakan Rosulullah Saw, kami mengambil miqot di Masjid Bir Ali atau Masjid Dzul Hulaifa. Inilah tempat miqot bagi penduduk Madinah atau jamaah yang datang dari arah Madinah yang akan berumrah atau berhaji, sebagaimana dicontohkan Rasulullah. Miqot, secara harfiah artinya batas atau garis antara boleh dan tidak, atau perintah mulai dan berhenti. Pada saat miqat, seluruh jamaah harus sudah memakai pakaian ihrom.  Jamaah laki-laki tidak boleh memakai alas kaki yang menutup mata kaki, tidak memakai pakaian yang dijahit dan tanpa penutup kepala. Jamaah perempuan harus menutup aurat dan hanya boleh menampakkan telapak tangan dan wajah. 

Masjid Bir Ali berjarak sekitar 15 km dari Madinah. Jamaah melaksanakan sholat Tahayatul Masjid saja. Selanjutnya di bus kami dibimbing oleh Ustad Siregar bersama-sama melafazkan niat :

Nawaitul Umrota Wa Ahromtu Bihaa Lillahi Taala, artinya : Saya niat umrah dan ihram umrah karena Allah Ta’ala.

Umroh Utama ini, apabila telah mengucapkan niat maka harus melaksanakannya hingga selesai. Jika tidak, atau melakukan pelanggaran atas larangan yang ditetapkan, maka akan dikenakan dam atau denda yaitu : memotong seekor kambing atau memberi makan fakir miskin senilai kambing itu yaitu senilai 400 Saudi Real atau berpuasa selama 10 hari. Di sepanjang perjalanan, Muthowif membimbing kami untuk melafazkan kalimat Talbiyah, yaitu :

Labbaik Allahumma Labbaik, labbaika la syarika laka labbaik inna al hamda wa an ni’mata laka wa al mulk la syarika laka.

Di samping melafazkan kalimat Talbiyah, kami mendapatkan cerita sejarah perjuangan Rasulullah yang tidak mudah dalam melaksanakan perintah Allah menyebarkan Islam, mengajak manusia ke jalan yang diidhoiNya, yaitu sejak beliau menerima wahyu hingga tutup usia.  Ustad Siregar sangat bagus menyampaikan ceritanya sehingga kami dapat menghayati dengan baik apa yang disampaikannya. Akhirnya Ustad menyarankan agar kami beristirahat atau tidur, untuk mempersiapkan diri agar nanti dapat melaksanakan Thawaf dan Sa’i di Masjidil Haram dengan baik, mengingat masih panjang perjalanan kita menuju kota Mekah Al Mukaromah, yang memerlukan waktu 5 – 6 jam.

Bus memasuki kota Mekah sekitar waktu Isya. Turun dari mobil kami berjalan kaki menuju Hotel. Setelah dibagikan kunci kamar masing-masing dipersilahkan makan malam terlebih dahulu. Hotel kami adalah Dar Al Gufron, berlokasi di Safwa, di depan Masjidil Haram. Lokasi yang sangat dekat dengan masjid, memudahkan kami untuk beribadah.

Setelah koper diterima di kamar, kami segera berwudhu dan berkumpul bersama di loby hotel tanpa mengenakan sandal, untuk bersama-sama ke masjid. Kami memasuki Masjidil Haram dari pintu nomor 93, pintu yang paling dekat dengan arah hotel kami. Dan ketika sudah tampak Ka’ bah dihadapanku, Subhanallah.......... Ya Allah yang Maha Agung, akhirnya aku Engkau ijinkan kembali mengunjungi Ka’bahMu. Tanpa ridhoMu, tak mungkin aku dapat berkali-kali berada di tempat suci ini..... 
Kami melaksanakan sholat jamak magrib dan isya berjamaah dipimpin Ustad Abdul Mugeni Aziz. Selanjutnya mulai Thawaf tujuh putaran mengelilingi Ka’bah (arah berlawanan jarum jam) dimulai dari sudut Hajar Aswad dan diakhiri di tempat itu pula.  Perlu diketahui, ada 4 sudut Ka’bah, yaitu Rukun Aswad, Rukun Syami, Rukun Iraqi dan Rukun Yamani. Rukun berarti sudut atau tiang. Dinamakan demikian, karena sudut-sudut tersebut menghadap ke negeri Syam, negeri Iraq dan negeri Yaman. Jamaah Tazkia telah dibekali Headset Ear Phone, agar lebih khusyuk mendengarkan Doa Thawaf maupun Doa Sa’i yang diucapkan oleh Muthowif (pembimbing thawaf), dan tidak terganggu oleh suara jamaah lainnya. Tetapi aku punya kebiasaan lain. Buku Doa yang diberikan oleh Tazkia sebelumnya sudah kuberi tanda spidol di bagian terjemahan bahasa Indonesianya. Ketika Muthowif membimbing membaca doa dalam bahasa arab, aku membaca di bagian yang sudah aku tandai sehingga benar-benar menghayati arti dan maksudnya.

Ketika telah selesai melaksanakan thawaf, kami sholat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim (tempat jejak kaki Nabi Ibrahim As) dan minum air Zam Zam. Kemudian dilanjutkan dengan Sa’i dari Bukit Safwa ke Bukit Marwa tujuh putaran bolak-balik. Terakhir, setelah selesai Sa’i, kami berdoa dan kemudian bertahallul, menggunting beberapa helai rambut sebagai tanda telah selesainya rangkaian ibadah umroh yang kami jalankan. Tata cara umroh yang meliputi Thawaf, Sa’i dan Tahallul telah disampaikan kepada jamaah  sebelumnya, sehingga kami tinggal dibimbing mengikuti Muthowif. Jam menunjukkan pukul 11.30 waktu Mekah ketika kami tiba kembali di kamar hotel untuk beristirahat, mempersiapkan tenaga untuk esok pagi mengikuti sembahyang subuh di Masjidil Haram. 

Hari kelima.  Ketika pagi subuh kami ke Masjidil Haram, tampak bahwa kondisi masjid masih dalam pembangunan, disana-sini masih ditutup pagar dan alat-alat berat masih digunakan. Hal ini menjadikan tempat atau area  untuk jamaah berkurang.  Ada sebagian lokasi yang sudah jadi, tetapi belum sempurna,  tampak plafon  yang masih belum ditutup. Untunglah Ac sudah terpasang sehingga udara sudah terasa sejuk. Dengan kondisi demikian, untuk mengantisipasi keluar masuknya jamaah, biasanya sejam sebelum masuk waktu sholat,  ada beberapa pintu yang sudah ditutup. Pintu dijaga bukan oleh Askar tetapi oleh tentara Saudi yang berbaju loreng. Kadang-kadang ada jamaah memaksa untuk masuk, tapi dengan tegas tidak diperbolehkan. Dapat dibayangkan, bagaimana jika waktu sholat sudah selesai, terjadi berbarengan antara yang masuk dan yang keluar di pintu yang sempit itu, pasti akan terjadi saling tabrak dan saling injak.

Hari ini aku bedua teman ingin melaksanakan thawaf sunnah, selagi masih pagi belum terasa terik matahari. Diawali niat kemudian mengelilingi Ka’bah tujuh putaran dari sudut Hajar Aswad dan berakhir di sudut itu pula. Aku melaksanakan thawaf tidak membawa buku doa, melainkan memanjatkan doa-doa menurut kata hatiku, apa saja yang ingin aku sampaikan kehadapanNya. Tidak memerlukan waktu lama, karena kebetulan sekitar Ka’bah belum terlalu padat, sehingga setengah jam sudah selesai.

Menjadi kebiasaan kami di Tanah Suci, walaupun sudah disediakan air minum botol di kamar, tetapi kami selalu membawa botol untuk diisi air Zam Zam dari masjid guna diminum di kamar. Pagi ini aku melihat orang-orang mengisi botolnya dari kran yang ada di depan masjid. Mereka tidak menyadari bahwa airnya bukan air Zam Zam, melainkan “drinking water”, air minum biasa saja. Kran air  Zam Zam bertuliskan “Zam Zam water”. Akhirnya ada juga jamaah yang mengingatkannya.


Hari ini kami berdua terlalu capai sehingga tertidur. Ketika terdengar azan dhuhur, barulah kami terbangun. Akhirnya kami sholat di pelataran hotel.

Hari keenam. Sebagaimana direncanakan, acara hari ini adalah ziarah mengunjungi tempat-tempat bersejarah disekitar kota Mekah yaitu Jabal Nur, Gua Hira, Arafah, Jabal Rahmah, Muzdalifah, Mina dan terakhir Ji’ronah, untuk miqot umroh yang kedua. Karena kami berdua sudah pernah ke tempat-tempat tersebut, kami memilih langsung melaksanakan umroh di pagi hari. Dengan diantar Ustad Abdul Kohar, Pembimbing yang bertugas di Mekah, kami diantar mengambil miqot di Masjid Tan’im. Setelah melaksanakan sholat Tahiyatul Masjid dan sholat Dhuha,  kami dibimbing untuk melafazkan niat umroh. Untuk umroh kedua ini, aku berniat mengumrohkan Almarhum Bapak yang telah wafat pada tahun 1991. Di sepanjang perjalanan, Ustad Abdul Kohar membimbing kami bersama-sama mengumandangkan Talbiyah.  Tiba di Masjidil Haram, Ustad Kohar pamit karena tidak dapat meninggalkan Posko terlalu lama. Dimulai dengan Tawaf tujuh putaran, kemudian sholat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim, dilanjutkan dengan Sa’i tujuh putaran, diakhiri dengan Tahallul. Alhamdulillah rangkaian umroh kedua dapat kami selesaikan.


Hari ketujuh. Ustad Effendi Siregar kemaren telah menyampaikan kepada jamaah, bahwa untuk sholat Jum’at, biasanya  jam 10.30  pintu masjid sudah ditutup,  karena jamaah sudah penuh. Tetapi suamiku tidak mungkin untuk datang ke masjid lebih awal, mengingat sering batal wudhu. Ketika akhirnya kami turun dari kamar hotel jam 11.00,  ternyata benar. Halaman masjid telah penuh. Kami menggelar sajadah di jalanan, di samping Hotel Hilton. Menunggu sholat dimulai, rupanya tempat saya duduk yang semula teduh terlindung gedung-gedung tinggi sudah menjadi panas karena matahari sudah beranjak naik. Aku melihat ke arah suami yang duduk di deretan jamaah laki-laki juga sudah mulai panas. Wah, pasti kami tidak akan kuat berada dibawah teriknya matahari, bisa-bisa pingsan disini. Apalagi waktu sholat masih lama. Akhirnya aku mengajak suami pindah ke tempat yang masih teduh. Demikianlah sampai tiga kali pindah tempat, akhirnya kami sholat di emperan Mall. Memang hari Jum’at adalah hari libur bagi masyarakat Arab Saudi, sehingga mereka menyempatkan diri untuk sholat Jum’at di Masjidil Haram. 


Demikian pula ketika sholat maghrib. Sejam sebelum waktu sholat, pintu nomor 93 sudah ditutup. Kami masuk masjid melalui escalator. Di lantai satu, tidak boleh keluar dari escalator karena lantai satu sudah penuh.  Lanjut ke lantai dua, juga tidak boleh, hingga akhirnya sampai ke lantai paling atas. Inilah pengalaman pertamaku sholat maghrib di lantai paling atas, dengan beratapkan langit dan bintang-bintang, sholat menjadi lebih khusyuk. Rupanya disinipun akhirnya penuh digunakan jamaah untuk sholat. 

Sekembalinya dari masjid, kami mampir ke Mall yang berada di lantai tiga hotel dimana terdapat Food Court berbagai  masakan, antara lain  masakan Asia. Kadang   kami bosan dengan  masakan hotel, sekalipun menunya  standar internasional.  Kami berdua  mau mencoba makan diluar. Aku suka nasi briyani yang dijual disitu. Porsinya sangat besar, cukup   untuk makan bertiga. Di Food Court itu  juga  terdapat  ATM, dimana   minimal  penarikannya 500  SR (Saudi Real)  atau  sekitar hampir 2 juta rupiah. 

Hari terakhir. Akhirnya kunjungan kami sebagai tamu Allah akan berakhir hari ini. Setelah sholat subuh, kami melaksanakan thawaf wada atau thawaf perpisahan. Aku sangat terharu membaca doa thawaf wada yang tercantum di Buku Doa yang bunyinya : 

Wahai Tuhan yang Maha Kuasa Mengembalikan, kembalikanlah aku ke Ka’bah ini dan berilah aku rizki untuk mengulanginya ber kali-kali dalam keadaan bertaubat dan beribadat, berlayar menuju Tuhan kami sambil memuji, Allah Maha menepati janjiNya, membantu hamba-hambaNya, yang menghancurkan sendiri musuh-musuhnya.
Ya Allah, peliharalah aku dari kanan, kiri, depan dan belakang, dari sebelah atas dan bawah sampai Engkau mengembalikan aku kepada keluarga dan tanah airku. Ya Allah, permudahkanlah perjalanan kami, lipatkan bumi untuk kami.
Ya Allah, sertailah kami dalam perjalanan, dan gantilah kedudukan kami dalam keluarga yang ditinggal, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih melebihi segala pengasih, wahai Tuhan yang Memelihara seluruh alam.

Dan doa sesudah thawaf wada yang bunyinya :

Ya Allah, janganlah Engkau jadikan waktu ini masa terakhir bagiku dengan rumahMu. Sekiranya Engkau jadikan bagiku masa terakhir, maka gantilah Surga untukku, dengan rahmatMu, wahai Tuhan Yang Maha Kasih Sayang lebih dari segenap kasih, wahai Tuhan Pemelihara seru sekalian alam. Amin......

Itulah yang menjadikan aku yakin, Allah akan mengabulkan permohonanku untuk kembali mengunjungi Tanah Suci lagi suatu ketika kelak.

Pada jam 10.00 pagi, kami meninggalkan kota Mekah menuju Jeddah. Perjalanan dari Mekah menuju Jeddah memerlukan waktu satu setengah jam. Jeddah adalah kota internasional yang sibuk. Di beberapa ruas jalan terjadi kemacetan, tetapi kemacetannya belum seberapa jika dibandingkan dengan Jakarta.
  
Bus menuju Cornish, suatu tempat perbelanjaan yang tidak begitu besar dan sudah kuno. Disanalah jamaah umroh dari Indonesia biasa diajak berbelanja, ke sebuah toko bernama Amir Murah. Disebelahnya banyak toko-toko yang dibelakangnya ada  tambahan kata "murah". Rupanya kata ini dianggap sangat pas untuk menarik minat membeli. Toko ini menjual semua   barang yang biasa dijadikan oleh-oleh jamaah umroh dari Tanah Suci. Dari kurma, routop (kurma muda), kacang, minyak wangi, minyak zaitun, karpet, sampai pernak-pernik gelang perhiasan. Setelah selesai berbelanja, kami makan siang di rumah makan yang terletak di lantai atas toko dengan masakan menu Indonesia, sekaligus melaksanakan sholat jamak dhuhur dan ashar.

Selanjutnya rombongan diajak ke Masjid Terapung yang sebenarnya bernama Masjid Arrahmah, untuk beristirahat sejenak dan melaksanakan sholat bagi yang tadi belum sholat. Masjid ini berada ditepi laut, fondasinya masuk ke dalam air sehingga tampak seperti terapung. Kami hanya sholat Tahiyatul Masjid, karena tadi sudah sholat di rumah makan. Melihat pemandangan yang indah, disertai segarnya semilir angin laut, sayang untuk dilewatkan. Ibu-ibu jamaah segera mengambil foto dan berselfi ria. Di tempat ini kami berpisah dengan para Muthowif yang telah menemani kita selama berada di Madinah dan Mekah. Kepada Ustad Effendi Siregar, terima kasih atas sharing ilmunya ya, semoga kita berjumpa lagi di kesempatan yang akan datang. Demikian juga kepada Ustad Haryanto, terima kasih telah memberikan pelayanan yang baik kepada kami para jamaah. 


Bus menuju Bandara King Abdul Aziz. Kami mengurus tiket dan bagasi dengan dibantu Petugas Tazkia. Begitu semuanya beres, sambil ngobrol dengan teman-teman se perjalanan kami menunggu pesawat yang akan membawa kami pulang ke Jakarta. Bapak dan ibu Abdul Fattah Soerachman, Ibu Farida Muhammad Rasyid dan Ibu Zulvizawida Novianty, Bapak dan ibu Heru Sukamto, Bapak dan Ibu Aceng Sopian Saepuddin serta tiga orang putranya adalah teman-teman dekat yang sering bersama-sama makan satu meja atau bersama-sama berangkat ke masjid. Kami semua berharap, sesudah umroh nanti silaturahmi tidak akan terputus. Ketika  terdengar azan magrib, kami sholat jamak takdim berjamaah di Bandara bersama-sama calon penumpang lain yang berada di ruang tunggu. Setelah genap 9 hari perjalanan kami, kelelahan sudah mulai terasa. Badan seperti kehilangan tulang belulang, dan rasanya sudah rindu kasur yang ada dirumah.
Aku bersiap-siap untuk beristirahat dan tidur ketika sudah naik ke pesawat. Semoga perjalanan Umroh tahun 2016 ini menjadi Umroh yang maqbul dan Allah Swt mengabulkan segala doa yang telah aku panjatkan. Amin, amin, amin Ya Rob.......

Wassalamu’alaikum ww.

Jakarta, 29 Mei 2016.
 





 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar