Jumat, 01 Juli 2016

Kenangan Perjalanan Umroh dan Tour ke Masjid Al Aqsho (Dari catatan 20 tahun silam)



Assalamu’alaikum ww.

Di penghujung tahun 1995 menuju tahun baru 1996, tepatnya tanggal 21 Desember 1995, Jakarta sedang diguyur hujan setiap hari. Saat itulah untuk pertama kalinya Allah Swt memberi kesempatan kami berempat sekeluarga, pergi bersama-sama melaksanakan ibadah umroh. Umroh pertama bagi kedua orang anakku. Aku ingatkan kepada mereka untuk mempelajari baik-baik sebelum berangkat, doa-doa yang disediakan di Buku Saku, agar pada saatnya disana, kita telah mempunyai gambaran apa yang akan kita mohonkan kepadaNya. Doa yang kita panjatkan dengan khusuk di Baitullah, inshaallah akan dikabulkan.


Salah satu doa yang selalu aku ingat, adalah doa di saat Tawaf Wada. “Ya Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Berikan kepada kami kesempatan lagi untuk mengunjungi Kabah yang mulia ini. Sekiranya Engkau jadikan ini kesempatan terakhir bagi kami, maka gantikanlah Surga untuk kami dengan rahmatmu, Wahai Tuhan Pemelihara Sekalian Alam”. Dengan itu aku yakin, suatu ketika Allah memberi kesempatan untuk mengunjungi Tanah Suci kembali.

Dulu aku pernah bernazar, suatu ketika jika anakku Dandy telah lulus SMA dan memasuki usia dewasa, aku akan menyerahkan kepadaNya di Baitullah. Semoga Allah menjadikan dia seorang hamba yang sholeh. Kesempatan itu juga untuk memperkenalkan anak keduaku Ade Hestia yang saat itu masih remaja, mengunjungi Tanah Suci dan tempat-tempat ziarah yang disebutkan dalam Kitab Suci Al Qur’an, supaya menambah keyakinan akan agamanya, dengan harapan kiranya Allah menjadikannya hamba yang sholehah.

Perjalanan Umroh 8 hari tanpa terasa telah selesai. Bagi kedua anakku, tentu meninggalkan kesan yang tak terlupakan. Dandy sempat melihat hingga selesai pergantian Kain Kabah, suatu kesempatan langka bagi jamaah. Semua telah kami laksanakan sesuai dengan bimbingan Ustad, kami pasrahkan kepadaMu ya Allah, kiranya apa yang kami lakukan Engkau ridhoi....

Kami mengikuti Travel yang memberangkatkan rombongan untuk Umroh dilanjutkan dengan tour wisata. Kebanyakan peserta seperti kami, berangkat bersama-sama anak-anak dan keluarga. Kedekatan selama 8 hari bersama-sama menjadikan anak-anak kami akrab dengan peserta yang seusia dengan mereka. Demikian pula kami orang tuanya. Dalam waktu singkat sudah terjalin persahabatan diantara kami, menjadikan perjalanan wisata lebih ceria.

Setelah selesai Umroh, rombongan melanjutkan tour, yang tujuan utamanya adalah mengunjungi Masjid al Aqsho yang terletak di Yerusalem, termasuk dalam wilayah Israel. Untuk sampai ke Yerusalem dimana Masjid al Aqsho berada, rombongan akan melalui negara Yordania. Apakah memang harus demikian, atau karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, saya kurang faham.

Dari catatan perjalanan yang pernah aku buat, dari kota Jedah penerbangan ke Yordania hanya memerlukan waktu 1,5 jam. Negeri yang saat itu diperintah oleh Raja Hussein Bin Talal, ternyata berbeda dengan Arab Saudi, meski sama-sama di Timur Tengah. Masyarakat Yordania lebih heterogen seperti Indonesia. Kaum wanitanya berbusana biasa, bukan melulu abaya warna hitam. Banyak diantara mereka mengenakan rok tanpa tutup kepala, bahkan celana jins ketat. Mata uang mereka Dinar, yang di tahun itu bernilai Rp. 3.100.- Tentu sekarang sudah jauh berubah, karena inflasi di negara kita tinggi.

Pada hari itu, kami langsung mengunjungi obyek wisata di sekitar kota Aman, ke Mount Nebo. Di puncak Gunung Nebo yang dingin dan sunyi itu diyakini sebagai tempat Nabi Musa As menghabiskan hari-hari terakhirnya. Kami berada di halaman sebuah bekas Gereja yang dibangun sekitar abad ke 6. Nun jauh disana tampak lembah yang kosong, menurut Pemandu Wisata, itulah Kanaan, tanah yang dijanjikan Allah kepada Nabi Musa As. Di kejauhan pula tampak Dead Sea - Laut Mati yang tenang. Senja mulai turun meskipun waktu baru menunjukkan jam 16.30, menjadikan udara semakin dingin. Pemandangan yang sebenarnya cukup indah itu entah mengapa membawa suasana sedih. Apakah karena kegersangan alamnya?

Hari selanjutnya rombongan menuju ke sebuah bukit di pinggiran kota Aman, ibukota negara Yordania. Itulah lokasi Gua Kahfi, tempat 7 orang pemuda yang beriman dengan anjingnya ditidurkan Allah selama 300 tahun menurut perhitungan tahun Syamsiah atau 309 tahun menurut perhitungan tahun Qomariyah, padahal mereka merasa hanya tidur setengah atau satu hari saja. Kisah ini diceritakan dalam QS Al Kahfi ayat 9 sampai 26.

Kurang lebih 45 menit perjalanan dari kota Aman, terdapat reruntuhan kota tua peninggalan peradaban masa lampau yang dibangun kira-kira 50 tahun Masehi. Sebuah kompleks Bangunan berarsitektur Romawi dengan Pilar-pilar tinggi dan kokoh masih tegak berdiri. Kota tua ini namanya Jerash. Sayang sekali foto-foto di Jerash sudah tidak jelas lagi.

Hari ketiga, kami menuju Yerusalem. Sepanjang perjalanan, tampak menghijau perkebunan pisang di lahan-lahan yang terlihat cukup subur. Pohon pisangnya lebih pendek dari pohon pisang kita di Indonesia. Dari kota Aman yang letaknya 1.000 meter diatas permukaan laut, menuju perbatasan yang lebih rendah, jalan terus menurun. Akhirnya sampai di sebuah tempat yang disebut Perbatasan, dimana terdapat dua jembatan, King Hussein Bridge di wilayah Yordania dan Allenby Bridge di wilayah Israel. Di wilayah Israel pemeriksaan sangat ketat, berkali-kali harus membuka jaket, sepatu, ikat pinggang hingga berhasil melalui mesin detector tanpa terdengar bunyi. Sempat terpikir, bagaimana dengan bechel/kawat gigi yang dikenakan Ade? He he he... ternyata dia melenggang lolos ...... Pemeriksaan paspor dan lain-lain di kedua tempat itu memakan waktu 1,5 jam. Apakah kondisi sekarang masih seperti ini ya?

Yerusalem adalah kota suci bagi ketiga pemeluk agama Samawi, agama yang diturunkan Allah melalui Wahyu. Di Yerusalem, dalam seminggu terdapat tiga hari libur. Hari Jum at untuk pemeluk Islam, Sabtu untuk kaum Yahudi dan Minggu untuk kaum Nasrani. Hari itu adalah hari Jum at, kunjungan ke Masjid Al Aqsho dilakukan bertepatan dengan shalat Jum at. Disampaikan oleh Pemandu Wisata, mengingat padatnya manusia di hari itu, maka untuk ziarah akan dilakukan pada hari berikutnya supaya kami lebih puas.

Bus kami merayap di kepadatan kendaraan dan manusia yang hendak shalat Jum at di Masjidil Aqsho. Dari kejauhan telah tampak kubah Masjid berwarna biru keabu-abuan dan kuning emas. Dan ketika benar-benar menjejakkan kaki di halaman masjid yang sudah penuh jemaah, Subhanallah................. Ya Allah, akhirnya sampai juga aku ditempat suci ini. Dari tempat ini telah Engkau mi’rajkan Nabi Muhammad Saw. Tempat suci ini menjadi Kiblat shalat kaum muslimin sebelum Engkau tetapkan Masjidil Haram di Mekah. Dan di tempat suci ini sholat bernilai 500 kali. ................

Menurut sebuah artikel di internet, Ad Dubbagh dalam bukunya Al Quds mengatakan bahwa “Al Haram Al Qadasi (wilayah harom yang suci) terdiri dari dua bangunan masjid, yang pertama Masjid ash Shakhrah atau Qubbah Ash Shakhrah – Kubah Emas, dan yang kedua, Masjid Al Aqsho, serta bangunan-bangunan apa saja yang ada disekitarnya, hingga dinding pembatas sekalipun”. Jadi yang dimaksud Al Aqsho adalah sebutan bagi seluruh komplek Masjid yang dibatasi oleh dinding pembatas, termasuk semua bangunan yang terdapat di dalamnya.

Aku perhatikan baik-baik apa yang tampak di sekitarku. Kubah Emas yang berkilau terkena sinar matahari yang sering disebut The Dome of the Rock. Sangat bagus sebagai back ground untuk foto. Matahari sedang bersinar terang, tetapi tak mempengaruhi dinginnya udara di bulan Desember yang serasa menusuk tulang, membuat gigiku gemeletuk. Pohon-pohon zaitun yang berderet tidak terlalu tinggi berjajar rapi dan telah memperlihatkan buahnya. Di dalam masjid sudah penuh jemaah. Di pelataran yang berbatu putih itu, batunya sangat dingin untuk duduk shalat disitu. Akhirnya aku dan ibu-ibu peserta lain memilih sholat di pelataran yang terkena sinar matahari. Tak ada sajadah, jaketpun menjadi alas sholat. Jum at yang penuh syukur.............



Setelah makan siang, kami menuju kota Hebron, 36 km sebelah selatan Yerusalem, untuk mengunjungi Masjid Ibrahim. Disana terdapat Makam-makam para Nabi. Nabi Ibrahim As dan isterinya Sarah, Nabi Ishaq As dan isterinya Rofiqoh (Rebecca) dan Nabi Yaqub As dan isterinya Leah. Sebenarnya di komplek Masjid ini juga terdapat Makam Nabi Yusuf As dan Nabi Daud As. Sayang ketika kami kesana sudah diberi batas tembok sehingga tidak dapat mengunjunginya. Orang-orang Yahudi menganggap dua Nabi tersebut adalah Nabi mereka.

Masjid dijaga ketat oleh banyak tentara Israel yang memegang senapan. Ini terjadi setelah Peristiwa Hebron yg menewaskan 30 orang dan melukai 300 orang muslim di masjid ini. Sisa-sisa ketegangan masih tampak, namun ada saja ulah anak-anak muda Indonesia. Mereka berhasil mengajak ngobrol tentara Israel dan bahkan berfoto bersama. Kami para orang tua takut-takut mengingat kekejaman mereka.

Hari selanjutnya, setelah makan pagi kami menuju Mount Olive atau Bukit Zaitun, sebuah bukit di kota Yerusalem dimana terdapat Universitas Hebrew, Rumah Sakit dan Makam orang-orang Yahudi. Dari ketinggian Mount Olive, tampak jelas kota Yerusalem dibawahnya. Disinilah para peserta berfoto bersama. Ketika masuk waktu shalat Zuhur, rombongan kami sedang menuju Makam seorang Sahabat Rasulullah, Salman Al Farisi, arsitek pembuat parit untuk pertahanan kaum muslimin di Madinah. Makam itu telah menjadi sebuah masjid dan kami shalat jamak Zuhur dan Ashar disana. Di perjalanan selanjutnya, kami juga melihat sebuah papan nama kecil sebagai petunjuk menuju Makam Rabiyah Al Adawiyah, seorang Sufi besar pada jamannya, akan tetapi rombongan tidak mampir ke makam tersebut. 



Kalau di hari sebelumnya kami telah bersembahyang Jum at di kompleks Al Aqsho, tetapi belum melihat dengan jelas dan mendengar cerita dari Pemandu Wisata, kali ini kami akan dibawa sekali lagi berziarah ke AL Aqsho tetapi melalui sisi luar. Perjalanan menuju kesana melalui Tembok Ratapan atau The Wailing Wall. Menurut kepercayaan umat Yahudi, tembok ini adalah sisa terakhir tempat suci peribadatan mereka. Kebetulan kami berada disana pada hari sabtu, hari ibadah mereka. Tampak banyak orang Yahudi berpakaian warna hitam, jas panjang dengan topi tingginya yang khas, berada disana sedang memanjatkan doa.

Melalui gang-gang kecil sampailah kami di kompleks Al Aqsho. Didalam kompleks itu terdapat 2 masjid. Masjid al-Aqsho, yang berkubah biru ke abu-abuan, pada awalnya adalah rumah ibadah kecil yang didirikan oleh Khalifah Umar bin Khattab, ketika beliau tiba di Yerusalem, kemudian diperbaiki dan dibangun kembali oleh Khalifah Umayyah Abdul Malik dan diselesaikan oleh putranya Khalifah Walid bin Abdul Malik pada tahun 705 Masehi. Sedangkan Masjid yang berkubah emas, terletak tidak jauh dari Masjid Al Aqsho, memiliki riwayat sendiri. Ketika Khalifah Umar Bin Khattab berhasil membebaskan Yerusalem dari Persia, dengan bantuan seorang Persia bernama Patriach Sophronius, beliau akhirnya menemukan “sakhrakh” bukit batu sebagaimana yang diceritakan Rasulullah Muhammad Saw, tempat dimana beliau mi’raj ke Sidratul Muntaha. Khalifah yang meneruskan Umar Ibn Khattab adalah Khalifah Abdul Malik Ibn Marwan, memuliakan “sakhrakh” tersebut dengan membangun Masjid diatasnya, dan itulah Masjid Kubah Emas – The Dome of the Rock.

Perjalanan hari itu dilanjutkan ke Betlehem atau dalam bahasa Arab Baitul Lahem. Di kota inilah Nabi Isa As dilahirkan. Sekarang lokasi kelahiran beliau itu berada di lantai bawah sebuah Gereja Ortodox, yaitu di sebuah gua yang dipercaya sebagai tempat lahir beliau. Di Gereja itu turis boleh masuk mengambil foto-foto. Saat kami mengunjungi Betlehem, kota itu baru 6 hari diserahkan oleh Israel ke Palestina, sehingga merupakan Natal pertama dibawah pemerintahan Palestina. Selain Betlehem, kota-kota lain yang telah menjadi bagian dari wilayah Palestina adalah Yerusalem Timur, Ramallah, Gaza City dan Jericho.

Pada umumnya makanan Yordania dan Israel tidak cocok dengan lidah Indonesia. Untung untuk makan pagi di hotel, kami masih dapat menikmatinya. Ketika diajak makan di Restoran China – halal, langsung saja para peserta bersemangat dan lahap menikmatinya. Setelah selesai makan siang, rombongan menuju Jaffa dan Tel Aviv, yang jaraknya sekitar 60 km dari Yerusalem. Dua kota itu berada di pinggir Laut Mediterania. Peserta tidak begitu antusias dengan pantai, karena ternyata jauh lebih indah pantai-pantai di tanah air. Bukan apa-apanya jika dibandingkan dengan Bali misalnya......

Keesokan harinya, kami harus kembali ke Yordania. Pagi hari meninggalkan kota Yerusalem menuju Jericho sekedar melihat-lihat toko suvenir, dan selanjutnya melewati Perbatasan sebagaimana ketika berangkat. Ketika memasuki wilayah Yordania menuju kota Amman, kami beristirahat makan siang di sebuah restoran di pinggir Laut Mati. Laut Mati atau Dead Sea, adalah tempat terendah di permukaan bumi, terletak 300 meter dari permukaan laut. Disini kadar garamnya sangat tinggi sehingga orang tidak akan tenggelam disana, melainkan terapung walaupun tanpa pelampung. Saya sempat mencicipi rasa airnya, sangat asin hingga terasa pahit.

Tempat ini sangat bersejarah, sebagai pengingat bagi manusia bahwa Allah sangat murka terhadap perbuatan kaum Nabi Luth yang “homo” dan “sodomi” sehingga kota Sodom dihancurkan dengan hujan batu. Kisah ini diceritakan dalam QS Al A’raf ayat 80 sampai 84 dan QS Al Qomar ayat 33 sampai 39. Menurut riwayat, dahulu di negeri Sodom tinggal Nabi Luth bersama kaumnya. Nabi Luth diperintahkan Allah meninggalkan negerinya setelah tidak berhasil mengingatkan kaumnya untuk beriman dan taat kepada Allah. Perintah Allah untuk meninggalkan negerinya itu dibawa oleh dua Malaikat yang menyamar sebagai pemuda tampan, yang bahkan diinginkan oleh kaum Nabi Luth.

Jika memperhatikan riwayat ini, menjadi tanda tanya besar, mengapa perbuatan homo dan sodomi tersebut masih juga dilakukan manusia hingga hari ini? Bahkan di negeri kita, perbuatan itu semakin merajelela. mereka memperlihatkan kecenderungan untuk merusak generasi muda Indonesia. Padahal Allah telah menurunkan penyakit AIDS yang mematikan dan belum diketemukan obatnya.

Kami juga mengunjungi Makam Nabi Syuaib, yang berada di sebuah Masjid kecil dipuncak sebuah gunung yang sepi. Gundukan makam beliau sangat panjang, ditutup dengan kain hijau. Allah menurunkan azab berupa gempa bumi yang dahsyat, membinasakan kaum Madyan umat Nabi Syuaib, karena mereka telah ingkar, sebagaimana dikisahkan dalam QS Al A’raaf ayat 85 sampai 93.

Hari itu selesailah sudah perjalanan kami ziarah mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang disebutkan didalam Kitab Suci Al Qur an. Kami langsung mengambil koper dan air Zam-zam yang dititipkan di hotel kami yang pertama di kota Amman. Rombongan menuju Restoran Kan Zaman untuk bersantap malam dalam suasana Pergantian Tahun pada 31 Desember 1995. Makan malam dengan hidangan berbagai masakan. Aku memperhatikan, ada daging berwarna putih yang potongannya besar-besar, berkuah kuning. Sepertinya kalau makan sepotong saja sudah penuh perutku. Rupanya itu hidangan daging unta....... terbayang mulut unta yang kadang berliur dan dikerubuti lalat, hilang seleraku ......





Inilah Malam Tahun Baru yang paling berkesan bagiku, setelah selama 11 hari penuh berada dalam gelombang energi yang mendekati pusat kehidupan, bagaikan lingkaran yang semakin mengecil menuju suatu titik, Allah Yang Maha Suci..... Selama 8 hari melaksanakan ibadah Umroh dan 3 hari berziarah, terasa kekhusukan memenuhi rongga kalbu. Semoga kedua anakku pun memperoleh keberkahan atas apa yang telah mereka lihat dan rasakan dalam perjalanan ini. Dan semoga suatu ketika kelak mereka dapat kembali mengunjungi tempat-tempat ini lagi. Inshaallah...........

Para peserta saling meminta maaf atas kekhilafan selama bersama-sama dalam perjalanan sekaligus mengucapkan Selamat Tahun Baru 1 Januari 1996 dan selanjutnya kami ke Airport untuk kembali ke tanah air tercinta.

Wassalamu’alaikum ww.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar